Si bartender cantik Arabella, harus merelakan masa-masa menyenangkan dalam hidupnya ketika seseorang yang tiba-tiba datang mengacaukan bar tempat dirinya bekerja. Berakhir menjadi sebuah jaminan, dirinya terpaksa ikut dengan seorang pria yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seorang pria bermata tajam dengan seringai yang mematikan, Stevano. Dan secara tidak langsung, Bella harus ikut terjerat ke dalam kehidupan hitam pria tersebut.
Lihat lebih banyakDum ... Dum ... Dum ...
Suara dentuman musik keras yang dihasilkan oleh salah satu bar ternama di Los Angeles itu menyapa seluruh telinga orang yang mampir ke sana. Mengguncang orang-orang untuk menari bersama tanpa mengenal siapa pasangannya.
Eflic. Adalah bar terbesar di Los Angeles. Mempunyai sekitar lima puluh bartender, baik pria ataupun wanita.
Setiap hari, bar itu selalu ramai oleh pengunjung. Baik untuk melepaskan penat karena bekerja seharian atau mencari pasangan guna menuntaskan hasrat terpendamnya.
"Hai cantik, aku butuh alkohol untuk melupakan masalahku hari ini."
Wanita yang berada di dekat pelanggan pria itu menoleh, kemudian tersenyum.
"Bagaimana dengan segelas cocktail? Aku punya resep baru hari ini."
Wanita cantik berambut panjang sepunggung itu membalas. Dan pria tadi mengangguk sebagai balasan.
"Terserah," jawab pria itu.
Eflic melarang para pelanggan di sana untuk menggoda bartender yang sedang bekerja. Mereka tidak ingin ada rasa tidak nyaman akibat pengunjung yang seenaknya kurang ajar.
Dan para pengunjung sudah paham betul akan slogan itu saat memasuki wilayah bar.
"Minuman Anda sudah siap, Tuan."
Wanita berambut panjang sepunggung tadi memberikan segelas minuman berwarna hijau kebiruan kepada pelanggan tadi.
Pria itu mengulurkan tangan untuk mengambil minumannya. Kemudian menyeruput cocktail itu dengan pelan, merasakan sesasi dingin yang menjalar melalui tenggorokan.
"Ini luar biasa," puji pelanggan itu pada bartender tadi.
"Sudah kubilang, bukan?"
Wanita itu tersenyum.
"Bella! Buatkan beberapa gelas cocktail terbarumu. Pelanggan kita banyak yang menyukainya," ucap wanita berambut pendek.
Ya. Gadis berambut panjang sepunggung tadi adalah Arabella, atau biasa dipanggil Bella. Bella mempunyai sepasang mata yang indah jika dipandang, kulitnya putih mulus seperti kebanyakan wanita pada umumnya.
Bella juga satu-satunya bartender di Eflic yang mempunyai kemampuan lebih untuk meracik alkohol. Banyak orang yang menyukai resepnya. Dan itu membuat bartender pria di Eflic memujinya. Namun, kebanyakan bartender wanita di sana membenci Bella karena kelebihannya. Berkat kepintaran Bella dalam membuat suatu minuman yang enak, ia juga dicatat sebagai bartender terbaik di Eflic oleh Sang Bos.
Tentu saja, hal itu membuat bartender wanita lainnya semakin membenci Bella.
Hanya Kylie, teman sekaligus sahabat yang juga merupakan bartender di Eflic yang tidak membencinya seperti yang lain. Kylie percaya jika Bella mempunyai kemampuan khusus meracik minuman untuk menarik pelanggan, hal itu jugalah yang menjadikan Eflic ramai dikunjungi.
"Oke," sahut Bella pada Kylie.
Karena sudah terbiasa untuk meracik minuman, Bella membuat beberapa gelas cocktail resep terbarunya dengan cepat. Dan tidak menunggu waktu lama untuk Kylie memberikan minuman itu pada pelanggan yang menunggu.
Namun, di saat kesibukan Bella yang sedang meracik minuman baru lagi, banyak orang berpakaian hitam datang dan membuat keributan di bar milik bosnya itu.
Orang-orang dengan setelan serba hitam itu datang dan memporak-porandakan isi bar. Mulai dari melempar kursi yang sedang diduduki pelanggan, hingga memecahkan kaca yang merupakan aset penting dalam bar ini.
Bella menatap keadaan yang sedang terjadi di depan matanya dengan tatapan tidak percaya.
Yang benar saja!
Bar yang paling terkenal di Los Angeles kini hancur berantakan oleh ulah orang asing. Bahkan beberapa pengunjung wanita menjerit takut melihat keadaan sekitar. Beberapa orang memilih pergi dan melarikan diri sebelum terkena imbas dari apa yang terjadi saat ini.
"Cepat panggil Bos!"
Bella menyuruh Vio untuk segera memanggil bos mereka. Vio pun ikut bergetar saat melihat keadaan. Para bartender pria turun dan membujuk mereka untuk berhenti membuat keributan. Namun yang di dapat, adalah pukulan telak dari para orang-orang yang tengah merusuh itu.
Bella menutup mulutnya tidak percaya.
"Apa-apaan ini!"
Bella mendekat pada kumpulan pria berpakaian hitam itu dan menyelamatkan Sean, bartender pria yang sudah Bella anggap sebagai kakak laki-lakinya.
"Bella, jangan mendekat ke sana! Berbahaya!"
Suara teriakan Kylie tidak dihiraukan oleh Bella. Gadis itu tetap mendekat untuk menolong Sean.
"Hentikan!" Bella berteriak, meminta orang-orang itu untuk berhenti memukul Sean.
"Kenapa kalian melakukan ini?"
Salah satu pria di sana tertawa, yang terdengar mengerikan di telinga Bella.
"Kami hanya menjalankan tugas, Nona. Di mana bos mu sekarang?"
Bella meneguk ludah saat pria berbadan besar itu menatapnya tajam.
"Jika kalian ingin menemui bos kami, kalian tidak perlu melakukan hal seperti ini!"
Bella berucap marah pada pria tersebut dengan suara yang bergetar. Takut tentu saja. Bella tidak dapat membayangkan jika dirinya akan terkena pukul juga oleh mereka.
"Sean ..."
Bella menggapai tubuh Sean yang tidak berdaya, air mata di sudut matanya mulai keluar. Dia takut melihat Sean sekarat seperti ini.
"Tolong!" ucap Bella pada bartender pria yang lain. Namun, tidak ada satu pun di antara mereka yang tergerak untuk maju menolong.
Mereka seperti tidak peduli dengan keadaan Sean. Di mana sikap persahabatan mereka di saat Sean sedang begini?
Bella mendengus menatap pria yang memukuli Sean dengan brutal tadi.
"Kau akan mati di tanganku," ucap Bella sungguh-sungguh. Dan yang terdengar selanjutnya adalah, para pria bersetelan hitam yang tergelak. Tertawa akan keberanian gadis kecil yang kini kesusahan memapah tubuh Sean untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
Brukk!!
Namun sialnya, Bella yang tidak memperhatikan jalan itu menabrak orang di depannya. Wanita itu bersumpah akan mengutuk orang itu karena telah menghalangi jalannya.
"Mau ke mana?"
Bella mendongak. Menatap pria berkemeja putih dengan dua kancing yang dibiarkan terbuka itu dengan intens.
Siapa pria ini?
Kenapa kumpulan pria berbaju hitam di sana langsung menunduk kala pria ini datang?
"Apa dia berpikir hidupnya begitu damai?" gumam Stev pelan sembari mendudukkan diri di samping wanita yang kini sedang tertidur pulas itu. Pakaian Bella sudah diganti dengan piyama berwarna biru tua. Dan Stev tidak lagi mencium bau alkohol yang menguar dari tubuh wanita tersebut. "Tidak ... Tidak."Pria tampan yang ada di dalam kamar tersebut mengernyitkan dahinya kala telinganya mendengar suara Bella yang bergumam lirih. Ia pikir wanita itu sudah membuka matanya. Namun ternyata tidak, Bella masih saja tertidur di atas ranjang besar miliknya. Dan Stev langsung bisa menebak jika wanita itu mungkin sedang bermimpi buruk."Ada apa dengannya?" Ia dapat melihat jika dahi wanita itu banyak mengeluarkan keringat. Seperti baru saja mengikuti lomba lari. Keringat Bella semakin lama semakin deras dengan mulut yang terus mengeluarkan gumaman yang tidak Stev mengerti. Tidak begitu jelas terdengar sehingga Stev hanya bisa menaikkan salah satu alisnya ke atas. "Bella."Stev memanggil nama wan
"Jangan berikan," ucap Stev dengan tajam. Dan bartender itu mengangguk sembari meletakkan botol yang sebelumnya ingin ia tuangkan pada gelas Bella. "Hey! Kenapa kau tidak memberiku minum?!" Bella sedikit meninggikan nada suaranya. "Minuman kami telah habis, Nona." Bella mendecih pelan mendengar perkataan bartender itu."Bohong! Lantas botol yang berjejer-jejer itu apa?!"Stev memutar kedua bola matanya dengan bosan saat melihat kesadaran Bella sudah berada di ambang batas."Kita pulang," ucap Stev. Pria itu segera berdiri dari tempat duduknya setelah membayar semua total minuman.Pria itu lantas mendekat pada Bella dan berniat untuk membawa wanita itu pulang. Namun tangannya yang terulur seketika ditepis dengan kasar oleh tangan Bella yang mungil. Sontak saja penolakan yang wanita itu berikan membuat Stev mendengus sebal. "Aku tidak ingin pulang! Kau pulang saja sana sendiri!" ucap Bella setengah berteriak. Membuat beberapa orang yang ada di sana menoleh pada mereka berdua. "Ck
Stev terdiam beberapa saat setelah Bella berucap. Perkataan wanita itu tepat sekali menusuk dalam hati pria itu. "Apa kau bilang? Kecewa?" ulang Stev sekali lagi. Dan Bella hanya bisa mengangguk sebagai balasan. Wanita itu terus menatap wajah Stev yang berada di dekatnya. "Aku tidak tahu. Tapi, bukankah hal itu bisa saja terjadi?" tanya Bella. Wanita itu terus mengeluarkan perkataan yang membuat Stev tidak dapat berkata apa-apa. Meski Stev adalah orang yang dingin dan terkesan cuek dengan keadaan sekitar. Namun pria itu tidak bisa untuk tidak memikirkan apa yang baru saja Bella katakan. Ucapan wanita itu ada benarnya juga. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika suatu hari nanti ia bertemu dengan Liana dan dia tahu jika dirinya adalah seorang mafia. Apakah wanita itu tetap masih mau untuk menerimanya? Stev tidak dapat membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Ia tidak akan pernah bisa jika wanita yang sudah sekian lama ia nanti-nantikan pada akhirnya akan pergi meni
"Aku pernah memiliki seorang teman di sana juga. Seorang kekasih masa kecil lebih tepatnya," ucap Stev. Mata pria itu masih saja fokus menatap jalanan yang ada di depannya. Namun tatapannya terlihat kosong. "Benarkah? Siapa namanya?" tanya Bella. Wanita itu mematikan ponsel yang ada di tangannya dan mengarahkan pandangannya hanya pada Stev."Liana," balas Stev dengan singkat. "Liana?" ulang Bella sekali lagi. Dan Stev hanya mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban."Ya. Kau mengenalnya?" tanya Stev. Pria itu terdengar seperti sangat berharap saat ia bertanya pada Bella. Namun yang dikatakan wanita di sebelahnya itu seketika memupus harapan besar Stev. "Tidak. Aku tidak mengenal nama itu," balas Bella. Wanita itu kembali mengarahkan pandangannya pada jalanan yang dilalui mobil Stev."Sudah kuduga kau tidak akan tahu siapa dia," ucap Stev sembari mendengus pelan. "Apa dia begitu penting bagimu?" tanya Bella, dan Stev mendecih pelan setelahnya. "Dia begitu penting bagiku. Aku sang
"Kau bisa menggunakan pedang?" "Tidak," balas Bella dengan senyum lebarnya. Membuat Stev yang melihat wanita itu hanya mendengus pelan. "Kupikir kau bisa menggunakannya," ucap Stev lagi. Pria itu kembali memasukkan semua pistolnya pada loker dan mengunci tempat tersebut. Bella terkekeh pelan. "Aku suka sekali saat melihat film yang orang-orangnya menggunakan pedang. Jadi, kupikir aku akan terlihat keren jika bisa menggunakan pedang," balas Bella sembari membayangkan dirinya dapat melayangkan pedang pada orang-orang jahat yang mengganggunya seperti film-film yang bertemakan kerjaan. Sementara Stev hanya mendecih pelan saat mendengarnya."Simpan kata kerenmu itu. Kau tidak begitu cocok menggunakan pedang. Mengangkat pedang saja entah kuat entah tidak." Bella memutar kedua bola matanya bosan saat ia mendengar ucapan bernada ejekan dari Stev. Pria itu suka sekali meremehkannya. "Jangan mengejekku!" balas Bella dengan sebal. Wanita itu membuang mukanya dari Stev dan berjalan keluar
Pekerjaannya saat itu hanyalah seorang pelukis jalanan. Dia tidak kaya, dan Jack mengakuinya. Dirinya hidup dengan mengandalkan uang dari hasil menjadi pelukis jalanan dan kerja sampingan di sebuah toko kecil. Jennie tidak merasa risih dengan keadaannya. Wanita itu malah mengajak dirinya untuk mengobrol dan mengajukan diri untuk di lukis oleh dirinya. Sepanjang waktu wanita itu habiskan untuk terus berbicara dengan Jack. Dan tidak ada yang bisa Jack lakukan saat itu selain hanya tertawa sembari membalas ucapan Jennie dengan kalimat seadanya.Setelah Jack selesai melukis wanita itu. Jennie benar-benar kagum dengan hasil yang dibuat pria itu. Satu kata dari Jennie untuk hasil lukisan Jack.Mengagumkan. Wanita itu benar-benar kagum dengan lukisan Jack. Ia pun mengusulkan Jack agar pria itu membangun sebuah galeri untuk menampung semua hasil lukisannya. Namun yang dilakukan Jack saat itu hanyalah menggeleng pelan sembari tersenyum tipis. Ia tidak akan bisa membangun galeri seperti
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen