เข้าสู่ระบบSetelah mendapat kabar mendadak itu, Verlyn langsung bergerak cepat. Ia meminta Fayyara mempersiapkan ruang pertemuan privat di lantai atas dan mencari dokumen lama mengenai kerja sama Kizen Group dan Vyntie Group sebagai bahan acuan.
Verlyn bergegas merapikan penampilannya di depan cermin kecil. Ada sedikit desakan rasa gugup yang menyelusup di dadanya saat tahu ia akan kembali bertatap muka dengan Kayn. Begitu Fayyara mengonfirmasi bahwa dokumen yang diminta sudah ditata rapi diSetelah mendapat kabar mendadak itu, Verlyn langsung bergerak cepat. Ia meminta Fayyara mempersiapkan ruang pertemuan privat di lantai atas dan mencari dokumen lama mengenai kerja sama Kizen Group dan Vyntie Group sebagai bahan acuan. Verlyn bergegas merapikan penampilannya di depan cermin kecil. Ada sedikit desakan rasa gugup yang menyelusup di dadanya saat tahu ia akan kembali bertatap muka dengan Kayn. Begitu Fayyara mengonfirmasi bahwa dokumen yang diminta sudah ditata rapi di ruang pertemuan privat, Verlyn langsung melangkah keluar dari ruang kerjanya. Di saat yang sama, Kayn melangkah masuk ke dalam area lobby utama Kizen Group. Pria itu datang tidak sendiri—didampingi Rainon serta beberapa pengawal berjas rapi. Tatapan Kayn terasa hangat dan terbuka; ia menyapa keramahan para penjaga dan karyawan yang membungkuk padanya dengan senyuman tipis yang sangat berwibawa. Pintu lift di dekat lobby utama terbuka. Verlyn melangkah keluar bersama Fayyara
Suara ketukan jemari di atas meja mahoni memecah keheningan ruang kerja CEO Kizen Group. Verlyn masih fokus meneliti lembar demi lembar berkas audit di depannya.Penampilannya hari ini kelihatan simpel tapi elegan. Kemeja putih dengan lengan tiga perempat terpasang rapi di tubuhnya, dipadukan dengan celana bahan hitam berpotongan lurus. Rambut warna kremnya digelung model messy bun, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di samping wajahnya.Begitu menandatangani dokumen terakhir, Verlyn menyandarkan punggung ke kursi lalu menghela napas lega. Pekerjaan utamanya untuk sesi pagi akhirnya selesai juga dengan cepat.Pintu ruangan perlahan terbuka, membiarkan Fayyara melangkah masuk sambil memegang tablet di tangannya."Nona Verlyn," panggil Fayyara. "Maaf mengganggu waktunya. Ada satu janji temu mendadak siang ini, apa Nona bisa datang?"Verlyn mendongak. Sebagai tipe orang yang rajin dan suka tetap sibuk, dia paling tidak betah j
Keesokan paginya, ruangan kerja Kayn terasa seperti ruang hampa. Tidak ada lagi sisa-sisa emosi di wajahnya. Mata yang biasanya menyimpan duka itu kini tampak kosong dan dingin. Rasa sakit semalam sudah mencapai titik di mana ia bahkan tak lagi mampu meneteskan air mata; ia sekarang hanya merasa... mati rasa. Tanpa suara, daun pintu terbuka. Rainon melangkah masuk dengan sigap. "Rainon," panggil Kayn singkat. "Ya, Tuan Kayn? Ada yang Anda butuhkan?" "Blokir semua kartu kredit dan fasilitas atas nama Sellina. Hari ini juga. Cabut aksesnya dari semua properti Vyntie Group," perintah Kayn datar tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di mejanya. Rainon terdiam sejenak, wajahnya tampak bingung. "Saya minta maaf sebelumnya, Tuan... apa ada masalah yang terjadi? Apakah ini ada hubungannya dengan—" "Itu tidak penting," potong Kayn dingin tanpa menoleh. "Dia hanya seseorang yang sudah tidak lag
Khalix masih tampak asyik berbincang hangat dengan beberapa relasi senior di tengah riuhnya ballroom. Namun, saat pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan, dahinya berkerut pelan. Sosok Kayn yang seharusnya sedang membaur membangun relasi, sama sekali tak terlihat di mana pun. Memutuskan untuk memeriksa, Khalix memohon izin sebentar pada lawan bicaranya lalu melangkah keluar dari ballroom. Pria paruh baya itu merogoh ponsel di dalam saku jasnya, mencoba menghubungi nomor putranya. Satu panggilan dialihkan. Dua kali... tiga kali, tetap tidak ada jawaban. Panggilan teleponnya hanya dibiarkan berdering hingga mati begitu saja. Khalix menghela napas panjang, mendengus gusar. Ia berjalan menuju area parkir VIP di luar gedung hotel. Di sanalah ia melihat mobil sedan hitam milik Kayn terparkir. Lampu kabinnya redup, namun Khalix bisa melihat samar sosok putranya yang terduduk kaku di dalam. Dengan langkah lebar, Khalix menghampiri mobil itu da
Keheningan koridor VIP terasa begitu menghimpit bagi Kayn. Tubuhnya kaku membeku. Matanya menatap tajam dua sosok di depannya, berjuang keras memproses kenyataan pahit yang menghantam dadanya tanpa ampun. Sellina, wanita yang selama ini ia bela mati-matian dan ia beri segala kemewahan kini sedang bersandar mesra di dada Rensra. "Aduh, pelan-pelan dong, Rens... Nanti ada yang lihat," bisik Sellina manja sambil mengusap rahang Rensra. Rensra terkekeh pelan, ja mempererat pelukannya di pinggang Sellina. "Siapa yang bisa lihat kita di lorong sepi begini? Lagian, si Kayn itu tidak akan datang ke acara ini. Setahu aku yang diundang ke acara ini dan yang menjadi perwakilan Vyntie Group malam ini hanya Tuan Presdir Khalix, bukan dia." Sellina tertawa kecil, suara tawa yang dulu selalu terdengar manis di telinga Kayn, kini berubah menjadi bisikan beracun yang menyayat hatinya. "Iya
"Ingat kata-kata Papa, Kayn. Malam ini Papa ada urusan sendiri dengan komisaris senior," bisik Khalix dingin saat mereka baru saja melewati pintu utama ballroom hotel bintang lima tersebut. "Buktikan kalau kamu bisa bangun relasi sendiri. Amankan minimal satu kesepakatan malam ini. Jangan membuat Papa malu di depan rekan-rekan Papa." Kayn melirik ayahnya sekilas, menelan saliva yang terasa pahit di tenggorokannya. "Papa tidak mau mendampingiku dulu sebentar?" Khalix menghentikan langkahnya, ia membalikkan badannya dan menatap Kayn dengan pandangan menusuk. "Kamu adalah penerus Vyntie Group, bukan anak kecil yang harus digandeng ke mana-mana," sahut Khalix tanpa memberikan ruang untuk Kayn membantah. "Tunjukkan wibawamu di depan mereka." Khalix langsung berbalik dan melangkah pergi menyapa kerumunan pengusaha senior, meninggalkan Kayn sendirian di tengah riuhnya jamuan mewah itu. Kayn menghela napas panjang, ia merapikan jas hitam
“Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali
Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar
Pak Rian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Verlyn. "Turunlah perlahan, Nona." "Oke, terima kasih!" Verlyn turun dan menatap gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya, mengilap terkena pantulan sinar matahari. "Gedungnya sama megah dan besar dengan perusahaan Kizen milik Ayah!" p
“Verlyn, apa kau sudah siap? Ingat janjimu hari ini!” teriak Kaze dari luar kamar. Verlyn membuka kelopak matanya perlahan dan menatap sayu ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna ungu lavender. Ia melirik jam di atas nakas sebelah kasur—08.40 AM. Matanya langsung membelalak. “Bagaimana aku b







