Share

Chapter 2

Penulis: dheanova
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 23:39:06

Napas Kaera memburu, dadanya naik turun dengan pikiran yang kalut. Kurang lebih tiga jam dia duduk di kursi tunggu yang terasa sangat dingin. Dia memeluk lututnya yang gemetar. Di dalam ruangan sana, Ayahnya satu-satunya orang yang membuatnya kuat untuk bertahan hidup di kota yang kejam ini—sedang terbaring lemah dalam keadaan mata yang terbalut perban putih.

“Nona Kaera, ayah Anda sudah dipindahkan ke ruang rawat dan kami akan melakukan operasi setelah Anda membayar uang administrasi.” Dokter Jack berdiri di hadapan seorang wanita yang sedari tadi meneteskan air mata.

Kaera tertegun mendengarnya. Dia sempat bahagia mendengar ayahnya mendapatkan donor mata, hanya saja biayanya belum ada.

“Berapa yang harus saya bayar, Dok?”

“Anda harus membayar sebesar $19.000.”

Kaera kembali tertegun dengan mata yang berkaca-kaca. “Ap..apa, Dok? Kenapa sebanyak itu? Bukankah tidak sebesar itu?” tanyanya dengan wajah terkejut. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?

“Maaf, Nona Kaera, itu sudah menjadi ketentuan dari pihak rumah sakit. Silakan lakukan pembayaran administrasi. Jika tidak, mohon maaf, silakan bawa pulang lagi ayah Anda dan kami akan menyerahkan donor mata itu kepada pasien lain. Anda hanya memiliki waktu tiga hari.”

Kaera menggeleng. Uang sebanyak itu dari mana bisa dia dapatkan hanya dalam tiga hari? Ke mana dia harus mencarinya? Sanak saudara pun Kaera tidak punya, dia hanya tinggal berdua dengan sang ayah.

Pekerjaan yang setiap hari dia jalani dari pagi hingga malam tidak mungkin cukup. Bisa untuk makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Dia bekerja sebagai pelayan kafe milik orang terkaya di New York, apakah dia harus meminjam pada atasannya? Lalu kepalanya menggeleng, pemilik kafe itu bukan orang biasa.

“Astaga, ke mana aku harus mencari uang sebanyak itu, tidak ada barang yang bisa aku jual, bahkan rumah saja masih mengontrak, tabunganku saja tidak akan cukup,” gumamnya pelan sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, punggungnya bergetar hebat karena tangisannya.

Gwensa mengusap lembut pundak sahabatnya. “Kae, tenanglah, kita akan mencari solusinya bersama. Kau bisa menggunakan tabunganku, meskipun tidak banyak, tetapi lumayan untuk menambah kekurangannya.”

Kaera menggelengkan kepalanya. Gwensa sama seperti dirinya, hidup masih serba kekurangan, tentu saja dia tidak ingin membebani sahabatnya.

**

Kaera bekerja keras, dari pagi sampai malam hanya untuk mengumpulkan dana $19.000, meskipun dia tahu dalam tiga hari uang sebanyak itu tidak akan terkumpul. Kaera tidak menyerah, segala pekerjaan dia lakukan sampai tiba batas waktu yang ditentukan.

Suara tangisannya semakin terdengar memilukan, dengan kepala menunduk dan bahu yang berguncang. Kaera benar-benar tidak memiliki solusi. Pikirannya buntu. Harapan yang baru saja membumbung kini sirna begitu saja, terbentur oleh dinding kenyataan dan keterbatasan materi yang mencekik.

Kepalanya mendongak. Dia menatap pintu berwarna putih tempat cinta pertamanya tengah terbaring lemah. Ingin rasanya Kaera berlari masuk dan memeluk ayahnya, namun dia tidak memiliki keberanian sama sekali. Dia tidak tega melihat kondisi ayahnya yang rapuh tanpa bisa melihat.

Di sela-sela tangisannya, seorang pria menghampirinya bersama beberapa pengawal. Kepala Kaera mendongak, menatap pria paruh baya itu dengan tubuh bergetar. Kaera seketika mengenali salah satu pengawal di belakang pria itu, pria arogan yang bajunya sempat ia kotori di kafe.

Semua orang tahu siapa pria paruh baya di hadapannya ini. Dia adalah Mr. Romero Romano, bos mafia terbesar yang begitu kejam dan tidak pandang bulu jika ingin menghabisi musuhnya di negara ini.

“Berapa jumlah yang kau butuhkan?” Kaera mendongak pelan. Mr. Romero tersenyum tipis.

“Sembilan ribu dollar... bisakah Anda meminjamkannya padaku? Aku janji akan mencicilnya setiap bulan dari gajiku,” ucap Kaera polos. Mr. Romero terkekeh pelan.

“Gadis bodoh yang sangat polos. Berapa ratus tahun yang kau butuhkan untuk melunasinya dengan gaji pelayan kafe?” Kaera menggeleng lemah.

“Aku akan membantumu, tetapi ini semua tidaklah gratis. Ada syarat yang harus kamu penuhi,” suaranya begitu tenang, namun penuh penekanan.

“Maksud Anda bagaimana, Tuan? Dan syarat apa yang harus aku penuhi?” Dengan suara bergetar Kaera bertanya. Dia tau jika salah menjawab, akibatnya akan fatal untuk dirinya sendiri.

“Menikahlah dengan putraku. Buat dia mengerti arti hidup yang sesungguhnya.”

Mata hitam Kaera melebar. Tentu dia terkejut mendengar tawaran yang tidak masuk akal itu. Bagaimana mungkin dia yang hanya gadis biasa harus menikah dengan seseorang yang derajatnya jauh lebih tinggi?

“Tapi Tuan, kenapa harus menikah dengan putra Anda? Dari segi manapun kita sangat jauh, saya merasa tidak pantas,” jawabnya ragu.

Tatapan pria tua itu semakin tajam. “Aku hanya butuh jawabanmu, bukan pendapatmu. Kalau kau setuju, malam ini juga ayahmu akan mendapatkan tindakan,” ujarnya begitu dingin dengan raut wajah yang tegas.

“Kalau kau tidak setuju, itu terserah padamu. Aku sudah memberikan penawaran yang baik, pernikahan kontrak sampai putraku mengerti arti kehidupan. Setelah itu terserah kalian berdua. Lagipula, aku merasa hanya kamu yang cocok dengan putraku yang gila wanita.” Sejatinya, tidak ada seorang ayah yang ingin melihat darah dagingnya salah langkah sampai tidak mempercayai sebuah pernikahan.

Kaera terdiam cukup lama, lalu dia memejamkan mata. Kalau ini satu-satunya jalan agar ayahnya bisa melihat lagi, maka dia akan menerimanya.

“Bagaimana?” ujar Mr. Romero karena Kaera hanya diam sejak tadi.

Kaera mendongak, tatapan matanya yang teduh memancarkan banyak kesedihan dan kehancuran.

“Baiklah, Tuan. Saya terima.”

Mr. Romero tersenyum tipis, Pria tua itu memberi isyarat pada pengawalnya, yang langsung maju menyodorkan selembar berkas hitam tebal beserta pena emas.

"Tanda tangani. Detik ini juga, semua biaya medis ayahmu lunas," ucap Mr. Romero dengan nada datar tanpa bantahan.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang menetes di atas kertas berharga belasan ribu dolar itu, Kaera membubuhkan tanda tangannya. Tanda tangan yang baru saja menjual kebebasan hidupnya.

Mr. Romero mengambil dokumen itu, menyimpannya di balik jas mahal miliknya, lalu menatap Kaera dari atas ke bawah. Tatapannya begitu pekat, seolah sedang melihat mangsa yang baru saja masuk ke dalam perangkapnya.

"Keputusan yang bagus, Nona Kaera. Operasi ayahmu akan segera dilakukan oleh tim medis terbaik dari keluarga Romano," Mr. Romero berbalik, melangkah pergi dikawal oleh pria-pria berbadan tegap. Namun, baru tiga langkah berjalan, dia mendadak berhenti dan menoleh setengah wajahnya.

"Oh ya, nikmatilah sisa malam ini. Karena mulai besok... kau bukan lagi milik dunia ini, melainkan milik keluarga Romano yang tidak akan segan menghancurkan siapa pun yang menyentuh barang miliknya."

Kaera terpaku di tempatnya, menahan napas saat aura dingin pria itu benar-benar mencengkeram dadanya.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 17

    "Minumlah, Nona Kaera," bisik Xavier dengan lembut, membantu Kaera menegakkan tubuhnya yang lemah.Kaera meneguk air itu dengan lahap, tenggorokannya yang seperti terbakar perlahan-lahan terasa sejuk. Napasnya masih memburu, tetapi secercah harapan mulai hidup kembali di matanya yang sayu."Terima kasih, Tuan Xavier..." suara Kaera terdengar serak, hampir seperti bisikan pelan. "Bagaimana... bagaimana keadaan Ayahku?"Xavier menghela napas berat, duduk bersimpuh di samping jeruji besi. "Kabar baik, Nona. Kondisi Ayah Anda hari ini mulai membaik. Dokter menanganinya dengan baik." Jawab Xavier. Air mata Kaera menetes membasahi pipinya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. "Syukurlah...tidak sia-sia pengorbanan ku ini jika Ayahku mulai membaik, aku tidak tau kapan bisa melihatnya lagi." "Jangan bicara begitu, Nona. Anda harus bertahan," Ujar Xavier mencoba meyakinkan Kaera. “Tuan Handan masih menunggu kepulangan Anda, Nona." Kaera menunduk, meremas kain bajunya yang kotor. Hat

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 16

    "Tuan..." suara Lila menguar lembut, selembut sutra yang membelai malam, berbanding terbalik dengan jeritan histeris Elena yang masih menggaung di balik pintu.Gerald melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup rapat. aroma lavender yang menenangkan berpadu dengan remang cahaya lampu tidur. Tetapi, ketenangan itu seketika sirna begitu punggung Gerald membentur daun pintu yang tertutup.Lila, yang masih duduk di tepi ranjang dengan buku di pangkuannya, tertegun ketika melihat sorot mata pria di depannya. Tatapan yang seakan ingin di manjakan olehnya. "Tuan Gerald..." panggil Lila pelan, menutup buku di tangannya lalu berdiri perlahan.Sebelum Lila sempat melangkah lebih dekat, Gerald sudah lebih dulu merenggut jarak di antara mereka berdua. tangannya langsung menarik pinggang Lila dan mencengkram nya erat, hampir menyisakan rasa nyeri. Tanpa sepatah kata pun, bibir pria itu langsung membungkam bibir Lila dalam sebuah ciuman yang menuntut, liar, dan jauh dari kata lembut."A-akh... Gera

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 15

    Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul dua dini hari. Keheningan mansion Romano seketika pecah oleh derit engsel besi pintu ruang bawah tanah.Gerald melangkah masuk membawa kotak P3K dan sebotol air mineral. Di sudut sel yang gelap, Kaera meringkuk di atas lantai kotor dengan napas tersengal-sengal dan demam tinggi.Perlahan Kaera mendongak ketika mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Tatapan keduanya bertemu, sorot mata polos itu terlihat penuh kebencian dan kesakitan yang luar biasa. “Apakah Anda akan membunuh saya sekarang, Tuan Gerald?" Ucap Kaera pelan, suaranya serak. "Duduk dan minum ini," Titah Gerald dengan datar.Kaera memalingkan wajahnya. "Saya... tidak butuh... belas kasihan dari orang seperti Anda...""Aku bilang minum, Kaera!" Gerald mencengkeram bahu gadis itu untuk menegakkan tubuhnya."AAKH!" Jerit tertahan lolos begitu saja dari bibir Kaera. Gerakan itu membuat luka cambuk di punggungnya kembali robek, mengeluarkan cairan merah yang membasahi pu

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 14

    Hening malam di lantai atas mansion Romano terasa begitu sunyi, tetapi hening di dalam sel bawah tanah jauh lebih menyeramkan. Di atas lantai yang dingin dan kotor, Kaera terbaring miring dengan napas yang halus dan pendek-pendek. Luka cambukan di punggungnya berdenyut nyeri, menyebarkan rasa panas yang membakar setiap kali dia mencoba bergerak. Piyama tipisnya yang robek kini lengket oleh darah yang mulai mengering.Di dalam kegelapan yang sel, Kaera tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis. Dia hanya memaku pandangannya pada dinding batu yang berlumut, memikirkan bayangan wajah ayahnya.“Kaera... Kamu satu-satunya alasan Daddy tetap bertahan hidup...”Suara lembut ayahnya terngiang-ngiang di kepalanya, menjadi satu-satunya ingatan tipis yang menahannya agar tidak menyerah pada rasa sakit yang kehilangan kesadaran."Aku tidak boleh mati di sini" bisik Kaera dalam hatinya, mengepalkan jemarinya hingga buku kuku-kukunya memutih. "Aku harus bertahan... Aku harus keluar dari tempat

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 13

    Lantai yang begitu dingin dan lembap menyerap sisa kehangatan dari tubuh Kaera. Bau karat, darah kering, dan kelembapan tanah membumbung pekat di dalam sel bawah tanah mansion Romano. Hanya ada satu bola lampu redup yang berkedip-kedip di langit-langit, memancarkan cahaya kekuningan.Kedua pergelangan tangan Kaera terikat rantai besi berat yang menggantung pada dinding batu. Gesekan rantai itu telah mengelupas kulit halus di pergelangan tangannya, meninggalkan bekas kemerahan yang berdarah. Piyama tipis yang dikenakannya tidak mampu menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.Tetapi, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa hancur yang mencabik-cabik dadanya.Setiap kali membayangkan ayahnya, pria tua yang baru saja mendapatkan kembali penglihatannya, sekarang sendirian di rumah sakit tanpa perlindungan dan menjadi target klan Vancura, napas Kaera terasa seperti terhenti. Air mata yang bercampur dengan debu mengering di pipinya yang pucat.Pintu be

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 12

    Tiga hari sudah berlalu sejak peristiwa di rumah sakit, dan suasana di dalam mansion keluarga Romano berubah menjadi seperti medan perang yang menunggu ledakan pertama.Pagi itu, suara mesin mobil sport meraung keras di halaman depan. Elena melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan langkah anggun. Senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. Di tangannya, sebuah amplop cokelat tebal tergenggam erat.Di meja makan, Gerald sedang memeriksa laporan keuangan klan melalui tabletnya, sementara Kaera duduk di ujung meja lain, sembari menyesap teh hangatnya dengan tenang.“Selamat pagi, sayang ku,” sapa Elena dengan suara manis yang memuakkan. Dia membungkuk, mendaratkan kecupan singkat di pipi Gerald sebelum mengalihkan pandangannya pada Kaera dengan tatapan jijik. “Dan... selamat pagi untuk pelayan yang beruntung bisa duduk di meja ini.”Kaera bahkan tidak menyia-nyiakan energinya untuk menoleh ke arah selir suaminya. “Suara burung gagak di pagi hari mem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status