Share

Bab 7

Author: Pipin
last update publish date: 2026-09-24 13:19:05

Suara derap langkah kaki terburu-buru meramaikan koridor Unit Cyber Crime Kepolisian Resort Kota pagi itu.

"Gila! Ini beneran kebobolan?!" seru seorang perwira muda tim Cyber sambil menatap layar monitor utama yang berkedip-kedip merah.

Alexander yang baru saja memasuki area kantor dengan cangkir kopi hitam di tangannya seketika menghentikan langkah. Dahinya berkerut dalam melihat kerumunan anggota kepolisian yang mengelilingi meja tim IT.

"Ada apa ini? Kenapa heboh sekali pagi-pagi?" suara berat Alexander menginterupsi keributan.

Seorang ahli IT kepolisian menoleh dengan wajah pucat pasi. "Komandan! Server arsip digital kita dibobol tadi malam jam dua pagi! Enkripsi keamanan tingkat tinggi kita ditembus cuma dalam waktu kurang dari lima belas menit!"

Alexander nyaris tersedak kopi. "Dibobol? Siapa yang melakukannya? Sindikat peretas internasional?"

"Bukan, Ndan... anehnya pelaku sama sekali nggak merusak data atau mengambil berkas-berkas rahasia negara yang sensitif," jawab sang ahli IT ragu-ragu. "Dia cuma mendownload satu dokumen spesifik: berkas BAP dan salinan hasil autopsi kasus kematian istri Brian Aditama yang baru masuk beberapa waktu lalu."

Deg!

Jantung Alexander serasa meledak. Bayangan senyum nakal Lea dan kedipan matanya kemarin sore langsung berputar liar di kepalanya.

“Kalau Om nggak mau kasih secara resmi... aku punya cara sendiri buat dapetin berkas itu malam ini.”

Alexander mengepalkan tangannya. Enggak mungkin... Nggak logis! Mana bisa gadis 21 tahun yang baru lulus S1 Hukum membobol firewall kepolisian yang dijaga sistem keamanan terenkripsi?!

"Kamu yakin pelaku bukan hacker profesional?" desak Alexander, suaranya naik satu nada. "Mungkin ada penyusup yang pakai IP luar negeri?"

"Sama sekali enggak, Ndan. Pelakunya sangat profesional, tapi gaya meretasnya... sangat provokatif," ujar sang ahli IT sambil menggeser kursi. Ia menunjuk ke arah layar utama yang menampilkan barisan kode terminal yang disisipi sebuah kotak pesan teks pop-up di bagian tengah layar.

"Ndan Alex, coba lihat ini..." panggil perwira lain dengan tatapan tertahan, menahan tawa sekaligus heran. "Kenapa di sini catatan terakhir dari peretasnya tertulis..."

Alexander melangkah mendekat dan membelalakkan mata saat membaca pesan yang ditinggalkan sang hacker di layar server utama kepolisian:

[ System Override Complete ] "Makasih BAP-nya ya, Om Tampan! Firewall kepolisian kalian gampang banget dijebol... persis kayak pertahanan hati Om kemarin sore ;) Jangan kangen, nanti siang aku bawain kopi favorit Om ke kantor! — Calon Istri "

Seketika, seluruh anggota tim di ruangan itu menatap Alexander dengan tatapan kaget, kagum, dan menahan tawa yang luar biasa.

"Ndan... 'Om Tampan' ini maksudnya Komandan Alex?" bisik salah satu penyidik pelan.

Wajah Alexander yang biasanya dingin dan kaku seketika memerah menahan malu dan kekesalan yang memuncak di ubun-ubun. Kepalan tangannya sampai bergetar gemas.

Gadis edan itu benar-benar membuktikannya!

Namun, di balik rasa gusar dan malunya, naluri perlindungan Alexander seketika mengambil alih. Sebagai detektif senior, Alex tahu betul konsekuensi hukum tindakan ini. Membobol server kepolisian adalah tindak pidana berat. Jika hal ini sampai ke meja Kapolres atau Tim Siber Pusat, Lea tidak hanya gagal menyelamatkan ayahnya, tapi gadis itu sendiri bakal langsung ditangkap dan mendekam di balik jeruji besi atas pelanggaran UU ITE!

"Apa atasan tahu ini?" tanya Alex dengan suara rendah dan tertekan, berusaha mengontrol intonasi bicaranya semaksimal mungkin.

Ahli IT itu menggeleng pelan. "Belum, Ndan. Prosedurnya, begitu temuan ini terekam, kita harus langsung bikin draft laporan resmi ke Kapolres buat ditindaklanjuti Tim Siber Pusat..."

"Jangan," potong Alex cepat, tegas, tanpa rasa ragu sedikit pun.

Seluruh anggota tim IT menatap Alex heran. "Tapi, Ndan... ini cyber attack—"

"Dengarkan saya," Alex melangkah mendekati meja konsol utama, sengaja menutupi sebagian layar monitor dengan tubuh tegapnya. "Kalian mau instansi kita jadi bahan tertawaan? Bayangkan respons Kapolres kalau tahu sistem keamanan kita yang menelan anggaran miliaran bisa ditembus cuma dalam waktu kurang dari lima belas menit... oleh peretas yang cuma mau ambil satu berkas BAP kasus biasa?"

Para petugas IT itu saling pandang, seketika bungkam. Kalimat Alex menghantam gengsi dan profesionalitas mereka tepat di sasaran.

"Lalu... gimana, Komandan?"

"Hapus log pelacakannya dari server utama," perintah Alex. "Tutup celah keamanan (vulnerability) tempat dia masuk tadi malam. Anggap saja ini penetration testing—ujian kebocoran sistem internal tanpa pemberitahuan."

"Tapi pelaku yang kirim pesan ini..."

"Biar saya yang urus sendiri," potong Alex dingin, matanya berkilat penuh tekad. "Saya tahu siapa orangnya, dan saya jamin dia nggak akan menyebarkan berkas itu ke publik. Kalau sampai ada satu kata soal kejadian ini bocor keluar, saya yang bakal minta pertanggungjawaban dari kalian semua. Paham?"

"Paham, Komandan!" jawab seluruh tim serentak.

Alex menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju ruang kerjanya sendiri. Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu dan menyandarkan tubuh beratnya pada meja kerja.

Jantungnya berdegup kencang—bukan cuma karena kelakuan nekat Lea, tapi karena ia baru saja menaruhkan jabatan dan reputasinya demi melindungi seorang gadis yang baru ia kenal beberapa hari.

Kenapa aku malah nekat nutupin kejahatan dia? batin Alex merutuki keputusannya. Gadis itu benar-benar ancaman... tapi aku nggak bisa biarin dia hancur.

Tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas siang, suara ketukan renyah terdengar dari balik pintu ruang kerjanya.

"Permisi... paket kopi khusus buat Om Tampan sampai!"

Suara itu.

Alex memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya sebelum memutar kunci dan membuka pintu.

Di ambang pintu, Lea berdiri anggun memegang dua cangkir kopi takeaway. Ia menyunggingkan senyum paling manis, lengkap dengan kerlingan mata nakalnya.

"Siang, Komandan. Kopi hitam tanpa gula, sesuai selera calon suami," bisik Lea santai.

Alex tak membalas candaan itu. Dengan gerakan cepat dan impulsif, ia langsung menarik pergelangan tangan Lea masuk ke dalam ruangan, menutup pintu rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam!

Lea tidak panik sedikit pun. Ia justru menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyum menggoda.

"Wah... baru datang langsung dikunci. Om mau ngapain?"

Alex mengikis jarak, mengungkung tubuh Lea di antara dadanya yang tegap dan pintu kayu yang terkunci rapat. Tatapan mata detektif itu begitu tajam, pekat, dan sarat akan emosi yang tertahan.

"Kamu tahu kan..." suara Alex terdengar berat dan dalam di dekat telinga Lea, "...tindakan gila kamu tadi malam itu bisa bikin kamu dipenjara seumur hidup? Kamu tahu berapa banyak hukum yang kamu langgar cuma buat BAP itu?!"

Lea menatap lurus ke dalam mata Alex, tidak ada sedikit pun rasa takut di sana. "Tapi aku nggak dipenjara, kan? Karena ada malaikat pelindung ku disini, yaitu Om!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 15 -

    Layar ponsel di genggaman Lea meredup perlahan. Lima panggilan berturut-turut ke nomor 'Om Tampan' sama sekali tak diangkat. Jangankan dijawab, dioper ke nada panggil saja langsung dialihkan ke pesan suara."Dasar polisi kaku! Benar-benar sengaja menutup akses!" umpat Lea, menghentakkan kakinya kesal saat melangkah masuk ke rumahnya.Di dinding ruang tamu, kalender gantung menatapnya dengan angka-angka yang seolah menjulurkan lidah. Lea mendekat, jemarinya mengusap lingkaran spidol merah di tanggal akhir bulan. Tinggal hitungan hari! Biaya wisuda, sewa toga, hingga kelangsungan hidupnya sebelum dapat kerja tetap harus segera dilunasi. Tanpa uang tunai, rencana berdirinya di panggung wisuda cuma akan jadi ilusi."Gengsi nggak bakal bisa bayar sewa toga..." gumam Lea. "Kalau Alexander nutup pintu depan, aku harus cari pintu belakang."Saat larut malam Lea akhirnya memilih keluar dengan Mengenakan jaket hoodie hitam dan celana jins, ia berjalan menyusuri kawasan ruko pertokoan tua di pu

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 14

    Brak. Sebuah nampan makan dari besi dihempaskan kasar di samping Brian yang tengah menikmati makan siang. "Yo, Brian... Sudah lama banget ya kita nggak jumpa?" seru pria itu dengan suara serak yang berat. Seorang pria bertubuh kekar dengan tato ular melilit di lehernya dengan wajah yang penuh parut luka. Brian hanya menatap pria di sebelahnya sekilas lewat sudut matanya yang tajam, tak menunjukkan guncangan sedikit pun, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada makanan di hadapannya. Pria itu—mantan rekan seperjuangannya di dunia hitam belasan tahun lalu—menyandarkan punggungnya, lalu berbisik-"Organisasi kita hancur total lima tahun setelah kepergianmu," bisik pria itu, menatap Brian dari samping. "Dan Bos... dia lenyap begitu saja bagai ditelan bumi. Semua kekuasaan, wilayah, dan bisnis kita runtuh... cuma gara-gara kamu memilih kabur dan berpura-pura jadi orang suci." Brian menghentikan pergerakan sendoknya. "Aku sudah memotong semua hubungan dengan masa lalu," ujar Brian t

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 13

    "Paman... Paman bercanda, kan?" suara Lea bergetar, menggelengkan kepala tak percaya. "Selama ini Ayah nggak pernah... nggak mungkin Ayah—""Mana mungkin pria itu berani ungkap masa lalu busuknya sendiri di depan anak gadisnya?!" bentak Heri tajam, tertawa getir menyuarakan kepedihan yang terpendam belasan tahun. "Kamu kira bagaimana cara pria sialan itu ngerebut ibumu dari laki-laki terhormat pilihan Paman dulu, hah?! Cuma bermodal mulut manis dan kepura-puraan! Ah, Brian sialan itu... Andai saja dulu Lia tetap sama laki-laki pilihanku, aku yakin adikku masih hidup dan bahagia sampai detik ini!"Dada Heri naik turun menahan emosi yang membakar. Ia menyapu kasar air mata yang menggenang di sudut matanya yang memerah, lalu berbalik melangkah cepat meninggalkan gang."Paman! Tunggu! Kita belum selesai bicara!" teriak Lea hendak melangkah mengejar."Cari tahu sendiri!" seru Heri tanpa membalikkan badan sedikit pun. "Itu pun kalau 'Ayah kesayanganmu' itu mau jujur dan buka suara sama kamu

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 12 - Masa Lalu yang kejam

    "Jadi... beneran bukan karena Lea?""Apa yang sebenarnya kamu takutkan, Joshua? Bukannya selama ini kamu sendiri yang paling sibuk mendesak Papa buat move on? Kamu bahkan yang sibuk mendaftarkan Papa ke kencan buta dengan wanita mana pun yang kamu temui.""Tapi jangan Lea, Pa!" seru Joshua refleks, memajukan tubuhnya dengan raut wajah horor. "Aku nggak mau! Masa mantan cewek yang ngejar-ngejar aku di kampus mendadak jadi ibu tiri aku sendiri?! Mau ditaruh di mana muka aku, Pa?!"Alexander menghela napas, menggeleng pelan melihat kepanikan putranya yang berlebihan. "Nggak. Papa nggak akan menaruh hati padanya," ujar Alex dengan nada yakin dan tenang.Joshua menatap ayahnya lurus-lurus, mencari celah kebohongan di garis wajah tegap itu. "Beneran...?"Alexander terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum samar. "...Untuk sekarang," gumam Alex santai."Sekarang?!" Joshua terbelalak kaget, matanya melotot hampir keluar. "Maksud Papa 'untuk sekarang' itu apa?! Berarti

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   bab 11 - Cewek Sundel

    "Apaan sih lo? Nggak usah teriak-teriak, malu-maluin tau. Lo tuh sebenarnya anak detektif atau tukang sayur di pasar sih?" Semprot Lea. "Gimana gue nggak teriak?! Lo sadar nggak sama apa yang baru aja lo omongin?! Dengar ya, Pa! Aku nggak bakal pernah sudi kalau cewek ini ada di sekitar Papa. Dan detik ini juga aku tanya sama Papa... kalau aku nggak ngerestui Papa sama dia, apa Papa bakal tetap dekat-dekat sama dia?!" "Lo mau apa sih, Jo—" "Gue nggak minta pendapat lo, sundel! Diem!" bentak Joshua. "Joshua! Jaga ucapan kamu!" Ujar Alex menatap putranya yang terbakar emosi. "Papa sudah berkali-kali bilang ke kamu, Jo. Papa nggak akan pernah memulai hubungan serius dengan siapa pun lagi. Apalagi sama bocah seumuran kamu begini. Papa dekat dan bantu dia murni karena tugas kemanusiaan... Papa iba, seorang gadis tanpa—" "Tanpa apa, Om?" potong Lea cepat. "Tanpa orang tua? Tanpa perlindungan? Tanpa tempat bersandar, iya? Jadi selama ini Om pasang badan di TKP, taruhan jabatan di depa

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 10

    Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri hari itu sesak oleh kilatan lampu kamera wartawan dan bisik-bisik tegang para pengunjung. Di kursi terdakwa, Brian Aditama duduk tenang dengan kemeja putih polos dan rompi tahanan.Lihat saja, Lea... Hari ini bokap lo resmi bakal mendekam seumur hidup di penjara, batin Joshua puas, menunggu Lea hancur sepenuhnya. Tak jauh dari Joshua, Lea duduk dengan posisi tegap, mengenakan kemeja formal dan blazer hitam sederhana. Wajahnya begitu tenang tanpa raut cemas sedikit pun. Mata Lea sekilas menatap punggung tegap Alexander yang berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang. Pria itu siap dipanggil sebagai saksi kunci. Ingatan Lea seketika melayang pada kejadian dua malam sebelum persidangan ini digelar...Dua malam sebelum sidang perdana.Mobil Alexander berhenti beberapa meter dari pelataran rumah masa kecil Lea,sebelum Alex dan Lea sempat melangkah keluar, sebuah mobil dinas kepolisian mendadak memotong jalan dan berhenti tepat di belakang mereka.Seora

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status