共有

Tebusan Sang Don Kejam
Tebusan Sang Don Kejam
作者: dheanova

Chapter 1

作者: dheanova
last update 公開日: 2026-07-21 23:34:08

Byuurr!!

“DAMN!! GADIS SIALAN! BERANI SEKALI KAU, BITCH!!” teriak seorang pria bermata tajam dengan suara menggelegar.

Kaera mengangkat pandangannya sembari mengusap wajahnya yang basah kuyup karena siraman segelas air. Pakaian pria di depannya kini kotor akibat kecerobohannya, tetapi gadis itu tetap menatapnya penuh ketegaran. Tidak ada raut ketakutan sedikit pun di mata indahnya yang hitam dan lebar.

Suasana kafe malam itu mendadak tegang. Pria itu terlihat sangat murka, urat lehernya menonjol, dan tatapannya begitu nyalang menembus netra hitam Kaera yang secantik boneka hidup.

“Lihatlah apa yang kau lakukan pada pakaianku, sialan!” bentaknya lagi, menunjuk noda pekat yang mengotori kemeja mahalnya.

Beberapa pengunjung kafe yang merasa tidak nyaman memilih untuk segera pergi setelah meletakkan uang di meja, sementara beberapa orang justru bertahan di kursi mereka, seakan menikmati tontonan gratis yang menegangkan itu.

“Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja dan saya juga akan bertanggung jawab. Tolong jangan berteriak, karena itu akan mengganggu pengunjung lain,” ucap Kaera dengan nada santai dan tetap profesional.

Berlawanan dengan suaranya yang tenang, jantung Kaera sebenarnya berdegup kencang.

Dia bukan takut pada pria arogan di depannya ini, melainkan takut jika sampai kehilangan pekerjaannya sebagai pelayan di kafe terbesar di New York ini.

Di balik penampilannya yang sederhana dan anggun, Kaera memiliki mental baja. Dia cerdas, bermulut tajam, dan punya keberanian besar untuk membela diri jika posisinya benar.

Pria itu maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka berdua hingga aroma parfumnya yang maskulin namun mengintimidasi tercium oleh Kaera. “Berani sekali kau bicara seperti itu padaku? Apa kau tahu siapa aku?”

Kaera menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Tidak. Siapa pun Anda, saya sebenarnya tidak peduli. Yang jelas, saya akan bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah saya lakukan,” ujarnya sembari hendak mendekat untuk mengelap pakaian pria arogan itu dengan tisu kain di tangannya.

“Jangan coba-coba berani menyentuhku, bitch!” desis pria itu tajam.

Kaera memejamkan matanya untuk sesaat. Sejak tadi dia sudah menahan kesabaran dan berkali-kali meminta maaf, namun pria di depannya ini sungguh menguji batas kesabarannya hingga ke titik tertinggi.

“Sialan! Jaga ucapan Anda!” teriak Kaera dengan suara yang tidak kalah tegas, menunjukkan kalau dirinya tidak mudah ditindas begitu saja oleh orang kaya bertingkah semena-mena.

Plaakk!

Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi mulus Kaera yang putih bersih. Rasa panas dan perih langsung menjalar, membuat wajahnya tehenyak ke samping. Kaera menoleh perlahan sembari memegangi pipinya yang merona merah. Matanya berkilat marah.

Melihat respons Kaera yang seolah hendak melawan, seorang pria berbadan tegap yang diyakini oleh Kaera sebagai pengawal sang pria kaya itu, maju hendak mencengkeram lengan Kaera. Tetapi, gerakan gadis berusia 21 tahun itu jauh lebih cepat. Dengan sigap, Kaera menghindar, menangkap pergelangan tangan sang pengawal, lalu memelintirnya ke belakang hingga pria besar itu memekik.

“Awww!! Ampun Nona... Lepaskan!” teriak pengawal itu kesakitan, terkejut dengan teknik bela diri pelayan kafe ini.

Kaera menghempaskan tangan pengawal tersebut dengan kasar hingga pria itu terhuyung. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan untuk meredakan emosi. “Tuan, sudah saya katakan, saya akan bertanggung jawab. Perkara pakaian Anda yang kotor, tinggal di ....”

“Dengan apa kau akan bertanggung jawab? Bahkan gajimu selama satu tahun belum tentu bisa mengganti pakaianku!” sela pria bermata tajam itu sangat angkuh. Dia kemudian mendudukkan diri dan menunjuk kursi kosong di depannya. “Duduk. Kita akan membicarakan tentang ini.”

Kaera kembali menghela napas. Jika dia tidak membutuhkan pekerjaan ini demi memenuhi kebutuhan hidup, mungkin saja pria di depannya sudah dia maki-maki habis-habisan atau dia buat babak belur. Terkadang, dia memang harus mengalah hanya untuk mempertahankan apa yang bisa membuatnya bertahan hidup di kota sekejam New York.

“Kau benar-benar ingin bertanggung jawab?” tanya pria itu lagi, menatap tajam dengan senyum merendahkan.

“Dari tadi saya sudah mengatakan akan bertanggung jawab, Tuan. Tetapi Anda terus membesar-besarkan masalah,” jawab Kaera, menyuarakan apa yang ada di kepalanya tanpa ragu.

Pria itu menyunggingkan senyum tipis. Ada rasa kagum yang terselip di hatinya melihat keberanian dan sifat tegas gadis muda itu “Baiklah. Karena kau cukup berani... bagaimana kalau kau menjadi wanitaku?”

Deg!

Mata Kaera melebar sempurna. Dia terkejut bukan main mendengar ucapan tidak beradab dari pria itu. Wajahnya memang tampan bak dewa Yunani, namun mulutnya benar-benar kurang ajar dan tidak berpendidikan.

“Maaf Tuan, saya memang akan bertanggung jawab untuk mengganti atau membersihkan pakaian Anda. Tetapi untuk menjadi wanita Anda, saya menolak keras,” jawab Kaera, menahan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun.

“Bitch! Sok jual mahal,” sinis pria itu, menatap Kaera dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.

Jantung Kaera berdetak semakin kencang, telinganya terasa panas mendengarkan kalimat yang terus merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. “Tahan Kaera, ingat perkataan Daddy. Jangan mudah terpancing oleh hal yang tidak penting,”gumamnya dalam hati, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Bertepatan dengan itu, saat Kaera hendak membuka suara untuk mengakhiri perdebatan tidak jelas ini, tiba-tiba saja ponsel di saku celemek kerjanya bergetar hebat. Layar benda pipih itu menyala dan menampilkan nama yang sangat dia kenali.

“Daddy is calling”.

Tangannya sedikit gemetar karena sisa amarah, Kaera mengangkat panggilan telepon itu. “Halo.. Dad...”

Tetapi, belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, suara berat yang asing dari seberang sana langsung memotong. Bukan suara ayahnya yang hangat dan menenangkan, melainkan suara tegas bernada formal yang seketika membuat seluruh darah Kaera berdesir dingin.

“Apakah ini dengan putri dari Tuan Hadnan? Kami dari Kepolisian ingin mengabarkan bahwa ayah Anda baru saja mengalami kecelakaan di area kerja. Saat ini beliau sudah dilarikan ke Rumah Sakit Pusat New York dalam kondisi kritis.”

Duaarr!!

Dunia seakan berhenti detik itu juga. Kaera menggeleng keras, udara di sekitarnya mendadak terasa hilang. Dia tidak percaya, jika Ayahnya mengalami kecelakaan dan sekarang berada di antara hidup dan mati.

“Daddy... Tidak.. Ini tidak benar...” gumamnya dalam kebingungan yang luar biasa. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Kaera tidak peduli lagi dengan pria kaya yang sedang menatapnya tajam penuh selidik itu. Dengan tangan gemetar, dia melepas celemek kerjanya dan melemparnya begitu saja ke atas meja.

Dia berbalik dan berlari keluar kafe tanpa memedulikan teriakan manajernya atau pandangan heran orang-orang. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanya sang Ayah. Sudah cukup dia kehilangan Ibunya beberapa tahun lalu, tidak untuk Ayah. Kaera tidak akan pernah sanggup menghadapi dunia ini sendirian.

“Daddy, jangan pernah berani meninggalkan aku sendiri, aku tidak memiliki apapun di dunia ini selain Daddy” ucapnya lirih sembari berlari kencang ke jalan raya yang mulai diguyur rintik hujan. Napasnya terengah-engah, matanya liar mencari taksi kosong.

Dunia seakan belum berpihak padanya. Jalanan New York yang biasanya padat mendadak seolah menyembunyikan semua taksi. Tidak ada satu pun taksi yang lewat. Tidak mungkin dia berjalan kaki atau berlari. Rumah Sakit Pusat itu terletak sangat jauh dari tempatnya bekerja.

Sesekali dia melihat ponselnya dengan tangis yang mulai pecah. “Dad, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku...”

“Kaera!!.. Ayo naik!” seru sebuah suara yang sangat dia kenal dari arah samping.

Kaera menoleh cepat. “Gwensa?”

“Cepatlah naik, jangan biarkan Daddymu menunggu terlalu lama!” Gwensa, satu-satunya sahabat terbaik Kaera, berteriak di atas motor listriknya yang sengaja dia bawa untuk menjemput Kaera pulang kerja.

Kaera masih mematung sedetik, otaknya lambat memproses. “Gwensa, bukankah kau...”

“Kaera, cepatlah! Pria di dalam kafe itu tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja!” sela Gwensa panik sembari melirik ke arah pintu kafe.

Kaera ikut menoleh. Benar saja, beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam pekat keluar dari kafe dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Pandangan mereka langsung mengunci ke arah Kaera.

“Ck, sialan!” umpat Kaera. Tanpa membuang waktu lagi, dia langsung melompat ke jok belakang motor Gwensa.

“Kejar mereka! Jangan sampai lolos!” teriak salah satu pria berjas hitam dari kejauhan, memberikan komando pada rekan-rekannya.

Gwensa langsung menarik tuas gas motor listriknya. Motor itu melesat membelah jalanan malam New York yang licin akibat gerimis. Di belakang mereka, lampu depan dua buah mobil SUV hitam mewah mendadak menyala terang, mengeluarkan suara decitan ban yang memekik telinga saat berputar balik untuk mengejar mereka.

“Gwensa, mereka mengejar kita!” teriak Kaera, menoleh ke belakang dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Ketakutan akan kondisi ayahnya kini bercampur aduk dengan adrenalin akibat kejaran orang-orang tak dikenal itu.

“Pegang yang erat, Kaera! Aku akan lewat jalan pintas!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 5

    “Kaera, apa kamu sudah mengenalnya? Dia putraku Gerald Romano yang akan menjadi suamimu seumur hidup, kamu bisa membunuhnya jika dia keterlaluan,” ujar Mr. Romero memperkenalkan putranya kepada gadis yang dia pilih menjadi menantunya.“Tidak Tuan,” lirihnya tanpa barani menatap Gerald.Gerald melirik ke arah Kaera dengan tatapan dingin seakan-akan ingin menelan gadis itu hidup-hidup, membuat nyali Kaera semakin ciut.“Gembel sepertinya tidak akan pernah mengenalku Dad, dan sudah berapa kali aku katakan tidak akan menikah, aku tidak percaya pernikahan, perempuan hanya membuatku terkekang saja. Lagi pula aku sudah memiliki Elena, aku tidak butuh wanita manapun Dad, Daddy saja yang menikah.”“Cukup Gerald, aku tidak main-main dengan ucapanku tadi! Jika kamu terus menolak, maka semua akan aku binasakan, ingat itu. Menikahlah dan beri aku seorang cucu.”Kaera hanya diam mendengarkan perdebatan kedua pria yang berbeda usia itu. Sebenarnya dia sangat malas, namun demi kesembuhan Ayahnya, dia

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 4

    Setelah menyetujui syarat yang diucapkan oleh Mr. Romero, Kaera kembali terisak. Pria tua itu sudah pergi dan mengatakan bahwa pernikahan akan dilakukan setelah operasi ayahnya selesai.Kaera menegakkan wajah, menyeka air matanya, dan berusaha untuk tegar. Dia memaksakan senyum sebelum masuk ke ruangan sang ayah.Kaera beranjak dari kursi, melangkah memasuki ruangan Hadnan. Dia menghela napas pelan dan memasang mimik bahagia. Padahal ayahnya tidak bisa melihat, tetapi Kaera tetap memasang wajah bahagianya.Tangan mungilnya menekan gagang pintu dengan pelan. Dia melangkahkan kaki, dan hal yang tidak Kaera duga terjadi, ternyata sang ayah sudah sadar.“Kaera…” lirihnya, membuat tubuh Kaera mematung.“Dad …,” gumamnya, membekap mulutnya sendiri ketika tangan kekar ayahnya meraba-raba sisi ranjang.“Kemarilah, Nak,” ucap Hadnan dengan memasang wajah tenang. Kaera melangkah mendekati sang ayah.“Dad, aku punya kabar gembira. Apa Daddy mau mendengarkannya?” ujarnya dengan begitu antusias, m

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 3

    Di dalam ruangan megah bernuansa Midnight Blue, gairah dan dominasi menyatu di udara. Suara deru napas berat beradu keras dengan keheningan malam.“Sayang, aku mohon pelan sedikit ... ini terlalu kuat!” erang Elena dengan napas terengah-engah. Suaranya parau, menyiratkan keputusasaan dan kenikmatan. Namun, Gerald tidak peduli. Pria itu terus bergerak tanpa belas kasihan, mengabaikan permohonan wanita di bawah kungkungannya.“Gerald, stop! Aku sudah tidak kuat lagi ... ini menyakitiku!” teriak Elena sembari mencengkeram sprei yang kini kusut tidak bertekstur lagi. Gerald terkekeh dingin. Tawa pelannya terdengar mengejek. “Diamlah, Elena! Nikmati saja. Bukannya ini yang kamu mau? Tadi kamu sendiri yang menggodaku, kan?”“Tapi tidak seperti ini, Gerald! Akh!” Elena memekik saat hentakan keras itu kembali menghantamnya. Tubuhnya terguncang hebat, rasanya seperti tubuhnya terbelah dua. Padahal ini bukan yang pertama kali mereka berdua melakukan nya. “Aku bilang diam, Elena!” tegur Geral

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 2

    Napas Kaera memburu, dadanya naik turun dengan pikiran yang kalut. Kurang lebih tiga jam dia duduk di kursi tunggu yang terasa sangat dingin. Dia memeluk lututnya yang gemetar. Di dalam ruangan sana, Ayahnya satu-satunya orang yang membuatnya kuat untuk bertahan hidup di kota yang kejam ini—sedang terbaring lemah dalam keadaan mata yang terbalut perban putih.“Nona Kaera, ayah Anda sudah dipindahkan ke ruang rawat dan kami akan melakukan operasi setelah Anda membayar uang administrasi.” Dokter Jack berdiri di hadapan seorang wanita yang sedari tadi meneteskan air mata.Kaera tertegun mendengarnya. Dia sempat bahagia mendengar ayahnya mendapatkan donor mata, hanya saja biayanya belum ada.“Berapa yang harus saya bayar, Dok?”“Anda harus membayar sebesar $19.000.”Kaera kembali tertegun dengan mata yang berkaca-kaca. “Ap..apa, Dok? Kenapa sebanyak itu? Bukankah tidak sebesar itu?” tanyanya dengan wajah terkejut. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?“Maaf, Nona Kaera, itu su

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 1

    Byuurr!!“DAMN!! GADIS SIALAN! BERANI SEKALI KAU, BITCH!!” teriak seorang pria bermata tajam dengan suara menggelegar.Kaera mengangkat pandangannya sembari mengusap wajahnya yang basah kuyup karena siraman segelas air. Pakaian pria di depannya kini kotor akibat kecerobohannya, tetapi gadis itu tetap menatapnya penuh ketegaran. Tidak ada raut ketakutan sedikit pun di mata indahnya yang hitam dan lebar.Suasana kafe malam itu mendadak tegang. Pria itu terlihat sangat murka, urat lehernya menonjol, dan tatapannya begitu nyalang menembus netra hitam Kaera yang secantik boneka hidup.“Lihatlah apa yang kau lakukan pada pakaianku, sialan!” bentaknya lagi, menunjuk noda pekat yang mengotori kemeja mahalnya.Beberapa pengunjung kafe yang merasa tidak nyaman memilih untuk segera pergi setelah meletakkan uang di meja, sementara beberapa orang justru bertahan di kursi mereka, seakan menikmati tontonan gratis yang menegangkan itu.“Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja dan saya juga

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status