LOGINKesunyian kembali menguasai kamar setelah Solvatar memberikan perintah cepat pada prajuritnya. Dalam beberapa menit, beberapa tangkai tanaman daun Silver-Lace lengkap dengan akarnya sudah diantar ke dalam kamar sang kepala desa.
Kini, di atas meja, Runala bekerja dengan gerakan cepat yang terampil, menghancurkan kelopak hingga menjadi pasta berwarna biru terang. Tangannya gemetar, bukan hanya karena dingin, melainkan karena sisa waktu Garon hampir habis.
Di bawah pengawasan tajam Solvatar, Runala meraih selembar perkamen kecil dan mulai menuliskan instruksi dosis dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas. Pengetahuan literasi yang seharusnya tidak dimiliki oleh Omega rendahan yang tinggal di desa terpencil.
Setelah kurir suruhan Solvatar pergi membawa obat itu, udara di dalam kamar terasa makin berat. Runala masih berdiri di balik pintu, bahunya tegang, menatap papan baja yang tertutup seolah-olah ingin menembusnya.
“Duduklah, Rabbit.” Suara Solvatar memecah keheningan, rendah dan memerintah.
Perlahan, Runala berbalik. Namun, memilih untuk tetap berdiri, menjaga jarak beberapa langkah dari Solvatar. Lelaki itu bangkit dari kursi, langkah kakinya tidak menimbulkan suara apa-apa saat dia mendekat.
Solvatar membawa perkamen instruksi yang tadi sempat disalin Runala dan membacanya dengan glabela berkerut.
“Tulisan tangan yang indah untuk Omega yang tinggal di Demura,” desis Solvatar. Dia meletakkan kertas itu dan kini berdiri tepat di hadapan Runala. “Siapa sebenarnya Garon? Kenapa kau rela membantahku hanya demi mengirimkan uap tanaman padanya?”
Runala mundur selangkah, tetapi punggungnya segera membentur pintu. “Dia ... dia adalah satu-satunya orang yang melindungi saya setelah ibu saya tiada. Dia sudah seperti keluarga saya, Yang Mulia.”
Solvatar menyipitkan mata, seolah-olah sedang mencari celah dusta dalam ucapan Runala. Dia maju satu langkah lagi, menghapus jarak di antara mereka. Hingga Runala bisa merasakan embusan napas hangat sang Alpha di keningnya. Solvatar dengan sengaja melepaskan aura dominasinya. Sebuah tekanan mental yang biasanya mampu membuat serigala mana pun bersimpuh ketakutan.
Akan tetapi, Runala tidak berlutut. Sama seperti pertemuan pertama mereka di hutan. Gadis itu tidak patuh pada perintah.
Runala hanya memalingkan wajah, napasnya memburu dan tangannya meremas ujung baju panjangnya.
Di detik itu, Solvatar tercenung. Dia menyadari sesuatu yang janggal. Runala tidak bereaksi terhadap kekuatannya sebagai pemimpin. Gadis ini tidak takut pada statusnya sebagai Alpha.
Solvatar mengulurkan tangan, jemarinya yang kuat hampir menyentuh rahang Runala. Gadis itu tersentak hebat. Tubuhnya menegang karena refleks perlindungan diri.
“Kau tidak takut padaku,” bisik Solvatar. Matanya berkilat gelap. Suaranya kini terdengar lebih seperti geraman rendah daripada pertanyaan. Lelaki itu condong ke depan, mengunci pergerakan Runala dengan kedua lengan menahan pintu. “Aura Alpha-ku tidak membuatmu berlutut, Rabbit, tetapi kau gemetar saat aku menyentuhmu.”
Solvatar menyipitkan mata, mengendus udara di sela rambut Runala dengan intens. “Kenapa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap yang mencekik. Tidak ada jawaban yang bisa dikatakan Runala. Beruntung, keheningan berhasil meredam rasa penasaran lelaki itu selama berhari-hari.
Setelah melepaskan Runala dari pertanyaan yang tidak terjawab, Solvatar memerintahkan gadis itu untuk tetap di sana, di bawah pengawasannya.
Kini, kamar Solvatar terasa seperti peti mati yang mewah. Tidak ada jendela di ruangan batu itu. Tidak ada ventilasi walaupun sebesar tusukan jarum. Hanya ada udara yang berat oleh bau kayu terbakar.
Selama tujuh hari terakhir, ruangan ini telah menjadi seluruh dunia bagi Runala. Dalam seminggu yang melelahkan itu, dia tidak hanya menjadi tabib, tetapi juga bayang-bayang yang menjaga nyawa sang pangeran.
Runala belajar mengenali ritme napas Solvatar. Kapan lelaki itu akan mengerang kesakitan di tengah demam, serta kapan detak jantungnya kembali stabil sehingga siap menjalankan tugas sebagai kepala desa.
Gadis itu menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang menyesakkan. Dia harus membersihkan luka robek di bahu Solvatar yang perlahan menutup dengan kecepatan luar biasa khas seorang Alpha, mengganti perban yang dibasahi sari Moon-Leaf dan menahan napas setiap kali kulit mereka bersentuhan.
Sementara Solvatar menghabiskan sisa waktunya dengan mengawasi Runala dari balik kelopak mata yang menyipit. Lelaki itu tidak banyak bicara, tetapi tatapannya seolah-olah sedang membedah setiap gerak-gerik Runala.
Runala baru bisa benar-benar beristirahat hanya saat malam tiba. Seperti sekarang. Dia meringkuk di atas permadani tebal yang sudah menjadi alas tidurnya selama tujuh hari. Namun, kantuk tidak kunjung datang membelai kelopak mata.
Kegelisahan menyentuh hatinya dengan cakar berkuku tajam. Runala menghela napas. Andai saja dia diizinkan keluar untuk memandangi bulan. Kendati tidak terlahir sebagai ras manusia serigala, Runala merasakan ketenangan setiap kali bisa melihat bulan. Seolah-olah dia bisa merasakan ibunya sedang menyapa dari langit.
Tiba-tiba Runala tersentak duduk dan langsung berdiri. Jantung gadis itu berdegup kencang seperti hendak meledakkan tulang rusuknya.
“Jangan pernah terlambat untuk mandi, Runala. Pastikan sebelum fase bulan mati, atau semua serigala di sini akan menemukan aroma manusia dari tubuhmu. Nyawamu akan berada dalam bahaya.”
Peringatan dari Margreta terngiang di benak Runala.
Dia harus segera keluar dari sini.
Runala melirik ke arah ranjang. Solvatar tampak terpejam, napasnya berat dan teratur. Dengan sangat perlahan, Runala berjinjit. Dia menahan napas agar tidak menimbulkan getaran sekecil apa pun di lantai. Namun, tepat saat jemarinya baru saja hendak menyentuh gagang pintu, sebuah bayangan melintas secepat kilat.
Satu tangan besar terempas ke pintu di depan wajah Runala, mengunci gerakannya. Gadis itu tersentak mundur. Jantungnya hampir melompat keluar tatkala menyadari Solvatar sudah berdiri menjulang di belakangnya. Lelaki itu tidak tampak seperti baru bangun tidur. Sepasang netra keemasannya berkilat tajam dalam kegelapan.
“Mau lari ke mana, Rabbit?” geram Solvatar rendah.
“S-saya tidak lari, Yang Mulia.” Runala memohon dengan suara bergetar. Otaknya berputar cepat menata kalimat yang masuk akal. “Danau di hutan bagian timur. Saya harus ke sana. Tubuh saya mengalami demam—”
Solvatar menyentuh leher Runala. Sentuhan itu seringan kapas, tetapi juga kuat. “Kau tidak demam.”
“Ini bukan demam yang seperti itu, Y-yang Mulia,” tutur Runala. Pupil matanya melebar dan terguncang ketakutan. “Saya harus segera mandi atau keadaan akan menjadi buruk.”
Solvatar mendengkus sinis. Wajahnya mendekat hingga Runala bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya. “Aku punya pancuran air hangat di balik tirai itu. Mandilah di sana sebelum aku kehilangan kesabaran dan merantai kakimu ke tempat tidur.”
“Tidak! Air biasa tidak bisa menyembuhkanku!” Runala membalas dengan keputusasaan yang nyata. “Hanya danau itu yang bisa meredam demam ini. Tolong ... saya tidak akan kabur.”
Rahang Solvatar mengetat. Dia menatap dengan penuh selidik, mencari dusta di mata Runala yang berkaca-kaca.
“Anda boleh mengutus prajurit untuk mengawasi saya,” saran Runala lantas menggigit bibirnya yang gemetar.
Hidung Solvatar berkerut ngeri ketika membayangkan prajuritnya mengawasi Runala yang sedang mandi. Hingga akhirnya, dia menyambar jubah dan menarik kasar tangan Runala.
“Aku tidak akan membiarkanmu berkeliaran sendirian,” ujar Solvatar. “Ingat. Jika kau berani melangkah satu senti saja menjauh dariku di hutan, kau akan tahu betapa cepatnya aku bisa menangkapmu kembali.”
Untuk beberapa detik, keheningan mengalir dalam nuansa yang kurang menyenangkan. Raut wajah Solvatar tampak pahit dan Runala merasa bersalah untuk itu. Dia menggigit bibir bawah seraya merutuki diri sendiri. Impulsif, Runala maju dengan cepat demi menyambar daging di ujung garpu yang dipegang Solvatar dengan mulutnya. Lelaki itu tampak terkesiap karena gerakan tiba-tiba. Sebelum akhirnya, senyum simpul terurai di bibirnya. “Rupanya kau sudah sangat lapar, Rabbit,” ujar Solvatar lantas menarik mangkuk berisi sup. Dia menyendok sepotong umbi-umbian berwarna kuning dan jingga dan menyuapkannya ke arah Runala. Alih-alih membuka mulut, Runala malah menghidu uap hangat sup. Aroma tajam, segar, bercampur petrikor memenuhi indra penciumannya. “Ini sup apa?” tanyanya seraya menunjuk sendok yang dipegang Solvatar. “Apa ini juga dihidangkan pada raja dan ratu?”Glabela Solvatar berkerut mendengar dua pertanyaan beruntun. “Aku bisa memanggil koki istana supaya kau bisa bertanya, tapi sebaiknya
Lima orang pelayan istana memandu jalan ke sisi timur istana. Sepanjang jalan, genggaman tangan Solvatar tidak pernah mengendur. Jemarinya menangkup tangan Runala begitu erat, seolah-olah jika dia lepaskan sedetik saja, gadis itu akan menguap seperti embun terkena matahari. Runala hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya ditarik dalam diam seraya tatapannya bergerak mengagumi kemegahan luar biasa yang terpampang di depan.Bangunan ini sungguh menakjubkan sekaligus terasa begitu ironis. Lantainya terbuat dari marmer putih bersih yang memantulkan cahaya obor dinding laksana cermin. Pilar-pilar penyangga dilapisi ukiran emas membentuk sulur-sulur pohon kuno, dan panji-panji beludru bersulam benang perak bergambar serigala yang memamerkan taring tergantung anggun di setiap jarak sepuluh langkah. Udara di sini hangat dihiasi wewangian mahal menguar dari setiap sudut.Pikiran Runala mendadak melayang kembali ke Demura. Tempat itu berada di bawah langit yang sama, berdiri di atas tanah Wolfaer
Pintu tertutup dengan debum halus di belakang Runala, seketika memutus kehangatan yang tersisa dari kamar tidur raja dan ratu Wolfaern. Koridor istana menyambutnya dengan hawa dingin yang mencengkeram.Sebelum melangkah lebih jauh, Kanavar yang tadi mengantar, menghentikan langkahnya. Lelaki bertubuh tegap itu berbalik menghadap Runala, lalu melirik Ragnavar yang berdiri tidak jauh dari mereka.Kanavar membungkuk hormat kepada kakak tertuanya, menunjukkan kepatuhan istana. Ragnavar hanya mengangguk samar dengan senyum sumir yang elegan.Kanavar kemudian beralih menatap Runala. Ada binar ramah sekaligus sungkan di matanya. “Runala, maaf kita belum sempat berkenalan dengan layak karena situasi mendesak tadi. Sekarang aku perlu meminta pelayan istana untuk menyiapkan kamar untukmu dan Solvatar beristirahat nanti.”Runala buru-buru membungkuk hormat, menyunggingkan senyum santun. “Terima kasih banyak atas perhatian Anda, Pangeran Kanavar.”Kanavar mengangguk sekilas, lalu menepuk ringan b
“Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.” Suara Solvatar terdengar dingin dan datar, berusaha menekan segala emosi yang bergolak di dalam dada setelah mendengar kabar yang disampaikan kakak yang menyambutnya. Kanavar, pangeran ke-2 mengernyitkan glabela sembari menyesuaikan langkah bot beratnya di atas lantai marmer. “Aku kira kau pulang secepat ini karena mendengar kabar itu. Mereka jatuh sakit secara mendadak tidak lama setelah kau pergi, Solvatar. Beberapa hari terakhir ini mereka benar-benar melemah hingga tidak bisa meninggalkan ranjang.”Solvatar tidak menyahut lagi. Namun, rahangnya makin mengeras. Jelas, ada maksud khusus bagi Ragnavar untuk menyembunyikan berita besar ini darinya. Padahal kakak sulungnya itu saling berkirim surat dengannya. Mereka bertiga berjalan membelah koridor panjang kastel yang megah tetapi terasa sunyi. Di sisi mereka, pilar-pilar batu tinggi menjulang, menumpu langit-langit yang dihiasi panji-panji berlukis wajah serigala yang memperlihatkan taring.
Dua hari berikutnya berlalu seperti embusan angin yang memburu waktu. Berkat peta rahasia dan petunjuk jalur yang diberikan oleh kawanan Yegor, perjalanan yang seharusnya memakan waktu lima hari terpangkas secara ekstrem menjadi hanya tiga hari.Di batas hutan terakhir yang berbatasan langsung dengan jalan makadam menuju ibu kota, Yegor dan anak buahnya menarik diri. Mereka pamit untuk bergerak ke jalur berbeda, meninggalkan Solvatar, Runala, dan para pengawal setianya untuk melanjutkan sisa perjalanan dengan kereta kuda mereka.Perpisahan itu berlangsung singkat. Yegor bukan tipe yang menyukai basa-basi panjang. Kendati demikian, sebelum berbalik pergi, lelaki itu sempat mengangkat satu tangan sebagai salam perpisahan. Solvatar membalas dengan anggukan kecil penuh penghargaan. Tidak ada ucapan terima kasih berlebihan, tetapi keduanya memahami bahwa bantuan yang diberikan kawanan Yegor telah memperbesar peluang mereka untuk tiba di Volkara dengan selamat.Kini, kereta itu melaju manta
Hening seketika mencekik kabin kereta yang terus bergerak membelah rimba. Kalimat yang baru saja diucap Runala menyisakan gema yang membekukan atmosfer di antara mereka. Solvatar tidak melepaskan dekapan, lamun tubuhnya menegang kaku. Sepasang netra emasnya menatap Runala dengan kilat tidak percaya. Ada luka yang coba dia sembunyikan di balik topeng ketegasan seorang Alpha.“Apa maksudmu?" Glabela Solvatar berkerut. Suaranya rendah dan bergetar oleh riak panik yang tertahan. “Setelah semua yang kita lalui, kau mendadak ingin mundur?”Runala menghela napas, berusaha menenangkan debar jantungnya yang bertalu-talu. Dia menegakkan punggung, menciptakan jarak tipis di antara mereka agar bisa menatap Solvatar dengan sungguh-sungguh. Matanya berkaca-kaca, memantulkan cahaya redup lampu minyak di dalam kereta.“Aku memikirkan kembali keputusanku, Solvatar. Aku merasa ... aku telah gegabah,” bisik Runala parau. Dia menunduk pada jemarinya yang masih gemetar di atas pangkuan. “Aku sempat menola







