ANMELDENKila dengan cekatan memotong daun bawang menjadi ukuran kecil yang sama besarnya, ia juga memotong wortel dengan seukuran ibu jari.
Kemudian Kila menyalakan kompor. Menuang sedikit minyak untuk menumis bawang bombay hingga layu, bersamaan dengan itu, Kila memasukan wortes. Menumisnya sebentar agar teksturnya tidak mudah ambyar saat di masak nanti. Setelah itu, Kila dengan sigap menuangkan air ke dalam panci masak tadi. Butuh waktu cukup lama untuk mendidihkan air yang nanti akan di masukan daging. Tak perlu menunggu air sampai mendidih, Kila sudah sibuk memasukan bumbu dan rempah rempat. Ia memasukan bunga lawang dan cengkeh ke dalam kantong masak berukuran kecil. Kantong itu nanti akan di masukan ke dalam air mendidih dan saat sop matang, akan di ambil supaya rempah itu tidak menggangu Tuan Puteri Karin saat menyeruput kuah sopnya. Kila memasukan garam, lada dan juga bubuk bawang putih. Kemudian mencicipi kuah racikannya. Kila mengangguk puas, ini akan membuat Tuan Puteri senang. Kila memasukan daging, mengaduk isi panci yang mengepulkan uap panas, selurhuh dapur kini beraroma sop daging yang berempah, dan gurih. Kila tersenyum puas dengan hasil masakannya. *** *** *** “Aku sangat kesal Bu! “ teriak Karin dengan gelagat anak manja, ia menyandarkan kepalanya ke pundak ibunya. Kain menghentak - hentakan kakinya ke lantai. Tanda kalau kekesalannya tidak bisa di tahan lagi. “Kenapa malah Kila yang di nikahkan dengan Kama!!” jerit Kirana frustasi, ibunya.... Bibi Aini hanya bisa mengusap pundak anaknya agar tidak makin kesal. “Ibu saja tidak tau jalan pikiran Bapakmu itu, sayang.... “ bujuk Bibi Aini, “Kalau ibu yang membuat keputusan, ibu akan jodohkan pria matang yang tampan itu kepada anak kita ini yang cantik.... “ ucap Bibi Aini sembari mengusap kepala anaknya. Karin tersenyum tipis mendengar pujian ibunya itu. “Nah kan! Ibu juga sependapat dengan aku rupanya..... “ rengek Karin dengan kesal. Bibi Aini menghela nafas panjang, sulit untuknya membujuk Karin meskipun dia adalah puterinya sendiri. Bibi Aini pun heran, entah menurun dari mana sifat keras kepala Karin ini. “Kenapa pula Bapakmu itu menjodohkan, ah tidak. Dia bahkan menikahkan si anak yatim piatu itu kepada laki - laki seperti Kama.” Bibi Aini rupanya cukup kesal, bahkan saat pagi hari di pernikahan Kama dan Kila, ia tidak diberi tahu. Dipagi buta, ia dibangunkan suaminya untuk menyiapkan pernikahan. Bahkan di situ, Bibi Aini tidak tau siapa yang hendak menikah. Melihat gelagat suaminya yang begitu bersemangat, ia sempat mencurigai kalau Pak Zainal akan menikah lagi. Tapi BIbi Aini bernafas lega sekaligus terkejut juga, karena yang akan menikah adalah keponakannya sendiri, Kila. Dan kembali, Bibi Aini di kejutkan dengan calon suami Kila. Laki - laki yang tinggi, rambut di sisir rapih. Meski tidak ada yang mencurigakan dari penampilan Kama saat pertama kali datang ke rumah untuk menikahi Kila, entah mengapa.... BIbi Aini seperti bisa melihat aura mencekam dan mengancam dari Kama. Tapi semua itu di tutupi dengan sempurna oleh ketampanan Kama **** **** BIbi Aini mengusap pundak anaknya, mencoba menabahkan hati puterinya itu. Meski begitu, perasaan kesal Karin pada Kila, serta perasaan dongkol Karin pada ayahnya tetap tidak bisa hilang. Karin sesekali, masih menghentakan kakinya dengan kesal. “Kila menyebalkan! Aku ingin memukul dia! Bu... aku kesalllll!” Karin menggertakan giginya, rasa kesal bercampur amarah memuncak hingga ubun - ubun. “Bibi.... “ tiba - tiba Kila muncul dari balik pintu kamar Karin, melihat Karin yang meringkuk di pelukan Ibunya. Kila yang melihat kilatan kemarahan Karin saat melihatnya, membuat Kila takut? Apa aku memasak terlalu lama? Sampai Karin kesal dan mengadu ke ibunya? Karin yang sedang sangat kesal dengan Kila, melihat kemunculan Kila malah memancing kekesalan Karin semakin memuncak. Bibi Aini yang tau tabiat puterinya itu, sudah mewanti wanti, ia mencekram pundak Karin. Menahan Karin agar tidak mencelakai Kila. “Ada apa?” tanya Bibi Aini dengan ketus, Kila meneguk ludah karena takut. Ini cobaan untuk hari beratnya. “Ak- Aku sudah memasak sop danging untuk Karin dan Bibi untuk sarapan...” tutur Kila sembari mengambil dua langkah mundur, bersiap lari kalau terjadi apa - apa. Dan ajaibnya, mendengar kata sarapan Karin langsung terlihat bahagia. Ia mendongakan kepalanya, melihat ke arah pintu dimana Kila berdiri di sana. Kemarahan Karin sedikit reda meihat Kila, karena ia sudah membuatkan makanan kesukaanya untuk sarapan. “Bangun, jangan begini terus. Ayo kita sarapan.... “ Bujuk Bibi Aini kepada puterinya, dan kata sarapan sepertinya berhasil membuat Karin senang. Ibu dan anak itu berjalan berdampingan, keluar dari kamar melewati Kila begitu saja. Kila tidak pernah diajak untuk makan bersama. Apapun itu, sarapan, makan siang ataupun makan malam. Kila selalu di kesampingkan dan memakan sisa masakannya sendiri. Baru saja Kila hendak melangkah menuju dapur, suara ketukan pintu membuatnya terhenti. Bibi Aini yang juga mendengar suara ketukan pintu di pagi hari itu langsung berkata, “Sana, bukakan pintu, suruh tamunya menunggu dulu, kami mau sarapan.” Kila mengangguk tunduk, ia berbalik badan dan menuju pintu utama. Siapa pula yang bertamu di waktu seperti ini? Pasti itu orang yang tidak punya pekerjaan atau orang yang sangat banyak waktu luang. Kila berdiri di depan pintu, tanganya memutar gagang pintu dan menariknya. Perlahan, pintu terbuka. Kila melihat si tamu pagi ini, tubuhnya tegap, pakaianya rapi. Dia laki laki. Dan begitu mata Kila bertatapan dengan pemilik sorot tajam itu. Saat itu juga, Kila kesulitan bernafas. “Kama?!” *** *** Karin duduk di kursi, meja makan sudah dipenuhi dengan masakan Kila. Karin sejenak melupakan kekesalannya, perutnya sudah lapar. Karin menghirup udara di sekitarnya, ia bisa mencium aroma rempah yang menguar di seluruh ruangan karena masakan Kila. “Kenapa kamu tersenyum begitu?” tanya Bibi Aini pada puterinya Karin. Karin menggeleng pelan, “Tidak ada apa - apa.” jawab Karin, pendek. Tangan Karin menarik piring yang sudah tersedia di depannya, mengisi piring dengan sop daging. Dengan cekatan, Karin mencari daging yang sudah masak itu. Menaruhnya dengan pelan di atas piring, seolah itu adalah barang berharga. Bibi Aini pun tak kalah girang seperti Karin, ia senang sekali hari ini karena suaminya memberikan uang bulanan yang lebih banyak dari sebelumnya. Bibi Aini menatap puterinya yang sedang mengaga lebar dengan tangan yang menyendok potongan daging. Melihat kepulan asap dari sendok yang disuap Karin saja, Bibi Aini merinding. “Itu masih pana-” “Huahh.... hahhh hanas! Hanas!” Belum sempat BIbi AIni menghardik puterinya, lidah Karin sudah terlebih dahulu melepuh karena daging yang ia kunya masih panas. “Minumlah dan makan dengan tenang, kamu ini perempuan. Perempuan berpendidikan.” hardik BIbi Aini, sembari mengulurkan gelas. Karin menerima minum dari ibunya, ia menengguk setengah isi gelas dengan cepat, kemudian memeletkan lidahnya. Bibi Aini bangun dari kursi, “Ibu mau membangunkan Kemala dulu, kamu sarapanlah.... tunggu sampai dagingnya dingin baru kamu makan.” Karin mengangguk paham dan Bibi AIni berjalan meninggalkan ruang makan, menuju kamar Kemala. Puteri pertamanya. **** **** Kila tidak bisa mengendalikan ekspresinya, ia sangat terkejut dengan penampakan Kama di depannya. Bagaimana mungkin? Laki - laki ini muncul tepat di hadapannya sepereti sekarang ini? Manusia yang ingin Kila hindari, malah muncul dengan sendirinya. Di hadapanya. Ada banyak sekali emosi yang tidak bisa di jelaskan, wajah Kila sampai memucat karena menahan banyak emosi tersebut. Mulai dari marah, bingung, takut. Dan masih banyak lagi. Dan kalian tau apa hebatnya? Kama hanya menatap lurus, ke arah Kila. Tanpa ekspresi seperti biasa. Laki - laki ini sepertinya sudah biasa menghabiskan banyak malam dengan perempuan, sampai malam pertama pernikahanya dengan Kila sudah tak berkesan lagi. “Kila, kenapa berdisi saja di situ.... “ Suara Paman Zainal mengejutkan Kila, akhirnya Kila bisa mengambil alih kesadaran dirinya. Reflek, Kila mengambil dua langkah mundur. Sedangkan Kama masih berdiri di tempatnya. Paman Zainal yang entah dari mana itu, berjalan mendekati Kila. Sampai ia melihat Kama, Paman Zainal tidak terlalu terkejut seperti Kila. Sepetinya, ia sudah tau tentang kedatangan Kama kerumah mereka ini. Paman Zainal tersenyum ramah, “Masuklah... mari kita sarapan.” ujar Paman Zainal sembari menepuk bahu Kama. Kama mengangguk takzim. Ia berjalan di samping Paman Zainal yang menuntun Kama ke ruang makan. Sedangkan KIla seperti anak kecil yang mengekor. Saat melewati pintu kamarnya, Kila hendak masuk untuk bersembunyi di sana. Tapi Paman Zainal malah memergokinya. “Kamu mau apa, masuk ke kamar KIla?” tanya Paman Zainal, yang entah mengapa sangat perthatian itu. Kila tersenyum miring, “AKu mau istirahat.” jawab Kila seadanya. Paman Zainal menggeleng, “Sarapan dulu. Bagaimana mungkin kamu istirahat tanpa makan terlebih dahulu... “ Paman Zainal menarik tangan Kila dan mensejajarkan dirinya dengan Kama. Kila menarik nafas panjang. Tuhan? Ini kejutan yang engkau persiapkan untukku di pagi hari ini?Paman Kila punya banyak sekali usaha. Tapi tidak di kota ini, Paman Zainal memiliki beberapa pabrik di luar kota, lebih tepatnya pabrik pengolahan kayu. Paman Zainal harus menggunakan kapal dan melanjutkan perjalanan dengan mengendarai mobil selama kurang lebih dua jam. BIasanya Paman Zainal akan melakukan pengecekan di pabrik setiap sebulan atau dua bulan sekali. Dan tibalah hari ini, bersama Kemala dengan rencana liburannya.“Katakan kepada Bibi, kalau Paman mungkin akan pulang seminggu lagi.” pesan Paman Zainal pada Kila.Kila mengangguk paham, ia melihat Kemala yang sudah heboh dengan barang - barangnya. “Paman sudah minta seseorang untuk menjemput kamu nanti, jangan pulang terlalu malam. Melewati perbukitan di malam hari itu tidak aman.” pesan Paman Zainal lagi, guna memastikan keselamatan keponakannya itu.“Tidak perlu Paman, aku bisa pulang dengan mobil orang - orang desa. Mereka pasti banyak yang pulang dari pasar.” Kila menolak .Meskipun Kila menolak, rupanya Paman Zainal n
Sementara itu di meja makan, Karin dan Kemala sudah duduk dengan manis di sana. Dengan piring yang sudah terisi dengan makanan. Dan juga Bibi Aini yang duduk berhadapan dengan kedua puterinya. Melihat kemunculan Kila, Kama dan ayah mereka. Karin dan Kemala sontak menganga dengan kompak. Keduanya sama - sama diserang keterkejutan. Serangan mendadak!Sementara itu, BIbi Aini yang memunggungi mereka bertiga. Tak tau apa yang membuat kedua puterinya itu terngaga sampai ia berbalik badan.Dan sama. Bibi Aini pun ternganga. “Kama?” ujar Karin dan Kemala secara berbarengan.Paman Zainal tak menggubris keterkejutan anak istrinya, ia berjalan di depan. Membiarkan Kila mau tak mau harus berdampingan dengan Kama. Kila dengan kikuk berjalan di samping Kama. Tinggi badan Kama dan Kila terlihat sangat jomplang disini.“Mari... Kila sudah memasak pagi sekali.” Paman Zainal menarik kursi untuk mempersilahkan Kama duduk. Kama akhirnya duduk. Sedangkan Paman Zainal menghampiri sisi meja yang lain,
Kila dengan cekatan memotong daun bawang menjadi ukuran kecil yang sama besarnya, ia juga memotong wortel dengan seukuran ibu jari. Kemudian Kila menyalakan kompor. Menuang sedikit minyak untuk menumis bawang bombay hingga layu, bersamaan dengan itu, Kila memasukan wortes. Menumisnya sebentar agar teksturnya tidak mudah ambyar saat di masak nanti. Setelah itu, Kila dengan sigap menuangkan air ke dalam panci masak tadi. Butuh waktu cukup lama untuk mendidihkan air yang nanti akan di masukan daging. Tak perlu menunggu air sampai mendidih, Kila sudah sibuk memasukan bumbu dan rempah rempat. Ia memasukan bunga lawang dan cengkeh ke dalam kantong masak berukuran kecil. Kantong itu nanti akan di masukan ke dalam air mendidih dan saat sop matang, akan di ambil supaya rempah itu tidak menggangu Tuan Puteri Karin saat menyeruput kuah sopnya.Kila memasukan garam, lada dan juga bubuk bawang putih. Kemudian mencicipi kuah racikannya. Kila mengangguk puas, ini akan membuat Tuan Puteri senang.
Kila terduduk lemas, ia tak bisa berpikir tenang. Pikirannya masih tertinggal di rumah Kama, dan sialnya Kila tidak bisa melenyapkan bayangan Kama dalam benaknya.“Siall..... “ geram Kila dengan kesal, ia masih saja memikirkan laki - laki berengsek seperti Kama. Tanpa sadar, Kila menangis. Ia tidak bisa menahan gejolak emosi yang membuat dadanya sesak.Kepala Kila tertunduk. Ia menangis sejadi jadinya. Rasa sakit di hatinya, tidak bisa tertahankan. Bahkan rasa sakit di pangkal pahanya masih terasa sakit sampai sekarang. Dan yang Kila tau, seorang Kama hanya meninggalkan luka di jiwa, dan tubuhnya. Kila menggertakan giginya, ia bersumpah. Dalam kebetulan manapun, ia tak ingin bertemu dengan laki - laki itu. Kama. *** ***Kila duduk di tepi ranjang, ini tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Seumur hidupnya ia tidak pernah menempati ruangan sebesar ini. Ruangan yang disediakan untuknya, begitu luas. Bahkan terlalu luas kalau hanya untuk di tinggali oleh Kila.Kila melihat sekel
Laki - laki di depan Kila ini memang brengsek. Bahkan saat mata Kila sudah memanas karena menahan air mata yang siap tumpah, Kama, nama laki - laki brengsek itu. Ia tidak peduli dengan Kila, bagaimanapun mereka telah melewatkan malam bersama. Sebagai seorang suami dan istri. Tapi sekarang?Kama bahkan tak bereaksi apa - apa dengan kesedihan di wajah Kila yang terang - terangan di perlihatkan oleh wanita itu.“Orang - orangku akan segera mengemasi barang - barangmu,” Kama berdiri sembari berlalu meninggalkan Kila.Kila tersentak, setelah menunggu kata - kata maaf atau ampunan, atau permohonan atau apapun itu... rupanya yang keluar dari mulut Kama, adalah kalimat berisi perintah untuk segera angkat kaki dari rumahnya.aKama tak berbalik badan sedikitpun, sedangkan KIla sudah siap berdiri. Siap untuk menginterupsi.“Kenapa? Kenapa Kama!” jerit Kila dengan pedihnya.“Kenapa kamu membuangku.... “ isak Kila dengan pedihnya, ia terhuyung dan segera mencari sandaran. Kila syok, tubuhnya bahka







