Share

4. Ini Bukan Demam

Auteur: Lubna Karkata
last update Date de publication: 2026-04-17 23:51:29

Kesunyian kembali menguasai kamar setelah Solvatar memberikan perintah cepat pada prajuritnya. Dalam beberapa menit, beberapa tangkai tanaman daun Silver-Lace lengkap dengan akarnya sudah diantar ke dalam kamar sang kepala desa. 

Kini, di atas meja, Runala bekerja dengan gerakan cepat yang terampil, menghancurkan kelopak hingga menjadi pasta berwarna biru terang. Tangannya gemetar, bukan hanya karena dingin, melainkan karena sisa waktu Garon hampir habis.

Di bawah pengawasan tajam Solvatar, Runala meraih selembar perkamen kecil dan mulai menuliskan instruksi dosis dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas. Pengetahuan literasi yang seharusnya tidak dimiliki oleh Omega rendahan yang tinggal di desa terpencil.

Setelah kurir suruhan Solvatar pergi membawa obat itu, udara di dalam kamar terasa makin berat. Runala masih berdiri di balik pintu, bahunya tegang, menatap papan baja yang tertutup seolah-olah ingin menembusnya.

“Duduklah, Rabbit.” Suara Solvatar memecah keheningan, rendah dan memerintah.

Perlahan, Runala berbalik. Namun, memilih untuk tetap berdiri, menjaga jarak beberapa langkah dari Solvatar. Lelaki itu bangkit dari kursi, langkah kakinya tidak menimbulkan suara apa-apa saat dia mendekat.

Solvatar membawa perkamen instruksi yang tadi sempat disalin Runala dan membacanya dengan glabela berkerut.

“Tulisan tangan yang indah untuk Omega yang tinggal di Demura,” desis Solvatar. Dia meletakkan kertas itu dan kini berdiri tepat di hadapan Runala. “Siapa sebenarnya Garon? Kenapa kau rela membantahku hanya demi mengirimkan uap tanaman padanya?”

Runala mundur selangkah, tetapi punggungnya segera membentur pintu. “Dia ... dia adalah satu-satunya orang yang melindungi saya setelah ibu saya tiada. Dia sudah seperti keluarga saya, Yang Mulia.”

Solvatar menyipitkan mata, seolah-olah sedang mencari celah dusta dalam ucapan Runala. Dia maju satu langkah lagi, menghapus jarak di antara mereka. Hingga Runala bisa merasakan embusan napas hangat sang Alpha di keningnya. Solvatar dengan sengaja melepaskan aura dominasinya. Sebuah tekanan mental yang biasanya mampu membuat serigala mana pun bersimpuh ketakutan.

Akan tetapi, Runala tidak berlutut. Sama seperti pertemuan pertama mereka di hutan. Gadis itu tidak patuh pada perintah.

Runala hanya memalingkan wajah, napasnya memburu dan tangannya meremas ujung baju panjangnya.

Di detik itu, Solvatar tercenung. Dia menyadari sesuatu yang janggal. Runala tidak bereaksi terhadap kekuatannya sebagai pemimpin. Gadis ini tidak takut pada statusnya sebagai Alpha.

Solvatar mengulurkan tangan, jemarinya yang kuat hampir menyentuh rahang Runala. Gadis itu tersentak hebat. Tubuhnya menegang karena refleks perlindungan diri.

“Kau tidak takut padaku,” bisik Solvatar. Matanya berkilat gelap. Suaranya kini terdengar lebih seperti geraman rendah daripada pertanyaan. Lelaki itu condong ke depan, mengunci pergerakan Runala dengan kedua lengan menahan pintu. “Aura Alpha-ku tidak membuatmu berlutut, Rabbit, tetapi kau gemetar saat aku menyentuhmu.”

Solvatar menyipitkan mata, mengendus udara di sela rambut Runala dengan intens. “Kenapa?”

Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap yang mencekik. Tidak ada jawaban yang bisa dikatakan Runala. Beruntung, keheningan berhasil meredam rasa penasaran lelaki itu selama berhari-hari. 

Setelah melepaskan Runala dari pertanyaan yang tidak terjawab, Solvatar memerintahkan gadis itu untuk tetap di sana, di bawah pengawasannya. 

Kini, kamar Solvatar terasa seperti peti mati yang mewah. Tidak ada jendela di ruangan batu itu. Tidak ada ventilasi walaupun sebesar tusukan jarum. Hanya ada udara yang berat oleh bau kayu terbakar.

Selama tujuh hari terakhir, ruangan ini telah menjadi seluruh dunia bagi Runala. Dalam seminggu yang melelahkan itu, dia tidak hanya menjadi tabib, tetapi juga bayang-bayang yang menjaga nyawa sang pangeran.

Runala belajar mengenali ritme napas Solvatar. Kapan lelaki itu akan mengerang kesakitan di tengah demam, serta kapan detak jantungnya kembali stabil sehingga siap menjalankan tugas sebagai kepala desa.

Gadis itu menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang menyesakkan. Dia harus membersihkan luka robek di bahu Solvatar yang perlahan menutup dengan kecepatan luar biasa khas seorang Alpha, mengganti perban yang dibasahi sari Moon-Leaf dan menahan napas setiap kali kulit mereka bersentuhan.

Sementara Solvatar menghabiskan sisa waktunya dengan mengawasi Runala dari balik kelopak mata yang menyipit. Lelaki itu tidak banyak bicara, tetapi tatapannya seolah-olah sedang membedah setiap gerak-gerik Runala. 

Runala baru bisa benar-benar beristirahat hanya saat malam tiba. Seperti sekarang. Dia meringkuk di atas permadani tebal yang sudah menjadi alas tidurnya selama tujuh hari. Namun, kantuk tidak kunjung datang membelai kelopak mata. 

Kegelisahan menyentuh hatinya dengan cakar berkuku tajam. Runala menghela napas. Andai saja dia diizinkan keluar untuk memandangi bulan. Kendati tidak terlahir sebagai ras manusia serigala, Runala merasakan ketenangan setiap kali bisa melihat bulan. Seolah-olah dia bisa merasakan ibunya sedang menyapa dari langit. 

Tiba-tiba Runala tersentak duduk dan langsung berdiri. Jantung gadis itu berdegup kencang seperti hendak meledakkan tulang rusuknya. 

“Jangan pernah terlambat untuk mandi, Runala. Pastikan sebelum fase bulan mati, atau semua serigala di sini akan menemukan aroma manusia dari tubuhmu. Nyawamu akan berada dalam bahaya.”

Peringatan dari Margreta terngiang di benak Runala. 

Dia harus segera keluar dari sini. 

Runala melirik ke arah ranjang. Solvatar tampak terpejam, napasnya berat dan teratur. Dengan sangat perlahan, Runala berjinjit. Dia menahan napas agar tidak menimbulkan getaran sekecil apa pun di lantai. Namun, tepat saat jemarinya baru saja hendak menyentuh gagang pintu, sebuah bayangan melintas secepat kilat.

Satu tangan besar terempas ke pintu di depan wajah Runala, mengunci gerakannya. Gadis itu tersentak mundur. Jantungnya hampir melompat keluar tatkala menyadari Solvatar sudah berdiri menjulang di belakangnya. Lelaki itu tidak tampak seperti baru bangun tidur. Sepasang netra keemasannya berkilat tajam dalam kegelapan.

“Mau lari ke mana, Rabbit?” geram Solvatar rendah.

“S-saya tidak lari, Yang Mulia.” Runala memohon dengan suara bergetar. Otaknya berputar cepat menata kalimat yang masuk akal. “Danau di hutan bagian timur. Saya harus ke sana. Tubuh saya mengalami demam—”

Solvatar menyentuh leher Runala. Sentuhan itu seringan kapas, tetapi juga kuat. “Kau tidak demam.”

“Ini bukan demam yang seperti itu, Y-yang Mulia,” tutur Runala. Pupil matanya melebar dan terguncang ketakutan. “Saya harus segera mandi atau keadaan akan menjadi buruk.”

Solvatar mendengkus sinis. Wajahnya mendekat hingga Runala bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya. “Aku punya pancuran air hangat di balik tirai itu. Mandilah di sana sebelum aku kehilangan kesabaran dan merantai kakimu ke tempat tidur.”

“Tidak! Air biasa tidak bisa menyembuhkanku!” Runala membalas dengan keputusasaan yang nyata. “Hanya danau itu yang bisa meredam demam ini. Tolong ... saya tidak akan kabur.”

Rahang Solvatar mengetat. Dia menatap dengan penuh selidik, mencari dusta di mata Runala yang berkaca-kaca.

“Anda boleh mengutus prajurit untuk mengawasi saya,” saran Runala lantas menggigit bibirnya yang gemetar. 

Hidung Solvatar berkerut ngeri ketika membayangkan prajuritnya mengawasi Runala yang sedang mandi. Hingga akhirnya, dia menyambar jubah dan menarik kasar tangan Runala.

“Aku tidak akan membiarkanmu berkeliaran sendirian,” ujar Solvatar. “Ingat. Jika kau berani melangkah satu senti saja menjauh dariku di hutan, kau akan tahu betapa cepatnya aku bisa menangkapmu kembali.”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   5. Netra Merah Menyala

    Lorong-lorong barak yang dingin itu sepi. Namun, tidak sepenuhnya kosong. Dua prajurit penjaga yang berdiri di gerbang belakang tersentak kaget saat melihat Alpha mereka berjalan keluar dengan langkah tegap kendatipun wajahnya masih sedikit pucat. Padahal pangeran bungsu itu seharusnya masih dalam pemulihan setelah pekan lalu mengalami penyerangan. “Yang Mulia! Anda seharusnya tidak—” Salah satu prajurit berusaha mengingatkan. Sekilas, matanya melirik penuh tanya pada Runala yang tertunduk di samping Solvatar.“Buka gerbangnya,” potong Solvatar. Suaranya sarat akan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat.Para prajurit itu saling pandang. Mereka bertanya-tanya dalam diam. Namun, kilatan kemarahan di mata keemasan Solvatar membuat mereka segera menarik rantai gerbang tanpa suara.Solvatar tidak memberi penjelasan. Baginya, martabat tidak perlu dibela di depan bawahan, kendati dia tahu besok pagi desas-desus tentang malam ini akan menyebar seperti wabah mematikan.Solvatar mendampingi

  • Taring Emas Sang Alpha   4. Ini Bukan Demam

    Kesunyian kembali menguasai kamar setelah Solvatar memberikan perintah cepat pada prajuritnya. Dalam beberapa menit, beberapa tangkai tanaman daun Silver-Lace lengkap dengan akarnya sudah diantar ke dalam kamar sang kepala desa. Kini, di atas meja, Runala bekerja dengan gerakan cepat yang terampil, menghancurkan kelopak hingga menjadi pasta berwarna biru terang. Tangannya gemetar, bukan hanya karena dingin, melainkan karena sisa waktu Garon hampir habis.Di bawah pengawasan tajam Solvatar, Runala meraih selembar perkamen kecil dan mulai menuliskan instruksi dosis dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas. Pengetahuan literasi yang seharusnya tidak dimiliki oleh Omega rendahan yang tinggal di desa terpencil.Setelah kurir suruhan Solvatar pergi membawa obat itu, udara di dalam kamar terasa makin berat. Runala masih berdiri di balik pintu, bahunya tegang, menatap papan baja yang tertutup seolah-olah ingin menembusnya.“Duduklah, Rabbit.” Suara Solvatar memecah keheningan, rendah dan me

  • Taring Emas Sang Alpha   3. Rasa Haus akan Jawaban

    Lampu obor yang berkedip di dinding menciptakan bayangan panjang yang menari-nari. Sehingga siluet Solvatar di atas tempat tidur tampak dua kali lebih besar.Runala berdiri terpaku di dekat pintu. Tangan gadis itu terkepal di sisi tubuh. Paha kanannya terasa panas. Benjolan di kulit pahanya itu berdenyut kencang dan menimbulkan nyeri hebat. Seperti ada puluhan tawon menyengat bersamaan. “Mendekatlah.” Suara Solvatar rendah, serak, dan penuh otoritas yang tidak terbantahkan.Runala melangkah maju setapak demi setapak dengan kepala tertunduk. Dia bisa mencium aroma Solvatar yang mirip bau hutan pinus terbakar matahari. Entah bagaimana, itu membuatnya merasa pening.“Angkat wajahmu, Rabbit,” perintah Solvatar lagi.Saat Runala mendongak, ia mendapati sepasang netra emas itu sedang menatapnya. Solvatar meraih tas kulit kusam milik Runala yang tergeletak di meja samping tempat tidur dan melemparkannya ke lantai berlapis permadani.Glabela Runala berkerut. Dia menandai itu sebagai tindakan

  • Taring Emas Sang Alpha   2. Api di Nadi

    Seminggu berlalu sejak insiden di hutan. Runala mulai percaya bahwa keberuntungan masih berpihak padanya. Lelaki bernetra emas itu telah melepaskannya dengan tatapan hina yang paling dia syukuri seumur hidup. Jika menilai dari tatapannya yang tampak terkejut sekaligus muak, mungkin kehadiran Runala merusak selera makan sang kepala desa. “Kau beruntung dia sedang dalam suasana hati yang baik, Runala,” ujar Garon lirih. Suaranya sudah jauh lebih kuat kendati napasnya masih terdengar berat. “Seorang pimpinan dari pusat kerajaan biasanya akan merobek leher siapa pun yang berani melintasi jalurnya. Apalagi, kudengar yang datang kali ini adalah seorang pangeran.”Runala hanya mengangguk kecil sambil mengaduk sisa ramuan di lumpang kayu. “Dia tidak akan peduli pada Omega sepertiku, Kakek Garon. Baginya, aku hanya debu di bawah sepatu botnya.”“Semoga saja begitu,” harap Garon. Sepertinya werewolf tua itu sangat mengkhawatirkan nasib Runala karena bertemu dengan kepala desa yang baru. Runal

  • Taring Emas Sang Alpha   1. Tanah yang Lembap

    Di dunia yang dipenuhi predator, aroma adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa. Bagi Runala, aroma adalah vonis mati yang harus gadis itu sembunyikan setiap detik.Runala menembus rimbunnya hutan di pinggiran Desa Demura. Dengan sengaja menghindari jalan utama desa yang kini sesak oleh prajurit kerajaan. Kabarnya, ada kepala desa baru yang datang. Belum ada yang mampu bertahan mengatur tempat ini. Semua akan pergi sebelum purnama berikutnya. Begitulah yang terjadi pada para pendahulu yang berusaha mengatur desa ini.Demura bukanlah sekadar desa buangan. Tempat ini serupa dengan lubang hitam bagi para penyamun dan kriminal kelas kakap. Mereka tidak lagi diterima oleh desa mana pun. Di sini, hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Desa yang menjadi tempat para pendosa paling kejam bersembunyi di balik bayang-bayang kemiskinan dan debu.Udara di sekitarnya lembap, berbau tanah basah dan lumut. Hingga paru-paru Runala terasa seperti terbakar oleh setiap tarikan napas yang dia paks

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status