LOGINPerjalanan pulang dari hotel menuju gedung Kizen Group diliputi keheningan yang terasa berbeda. Verlyn duduk di kursi penumpang, melemparkan pandangannya lurus ke luar jendela. Ia berusaha keras menata raut wajahnya agar tetap tenang, meski dadanya bergemuruh heboh tiap kali mengingat insiden muntah dan bisikan Kayn semalam. Di sampingnya, Kayn yang menyetir sendiri justru tampak amat tenang. Pria itu sesekali melirik wanita di sebelahnya, tidak lagi menyembunyikan binar hangat di matanya. "Minumlah dulu. Ini kopi latte favoritmu," ujar Kayn lembut, menyodorkan cangkir kopi yang sempat ia pesan di lobi hotel tadi. Verlyn tersentak tipis, menerima cangkir itu tanpa berani menatap langsung mata Kayn. "T-terima kasih, Tuan Kayn." Bibir Kayn terangkat sedikit, membentuk senyum samar. "Kurangi panggil formal begitu saat kita sedang berdua, Verlyn." Pipi Verlyn mendadak memerah panas. Ia buru-buru menyesap ko
Mendengar nama Sellina keluar dari bibir Verlyn, raut Kayn seketika meredup. Tak ada rasa marah atau nada membela diri di wajahnya, yang tersisa hanyalah bayang penyesalan dan kejujuran mutlak.Kayn mempererat genggaman tangannya di atas meja, mengusap lembut punggung tangan Verlyn dengan ibu jarinya."Hubunganku dengan Sellina sudah berakhir sepenuhnya, Verlyn. Sudah sejak lama," ujar Kayn dengan nada rendah dan tenang.Verlyn tersentak tipis. Matanya menatap Kayn dengan binar tak percaya. "B-berakhir? Tapi dulu kamu...""Dulu aku bodoh," potong Kayn cepat tanpa berusaha mencari alasan. Ia menghela napas panjang, menatap lurus ke mata Verlyn. "Aku begitu buta sampai tidak bisa membedakan mana ketulusan dan mana pengkhianatan. Aku memergoki Sellina berselingkuh dengan pria lain di belakangku dengan mata kepalaku sendiri."Dada Verlyn berdesir hebat. Kata-kata itu menghantam logikanya bagai petir di siang bolong. Kejadian yang selama
Verlyn berdiri terpaku beberapa saat di depan cermin, merapikan napasnya yang masih tak beraturan. Setelah berusaha menetralkan rona hangat di pipinya, ia mengambil pakaian baru yang dibelikan Kayn—sebuah gaun kasual berwarna krem berbahan lembut yang terpasang pas di tubuhnya, lalu mengganti kimono handuk tersebut.Dengan langkah pelan dan penuh keraguan, Verlyn memutar gagang pintu kamar tidur dan melangkah menuju area ruang tamu suite."Sudah bangun?" suara Kayn menyapa lembut sebelum Verlyn sempat mengedarkan pandangan.Aroma sup hangat dan teh herbal menyengat lembut indra penciumannya. Di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota pascabadai hujan semalam, Kayn berdiri seraya menuangkan teh ke dalam cangkir porselen. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja kasual abu-abu gelap yang lengannya digulung rapi hingga ke siku."E-eh... iya," sahut Verlyn gugup, meremas ujung gaunnya."Kemarilah. Bersiaplah untuk
Napas hangat mereka beradu hebat di tengah keheningan kamar suite. Kayn menatap manik mata Verlyn yang basah dengan raut penuh kejujuran mutlak dan rasa cinta yang tak lagi tertahan. "Tatap mataku, Verlyn. Tidak ada wanita lain!" bisik Kayn serak, suaranya sarat akan rasa frustrasi dan cinta yang meluap. "Di dunia ini... jangankan menikah, memikirkan wanita lain selain kamu saja tidak pernah terlintas di kepalaku!" Sebelum Verlyn sempat mencerna kata-kata itu, Kayn menangkup kedua pipinya dengan lembut. Pria itu menunduk, membungkam bibir Verlyn dengan ciuman yang dalam dan penuh kerinduan. Ciuman itu sarat akan emosi yang selama ini terpendam—rasa bersalah, keputusasaan, dan kasih sayang yang mendesak dadanya. Verlyn terpaku. Matanya perlahan terpejam saat rasa hangat melingkupi seluruh tubuhnya, meruntuhkan benteng jarak yang ia bangun selama ini. Kayn mengusap rahang Verlyn dengan protektif, menyalurkan seluruh penyesalan yang memb
Pengaruh alkohol dengan cepat menguasai kesadaran Verlyn yang memang tak memiliki toleransi terhadap minuman keras. Penglihatannya perlahan kabur, dan keseimbangan tubuhnya mulai goyah.Tuan Gerry dan Tuan Rozi yang menyadari perubahan kondisi Verlyn saling melempar lirikan penuh arti."Nona Verlyn, Anda sepertinya sudah agak mabuk," ujar Tuan Gerry dengan nada pura-pura simpati. Tangannya yang lancang perlahan mendarat di pinggang terbuka Verlyn. "Mari, kami bantu Anda beristirahat di ruang santai.""Iya, Nona. Biar kami bimbing," timpal Tuan Rozi seraya mengulurkan tangan hendak merangkul bahu Verlyn yang terekspos.Verlyn yang kepalanya kian berat berusaha menepis tangan-tangan itu. "T-tidak usah... aku bisa..."Sebelum tangan Tuan Rozi menyentuh kulit Verlyn, sebuah cengkeraman berurat yang amat kuat mendadak mencengkeram pergelangan tangan pria itu hingga terdengar bunyi gemeletak tipis."Singkirkan tangan kotor kalia
Verlyn menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat, membiarkan keheningan menyergap seketika. Ia melangkah kaku menuju meja kerja, lalu menyandarkan tubuhnya yang mendadak hilang tenaga.Dadanya dihantam rasa sakit yang menyengat. Anehnya, rasa ngilu kali ini terasa jauh lebih menyiksa dibanding saat Kayn bersama Sellina dulu. Bayangan Kayn yang bersanding dan bahagia dengan wanita lain kembali memukuli logikanya, meruntuhkan seluruh pertahanan yang susah payah ia bangun.Saat matanya memanas dan air mata siap menetes melintasi pipinya, pintu ruangannya tiba-tiba terdorong terbuka."Nona Verlyn!" panggil Fayyara ceria, melangkah masuk seraya membawa map berkas dengan senyum lebar.Suara ceria itu seketika memotong kesedihan Verlyn. Ia buru-buru mengedipkan mata berkali-kali, berusaha keras menahan agar bulir bening di pelupuk matanya tak sampai jatuh."Nona? Ada apa? Nona... menangis?" tanya Fayyara panik, menghentikan langkah dan lang
"A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja
Pak Rian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Verlyn. "Turunlah perlahan, Nona." "Oke, terima kasih!" Verlyn turun dan menatap gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya, mengilap terkena pantulan sinar matahari. "Gedungnya sama megah dan besar dengan perusahaan Kizen milik Ayah!" p
“Verlyn, apa kau sudah siap? Ingat janjimu hari ini!” teriak Kaze dari luar kamar. Verlyn membuka kelopak matanya perlahan dan menatap sayu ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna ungu lavender. Ia melirik jam di atas nakas sebelah kasur—08.40 AM. Matanya langsung membelalak. “Bagaimana aku b
“Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali







