MasukOrient Park Hotel bintang lima
"Turun sini saja Pak," tutur Kartika dari bangku belakang. Sopir taksi menurutinya. Perlahan memelankan laju mobil lalu berhenti tepat di tempat yang Kartika kehendaki. "Terimakasih," ucapnya lagi. Tidak butuh waktu lama, taksi pun kembali berlalu. Meninggalkannya seorang diri di tempat tadi. Kartika berdiri sejenak, menatap lurus ke depan. Mendongakkan kepala, menatap gedung tinggi yang berdiri megah di hadapannya. Bukan hanya satu, dua tapi disekitar distrik ini banyak berdiri megah gedung-gedung pencakar langit. Tempat ini masih terasa asing untuk ia datangi. Bukan juga tempat yang biasa ia kunjungi. Ini semua karena Bayu yang meminta. Bayu yang sengaja meminta untuk datang kemari. Sekedar menemani ngopi atau haha hihi. Kartika mengeratkan jari jemarinya, menentang tas kecil yang ia bawa dari rumah. Tanpa ragu kaki ini melangkah masuk. Melewati barisan para petugas keamanan yang berdiri di depan lobi. Terus berjalan melewati lobi lalu berhenti, menunggu lift terbuka. Perasannya mulai tidak karuan. Campur aduk antara rasa takut dan trauma. Matanya mulai awas, intens melirik orang-orang yang berdiri di sekitar. Prasangkanya berkata aneh, merasa sedang diawasi. Merasa orang-orang ini sedang melihat kearahnya. Kenyataan tidak satupun dari mereka yang melihat ia. Orang-orang ini terhitung cuek. Tidak juga menggubris atau mencurigai. Termasuk pada penampilan Kartika yang terlihat lebih sederhana. Berbeda dengan para pengunjung lainnya. Tetap saja Kartika merasa gerak-geriknya sedang diawasi. Selama menunggu pintu lift terbuka, Kartika tundukkan wajah. Berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ketahuan orang yang dikenal. Ting! Lift yang ditunggu datang juga. Kartika dan beberapa orang yang sudah menunggu, merangsak masuk. Untuk saat sekarang ia bisa sedikit tenang. Sebentar lagi akan menjumpai Bayu yang telah menunggunya semenjak tadi. Ting! Pintu lift kembali terbuka di lantai 26. Kartika segera keluar, buru-buru berjalan menyusuri lorong panjang menuju privat room yang sudah Bayu pesankan. Kartika menepati janjinya untuk datang. Memenuhi keinginan Bayu. Datang bukan hanya sekedar untuk patuh pada perintah majikan, tapi datang untuk menuntaskan hasrat biologisnya. Langkahnya yang panjang telah mengantarkannya ke depan sebuah ruang. Kartika berdiri disana, perlahan mengetuk pintu sambil menyebut nama. Tok tok "Mas-Mas Bayu, ini aku Kartika." Bayu yang berada di dalam ruangan segera mengetahui sinyal kedatangan Kartika. Ia tersenyum kecil, gegas menjumpai Kartika yang baru tiba. "Kemana aja sih? Aku lama nunggunya," protesnya setelah membukakan pintu. Tanpa aba-aba ingin mengecup pipi Kartika. "Mas!" Kartika bertindak cepat. Memundurkan wajah menghindari serangan Bayu yang cepat. "Kenapa?" tanyanya sedikit tidak enak. Tidak biasa Kartika menghindari saat akan disentuh. "Jangan disini, aku malu," alasannya bisa Bayu pahami. Wajar saja jika Kartika takut. Di tempat mereka berdiri sekarang di sepanjang lorong panjang. Takut saja jika ada orang lain yang melintas lalu merekam momen intim keduanya. Bayu menganggukkan kepala. Mengajak segera Kartika masuk. "Ayo!" Kartika anggukan kepala, patuh saat tangan ini digandeng Bayu masuk ke dalam ruangan dan pintu kembali Bayu kunci dengan rapat. "Kamu duduk dulu disana! Aku selsaikan dulu latihannya!" Kartika kembali mengangguk kecil. Berjalan menuju sofa yang Bayu tunjukkan. Sementara Bayu masih bergelut dengan hobinya, gym. Sekedar menyegarkan badan dan menghilangkan penat di pikiran. Namun tidak lama ia kembali menjumpai Kartika. Mengajak wanita cantik ini masuk bersamanya ke dalam sebuah ruang. "Kita mau kemana mas?" "Pemanasan, nanti kamu juga suka," ujarnya tersenyum nakal. Bayu enggan lagi menunda lebih lama. Tangannya yang terampil ini melucuti pakain yang Kartika kenakan. Menjamah seluruh permukaan kulitnya yang mulus nyaris tanpa cela. "Aaahhh...Mas..." * Jacuzi Private Room, Tubuh polos Kartika dan Bayu tenggelam ke dalam air hangat jacuzi. Gelembung-gelembung kecil mengelilingi kulit mereka yang basah. Tangan kanan Kartika mencengkram erat tepi kolam, kuku-kukunya yang lentik menekan keras ke permukaan keramik. Sementara nafasnya terengah-engah mengeluarkan erangan kecil. "Eummphh...ahh..." Matanya terpejam, alisnya sedikit berkerut. Menandakan sensasi yang membuncah di dalam dada. Setiap Bayu menggesek miliknya, seolah membebaskan beban yang selama ini menumpuk di pundak. Wajah Kartika memerah hangat. Bibirnya tercekat seolah menahan gelombang kenikmatan yang tidak ingin lekas pergi. Dalam hening itu, hanya suara gemericik air dan detak jantung yang terdengar. Menandai momem intim yang begitu mendalam baginya. Selesai dengan itu, Kartika bangkit lebih dulu dari kolam. Meraih handuk untuk membalut tubuhnya yang polos. "Kamu mandi dulu saja. Aku masih mau disini. Kalau kamu mau pulang duluan juga gak apa-apa. Nanti biar aku pesankan taksi." Kartika mengangguk mengerti. Tanpa penjelasan lagi, ia segera bergegas pergi menuju ruang ganti. Membasuh dulu tubuhnya sebelum kembali pulang. Sementara Bayu, masih menikmati harinya. Berendam sebentar dalam kehangatan kolam jacuzi. * Sudut lain Hotel, Dona duduk, berkumpul dengan teman-temannya. Biasa selain menikmati makan siang juga sambil ngerumpi. Orient Park Hotel, siang itu lumayan ramai dikunjungi. Selain letaknya yang strategis, Hotel bintang lima ini juga memiliki banyak fasilitas. Gym, Jacuzi, Bar dan Restoran. Restorannya cukup terkenal di kalangan jetzet. Dijam makan siang begini. Restoran ramai didatangi orang-orang yang ingin menikmati sajian hidangan western. Dona masih asyiknya berbincang. Sepintas lirikan mata ini melihat Kartika yang berada di satu tempat dengannya. "Kartika," ucapnya begitu tidak yakin sampai membelakan bola mata. Dahi Dona berkerut. Rasanya mustahil Kartika berada di area ini. Keingintahuannya tidak bisa dibendung. Dona gegas beranjak dari duduknya, menyusul Kartika. "Bentar ya!" pamitnya berlalu pergi. Berjalan secepat mungkin, mengejar Kartika. "Kartika! Kartika!" Kartika belum mendengar, percaya diri melangkah. Secepatnya ia ingin keluar dari tempat ini. Kembali menjalani profesi aslinya. "Kartika!" panggil Dona lagi sedikit kencang. Kartika baru tersadar. Menoleh ke belakang saat ada seseorang yang memanggil jelas namanya. "Mbak Dona," lirih Kartika panik saat Dona berjalan cepat, mengarah padanya. "Ada urusan apa kamu kesini?" Kartika tidak bisa menutupi rasa gugupnya. Meremas-remas tangannya yang mulai dingin. "I-itu Mbak, saya habis ketemu temen saya." "Teman, siapa? Teman kamu kerja di sini?" cecar Dona memicingkan mata. Melihat gelagat aneh Kartika. membuatnya tambah curiga. Selain itu Kartika selalu membuang wajahnya kearah lain. Enggan menatap lawan bicara. "I-iya Mbak." Terpaksa Kartika berbohong. Menutupi kecurigaan Dona. "Ya udah ya Mbak, saya harus segera pulang. Permisi!" tandasnya berlalu pergi, enggan berbasa-basi. "Eh, tunggu..." Kartika acuhkan seruan Dona. Secepat mungkin pergi. Menghindari kehadiran wanita ini. Secepat mungkin berlari jauh sampai jalan. Menghindari masalah yang lebih besar lagi. Jujur, ia belum siap menghadapi semua konsekuensi itu seorang diri. Dona tetap berada di tempat, mematung dengan segudang pertanyaan yang belum terselsaikan. Baginya mustahil Kartika bisa sampai ke tempat ini seorang diri. Hotel sekelas ini, jarang didatangi orang-orang seperti Kartika. "Siapa Don?" Jesica dengan cepat menghampiri, sontak membuat Dona kembali tersadarkan. "Enggak, itu Kartika-," sahutnya terhenti, mulai pusing memijat kening. Berusaha untuk tetap berpikir positif. "Oh." Jesica mulai mengerti, mengambil ponsel dari dalam tas. Menunjukan sesuatu pada Dona. "Cewek yang ini bukan?" tanyanya menunjukkan sesuatu. Fokus Dona teralihkan, menatap jeli foto yang tertera pada layar. Dunianya serasa terbalik saat itu juga. Nafasnya berubah berat, degup jantungnya berdetak lebih kencang. Tangan dan bibirnya ikut gemetar. "Kemarin aku gak sengaja ketemu mereka pas lagi makan. coba deh nanti kamu tanya lebih jelasnya sama mereka," ungkap Jesica yang sempat memotret kebersamaan Kartika dan Bayu. "Kartika!" lirihnya dengan suara bergetar. Melihat keakraban Bayu dan Kartika saat sedang makan di sebuah restoran.Bayu keluar lebih dulu dari kamar kecil tadi. Langkahnya penuh kehati-hatian. Melenggang seolah tidak terjadi sesuatu padanya dan Kartika tadi. Seraya merapikan kerah kemeja. Sementara, Kartika masih berada di dalam. Menunggu giliran untuk keluar. Setelah cukup yakin, ia baru berani keluar dari tempat ini sambil mengendap-endap. Lorong panjang menuju area belakang tetap sepi. Tidak ada seorang yang melintas. Ditunjang pencahayaan yang sedikit gelap. Kartika berjalan menyusuri lorong menuju dapur sambil merapikan bajunya yang sedikit koyak. Hal yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya. Mbok Rah, asisten rumah tangga orang tua Bayu melihat itu semua. Dengan jelas, Mbok Rah merekam kebersamaan Bayu dan Kartika yang sama-sama keluar dari dalam gudang kecil sambil membenerkan pakaian. "Astaga!" Kagetnya sampai membungkam mulut ini. Mbok Rah bergegas, menyusul Kartika ke dalam dapur. Bagimanapun, ia sangat peduli. Semenjak datang dan bekerja pada keluarga ini. Mbok Rah banyak memba
Kartika terpaku mendengar candaan Pak Yuan. Terlebih saat ini tatapan semua orang sedang menujunya. Melirik tanpa ampun. Tubuh Kartika mendadak kaku. Kesulitan untuk bergerak. "Emm...itu saya..." ucapnya sangat lirih lalu terpotong. Tanpa sempat ia lanjutkan. Di tengah suasana canggung dan tak pasti. Bu Leni membuka celotehan. Membanggakan Dona, sang calon mantu. "Kalau dipikir-pikir, Dona juga gak kalah pintarnya dalam hal memasak. Kemarin dia sempat buatkan cake secara khusus untuk saya. Soal rasa gak usah diragukan lagi, lulusan FnB Prancis."Dona nampak menyunggingkan senyuman lalu kembali menyendokan potongan kecil makanan ke dalam mulut dengan tenang. Rasa percaya dirinya kembali hadir berkat Bu Leni. Merasa sangat bangga sekaligus istimewa. Dalam hal ini ia menang telak. Tidak ada yang bisa menandingi."Kamu juga Bayu masih aja berani konsumsi kopi berlebih. dokter kemarin kan sudah mewanti-wanti kamu untuk mengurangi. Kasian lambung kamu jadi korban," tutur Bu Leni beralih
"Besok sore datang ke rumah. Kita mau ada acara pesta," ucap suara seorang pria dari balik telefon yang Bayu panggil dengan sebutan Papa."Pesta apa Pa? Tumben," balasnya masih dalam posisi basah sambil meredam suara nafas yang ngos-ngosan."Pesta kecil-kecilan aja. Ulang tahun pernikahan Mama dan Papa yang ke 35 tahun." Bayu menghela nafas panjang. Sementara Kartika masih menguping pembicaraan tepat di belakang punggung Bayu. "Papa gak mau tahu intinya kamu harus datang dan gak boleh alesan. Besok, secara khusus Dona dan Papanya juga bakal datang. Mereka yang bakal siapin surprise party buat acara nanti. Oh iya, sekalian Papa minta tolong buat kamu ajak Kartika ke rumah. Biar dia bantu-bantu Mbok Rah di belakang," tuturnya. Bayu dan Kartika kompak saling memandang setelah mendengar. Tidak lama, telfon mati. Bayu taruh dulu ponselnya ke atas nakas lalu kembali ke posisi awal. Duduk berhadapan dengan Kartika. "Kenapa?" tanya Bayu atas sikap Kartika yang berbeda. Raut wajah Kartika t
18:55Kartika terbangun, tersadar sudah tidak mendapati pakaian di tubuh. Wanita cantik ini lekas bangun. Meraih handuk yang tergelatak di lantai lalu melilitkan lagi ke tubuh. Kartika palingkan wajah ke samping. Menatap Bayu yang masih tertidur pulas dan hanya memakai celana pendek sepaha. Baru saja tadi mereka menuntaskan permainan singkat. Setelah itu terlelap bersama. Kartika baru terbangun lagi disaat waktu sudah menginjak malam. "Ah! Bisa-bisanya aku ikut tiduran disini," gerutu Kartika lekas bangkit, berdiri dari sana.Konyol saja, jika ketahuan Dona dalam kondisi seperti ini. Kartika enggan berbuat bodoh. Sebisa mungkin ia tutupi hubungan ini agar tidak terendus yang lain. Termasuk Dona. Ia berpaling dari sana. Bergerak cepat menuju kamar. Kartika terlalu terburu-buru, tidak ingat untuk menutup pintu lebih dulu. Dalam pikirannya, hanya ingin cepat-cepat mengenakan pakain dengan pantas dan kembali beraktifitas dengan normal. Namun, langkah kaki Bayu lebih cepat. Bergerak m
Ruang Direktur,Tok tok tok"Permisi Pak! Saya boleh masuk?" "Hem," dehem Bayu yang sedang duduk di kursi. Sibuk meneliti laporan. Bahkan tidak sempat melirik Sintia yang datang. "Ini obatnya Pak." Sintia mendekat, menaruh segelas air putih serta 2 butir obat di meja. Bayu melirik obat yang Sinta sodorkan. Baru teringat satu nama yang selalu ia simpan rapat-rapat dalam hati. "Kartika." ucapnya. Hampir terlupa jika ia tadi memintanya untuk datang. Bayu berdiri dari kursi. Wajahnya kebingungan, clingungkan mencari Kartika. "Mana dia?" "Maksud Bapak, Kartika?" "Iya dia ada dimana?" tanyanya antusias. "Udah pulang Pak," jawab Sintia sambil menunjuk luar, yang terjadi Bayu jutru murka. Berlari keluar mengejar Kartika. "Hah!" kesalnya berlari melewati Sintia yang masih berada di tempat. Sintia kebingunan, tidak paham letak salahnya dimana. Ia merasa sudah jadi sekertaris yang baik dan teladan, tapi masih saja salah di mata pimpinan. "Maksdunya apa coba?" gumam Sintia seorang diri
"Maaf ada urusan apa ya?" tanya balik wanita ini. "Saya Kartika, asisten rumah tangga Pak Bayu. Kebetulan saya diminta kesini buat antar obat beliau," jelasnya sambil menunjukan bungkusan kecil yang ia bawa. "Baik, sebentar ya?" Kartika mengangguk, sebentar menunggu kabar. Resepionis tersebut sedang menghubungi seseorang. Tidak lama ia muncul, balik menemui Kartika. "Pak Bayu kebetulan sedang ada tamu, tapi gak apa-apa. Mbak diminta keatas aja. Nanti bisa temui Sintia, sekertaris Pak Bayu." "Oh, iya terimakasih." "Sama-sama," sikapnya baik tersenyum ramah. Kartika balik tersenyum. Merasa begitu dihargai. Awalnya ia skeptis, berpikir tidak ada yang mungkin menggubris kehadirannya, karena penampilanya yang sesederhana ini. Nyatanya, orang-orang di kantor begitu ramah. Tidak ada diskriminasi. Semua orang berhak datang, tanpa memandang kelas atau status sosial. Kartika melangkah maju. Berjalan percaya diri menuju ruang yang wanita tadi tunjukkan. Sekarang ia







