เข้าสู่ระบบKetegangan di ruang rapat Vyntie Group masih terasa pekat. Semua mata kini tertuju pada layar proyektor besar di hadapan mereka, tempat Fayyara menghubungkan flashdisk berisi berkas penting. Verlyn berdiri tegak dan tenang. Ia mengambil satu langkah ke depan, membiarkan para direktur senior serta Khalix menyaksikan sendiri apa yang akan ditunjukkan. "Silakan putar rekamannya, Fayyara," ujar Verlyn pelan. Fayyara menekan tombol play di laptopnya. Seketika, layar proyektor menampilkan rekaman CCTV beresolusi tinggi dari sebuah hotel mewah. Terlihat jelas sosok Sellina berjalan berdampingan, bermesraan, hingga masuk ke kamar yang sama dengan seorang pria—dan pria itu bukanlah Kayn, melainkan Rensra. Bisik-bisik heboh langsung meledak di dalam ruang rapat. Para direktur yang tadinya memandang ragu kini saling melempar pandang dengan wajah tercengang. "Rekaman CCTV ini diambil p
Keesokan harinya, suasana meja kerja Verlyn di Kizen Group terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Buket bunga peony merah muda segar yang dikirim Kayn tergeletak cantik di sudut meja, bersandingan dengan memo kecil yang sukses membuat senyum Verlyn bertahan sejak pagi.Fayyara berdiri di tepi meja seraya membawa beberapa dokumen. Pandangannya berulang kali melirik buket bunga itu dengan raut menggoda."Ekhem... harum banget ruangan Nona pagi ini," goda Fayyara seraya tersenyum jahil. "Bunga dari CEO Vyntie Group memang beda ya."Pipi Verlyn memerah panas. "Fayyara, diamlah. Bantu aku merapikan jadwal rapat hari ini.""Baik, Nona. Tapi dari tadi bibir Nona senyum-senyum sendiri, lho!" kekeh Fayyara.Namun, ketenangan dan atmosfer manis di ruangan itu tidak bertahan lama.Pintu kerja Verlyn mendadak terdorong tanpa ketukan. Rainon masuk dengan napas terengah-engah, peluh dingin membasahi pelipisnya, dan raut wajahnya tampak
Di saat Kayn dan Verlyn mulai menemukan kembali kehangatan di antara mereka, hal sebaliknya justru menimpa Sellina.Di dalam kamar apartemennya yang berantakan, Sellina berdiri gemetaran di depan cermin kamar mandi. Wajahnya yang biasa dipoles sempurna kini pucat pasi dengan kantung mata menghitam. Gaun sutra yang ia kenakan tampak kusut, sejalan dengan kekacauan yang menghantam pikirannya.Rasa mual hebat kembali mengocok perutnya sejak pagi, berpadu dengan kepanikan luar biasa. Sudah hampir dua bulan ia terlambat datang bulan. Ditambah lagi, sokongan dana dari Kayn sudah sepenuhnya terputus sejak pria itu mengakhiri hubungan mereka dan mendepaknya dari lingkar elit.Sellina benar-benar stres berat. Kehidupan mewahnya perlahan goyah, tagihan apartemen menumpuk, dan Rensra—pria yang menjadi tempatnya berpaling mulai menunjukkan tabiat aslinya yang cuek, dingin, dan lepas tangan.Dengan tangan gemetar hingga mengetuk tepi wastafel, Sellina men
Perjalanan pulang dari hotel menuju gedung Kizen Group diliputi keheningan yang terasa berbeda. Verlyn duduk di kursi penumpang, melemparkan pandangannya lurus ke luar jendela. Ia berusaha keras menata raut wajahnya agar tetap tenang, meski dadanya bergemuruh heboh tiap kali mengingat insiden muntah dan bisikan Kayn semalam. Di sampingnya, Kayn yang menyetir sendiri justru tampak amat tenang. Pria itu sesekali melirik wanita di sebelahnya, tidak lagi menyembunyikan binar hangat di matanya. "Minumlah dulu. Ini kopi latte favoritmu," ujar Kayn lembut, menyodorkan cangkir kopi yang sempat ia pesan di lobi hotel tadi. Verlyn tersentak tipis, menerima cangkir itu tanpa berani menatap langsung mata Kayn. "T-terima kasih, Tuan Kayn." Bibir Kayn terangkat sedikit, membentuk senyum samar. "Kurangi panggil formal begitu saat kita sedang berdua, Verlyn." Pipi Verlyn mendadak memerah panas. Ia buru-buru menyesap ko
Mendengar nama Sellina keluar dari bibir Verlyn, raut Kayn seketika meredup. Tak ada rasa marah atau nada membela diri di wajahnya, yang tersisa hanyalah bayang penyesalan dan kejujuran mutlak.Kayn mempererat genggaman tangannya di atas meja, mengusap lembut punggung tangan Verlyn dengan ibu jarinya."Hubunganku dengan Sellina sudah berakhir sepenuhnya, Verlyn. Sudah sejak lama," ujar Kayn dengan nada rendah dan tenang.Verlyn tersentak tipis. Matanya menatap Kayn dengan binar tak percaya. "B-berakhir? Tapi dulu kamu...""Dulu aku bodoh," potong Kayn cepat tanpa berusaha mencari alasan. Ia menghela napas panjang, menatap lurus ke mata Verlyn. "Aku begitu buta sampai tidak bisa membedakan mana ketulusan dan mana pengkhianatan. Aku memergoki Sellina berselingkuh dengan pria lain di belakangku dengan mata kepalaku sendiri."Dada Verlyn berdesir hebat. Kata-kata itu menghantam logikanya bagai petir di siang bolong. Kejadian yang selama
Verlyn berdiri terpaku beberapa saat di depan cermin, merapikan napasnya yang masih tak beraturan. Setelah berusaha menetralkan rona hangat di pipinya, ia mengambil pakaian baru yang dibelikan Kayn—sebuah gaun kasual berwarna krem berbahan lembut yang terpasang pas di tubuhnya, lalu mengganti kimono handuk tersebut.Dengan langkah pelan dan penuh keraguan, Verlyn memutar gagang pintu kamar tidur dan melangkah menuju area ruang tamu suite."Sudah bangun?" suara Kayn menyapa lembut sebelum Verlyn sempat mengedarkan pandangan.Aroma sup hangat dan teh herbal menyengat lembut indra penciumannya. Di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota pascabadai hujan semalam, Kayn berdiri seraya menuangkan teh ke dalam cangkir porselen. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja kasual abu-abu gelap yang lengannya digulung rapi hingga ke siku."E-eh... iya," sahut Verlyn gugup, meremas ujung gaunnya."Kemarilah. Bersiaplah untuk
Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar
Pak Rian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Verlyn. "Turunlah perlahan, Nona." "Oke, terima kasih!" Verlyn turun dan menatap gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya, mengilap terkena pantulan sinar matahari. "Gedungnya sama megah dan besar dengan perusahaan Kizen milik Ayah!" p
“Verlyn, apa kau sudah siap? Ingat janjimu hari ini!” teriak Kaze dari luar kamar. Verlyn membuka kelopak matanya perlahan dan menatap sayu ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna ungu lavender. Ia melirik jam di atas nakas sebelah kasur—08.40 AM. Matanya langsung membelalak. “Bagaimana aku b
“Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali







