LOGIN"Bangun, Gembel!!"
Suara melengking Elena memecah kesunyian di pagi hari. Pintu kamar pelayan terbuka dengan keras sehingga menghantam dinding. Elena berdiri di ambang pintu dengan piyama sutra transparan, wanita itu menyilangkan tangan di atas dada dengan tatapan penuh keangkuhan. "Kau pikir rumah ini hotel?" Seru Elena. "Di sini, wanita gembel tidak di izinkan untuk bermalas-malasan!" Kaera menyandarkan punggungnya pada tepi ranjang, merapikan gaun pengantinnya yang kusut. "Ini baru jam enam pagi, Nona Elena. Dan perlu saya ingatkan, saya adalah istri sah dari pemilik mansion ini, bukan pelayan yang harus menuruti perintah Anda." "Istri?" Elena tertawa mengejek, raut wajah yang mengisyaratkan penghinaan. "Kau itu cuma sampah bergaun pengantin yang dipaksakan untuk masuk ke sini! Status di atas kertas itu tidak ada harganya di mata Gerald ataupun aku!" Elena melangkah maju, mencengkeram bahu Kaera dengan kuku-kuku panjangnya. "Dengar ini baik-baik, Kaera Kairez. Hari ini pelayan pribadiku sedang libur. Kau yang harus membereskan dapur, menyiapkan sarapan, dan mencuci semua pakaianku, kau Paham?" Kaera membuang muka sembari berdecih, lalu menepis tangan Elena dari bahunya. "Saya tidak sudi menerima perintah dari seorang wanita simpanan." PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi kiri Kaera. Wajahnya terlempar ke samping, sudut bibirnya terasa asin oleh darah. "Itu pelajaran pertama untuk mulutmu yang tidak berpendidikan!" desis Elena. Sebelum Elena sempat menarik tangannya, Kaera membalas dengan sekuat tenaga. PLAK! "Aaghh!" Elena terhuyung ke belakang sehingga dia hampir menabrak pintu. Dia memegangi pipinya yang memerah, matanya membelalak tidak percaya. "Kau... kau berani menamparku?!" "Kau duluan yang memulainya, Nona!" Jawab Kaera, dadanya naik-turun menahan emosi. "Saya diam bukan berarti saya takut pada Anda, Nona Elena. Jangan berani sekali-kali menyentuh kulit saya lagi kalau Anda tidak ingin menerima balasannya!" "Gerald! Gerald, tolong aku!" jerit Elena begitu histeris. "Gerald!" Di balik ambang pintu, sosok Gerald melangkah santai. Pria itu menyandarkan bahunya di pintu, dia mengenakan kemeja putih dengan kancing atas terbuka. “Bisakah kau tidak berteriak pagi-pagi seperti ini, Elena." Ucap Gerald "Lihat wanita gila ini, Gerald!" Elena berlari memeluk lengan Gerald, menunjuk Kaera dengan jari yang gemetar. "Dia menamparku! Pipi ku sakit sekali! Hukum dia, Gerald! Usir dia sekarang juga!" Gerald menatap Kaera dalam-dalam, lalu tersenyum tipis."Itu karena salahmu sendiri Elena, kau yang mengusiknya." "Gerald! Aku ini kekasihmu!" Elena melebarkan matanya. "Kau membiarkan wanita miskin ini memukulku?!" "Aku tidak membiarkannya," gumam Gerald. Pria itu melangkah mendekati Kaera, mengusap cairan darah di sudut bibir Kaera dengan kasar. "Aku hanya sedang melihat sampai sejauh mana kucing kecil ini bisa mencakar sebelum kuku-kukunya kupatahkan satu per satu." Dengan kasar Kaera menepis tangan Gerald. "Jangan menyentuh saya dengan tangan kotor Anda ini, Tuan Gerald!" "Simpan keberanianmu itu untuk nanti malam, Kaera," desis Gerald menarik sudut bibir nya "Karena nanti malam, kau akan sadar di mana tempatmu yang sebenarnya." Kaera memutar bola matanya malas. “Bisanya hanya mengancam, itulah andalan orang kaya." Gerald tidak perduli dengan perkataan Kaera. lalu berbalik badan dan keluar dari kamar itu di ikuti oleh Elena. ** Malam harinya, dua pengawal berbadan besar mendobrak masuk ke kamar pelayan. Tanpa sepatah kata pun, mereka mencengkeram kedua lengan Kaera dan menyeretnya ke lantai dua. "Lepaskan aku! Apa-apaan ini?!" Kaera memberontak "Lepaskan!" Mereka menghempaskan Kaera ke atas kursi kayu di tengah kamar utama Gerald. Dengan cepat, kedua tangannya diikat kuat ke sandaran kursi menggunakan tali. "Apa yang kalian lakukan?! lepaskan aku!" teriak Kaera. Pintu kamar mandi terbuka. Gerald keluar hanya mengenakan celana panjang hitam, membiarkan dada bidangnya terlihat begitu saja. Elena menyusul dari belakang dengan gaun malam transparan dan tersenyum dengan penuh kemenangan. "Kau pernah bertanya dimana kamarku?" bisik Gerald, tangannya mencengkeram dagu Kaera. "Ini kamar utamaku. Dan malam ini kau berada di sini akan menjadi penonton setia." "Kau gila, Gerald!" Teriak Kaera, mencoba memalingkan wajahnya. "Lepaskan aku!" "Aku memang gila, Kaera," sahut Gerald. Pria itu berdiri tegak dan menatap Elena yang sudah menunggunya di atas ranjang. “Lihat Kaera, malam ini kau akan melihat posisi Elena yang sebenarnya." "Gerald, ini keterlaluan!" Seru Kaera, yang menyadari niat pria itu. "Lihat ini baik-baik, Istriku yang menganggap dirinya Nyonya Romano," ujar Gerald dengan suara berat sembari menarik Elena ke dalam pelukannya. "Lihat siapa yang sebenarnya memiliki tempat di ranjang ini, dan siapa yang hanya penonton tidak berdaya." "Sayang, dia memperhatikan kita," goda Elena manja, sengaja mengeraskan suaranya ketika Gerald mulai mencium lehernya. "Tutup matamu atau aku buat kau menyesal, Kaera!" Bentak Kaera pada dirinya sendiri, memejamkan matanya rapat-rapat. "Buka matamu, Kaera!" bentak Gerald begitu nyaring, suaranya menggelegar di setiap sudut kamar. "Jika kau berani memejamkan matamu atau berpaling, detik ini juga bantuan dana untuk biaya rumah sakit ayahmu akan aku hentikan!" Ancaman itu membuat dada Kaera terasa sesak. Tubuhnya membeku seketika. Bayangan ayahnya yang masih dirawat di Rumah Sakit terlintas di pikirannya. Dengan napas memburu dan rasa hina yang membakar jiwanya, Kaera memaksa matanya kembali terbuka. "Bagus. Tetap buka mata mu" Ucap Gerald kembali melakukan aksinya dengan Elena Di bawah lampu yang terang Kaera melihat betapa liarnya permainan suaminya dengan perempuan lain. Erangan Elena dan deru napas Gerald memenuhi ruangan. Kaera mencengkeram sandaran kursi begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Dipaksa menyaksikan pergulatan itu, air mata keputusasaan perlahan menetes membasahi pipinya, beriringan dengan rasa benci yang semakin mendalam. “Menjijikkan" Tiba-tiba saja Kaera merasakan mual, sampai dia memuntahkan isi perutnya, benar-benar merasa jijik pada dua orang yang berada dia atas ranjang. Sementara Gerald tidak benar-benar menikmati permainan panasnya dengan Elena, ekor matanya beberapa kali menangkap ekspresi wajah Kaera. “Gerald...ahhh..ak..aku ingin bermain di sofa" ucap Elena terbata-bata sembari melakukan gerakan naik turun di atas tubuh Gerald. Gerald tidak menjawab tetapi dia mengubah posisi dan mengangkat tubuh Elena tanpa melepaskan penyatuan mereka berdua. Gerald berjalan kearah sofa, bibir keduanya masih saling melumat. Sofa itu tepat di depan Kaera jaraknya lebih dekat daripada ranjang. “Ahh...Gerald... " Elena kembali mengerang. posisi Gerald duduk di atas sofa dan Elena berada diatas pangkuannya. Suara desahan laknat itu semakin menyiksa Kaera. Dia menggelengkan kepalanya keras, dua orang yang tidak memiliki perasaan dan rasa malu. Gerald menarik sudut bibirnya, tatapannya terus mengarah pada Kaera, dia merasa menang. matanya seakan mengatakan. 'Inilah posisi Elena, pemilik ranjang yang sesungguhnya' “Huueekkk...Hueekk...hueekk!""Minumlah, Nona Kaera," bisik Xavier dengan lembut, membantu Kaera menegakkan tubuhnya yang lemah.Kaera meneguk air itu dengan lahap, tenggorokannya yang seperti terbakar perlahan-lahan terasa sejuk. Napasnya masih memburu, tetapi secercah harapan mulai hidup kembali di matanya yang sayu."Terima kasih, Tuan Xavier..." suara Kaera terdengar serak, hampir seperti bisikan pelan. "Bagaimana... bagaimana keadaan Ayahku?"Xavier menghela napas berat, duduk bersimpuh di samping jeruji besi. "Kabar baik, Nona. Kondisi Ayah Anda hari ini mulai membaik. Dokter menanganinya dengan baik." Jawab Xavier. Air mata Kaera menetes membasahi pipinya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. "Syukurlah...tidak sia-sia pengorbanan ku ini jika Ayahku mulai membaik, aku tidak tau kapan bisa melihatnya lagi." "Jangan bicara begitu, Nona. Anda harus bertahan," Ujar Xavier mencoba meyakinkan Kaera. “Tuan Handan masih menunggu kepulangan Anda, Nona." Kaera menunduk, meremas kain bajunya yang kotor. Hat
"Tuan..." suara Lila menguar lembut, selembut sutra yang membelai malam, berbanding terbalik dengan jeritan histeris Elena yang masih menggaung di balik pintu.Gerald melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup rapat. aroma lavender yang menenangkan berpadu dengan remang cahaya lampu tidur. Tetapi, ketenangan itu seketika sirna begitu punggung Gerald membentur daun pintu yang tertutup.Lila, yang masih duduk di tepi ranjang dengan buku di pangkuannya, tertegun ketika melihat sorot mata pria di depannya. Tatapan yang seakan ingin di manjakan olehnya. "Tuan Gerald..." panggil Lila pelan, menutup buku di tangannya lalu berdiri perlahan.Sebelum Lila sempat melangkah lebih dekat, Gerald sudah lebih dulu merenggut jarak di antara mereka berdua. tangannya langsung menarik pinggang Lila dan mencengkram nya erat, hampir menyisakan rasa nyeri. Tanpa sepatah kata pun, bibir pria itu langsung membungkam bibir Lila dalam sebuah ciuman yang menuntut, liar, dan jauh dari kata lembut."A-akh... Gera
Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul dua dini hari. Keheningan mansion Romano seketika pecah oleh derit engsel besi pintu ruang bawah tanah.Gerald melangkah masuk membawa kotak P3K dan sebotol air mineral. Di sudut sel yang gelap, Kaera meringkuk di atas lantai kotor dengan napas tersengal-sengal dan demam tinggi.Perlahan Kaera mendongak ketika mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Tatapan keduanya bertemu, sorot mata polos itu terlihat penuh kebencian dan kesakitan yang luar biasa. “Apakah Anda akan membunuh saya sekarang, Tuan Gerald?" Ucap Kaera pelan, suaranya serak. "Duduk dan minum ini," Titah Gerald dengan datar.Kaera memalingkan wajahnya. "Saya... tidak butuh... belas kasihan dari orang seperti Anda...""Aku bilang minum, Kaera!" Gerald mencengkeram bahu gadis itu untuk menegakkan tubuhnya."AAKH!" Jerit tertahan lolos begitu saja dari bibir Kaera. Gerakan itu membuat luka cambuk di punggungnya kembali robek, mengeluarkan cairan merah yang membasahi pu
Hening malam di lantai atas mansion Romano terasa begitu sunyi, tetapi hening di dalam sel bawah tanah jauh lebih menyeramkan. Di atas lantai yang dingin dan kotor, Kaera terbaring miring dengan napas yang halus dan pendek-pendek. Luka cambukan di punggungnya berdenyut nyeri, menyebarkan rasa panas yang membakar setiap kali dia mencoba bergerak. Piyama tipisnya yang robek kini lengket oleh darah yang mulai mengering.Di dalam kegelapan yang sel, Kaera tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis. Dia hanya memaku pandangannya pada dinding batu yang berlumut, memikirkan bayangan wajah ayahnya.“Kaera... Kamu satu-satunya alasan Daddy tetap bertahan hidup...”Suara lembut ayahnya terngiang-ngiang di kepalanya, menjadi satu-satunya ingatan tipis yang menahannya agar tidak menyerah pada rasa sakit yang kehilangan kesadaran."Aku tidak boleh mati di sini" bisik Kaera dalam hatinya, mengepalkan jemarinya hingga buku kuku-kukunya memutih. "Aku harus bertahan... Aku harus keluar dari tempat
Lantai yang begitu dingin dan lembap menyerap sisa kehangatan dari tubuh Kaera. Bau karat, darah kering, dan kelembapan tanah membumbung pekat di dalam sel bawah tanah mansion Romano. Hanya ada satu bola lampu redup yang berkedip-kedip di langit-langit, memancarkan cahaya kekuningan.Kedua pergelangan tangan Kaera terikat rantai besi berat yang menggantung pada dinding batu. Gesekan rantai itu telah mengelupas kulit halus di pergelangan tangannya, meninggalkan bekas kemerahan yang berdarah. Piyama tipis yang dikenakannya tidak mampu menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.Tetapi, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa hancur yang mencabik-cabik dadanya.Setiap kali membayangkan ayahnya, pria tua yang baru saja mendapatkan kembali penglihatannya, sekarang sendirian di rumah sakit tanpa perlindungan dan menjadi target klan Vancura, napas Kaera terasa seperti terhenti. Air mata yang bercampur dengan debu mengering di pipinya yang pucat.Pintu be
Tiga hari sudah berlalu sejak peristiwa di rumah sakit, dan suasana di dalam mansion keluarga Romano berubah menjadi seperti medan perang yang menunggu ledakan pertama.Pagi itu, suara mesin mobil sport meraung keras di halaman depan. Elena melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan langkah anggun. Senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. Di tangannya, sebuah amplop cokelat tebal tergenggam erat.Di meja makan, Gerald sedang memeriksa laporan keuangan klan melalui tabletnya, sementara Kaera duduk di ujung meja lain, sembari menyesap teh hangatnya dengan tenang.“Selamat pagi, sayang ku,” sapa Elena dengan suara manis yang memuakkan. Dia membungkuk, mendaratkan kecupan singkat di pipi Gerald sebelum mengalihkan pandangannya pada Kaera dengan tatapan jijik. “Dan... selamat pagi untuk pelayan yang beruntung bisa duduk di meja ini.”Kaera bahkan tidak menyia-nyiakan energinya untuk menoleh ke arah selir suaminya. “Suara burung gagak di pagi hari mem







