Share

Bab 2

Genap tiga kali suci, akhirnya Nyonya Ulfa menyelesaikan iddah-nya.

Hari ini dia akan keluar dari rumah majikanku, seutuhnya lepas dari status istri sah Tuan Abizar karena sejak awal menalaknya tak ada tanda-tanda dari Tuan Abizar kalau beliau ingin merujuknya.

"Sebelum aku pergi, apakah kamu ingin mendengar sedikit cerita dariku, Mawar?"

Nyonya Ulfa bertanya saat aku mengemasi barang-barang pribadinya ke dalam koper. Wajahku menoleh, sedikit menggambarkan rona bingung. Kepalaku mengangguk, mempersilahkan dia bercerita.

"Setelah mengucapkan ijab, wajah tuanmu sangat murung, seperti menyesal menikahiku padahal keluarganya sendiri yang memintaku untuk menikah dengannya ...."

Pergerakan tanganku yang menyusun barang-barang pribadi Nyonya Ulfa berhenti.

Aku fokus mendengarkannya, diam-diam memerhatikan semua perhiasan yang melekat di tubuhnya.

Semua benda mahal itu dari Tuan Abizar, sekalipun sudah menceraikan Nyonya Ulfa Tuan Abizar tidak memintanya kembali.

Nyonya Ulfa melanjutkan ceritanya.

"Selama bersanding di sebelahku, di kedua resepsi Indonesia dan Arab Saudi, dia terus melihat ke arahmu. Seperti merasa kecewa kepadamu. Ah, begitulah yang kupikirkan saat melihat matanya berembun terus menatapmu yang terlihat bahagia dan mengucapkan kalimat selamat kepadaku berkali-kali."

Aku masih memasang telinga, mendengarkan lanjutan cerita Nyonya Ulfa.

"Awalnya, aku hendak menolak pernikahan ini saat orang tuaku menawarkan. Karena takut bernasib sama dengan mantan-mantan istri tuanmu sebelumnya, diceraikan setelah malam pertama. Tapi saat melihat tuanmu untuk pertama kali, hatiku berdesir. Wajah tampannya membuat hatiku berdebar, saat itu juga aku jatuh cinta dan meyakinkan diri sendiri, aku pasti bisa mempertahankan pernikahanku dengan tuanmu."

"Akan kukerahkan semua pesonaku agar tuanmu mempertahankanku dan jatuh cinta padaku. Tapi semua itu seakan mustahil, saat dia terus menatapmu dari jauh, tak pernah menolehku saat aku memanggil, tak pernah memandangi wajahku padahal aku sudah berdandan seapik mungkin, saat aku mendesaknya untuk mengobrol dia selalu menyuruhku diam, tapi saat kamu mengajaknya mengobrol dia selalu menanggapi, sekalipun wajahnya terlihat jutek."

Matanya memandangku iri. Tak ada rasa benci yang dia perlihatkan, hanyalah bentuk kecemburuan yang wajar dirasakan oleh setiap wanita.

Sorot matanya seperti mengatakan, 'andai aku jadi kamu'.

"Di malam pertama, nyaris tiga jam dia mendiamiku, sekalipun aku sengaja membuka sebagian pakaianku agar dia melihatnya."

"Tidak tahan, akhirnya kudesak dia. 'Bagaimana dengan malam pertama kita, apakah kamu ingin melewatkannya?', pertanyaan yang membuatku menyesal setelah mendengarkan jawabannya."

"Kamu ingin tahu apa katanya?" Nyonya Ulfa diam, memandangku dalam. Merasakan firasat buruk, aku mengangguk saja.

"Dia bilang, bisakah aku berdandan sepertimu? Berpakaian sepertimu? Memotong rambutku sepertimu, di malam pertama kami. Tentu saja aku heran saat mendengarnya, dia bertanya penuh harap. Dan apa jawabanku? Aku mengiakannya."

Nyonya Ulfa meringis, sedangkan aku tidak mengerti apa yang terjadi.

Kenapa Tuan Abizar meminta hal-hal demikian? Bukankah itu menjijikkan dan aneh? Di malam pertama, meminta istri sendiri, berdandan seperti wanita lain.

"Dia mengambil pakaianmu di jemuran belakang, dan aku memakainya."

Aku mengerjap. Pantasan, salah satu pakaianku hilang. Ternyata Tuan Abizar yang mengambilnya.

"Dia memotong rambutku dengan rapi, persis seperti model rambutmu. Sepertinya, Tuan Abizar sering memotong rambutmu, ya? Lalu, dia pergi ke kamarmu lagi. Tanpa izin, mengambil semua make up-mu untuk kupakai. Dan aku memakainya. Berusaha meniru penampilan wajahmu. Kadang aku keliru merias diri agar mirip denganmu, tuanmu yang merapikan dandananku."

Awalnya kukira ada maling nakal di rumah ini, yang bukannya mencuri baju mahal dan make up bermerk bagus milik majikan, malah mencuri baju dan make up jelek milik pembantu.

Aku tidak menyangka, barang-barangku yang pernah hilang Tuan Abizar pelakunya. Yang dia ambil untuk dipakaikan ke Nyonya Ulfa.

"Saat itu juga, setelah selesai meniru penampilanmu. Tuanmu memandangi wajahku penuh binaran, tidak disangka dia langsung menciumku dengan buas. Dia begitu bersemangat, rona-rona kesedihannya hilang. Tapi di pertengahan, dia seperti sadar. 'Kalau aku bukan kamu'. Dia langsung menarik diri, mengerang, menggeleng-geleng, matanya berair dan memerah. Berkata dingin, "kamu bukan Mawar. Semirip apapun kalian sekarang, kamu tetap bukan Mawar".

Dia langsung meninggalkanku begitu saja, saat itu aku sedih dan bersyukur. Sedih karena dicampakkan suami sendiri dan bersyukur pikiran tuanmu teralih dan tidak menyadari, kalau dia bukan orang pertama—aku tidak perawan sebelum menikah dengannya."

Nyonya Ulfa masih melanjutkan. Aku jadi lupa tugas untuk mengemasi barang-barangnya, mobil yang akan ditumpangi Nyonya Ulfa untuk pulang ke keluarganya akan datang setengah jam lagi.

"Setelah memakai pakaianku—bukan pakaianmu lagi yang diambilkan Abizar—aku menyusul langkahnya. Mungkin kamu tidak pernah tahu ini, di tengah malam saat dia meninggalkanku sendirian di kamar pengantin dia berdiri menghadap pintu kamarmu yang terkunci, mungkin kamu sudah tidur. Lalu dia duduk di depan pintu, bersender di sana, terlelap di pintu kamarmu."

Nyonya Ulfa meringis, "satu jam aku membeku, melihatnya yang bersikap demikian. Setelah tersadar, aku membangunkannya. Dia terlihat nyenyak, meskipun tidur di lantai bersenderkan pintu. Marah saat aku membangunkannya, tapi setelah bangun dia akhirnya pergi tapi meskipun sudah berganti-ganti tempat—di sofa, kamar tamu, semua kamar di rumah ini, semua sofa di rumah ini—dia tidak bisa tidur sama sekali."

"Paginya, aku ditalak. Begitu saja. Tidak sama halnya seperti saat menikahiku, saat menalakku dia tidak merasa menyesal sama sekali. Jujur, Mawar. Aku sangat sakit hati."

Aku kehilangan kata-kata, tak ada kalimat tepat di kepalaku untuk menghiburnya. Apalagi di curahan hatinya, sepertinya aku terdakwa di sini. Dalang dari masalah yang menimpanya.

"Semuanya sudah terlanjur terjadi, sekalipun aku menolak diceraikan, aku tetap mantan istrinya. Di masa iddah ini, aku berusaha untuk mencuri hatinya lagi untuk merujukku, tapi dia seperti tidak berminat sama sekali. Di rumah ini saja, aku seperti tidak dianggap ada."

Nyonya Ulfa ikut memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Memasukkannya sembarangan, secara acak, tidak melipat atau menatanya terlebih dahulu. Setelah kopernya penuh, semua barangnya dimasukkkan, dia menutupnya dan menarik rasleting.

"Aku akan langsung menunggu di depan, sepertinya tuanmu tidak membutuhkan ucapan selamat tinggal dariku 'kan?"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status