Share

3

Author: Elios
last update publish date: 2025-12-07 22:19:50

Kila dengan cekatan memotong daun bawang menjadi ukuran kecil yang sama besarnya, ia juga memotong wortel dengan seukuran ibu jari.

Kemudian Kila menyalakan kompor. Menuang sedikit minyak untuk menumis bawang bombay hingga layu, bersamaan dengan itu, Kila memasukan wortes. Menumisnya sebentar agar teksturnya tidak mudah ambyar saat di masak nanti. Setelah itu, Kila dengan sigap menuangkan air ke dalam panci masak tadi. Butuh waktu cukup lama untuk mendidihkan air yang nanti akan di masukan daging.

Tak perlu menunggu air sampai mendidih, Kila sudah sibuk memasukan bumbu dan rempah rempat. Ia memasukan bunga lawang dan cengkeh ke dalam kantong masak berukuran kecil. Kantong itu nanti akan di masukan ke dalam air mendidih dan saat sop matang, akan di ambil supaya rempah itu tidak menggangu Tuan Puteri Karin saat menyeruput kuah sopnya.

Kila memasukan garam, lada dan juga bubuk bawang putih. Kemudian mencicipi kuah racikannya.

Kila mengangguk puas, ini akan membuat Tuan Puteri senang.

Kila memasukan daging, mengaduk isi panci yang mengepulkan uap panas, selurhuh dapur kini beraroma sop daging yang berempah, dan gurih. Kila tersenyum puas dengan hasil masakannya.

***

***

***

“Aku sangat kesal Bu! “ teriak Karin dengan gelagat anak manja, ia menyandarkan kepalanya ke pundak ibunya. Kain menghentak - hentakan kakinya ke lantai. Tanda kalau kekesalannya tidak bisa di tahan lagi.

“Kenapa malah Kila yang di nikahkan dengan Kama!!” jerit Kirana frustasi, ibunya.... Bibi Aini hanya bisa mengusap pundak anaknya agar tidak makin kesal.

“Ibu saja tidak tau jalan pikiran Bapakmu itu, sayang.... “ bujuk Bibi Aini, “Kalau ibu yang membuat keputusan, ibu akan jodohkan pria matang yang tampan itu kepada anak kita ini yang cantik.... “ ucap Bibi Aini sembari mengusap kepala anaknya.

Karin tersenyum tipis mendengar pujian ibunya itu.

“Nah kan! Ibu juga sependapat dengan aku rupanya..... “ rengek Karin dengan kesal.

Bibi Aini menghela nafas panjang, sulit untuknya membujuk Karin meskipun dia adalah puterinya sendiri. Bibi Aini pun heran, entah menurun dari mana sifat keras kepala Karin ini.

“Kenapa pula Bapakmu itu menjodohkan, ah tidak. Dia bahkan menikahkan si anak yatim piatu itu kepada laki - laki seperti Kama.”

Bibi Aini rupanya cukup kesal, bahkan saat pagi hari di pernikahan Kama dan Kila, ia tidak diberi tahu. Dipagi buta, ia dibangunkan suaminya untuk menyiapkan pernikahan. Bahkan di situ, Bibi Aini tidak tau siapa yang hendak menikah. Melihat gelagat suaminya yang begitu bersemangat, ia sempat mencurigai kalau Pak Zainal akan menikah lagi. Tapi BIbi Aini bernafas lega sekaligus terkejut juga, karena yang akan menikah adalah keponakannya sendiri, Kila. Dan kembali, Bibi Aini di kejutkan dengan calon suami Kila. Laki - laki yang tinggi, rambut di sisir rapih. Meski tidak ada yang mencurigakan dari penampilan Kama saat pertama kali datang ke rumah untuk menikahi Kila, entah mengapa.... BIbi Aini seperti bisa melihat aura mencekam dan mengancam dari Kama. Tapi semua itu di tutupi dengan sempurna oleh ketampanan Kama

****

****

BIbi Aini mengusap pundak anaknya, mencoba menabahkan hati puterinya itu. Meski begitu, perasaan kesal Karin pada Kila, serta perasaan dongkol Karin pada ayahnya tetap tidak bisa hilang. Karin sesekali, masih menghentakan kakinya dengan kesal. “Kila menyebalkan! Aku ingin memukul dia! Bu... aku kesalllll!”

Karin menggertakan giginya, rasa kesal bercampur amarah memuncak hingga ubun - ubun.

“Bibi.... “ tiba - tiba Kila muncul dari balik pintu kamar Karin, melihat Karin yang meringkuk di pelukan Ibunya. Kila yang melihat kilatan kemarahan Karin saat melihatnya, membuat Kila takut? Apa aku memasak terlalu lama? Sampai Karin kesal dan mengadu ke ibunya?

Karin yang sedang sangat kesal dengan Kila, melihat kemunculan Kila malah memancing kekesalan Karin semakin memuncak. Bibi Aini yang tau tabiat puterinya itu, sudah mewanti wanti, ia mencekram pundak Karin. Menahan Karin agar tidak mencelakai Kila.

“Ada apa?” tanya Bibi Aini dengan ketus, Kila meneguk ludah karena takut. Ini cobaan untuk hari beratnya.

“Ak- Aku sudah memasak sop danging untuk Karin dan Bibi untuk sarapan...” tutur Kila sembari mengambil dua langkah mundur, bersiap lari kalau terjadi apa - apa.

Dan ajaibnya, mendengar kata sarapan Karin langsung terlihat bahagia. Ia mendongakan kepalanya, melihat ke arah pintu dimana Kila berdiri di sana. Kemarahan Karin sedikit reda meihat Kila, karena ia sudah membuatkan makanan kesukaanya untuk sarapan.

“Bangun, jangan begini terus. Ayo kita sarapan.... “ Bujuk Bibi Aini kepada puterinya, dan kata sarapan sepertinya berhasil membuat Karin senang.

Ibu dan anak itu berjalan berdampingan, keluar dari kamar melewati Kila begitu saja. Kila tidak pernah diajak untuk makan bersama. Apapun itu, sarapan, makan siang ataupun makan malam. Kila selalu di kesampingkan dan memakan sisa masakannya sendiri.

Baru saja Kila hendak melangkah menuju dapur, suara ketukan pintu membuatnya terhenti.

Bibi Aini yang juga mendengar suara ketukan pintu di pagi hari itu langsung berkata, “Sana, bukakan pintu, suruh tamunya menunggu dulu, kami mau sarapan.”

Kila mengangguk tunduk, ia berbalik badan dan menuju pintu utama. Siapa pula yang bertamu di waktu seperti ini? Pasti itu orang yang tidak punya pekerjaan atau orang yang sangat banyak waktu luang.

Kila berdiri di depan pintu, tanganya memutar gagang pintu dan menariknya. Perlahan, pintu terbuka. Kila melihat si tamu pagi ini, tubuhnya tegap, pakaianya rapi. Dia laki laki. Dan begitu mata Kila bertatapan dengan pemilik sorot tajam itu. Saat itu juga, Kila kesulitan bernafas.

“Kama?!”

***

***

Karin duduk di kursi, meja makan sudah dipenuhi dengan masakan Kila. Karin sejenak melupakan kekesalannya, perutnya sudah lapar. Karin menghirup udara di sekitarnya, ia bisa mencium aroma rempah yang menguar di seluruh ruangan karena masakan Kila.

“Kenapa kamu tersenyum begitu?” tanya Bibi Aini pada puterinya Karin.

Karin menggeleng pelan, “Tidak ada apa - apa.” jawab Karin, pendek. Tangan Karin menarik piring yang sudah tersedia di depannya, mengisi piring dengan sop daging. Dengan cekatan, Karin mencari daging yang sudah masak itu. Menaruhnya dengan pelan di atas piring, seolah itu adalah barang berharga.

Bibi Aini pun tak kalah girang seperti Karin, ia senang sekali hari ini karena suaminya memberikan uang bulanan yang lebih banyak dari sebelumnya.

Bibi Aini menatap puterinya yang sedang mengaga lebar dengan tangan yang menyendok potongan daging. Melihat kepulan asap dari sendok yang disuap Karin saja, Bibi Aini merinding.

“Itu masih pana-”

“Huahh.... hahhh hanas! Hanas!”

Belum sempat BIbi AIni menghardik puterinya, lidah Karin sudah terlebih dahulu melepuh karena daging yang ia kunya masih panas.

“Minumlah dan makan dengan tenang, kamu ini perempuan. Perempuan berpendidikan.” hardik BIbi Aini, sembari mengulurkan gelas. Karin menerima minum dari ibunya, ia menengguk setengah isi gelas dengan cepat, kemudian memeletkan lidahnya.

Bibi Aini bangun dari kursi, “Ibu mau membangunkan Kemala dulu, kamu sarapanlah.... tunggu sampai dagingnya dingin baru kamu makan.”

Karin mengangguk paham dan Bibi AIni berjalan meninggalkan ruang makan, menuju kamar Kemala. Puteri pertamanya.

****

****

Kila tidak bisa mengendalikan ekspresinya, ia sangat terkejut dengan penampakan Kama di depannya. Bagaimana mungkin? Laki - laki ini muncul tepat di hadapannya sepereti sekarang ini? Manusia yang ingin Kila hindari, malah muncul dengan sendirinya. Di hadapanya.

Ada banyak sekali emosi yang tidak bisa di jelaskan, wajah Kila sampai memucat karena menahan banyak emosi tersebut. Mulai dari marah, bingung, takut. Dan masih banyak lagi. Dan kalian tau apa hebatnya?

Kama hanya menatap lurus, ke arah Kila. Tanpa ekspresi seperti biasa. Laki - laki ini sepertinya sudah biasa menghabiskan banyak malam dengan perempuan, sampai malam pertama pernikahanya dengan Kila sudah tak berkesan lagi.

“Kila, kenapa berdisi saja di situ.... “

Suara Paman Zainal mengejutkan Kila, akhirnya Kila bisa mengambil alih kesadaran dirinya. Reflek, Kila mengambil dua langkah mundur. Sedangkan Kama masih berdiri di tempatnya. Paman Zainal yang entah dari mana itu, berjalan mendekati Kila. Sampai ia melihat Kama, Paman Zainal tidak terlalu terkejut seperti Kila. Sepetinya, ia sudah tau tentang kedatangan Kama kerumah mereka ini.

Paman Zainal tersenyum ramah, “Masuklah... mari kita sarapan.” ujar Paman Zainal sembari menepuk bahu Kama. Kama mengangguk takzim.

Ia berjalan di samping Paman Zainal yang menuntun Kama ke ruang makan. Sedangkan KIla seperti anak kecil yang mengekor. Saat melewati pintu kamarnya, Kila hendak masuk untuk bersembunyi di sana. Tapi Paman Zainal malah memergokinya.

“Kamu mau apa, masuk ke kamar KIla?” tanya Paman Zainal, yang entah mengapa sangat perthatian itu.

Kila tersenyum miring, “AKu mau istirahat.” jawab Kila seadanya.

Paman Zainal menggeleng, “Sarapan dulu. Bagaimana mungkin kamu istirahat tanpa makan terlebih dahulu... “

Paman Zainal menarik tangan Kila dan mensejajarkan dirinya dengan Kama. Kila menarik nafas panjang.

Tuhan? Ini kejutan yang engkau persiapkan untukku di pagi hari ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Tuan Kama   22 ( Bab sedikit berbahaya )

    *** Namun meski di dunia ini telah banyak di suarakan tentang kebebasan, setiap manusia, setiap individu bebas menentukan pilihan hidupnya. Sepertinya tidak berlaku untuk sebagian orang. Sama halnya dengan Kila, ia merasakan sendiri kalau Kama, tengah mengatur hidupnya. Kini ia di paksa untuk naik motor. Yah... Memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti Kama. Sekarang sudah sore, sedikit sekai kendaraan yang bisa membawa Kila kembali ke rumah. Kama mengendarai motor dengan ugal - ugalan, Kila merasakan gemuruh angin yang di lewatinya. Bahkan di jalanan yang sunyi seperti ini, Kila merasa ngeri. Mesi begitu, ego Kila masih terlalu tinggi. Ia takut, tapi ia takan mendaratkan tanganya untuk menyentuh Kama. Tidak akan. Kama yang melihat situasi kali ini, malah semakin marah dan mengencangkan laju motornya. Kila makin takut, tapi mulutnya tertutup rapat, ia malah mencengkeram pahanya, mencondongan tubuhnya alih - alih berpegangan pada Kama. Namun akhirnya Kila kalah, seekor

  • Tawanan Tuan Kama   21

    *** Sepreti yang sudah Kila duga, ia sedikit kewalahan karena membersihkan toko dan membuat roti sendirian. Menyiapkan bahan - bahan, menguleni adonan kue tanpa alat yang canggih, serta masih mengandalkan tenaga manusia. Namun Kila tidak mengeluh, mengeluh bukanlah ciri khas dirinya. Kila adalah gadis yang pantang menyerah dan pantang mengeluh. Sejak pagi, cukup banyak pelanggan yang datang ke toko kue. Sebagian besar pelanggan yang datang pasti menanyakan kabar Kila, menanyakan kenapa ia tidak bekerja kemarin dan menanyakan keberadaan Tari. Hingga sore tiba, Kila bisa mengistirahatkan diri. Hampir seluruh roti yang ia buat hari ini, terjual. Menyisakan beberapa nampan yang masih bisa di jual keesokan hari kalau tak terjual habis hari ini. "Selamat sore.... " Suara lonceng pintu terdengar bersamaan dengan suara sapaan tadi. Tedengar suara langkah masuk dan Kila pun menjawab, "Sore... " Kila tersenyum dan di balas senyum oleh Adimas. "Seperti biasa, mengambil pesananku." Tutu

  • Tawanan Tuan Kama   20

    *** Kila tidak bisa tidur, ia menunggu Kama menghubunginya lewat pesan singkat. Mengabarkan keadaan Tari, tapi sampai tengah malam pun, Kila tak kunjung mendapatkan kabar dari Kama. Kila menyerah, kini rasa kantuk telah menguasainya. Perlahan matanya terpejam dan mungkin sebentar lagi... Ia akan terlelap dalam mimpi. Namun, suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti menarik kembali Kila dari alam mimpi. Ia terbangun dengan perasaan kaget dan gugup ketika melihat layar ponselnya. Berkali - kali Kila mengucek matanya. Tapi ia tak salah lihat. Kama menelfonya. Butuh waktu sedikit lama untuk Kila berpikir, hingga akhirnya ia mengangkat telfon Kama. Kila terbaring di atas tempat tidur, beralaskan bantal dengan ponsel yang ditindih. '"Halo... " Kila tak langsung menjawab, tapi itu memang suara Kama. "Halo... Kenapa?" Tanya Kila. " Kabar temanmu, dia baik baik - baik saja. Sore tadi dia sudah siuman, namun Rafa memberikan obat penenang, jadi sekarang ia tertidur lagi." Mendenga

  • Tawanan Tuan Kama   19

    Kama memacu motornya, melewati hutan dan akhirnya sampai di pondok kayu. Di sana ia sudah melihat Raga dan juga Rafa yang tengah sibuk menyiapkan perapian. Melihat kedatangan Kama, mereka berdua pun melambakan tangan. Kama berhenti dan memarkirkan motornya di samping pondok kayu. Langit terlihat cerah. Garis cakrawala pasti akan terlihat sangat indah jika dilihat dari atas tebing di tepi sana. "Bagaimana? Menemukan sesuatu yang menarik?" Tanya Rafa yang tengah sibuk menyusun kayu bakar yang Raga dapatkan dari hutan. Kama duduk di samping Rafa, sembari memperhatikan Raga yang tengah membuang sisik ikan. "Yah.... Beberapa hal menarik, tapi sedikit yang aku dapatkan." Jelas Kama. Raga yang sibuk membuang insang ikan, kini mulai menguping pembicaraan Rafa dan Kama. "Yah setidaknya... Bepergian hari ini tidak sia - sia. Kita mendapatkan makan malam enak." Raga menunjuk ikan yang ukuranya sama panjangnya dengan lengannya, lebih dari cukup untuk mereka bertiga. Rafa berhasil menyala

  • Tawanan Tuan Kama   18

    Bibi Aini memang orang yang sangat perhitungan masalah uang, tidak dengan siapapun dan tidak akan pandang bulu, bahkan kepada Paman Zainal sekalipun. Bahkah tak jarang, BIbi Aini sering mengoel masalah pengeluaran dan pemasukan untuk kebutuhan rumah tangga. Tak jarang Paman Zainal sudah menambah uang belanja, tapi BIbi Aini sering mengeluh kekurangan uang, yang bahkan ia jarang sekali berbelanja kepasar. Tapi untunglah, Paman Zainal mengerti betul sifat istrinya satu ini. Bibi Aini gila emas, kesanalah semua uangnya dihabiskan. Para tetangga pun sudah hapal dengan tabiat Bibi Aini ini. Bibi Aini sering sekali memamerkan kekayaanya, perhiassan barunya yang baru di beli Paman Zainal dari pulau sebrang, perhiasan keluaran terbaru dan masih banyak lagi. Kila sudah menerima uang pinjaman dari Bibi Aini, setelah kila hitung - hitung uangnya mungkin cukup untuk menjenguk adik Tari. Tinggal menunggu Kama untuk datang. Ia sudah berjanji untuk memberitahu kabar Tari. Sekarang tinggal menungg

  • Tawanan Tuan Kama   17

    "Aku antarkan kamu pulang, berpura - puralah tidak terjadi apa - apa." Kama memberitahu. Kila mengangguk, dan mereka menuju rumah Paman Zainal. Kila sedikit menjaga jarak antara dirinya dan Kama. Ini harus dilakukan. Dengan pelan Kila mundur perlahan. Kama bisa merasakan pergerakan Kila. "Kalau kamu bergerak sekali lagi, kamu akan mati." Kila menelan ludahnya, gugup. "Kita bisa mati kalau kamu terus mencoba menjauh. Aku bisa kehilangan keseimbangan dan kita terjatuh." Jelas Kama. Yah... Benar juga. Masuk akal memang, tapi ada rasa enggan dan takut saat berdekatan dengan Kama. Meski begitu, Kila harus menepis perasaanya sekarang ini. Ini bukan waktunya. Sepanjang jalan, terlihat asri dengan peponohan yang menjulang serta sinar matahari yang mulai menerobos dedaunan, kilau - kilau keemasan itu menakjubkan untuk dilihat. Tapi jalanan ini akan mengerikan ketika dilintasi di malam hari. *** Suara deru motor Kama terdengar hingga ruang tamu di kediaman Paman Zainal. Bibi Aini yang

  • Tawanan Tuan Kama   11

    “Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet d

  • Tawanan Tuan Kama   10

    Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Ka

  • Tawanan Tuan Kama   9

    "Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya re

  • Tawanan Tuan Kama   8

    Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan peker

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status