LOGINDiskusi awal mengenai proyek distribusi internasional akhirnya berlanjut ke agenda paling krusial: peninjauan langsung ke kawasan industri Florest Group di Chicago.Siang itu, Verlyn, Steven, dan Kayn kembali berkumpul di ruang rapat Kizen Group untuk mematangkan jadwal. Peta lokasi kawasan industri di Chicago beserta draf penerbangan sudah terbentang rapi di atas meja."Semua agenda peninjauan di Chicago sudah disiapkan untuk lusa," kata Steven sambil mengetuk layar tabletnya. "Pihak Florest di sana juga sudah mengatur akomodasi dan kendaraan operasional kita."Verlyn mengangguk pelan, jemarinya sigap mencatat poin-poin penting di buku agendanya. "Baguslah. Semakin cepat peninjauan selesai, draf akhir bisa makin cepat kita tandatangani."Kayn yang duduk tepat di seberang mereka, mencermati lembar jadwal penerbangan sejenak sebelum angkat bicara."Mengingat perjalanan ke Chicago memakan waktu cukup lama dan agenda kita sangat padat,
"Dengan ini, poin addendum kerja sama tiga pihak antara Kizen Group, Vyntie Group, dan Florest Group resmi kita sepakati." Suara Verlyn mengalun tegas, menutup sesi rapat marathon yang berlangsung hampir dua jam tersebut. Ia menandatangani lembar pengesahan akhir di atas meja marmer, diikuti oleh Steven dan Kayn secara bergantian. Meskipun tensi dingin masih tersisa di antara dua pria di depannya, Verlyn bersyukur seluruh pembahasan bisnis tetap berjalan sangat profesional tanpa hambatan teknis sedikit pun. "Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Kayn," ujar Verlyn formal seraya berdiri dan mengulurkan tangannya. Kayn menyambut uluran tangan itu. Genggamannya hangat dan pas, tidak terlalu erat namun cukup mantap. "Terima kasih kembali, Nona Verlyn. Vyntie Group akan segera mengirimkan tim teknis untuk mulai mengeksekusi lapangan mulai minggu depan." Kayn lalu beralih menjabat tangan Steven. Kedua pr
Keesokan paginya, suasana di ruang kerja Kayn mendadak kembali tegang saat telepon internal di mejanya berdering. Rainon mengabarkan bahwa sekretaris dari Kizen Group baru saja mengonfirmasi bahwa Nona Verlyn menerima proposal kerja sama tersebut dan mengundang pihak Vyntie Group untuk menghadiri rapat awal pekan ini. Kayn menyunggingkan senyum tipis. "Siapkan seluruh dokumen pendukung dan jadwal rapatnya, Rainon," perintah Kayn tenang. "Baik, Tuan. Rapat dijadwalkan besok jam sepuluh pagi di kantor Kizen Group," jawab Rainon mantap. Hari yang ditentukan pun tiba. Ruang rapat utama Kizen Group tampak begitu megah. Di ujung meja marmer, Verlyn sudah duduk anggun memimpin rapat, didampingi oleh Steven yang terbang khusus untuk menghadiri pertemuan penting ini. Saat pintu rapat terbuka, Kayn melangkah masuk bersama Rainon. Penampilan Kayn begitu prima dengan setelan jas gelap yang memancarkan aura
Jarum jam dinding di ruang kerja CEO Kizen Group sudah menunjuk ke angka lima sore. Suasana kantor perlahan melengang, namun Verlyn belum berniat untuk beremas-emas pulang. Di depannya, layar laptop yang menyala terang menampilkan jendela panggilan video yang baru saja terhubung. Di seberang layar, sosok Steven muncul dalam balutan kemeja santai. Pria itu menyunggingkan senyum hangat begitu wajah Verlyn terpampang penuh di layarnya. "Belum pulang, Verlyn?" sapa Steven membuka percakapan dengan nada bersahabat. Verlyn menghela napas pelan seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Belum, Steven. Ada hal penting yang harus aku diskusikan dulu denganmu soal proyek kerja sama kita." Verlyn jemarinya bergerak lincah di atas touchpad laptopnya. "Aku baru saja mengiringkan berkas file proposal lewat email-mu. Coba kamu buka dan periksa dulu." Steven menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut namun tetap
Setelah mendapat kabar mendadak itu, Verlyn langsung bergerak cepat. Ia meminta Fayyara mempersiapkan ruang pertemuan privat di lantai atas dan mencari dokumen lama mengenai kerja sama Kizen Group dan Vyntie Group sebagai bahan acuan. Verlyn bergegas merapikan penampilannya di depan cermin kecil. Ada sedikit desakan rasa gugup yang menyelusup di dadanya saat tahu ia akan kembali bertatap muka dengan Kayn. Begitu Fayyara mengonfirmasi bahwa dokumen yang diminta sudah ditata rapi di ruang pertemuan privat, Verlyn langsung melangkah keluar dari ruang kerjanya. Di saat yang sama, Kayn melangkah masuk ke dalam area lobby utama Kizen Group. Pria itu datang tidak sendiri—didampingi Rainon serta beberapa pengawal berjas rapi. Tatapan Kayn terasa hangat dan terbuka; ia menyapa keramahan para penjaga dan karyawan yang membungkuk padanya dengan senyuman tipis yang sangat berwibawa. Pintu lift di dekat lobby utama terbuka. Verlyn melangkah keluar bersama Fayyara
Suara ketukan jemari di atas meja mahoni memecah keheningan ruang kerja CEO Kizen Group. Verlyn masih fokus meneliti lembar demi lembar berkas audit di depannya.Penampilannya hari ini kelihatan simpel tapi elegan. Kemeja putih dengan lengan tiga perempat terpasang rapi di tubuhnya, dipadukan dengan celana bahan hitam berpotongan lurus. Rambut warna kremnya digelung model messy bun, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di samping wajahnya.Begitu menandatangani dokumen terakhir, Verlyn menyandarkan punggung ke kursi lalu menghela napas lega. Pekerjaan utamanya untuk sesi pagi akhirnya selesai juga dengan cepat.Pintu ruangan perlahan terbuka, membiarkan Fayyara melangkah masuk sambil memegang tablet di tangannya."Nona Verlyn," panggil Fayyara. "Maaf mengganggu waktunya. Ada satu janji temu mendadak siang ini, apa Nona bisa datang?"Verlyn mendongak. Sebagai tipe orang yang rajin dan suka tetap sibuk, dia paling tidak betah j
"A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,
Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar
Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema







