Share

Bab 6

Author: Pipin
last update publish date: 2026-09-23 10:59:08

"Aku?" Lea terkekeh pelan, suaranya melunak—menyimpan sedikit nada getir yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Aku cuma cewek yang terpaksa harus dewasa sebelum waktunya, Om."

Alexander tidak bersuara. Tatapannya masih tertuju pada gadis di depannya, menanti kelanjutan kalimat itu.

"Waktu duniaku hancur dalam semalam—saat Ibu meninggal dan Ayah dituduh jadi pembunuhnya—pilihannya cuma dua," lanjut Lea seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Pasrah jadi korban yang diinjak-injak... atau buka mata lebar-lebar dan belajar memahami jalan pikiran iblis."

Alexander memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. Di dadanya, ada denyut empati yang mendadak muncul, bercampur dengan rasa takjub yang makin meluas. Ia bisa merasakan kebenaran dalam kalimat itu. Tapi tetap saja, ketajaman analisis Lea berada di level yang tidak wajar untuk ukuran gadis seusianya.

"...tapi kalau Om butuh jawaban yang lebih spesifik: aku ini wanita yang bakal buktiin Ayahku nggak bersalah, sekaligus calon pacar Om di masa depan."

Alexander seketika mendengus, menarik kepalanya mundur. "Mulai lagi halunya."

"Kok halu? Om kan udah lihat sendiri kemampuanku hari ini," celetuk Lea sambil tertawa renyah. "Gimana, Om? Skor 1-0 buat aku. Anak Ibu tadi selamat, dan Om utang satu poin impresi sama aku."

Alexander menyandarkan punggungnya di mobil patroli, menyilangkan tangan di dada. "Satu kasus hilang yang beruntung kamu pecahkan nggak serta-merta mengubah kasus ayahmu, Lea. Kasus Brian Aditama itu berat. Bukti-bukti fisik di TKP mengunci dia sebagai tersangka tunggal."

"Karena bukti fisiknya dirancang buat mengunci Ayah," sahut Lea cepat, tatapannya mendadak tajam bagai belati. "Om Detektif yang terhormat... di balik setiap kejahatan yang kelihatan 'sempurna', selalu ada orang dalam yang megang kunci pintunya."

Pupil mata Alexander membesar. "Orang dalam?"

"Besok pagi, aku mau minta izin akses untuk lihat ulang berkas berita acara pemeriksaan (BAP) dan salinan autopsi Ibu," pinta Lea santai, seolah baru saja meminta izin membeli es krim.

"Nggak bisa. Dokumen penyidikan itu rahasia negara, hanya untuk pihak berwenang dan kuasa hukum," tolak Alexander tegas.

"Kalau gitu, siap-siap aja, Om. Kalau Om nggak mau kasih secara resmi..." Lea mengedipkan sebelah matanya, "...aku punya cara sendiri buat dapetin berkas itu malam ini."

Sebelum Alexander sempat memproses maksud ucapan gadis itu—tentang kemampuan hacking tingkat tinggi milik Lea yang siap membobol server kepolisian—Lea sudah berbalik arah dan melambai santai.

"Dah, Om Tampan! Aku pulang dulu ya, mau nyiapin 'amunisi'. Jangan kangen!"

**

Suara pintu depan terbuka, Alexander melangkah masuk, mengendurkan simpul dasinya yang terasa mencekik, lalu melempar kunci SUV-nya ke atas meja konsol.

Joshua yang sedang duduk di meja makan menoleh, alisnya terangkat kaget. "Pa? Tumben Papa pulang secepat ini?"

Alexander menghela napas panjang, menarik kursi di seberang putranya lalu duduk berat. "Pulang malam kamu protes, pulang cepat tetap aja ditanya. Kamu udah makan?"

Joshua memutar bola matanya, menyendok sisa nasi di piringnya lalu menunjukkan sendok itu ke arah ayahnya. "Nggak ada pertanyaan lain apa, Pa? Nggak lihat aku lagi duduk di meja makan dengan sisa nasi sama lauk di piring?"

Alexander berdehem pelan, mengabaikan sarkasme anaknya. Ia menatap Joshua yang tampak murung.

"Jo... kamu masih marah soal kemarin?"

Joshua langsung menaruh sendoknya hingga berdenting keras. "Gimana aku nggak marah? Tante Siska itu pengusaha sukses, Pa! Dia ibunya temanku, cantik, baik, dan mau ngertiin posisi Papa. Tapi Papa malah tinggal gitu aja pas kencan!"

Alexander memijat pelipisnya yang mendadak pusing. Ia sudah lelah setengah mati. Bulan ini saja, Joshua sudah mengaturnya ikut kencan buta berkali-kali. Namun, tidak ada satu pun dari pilihan anaknya yang cocok—semuanya terasa begitu dipaksakan.

"Papa lelah, Joshua. Jangan atur-atur kehidupan pribadi Papa," ujar Alexander dengan suara rendah yang tegas.

"Tapi Papa butuh pendamping!" tembak Joshua cepat. "Mama udah punya suami baru dan berkeluarga lagi sejak sepuluh tahun yang lalu. Dan Papa? Papa masih sendirian membusuk di rumah ini!"

"Lalu kenapa?" tatap Alexander lurus ke dalam mata anaknya. "Kamu kira Papa nggak bahagia?"

"Aku tahu Papa nggak bahagia!" jerit Joshua pelan, matanya menatap ayahnya dengan emosi campur aduk. "Papa masih trauma, kan? Papa masih belum bisa terima kenyataan kalau Mama ninggalin Papa gitu aja?"

Kalimat Joshua seketika membekukan suasana di meja makan. Alexander membisu. Ingatan pahit yang tersimpan rapat di kepala detektif itu mendadak terbuka kembali.

Dulu, alasan mantan istrinya pergi adalah pekerjaan Alexander sendiri. Sebagai detektif muda yang haus keadilan, Alexander hampir tak pernah ada di rumah. Ia menghabiskan malam-malam di jalanan, mengejar buronan, bahkan pernah hampir tewas tertembak dalam sebuah operasi penangkapan kasus besar. Saat itu, istrinya berpura-pura menerima dan mendukungnya.

Namun di balik punggung Alexander, ketakutan dan rasa kesepian membuat wanita itu mencari perhatian dari pria lain. Hingga akhirnya, saat Alexander baru saja keluar dari rumah sakit usai mempertaruhkan nyawa, wanita itu menyodorkan surat cerai sepihak dan pergi bersama selingkuhannya.

Sebelum pengkhianatan itu terjadi, Alexander adalah sosok pria dan ayah yang hangat. Di luar jam kerjanya yang keras, ia adalah sosok yang ceria, suka bercanda, dan penuh tawa bersama Joshua kecil. Namun sejak dikhianati dan dicampakkan, jiwa ceria itu mati. Hidup Alexander berubah menjadi monoton—dingin, kaku seperti robot, dan hanya berputar di antara lembaran berkas kejahatan serta cangkir kopi hitam.

Joshua menatap wajah ayahnya yang mengeras, lalu melunakkan nadanya, walau matanya berkaca-kaca.

"Aku nggak bakal nyerah, Pa," bisik Joshua penuh penyesalan sekaligus harapan. "Aku cuma mau Papa kembali kaya dulu. Papa yang bisa ketawa lepas... bukan Papa yang dingin dan cuma hidup buat kerjaan."

Alexander terdiam lama, menatap putranya yang kini sudah tumbuh dewasa. Di dalam hatinya, ada rasa bersalah karena telah membiarkan Joshua tumbuh dalam bayang-bayang seorang ayah yang 'mati rasa'.

Namun ironisnya, saat pikiran Alexander mencoba meratapi kehidupannya yang monoton, mendadak bayangan wajah seorang gadis muda melintas di benaknya.

Gadis dengan tatapan cerdas, analisis tajam yang menyelamatkan nyawa orang, dan senyum nakal saat memanggilnya... "Om Tampan."

Alexander mendadak berdehem keras, mengacak rambutnya sendiri dengan canggung untuk mengusir bayangan Lea dari kepalanya.

Kenapa juga aku malah mikirin cewek edan itu di saat seperti ini?! batin Alexander merutuki dirinya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 10

    Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri hari itu sesak oleh kilatan lampu kamera wartawan dan bisik-bisik tegang para pengunjung. Di kursi terdakwa, Brian Aditama duduk tenang dengan kemeja putih polos dan rompi tahanan.Lihat saja, Lea... Hari ini bokap lo resmi bakal mendekam seumur hidup di penjara, batin Joshua puas, menunggu Lea hancur sepenuhnya. Tak jauh dari Joshua, Lea duduk dengan posisi tegap, mengenakan kemeja formal dan blazer hitam sederhana. Wajahnya begitu tenang tanpa raut cemas sedikit pun. Mata Lea sekilas menatap punggung tegap Alexander yang berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang. Pria itu siap dipanggil sebagai saksi kunci. Ingatan Lea seketika melayang pada kejadian dua malam sebelum persidangan ini digelar...Dua malam sebelum sidang perdana.Mobil Alexander berhenti beberapa meter dari pelataran rumah masa kecil Lea,sebelum Alex dan Lea sempat melangkah keluar, sebuah mobil dinas kepolisian mendadak memotong jalan dan berhenti tepat di belakang mereka.Seora

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 8

    "Malaikat pelindung? Aku bisa jadi malaikat maut buat kamu kalau kamu nekat seperti ini terus, paham?!" Ujar Alexander dengan suara tertahan, melangkah makin mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh Lea. "Minum dulu kopinya, Om. Santai... Lagi banyak kerjaan ya, padahal baru jam segini? Semuanya udah aku kendalikan kok. Pelacakan log-nya udah aku hapus, firewall-nya udah aku tambal balik. Tenang aja..." ujar Lea menenangkan, ia mengulurkan salah satu cangkir kopi takeaway yang dibawanya tepat ke depan dada Alexander, memotong jarak intimidasi pria itu. Alexander menerima cangkir kopi itu refleks. "Tetap saja! Kalau sampai hal seperti ini tercium sama Tim Siber Pusat—" "Om, aku punya permintaan," potong Lea cepat, mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih serius. Alexander memicingkan mata, menatap Lea dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menelisik khas detektif. Ia menghela napas panjang, menebak arah pembicaraan ini. "Katakan..." Alex meletakkan kopi di ata

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 9

    Empat hari berlalu bagai mimpi buruk yang berjalan terlalu cepat.Di pelataran kantor Kejaksaan Negeri, gerimis turun perlahan. Suara sirene mobil tahanan terdengar dikejuahan. Hari ini, pelimpahan berkas perkara dan tersangka—tahap P-21—resmi dilakukan. Kasus pembunuhan yang menjerat Brian Aditama dilimpahkan penuh dari kepolisian ke pihak kejaksaan untuk segera disidangkan.Lea berdiri di balik pagar besi, merapatkan jaketnya yang mulai basah kuyup. Tatapannya terkunci rapat pada sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang keluar dari mobil van tahanan dengan rompi oranye bertuliskan Tahanan Kejaksaan dan kedua tangan terikat borgol besi.Ayahnya.Brian sempat menoleh, mendapati putri tunggalnya berdiri sendirian di bawah rinai hujan. Alih-alih meringis atau menunjukkan raut putus asa, Brian justru menyunggingkan senyum paling hangat—senyum tenang yang seolah berbisik: Ayah enggak apa-apa, Princess.Aku gagal... batin Lea menjerit hampa.Di kehidupan pertamanya dulu, ia selalu meratap

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 7

    Suara derap langkah kaki terburu-buru meramaikan koridor Unit Cyber Crime Kepolisian Resort Kota pagi itu."Gila! Ini beneran kebobolan?!" seru seorang perwira muda tim Cyber sambil menatap layar monitor utama yang berkedip-kedip merah.Alexander yang baru saja memasuki area kantor dengan cangkir kopi hitam di tangannya seketika menghentikan langkah. Dahinya berkerut dalam melihat kerumunan anggota kepolisian yang mengelilingi meja tim IT."Ada apa ini? Kenapa heboh sekali pagi-pagi?" suara berat Alexander menginterupsi keributan.Seorang ahli IT kepolisian menoleh dengan wajah pucat pasi. "Komandan! Server arsip digital kita dibobol tadi malam jam dua pagi! Enkripsi keamanan tingkat tinggi kita ditembus cuma dalam waktu kurang dari lima belas menit!"Alexander nyaris tersedak kopi. "Dibobol? Siapa yang melakukannya? Sindikat peretas internasional?""Bukan, Ndan... anehnya pelaku sama sekali nggak merusak data atau mengambil berkas-berkas rahasia negara yang sensitif," jawab sang ahli

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 6

    "Aku?" Lea terkekeh pelan, suaranya melunak—menyimpan sedikit nada getir yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Aku cuma cewek yang terpaksa harus dewasa sebelum waktunya, Om."Alexander tidak bersuara. Tatapannya masih tertuju pada gadis di depannya, menanti kelanjutan kalimat itu."Waktu duniaku hancur dalam semalam—saat Ibu meninggal dan Ayah dituduh jadi pembunuhnya—pilihannya cuma dua," lanjut Lea seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Pasrah jadi korban yang diinjak-injak... atau buka mata lebar-lebar dan belajar memahami jalan pikiran iblis."Alexander memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. Di dadanya, ada denyut empati yang mendadak muncul, bercampur dengan rasa takjub yang makin meluas. Ia bisa merasakan kebenaran dalam kalimat itu. Tapi tetap saja, ketajaman analisis Lea berada di level yang tidak wajar untuk ukuran gadis seusianya."...tapi kalau Om butuh jawaban yang lebih spesifik: aku ini wanita yang bakal buktiin Ayahku nggak bersalah, seka

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 5

    "Sepertinya aku pernah lihat."Ingatan dari kehidupan pertamanya berputar liar. Ini adalah Skandal Pembunuhan Siswi Jalan Tol yang dulu sangat viral di seluruh stasiun televisi nasional!​Di masa depan dulu, jasad gadis ini baru ditemukan tiga hari kemudian di dalam tas olahraga di pinggir jalan tol Jagorawi. Yang membuat publik murka saat itu adalah hasil autopsi forensik: gadis itu baru meninggal dua jam sebelum ditemukan akibat kehabisan oksigen karena dibekap. Artinya, di saat ibunya mengemis bantuan di kantor polisi hari ini, gadis itu masih hidup—terikat dan terbekap di tempat tersembunyi oleh penculiknya!​Napas Lea tertahan. Dia masih hidup! Aku harus menyelamatkannya, tapi aku harus bertindak cermat supaya Alexander nggak curiga kalau aku tahu masa depan.​Lea melangkah mendekati wanita paruh baya itu, lalu memegang lembut bahunya yang bergetar.​"Bu..." panggil Lea pelan dan menenangkan. "Bisa ceritakan ke saya, gimana keseharian dia? Boleh saya lihat foto kamar terakhirnya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status