Share

Chapter 6

Author: dheanova
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-23 11:29:27

Perjalanan menuju mansion milik Gerald hanya ada keheningan . Kaera sibuk merapikan lipatan gaun pengantinnya yang mekar dan menyita tempat, sementara Gerald terus menatap keluar jendela dengan rahang yang mengeras. Sesekali matanya melirik tajam ke arah Kaera melalui kaca spion dalam, namun gadis itu berpura-pura tidak peduli dan justru melempar pandangan ke luar jendela.

Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya modern kontemporer dengan dominasi warna hitam dan abu-abu. Begitu pintu mobil dibuka oleh pengawal, Gerald langsung keluar tanpa memedulikan Kaera.

"Bisa turun sendiri, 'kan? Jangan bertingkah seperti putri raja di rumahku," Ucap Gerald dingin.

Kaera menghela napas panjang, lalu bersusah payah memegangi gaun tebalnya untuk keluar dari mobil. "Terima kasih atas kepekaan Anda yang sangat minim, Tuan Gerald Romano."

Kaera melangkah masuk mengekor di belakang Gerald. Interior mansion itu sangat luas, terlihat dingin dan tidak berpenghuni, persis seperti pemiliknya. Tetapi, mereka berdua mendadak terhenti di ruang tamu utama.

Seorang wanita berpenampilan sangat modis dengan gaun ketat berwarna merah menyala dan riasan tebal sedang berdiri menyilangkan tangan di atas dada. Matanya langsung tertuju pada penampilan Kaera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penghinaan.

"Oh, jadi ini wanita gembel yang dipaksakan Daddy mu untuk kamu nikahi, Gerald?" suara wanita itu melengking tinggi, memecah kesunyian ruangan.

Gerald berjalan mendekati wanita itu dan melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih. "Elena, kenapa kamu belum tidur? sudah Aku katakan jangan menungguku."

Elena, membuang muka ke sembarang arah sebelum menatap Kaera dengan senyum sinis. "Bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau tau kamu membawa wanita murahan dari tempat sampah ke rumah kita? Lihat gaunnya, terlihat sangat murahan meskipun seperti barang mahal. Ck, sekarang bau kemiskinan benar-benar menyengat di rumah ini."

Kaera mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Rasa hangat bekas air mata yang sempat ingin menetes sekarang mendadak menguap, berganti dengan keberanian. Dia teringat ucapan Mr. Romero kemarin, 'Jika dia menyakiti mu laporkan saja padaku. Kamu bisa membunuhnya jika dia keterlaluan.'

Kaera melangkah maju, menatap Elena tanpa rasa takut sama sekali.

"Maaf Nona, kalau mata Anda tertutup lapisan make-up yang terlalu tebal, biar saya perjelas," sahut Kaera dengan nada datar namun sangat menusuk. "Gaun ini dipilih langsung oleh Mr. Romero. Jadi, kalau Anda mengatakan gaun ini murahan dan berbau kemiskinan, artinya Anda juga sedang menghina selera calon mertua Anda sendiri, yang sayangnya, tidak akan pernah menjadi mertua Anda."

Elena melotot terkejut, tidak menyangka gadis yang dia pikir polos dan penakut itu sanggup membalas perkataannya. "Kau! Berani sekali kau bicara seperti itu padaku?!"

"Kenapa saya harus tidak berani?" Kaera menyunggingkan senyum tipis yang memancing emosi. "Saya berdiri di rumah ini sebagai istri sah secara hukum di Negara kita, bukan sebagai tamu tidak diundang atau sekadar wanita simpanan yang bersembunyi di balik ketiak pria."

"Gerald! Lihat wanita gembel ini! Dia menghinaku di depan mu!" jerit Elena penuh emosi, mengguncang lengan Gerald. "Usir dia sekarang juga, Gerald! Aku tidak mau berada di bawah satu atap dengan wanita rendahan ini!"

Gerald menatap Kaera dengan mata elangnya. Tatapan matanya tajam bagaikan belati yang siap merobek jantung Kaera. "Kaera Kairez! Jaga ucapanmu atau aku sendiri yang akan meremukkan rahangmu!"

"Lakukan saja, Tuan Gerald," tantang Kaera begitu tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Dia membusungkan dadanya. "Tapi sebelum Anda menyentuh sejengkal pun kulit saya, ingatlah ucapan Mr. Romero. Beliau memberi saya izin penuh untuk melaporkan setiap perlakuan kasar Anda. Atau Anda mau saya menelepon beliau sekarang juga untuk memberitahu bahwa kekasih kesayangan Anda baru saja menghina pilihan beliau?"

Mendengar nama ayahnya disebut, gerak-gerik Gerald mendadak terkunci. Pria itu menggeretak kan giginya hingga rahangnya menonjol tebal. Dia tau betul ayahnya tidak pernah main-main dengan ancamannya terhadap Elena jika dia berani melanggar perintah.

"Kau melindungi dirimu di balik nama Daddy ku, Shit!" desis Gerald penuh kekesalan.

"Saya hanya memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh pemilik rumah yang sebenarnya, Tuan," balas Kaera tanpa mengalihkan pandangan. "Dan untuk Anda, Nona..." Kaera menatap Elena dari atas ke bawah. "Jika Anda memiliki sedikit saja harga diri, sebaiknya Anda tidak memancing emosi saya. Saya mungkin miskin, tapi saya tidak sudi direndahkan oleh wanita yang bahkan tidak diakui oleh keluarga pria ini."

"Kau benar-benar wanita gila tidak tau diri!" pekik Elena, wajahnya memerah padam karena murka dan malu. "Gerald, lakukan sesuatu!"

"Cukup, Elena!" Sela Gerald, Pria itu mengusap wajahnya kasar, terlihat sangat frustrasi dengan situasi yang ada. "Masuklah ke kamar. Biarkan aku menyelesaikan masalah ini."

"Tapi Gerald, dia.."

"Aku bilang masuk!" bentak Gerald.

Elena menghentakkan kakinya ke lantai dengan rasa kesal, memberikan tatapan membunuh ke arah Kaera sebelum akhirnya berlari menuju lantai atas dengan langkah lebar.

Setelah Elena menghilang di balik lorong, suasana di ruang tamu mendadak menjadi sangat menakutkan. Gerald berjalan mendekati Kaera dengan langkah perlahan namun penuh ancaman. Pria itu berhenti tepat di hadapan Kaera, menundukkan kepalanya hingga hembusan napas hangatnya yang berbau alkohol dan amarah begitu terasa di dahi Kaera.

"Kau pikir kau sudah menang hanya karena memegang kartu as dari Daddy?" bisik Gerald tajam dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Kaera menahan napas, menolak untuk menunjukkan rasa takut sedikit pun di depan pria liar ini. "Saya tidak sedang bertanding, Tuan Gerald. Saya hanya mempertahankan diri saya dari orang-orang yang merasa dirinya paling mulia."

"Mulai detik ini, kehidupanmu di mansion ini akan menjadi neraka, Kaera Kairez," desis Gerald tepat di depan wajahnya. "Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, mencintaimu, apalagi memberimu seorang anak. Kau hanya sebuah status tidak berguna di atas kertas."

Kaera menatap mata kelam Gerald dengan keberanian penuh "Baguslah kalau begitu. Karena saya juga tidak pernah bermimpi untuk disentuh oleh seorang pria kasar dan tidak berpendirian seperti Anda. Sekarang, di mana kamar saya? Saya sudah sangat lelah menutupi kepalsuan acara hari ini."

Gerald terkekeh dingin, sebuah kekehan yang membuat bulu kuduk Kaera berdiri. "Kamar? Kau pikir kau berhak mendapatkan kamar utama di mansion ini?"

Gerald mencengkeram pergelangan tangan Kaera,tidak cukup keras hingga meninggalkan memar, namun cukup kuat untuk memaksa gadis itu mengikutinya. Pria itu menyeret Kaera melewati lorong panjang di lantai dasar, menuju ke area paling belakang mansion yang berdekatan dengan area dapur dan tempat penyimpanan barang.

Gerald membuka sebuah pintu kayu tebal dengan kasar.

"Ini kamarmu," ujar Gerald dingin sembari menghempaskan pegangan tangannya.

Kaera melangkah masuk dan melihat ruangan kecil yang hanya berisi satu tempat tidur berukuran sedang, satu lemari kayu tua, dan sebuah meja kecil. Tempat itu bersih, namun jauh dari kata mewah jika dibandingkan dengan kemegahan mansion di luarnya.

"Ini kamar pelayan," ucap Kaera datar, membalikkan badan menatap Gerald.

"Itu tempat yang paling pantas untuk wanita gembel sepertimu," sahut Gerald dengan senyum penuh kemenangan. "Selamat menikmati malam pertama pernikahanmu yang memuakkan, Istriku."

Sebelum Kaera sempat membalas, Gerald sudah menarik pintu tersebut dan menguncinya rapat-rapat dari luar, meninggalkan Kaera sendirian di dalam kamar yang sunyi.

Kaera menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang tertutup rapat. Dia mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Perlahan, pertahanannya runtuh. Gadis itu meluruh ke lantai, merapikan gaun pengantin mewahnya yang kini terasa begitu menyiksa. Dia menyentuh cincin pernikahan di jari manisnya, menatapnya dengan pandangan nanar.

"Sabar, Kaera... ini semua demi kesembuhan Daddy," bisiknya pada diri sendiri, mengusap bulir air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya. "Aku pasti bisa bertahan."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 17

    "Minumlah, Nona Kaera," bisik Xavier dengan lembut, membantu Kaera menegakkan tubuhnya yang lemah.Kaera meneguk air itu dengan lahap, tenggorokannya yang seperti terbakar perlahan-lahan terasa sejuk. Napasnya masih memburu, tetapi secercah harapan mulai hidup kembali di matanya yang sayu."Terima kasih, Tuan Xavier..." suara Kaera terdengar serak, hampir seperti bisikan pelan. "Bagaimana... bagaimana keadaan Ayahku?"Xavier menghela napas berat, duduk bersimpuh di samping jeruji besi. "Kabar baik, Nona. Kondisi Ayah Anda hari ini mulai membaik. Dokter menanganinya dengan baik." Jawab Xavier. Air mata Kaera menetes membasahi pipinya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. "Syukurlah...tidak sia-sia pengorbanan ku ini jika Ayahku mulai membaik, aku tidak tau kapan bisa melihatnya lagi." "Jangan bicara begitu, Nona. Anda harus bertahan," Ujar Xavier mencoba meyakinkan Kaera. “Tuan Handan masih menunggu kepulangan Anda, Nona." Kaera menunduk, meremas kain bajunya yang kotor. Hat

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 16

    "Tuan..." suara Lila menguar lembut, selembut sutra yang membelai malam, berbanding terbalik dengan jeritan histeris Elena yang masih menggaung di balik pintu.Gerald melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup rapat. aroma lavender yang menenangkan berpadu dengan remang cahaya lampu tidur. Tetapi, ketenangan itu seketika sirna begitu punggung Gerald membentur daun pintu yang tertutup.Lila, yang masih duduk di tepi ranjang dengan buku di pangkuannya, tertegun ketika melihat sorot mata pria di depannya. Tatapan yang seakan ingin di manjakan olehnya. "Tuan Gerald..." panggil Lila pelan, menutup buku di tangannya lalu berdiri perlahan.Sebelum Lila sempat melangkah lebih dekat, Gerald sudah lebih dulu merenggut jarak di antara mereka berdua. tangannya langsung menarik pinggang Lila dan mencengkram nya erat, hampir menyisakan rasa nyeri. Tanpa sepatah kata pun, bibir pria itu langsung membungkam bibir Lila dalam sebuah ciuman yang menuntut, liar, dan jauh dari kata lembut."A-akh... Gera

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 15

    Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul dua dini hari. Keheningan mansion Romano seketika pecah oleh derit engsel besi pintu ruang bawah tanah.Gerald melangkah masuk membawa kotak P3K dan sebotol air mineral. Di sudut sel yang gelap, Kaera meringkuk di atas lantai kotor dengan napas tersengal-sengal dan demam tinggi.Perlahan Kaera mendongak ketika mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Tatapan keduanya bertemu, sorot mata polos itu terlihat penuh kebencian dan kesakitan yang luar biasa. “Apakah Anda akan membunuh saya sekarang, Tuan Gerald?" Ucap Kaera pelan, suaranya serak. "Duduk dan minum ini," Titah Gerald dengan datar.Kaera memalingkan wajahnya. "Saya... tidak butuh... belas kasihan dari orang seperti Anda...""Aku bilang minum, Kaera!" Gerald mencengkeram bahu gadis itu untuk menegakkan tubuhnya."AAKH!" Jerit tertahan lolos begitu saja dari bibir Kaera. Gerakan itu membuat luka cambuk di punggungnya kembali robek, mengeluarkan cairan merah yang membasahi pu

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 14

    Hening malam di lantai atas mansion Romano terasa begitu sunyi, tetapi hening di dalam sel bawah tanah jauh lebih menyeramkan. Di atas lantai yang dingin dan kotor, Kaera terbaring miring dengan napas yang halus dan pendek-pendek. Luka cambukan di punggungnya berdenyut nyeri, menyebarkan rasa panas yang membakar setiap kali dia mencoba bergerak. Piyama tipisnya yang robek kini lengket oleh darah yang mulai mengering.Di dalam kegelapan yang sel, Kaera tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis. Dia hanya memaku pandangannya pada dinding batu yang berlumut, memikirkan bayangan wajah ayahnya.“Kaera... Kamu satu-satunya alasan Daddy tetap bertahan hidup...”Suara lembut ayahnya terngiang-ngiang di kepalanya, menjadi satu-satunya ingatan tipis yang menahannya agar tidak menyerah pada rasa sakit yang kehilangan kesadaran."Aku tidak boleh mati di sini" bisik Kaera dalam hatinya, mengepalkan jemarinya hingga buku kuku-kukunya memutih. "Aku harus bertahan... Aku harus keluar dari tempat

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 13

    Lantai yang begitu dingin dan lembap menyerap sisa kehangatan dari tubuh Kaera. Bau karat, darah kering, dan kelembapan tanah membumbung pekat di dalam sel bawah tanah mansion Romano. Hanya ada satu bola lampu redup yang berkedip-kedip di langit-langit, memancarkan cahaya kekuningan.Kedua pergelangan tangan Kaera terikat rantai besi berat yang menggantung pada dinding batu. Gesekan rantai itu telah mengelupas kulit halus di pergelangan tangannya, meninggalkan bekas kemerahan yang berdarah. Piyama tipis yang dikenakannya tidak mampu menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.Tetapi, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa hancur yang mencabik-cabik dadanya.Setiap kali membayangkan ayahnya, pria tua yang baru saja mendapatkan kembali penglihatannya, sekarang sendirian di rumah sakit tanpa perlindungan dan menjadi target klan Vancura, napas Kaera terasa seperti terhenti. Air mata yang bercampur dengan debu mengering di pipinya yang pucat.Pintu be

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 12

    Tiga hari sudah berlalu sejak peristiwa di rumah sakit, dan suasana di dalam mansion keluarga Romano berubah menjadi seperti medan perang yang menunggu ledakan pertama.Pagi itu, suara mesin mobil sport meraung keras di halaman depan. Elena melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan langkah anggun. Senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. Di tangannya, sebuah amplop cokelat tebal tergenggam erat.Di meja makan, Gerald sedang memeriksa laporan keuangan klan melalui tabletnya, sementara Kaera duduk di ujung meja lain, sembari menyesap teh hangatnya dengan tenang.“Selamat pagi, sayang ku,” sapa Elena dengan suara manis yang memuakkan. Dia membungkuk, mendaratkan kecupan singkat di pipi Gerald sebelum mengalihkan pandangannya pada Kaera dengan tatapan jijik. “Dan... selamat pagi untuk pelayan yang beruntung bisa duduk di meja ini.”Kaera bahkan tidak menyia-nyiakan energinya untuk menoleh ke arah selir suaminya. “Suara burung gagak di pagi hari mem

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status