Share

Bab 80

Author: Frands
last update Last Updated: 2025-08-26 14:19:52

“I-Indah?” suara serak Wirya, hampir tak terdengar.

Kebingungan menyapanya saat pertama kali ia melihat langit yang berwarna jingga pucat, lalu pandangannya turun dan bertemu dengan mata Indah yang masih basah oleh sisa-sisa mimpi buruk dan air mata.

Dia menyadari posisinya—kepalanya terletak di pangkuan Indah. Sebuah kehangatan dan rasa malu menyergapnya sekaligus.

Dia mencoba untuk duduk, tetapi sebuah rasa pusing membuatnya terjatuh kembali.

“Jangan buru-buru,” bisik Indah, suaranya lembut namun masih bergetar halus. Tangannya dengan refleks menahan bahu Wirya. “Lara Waktu baru saja mereda. Kau masih lemah.”

Wirya mengangguk pelan, matanya menatap Indah dengan penuh rasa terima kasih dan sesal. “Aku... terima kasih. Untuk semuanya. Dan... maaf.” Napasnya masih pendek. “Maaf telah merepotkanmu semalam. Aku tidak seharusnya—“

"Tidak," potong Indah cepat, menggelengkan kepala. "Tidak perlu meminta maaf untuk itu. Aku... aku... senang bisa membantumu." Dia berusaha tersenyum, tapi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tawanan yang Menawan   Bab 83

    Mereka mendekati dengan hati-hati. Setelah menyibakkan semak-semak, mereka menemukan sebuah tangga tali yang cukup kuat, terbuat dari anyaman rotan yang masih dalam kondisi baik, terjuntai dari atas tebing hingga ke bawah.“Tangga!” seru Indah, terkejut. “Siapa yang memasang ini?”Wirya memeriksa talinya. “Sepertinya ini masih kuat.” Dia melihat ke bawah. “Ini akan memudahkan kita untuk naik turun. Tidak perlu memanjat dengan berisiko lagi.”Akhirnya mereka menuruni tangga tali yang mereka temukan hingga sampai di bawah air terjun.Di luar, udara sore terasa segar. Indah memimpin jalan menyusuri tepi sungai, matanya awas mencari ranting kering dan tanda-tanda hewan buruan.“Maaf tentang Kuncoro,” ucap Indah setelah mereka cukup jauh dari gua. “Dia memang bisa sangat menyebalkan.”Wirya menghela napas. “Tidak apa. Aku mengerti dia tidak menyukaiku sejak awal kami bertemu.” Dia memunguti beberapa ranting kering. “Terkadang aku merasa dia punya alasan untuk itu.”Indah berhenti, menat

  • Tawanan yang Menawan   Bab 82

    “Sudah kuduga!” gerutu Kuncoro, suaranya bergema di ruang kecil itu. “Tempat ini cuma omong kosong warga di desaku! Apanya yang Siung Mampet? Lebih tepatnya Siung Kosong! Kita mempertaruhkan nyawa memanjat tebing untuk ini?”Ambarani mengabaikannya. Matanya yang tajam menyisir setiap inci dinding batu, mengetuk-ngetuk permukaannya dengan gagang goloknya. Suara yang dihasilkan padat di mana-mana—tidak ada ruang hampa di baliknya.“Tidak ada,” bisiknya akhirnya, wajahnya kecewa namun masih berusaha tenang. “Tidak ada jalan. Mungkin kita salah tempat.”Wirya mendekati dinding belakang, tangannya meraba permukaan batu yang kasar. “Atau mungkin... kita salah menafsirkan petunjuknya. Di balik air terjun tidak selalu berarti di dalam gua.”Indah yang juga berdiri di salah satu sudut gua, pandangannya tertarik pada sebuah sudut gelap di balik tonjolan batu. Tiba-tiba Indah mengambil obor dari tangan Ambarani."Tunggu," bisiknya, mendekati sudut itu. Obor diacungkannya lebih dekat.Di sana, h

  • Tawanan yang Menawan   Bab 81

    Tiba-tiba, suara gerakan kasar memecah ketegangan yang nyaris tak tertahankan antara Indah dan Wirya.“Demi langit, pagi yang dingin sekali,” gerutu Kuncoro dengan suara serak, duduk dari tempat tidurnya dan mengusap-usap matanya yang masih berat. Dia meregangkan badan, tulang-tulangnya berderak.Ambarani juga sudah bangun, duduk tegak dengan mata waspada seperti biasa. Dia langsung menyapu pandangannya ke sekeliling perkemahan, memastikan tidak ada ancaman, sebelum akhirnya matanya tertuju pada Indah dan Wirya.Dia melihat posisi Wirya yang setengah duduk dengan canggung, tangan dengan jelas menutupi pangkuannya. Dia melihat wajah Indah yang merah padam dan pandangannya yang menghindari kontak. Sebuah alis Ambarani terangkat, memahami bahwa dia telah mengganggu sesuatu.“Sudah pagi,” ucap Ambarani, suaranya sengaja dibuat datar dan normal, memberi mereka kesempatan untuk menata diri. “Kita harus segera berangkat. Masih jauh perjalanan kita.”Wirya cepat-cepat berdiri, berbalik membel

  • Tawanan yang Menawan   Bab 80

    “I-Indah?” suara serak Wirya, hampir tak terdengar.Kebingungan menyapanya saat pertama kali ia melihat langit yang berwarna jingga pucat, lalu pandangannya turun dan bertemu dengan mata Indah yang masih basah oleh sisa-sisa mimpi buruk dan air mata.Dia menyadari posisinya—kepalanya terletak di pangkuan Indah. Sebuah kehangatan dan rasa malu menyergapnya sekaligus.Dia mencoba untuk duduk, tetapi sebuah rasa pusing membuatnya terjatuh kembali.“Jangan buru-buru,” bisik Indah, suaranya lembut namun masih bergetar halus. Tangannya dengan refleks menahan bahu Wirya. “Lara Waktu baru saja mereda. Kau masih lemah.”Wirya mengangguk pelan, matanya menatap Indah dengan penuh rasa terima kasih dan sesal. “Aku... terima kasih. Untuk semuanya. Dan... maaf.” Napasnya masih pendek. “Maaf telah merepotkanmu semalam. Aku tidak seharusnya—“"Tidak," potong Indah cepat, menggelengkan kepala. "Tidak perlu meminta maaf untuk itu. Aku... aku... senang bisa membantumu." Dia berusaha tersenyum, tapi

  • Tawanan yang Menawan   Bab 79

    Di malam itu Indah tidur dalam kegelisahan, pikiran Indah melayang jauh ke masa lalu.“Indah, sayang, dengarkan Ibu,” bisik seorang wanita, suaranya lembut namun bergetar. “Hutan ini berbahaya, tapi juga penuh dengan obat. Lihat tanaman ini?” Tangannya yang kasar mengacung ke arah sehelai daun berbentuk hati yang tumbuh di dekat pintu gubuk. “Ini daun gigil. Ini bisa meredakan banyak rasa sakit. Ibu akan mengajarimu semua yang Ibu tahu.”“Kenapa aku harus belajar tentang daun, Ibu?” Tanya Indah kecil yang masih polos.“Karena suatu hari nanti, Ibu mungkin tidak akan di sini lagi untuk melindungimu. Dan kau harus bisa melindungi diri sendiri. Menolong orang lain yang membutuhkan, seperti Ibu menolong ayahmu dulu...”Adegan tiba-tiba berubah, saat Indah berusia sembilan tahun. Tangan Indah penuh dengan tanaman obat yang baru dikumpulkan. Saat mendekati gubuk, Indah mendengar suara erangan dan desahan dari dalam. Indah mengintip dari celah dinding bambu.Ibu Indah tanpa sehelai kain

  • Tawanan yang Menawan   Bab 78

    “Indah!”Dengan refleks yang cepat, Kuncoro menerjang ke depan. Tangannya menyambar erat pinggang Indah tepat saat tubuh perempuan itu hampir sepenuhnya hilang dari tepian. Kuncoro tersandung, tetapi berhasil menahan beban, menarik Indah kembali dengan susah payah hingga mereka berdua terjatuh ke tanah dengan aman, beberapa sentimeter dari jurang.“Kau gila?!” hardik Kuncoro, suaranya gemetar campuran antara marah dan ketakutan. “Kau hampir saja tewas karena daun bodoh itu!”Indah terengah-engah, wajahnya pucat pasi. Dia gemetar tak terkendali, menyadari betapa dekatnya dia dengan kematian. “A-Aku... daunnya...”“Aku tidak peduli dengan daunnya!” potong Kuncoro, masih belum melepaskan genggamannya pada lengan Indah. “Kau tidak boleh ceroboh seperti itu!”Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Lalu, dengan gerakan kasar, dia berdiri dan mendekati tepi jurang. Dengan hati-hati, dia berbaring dan mengulurkan tubuhnya, kali ini dengan cengkeraman kaki yang lebih kuat. Ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status