LOGINDona belum yakin sepenuhnya dengan yang dijumpai. Melebarkan kedua bola mata. Melihat jeli sosok lelaki yang berdiri di sebarang sana.
Sementara Bayu masih dengan gaya santainya. Mengucek mata, seolah tidak ada masalah. "Kenapa sih?" katanya lagi sempat menguap lebar sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Darimana kamu?" hardik Dona curiga. Belum juga melepas pundak Kartika dari cengkraman. "Darimana? Pertanyaan macam apa ini? Apa kamu gak lihat kalau aku baru bangun tidur." Bayu sedikit tersulut, namun tetap berusaha untuk meyakinkan. Meski kebenarannya akan terdengar lebih pedih ketimbang yang ia sampaikan. Dona merubah pandangan. Berganti menatap pada Kartika. Lirikan matanya begitu tajam. Menatap cermat pada sosok Kartika yang berdiri persis di depannya. Secuil pun tidak ada hal yang lolos dari bidikan matanya. "Benar begitu?" Kartika mengangguk pelan. Mengiyakan apapun yang Bayu katakan. Sejak awal ia tidak berani untuk menatap. Menunduk takut, tidak berani sedikitpun mengangkat wajah. Dona mengehela nafas panjang. Mencoba untuk kembali percaya. Perlahan ia longgarkan cengkraman pada pundak Kartika. Meski, perasannya masih terganjal, tapi melihat gelagat Kartika yang ketakutan. Membuatnya sedikit kasihan. Kali ini berganti Kartika yang menghela nafas panjang. Ia merasa begitu plong, bisa terlepas dari masalah. Termasuk terhindar dari Dona. Meski sebenarnya ia sekarang sedang bersekutu dengan Bayu. Sama-sama bermanipulasi, menutupi skandal perselingkuhan mereka. Kartika enggan berlarut. Enggan juga berada berdiri di tengah-tengah mereka. Ia memilih untuk lekas pergi. Kembali menyibukan diri dengan pekerjaan rumah yang belum kelar. "Huft!" Dona kembali menghela nafas panjang. Berdiri sambil mencengkram sandaran kursi makan. Isi otak ini ia paksa untuk tenang seraya mengatur strategi untuk membuktikan prasangkanya. "Huft!" Bayu ikut menghela nafas sambil bersandar pada pintu. Ia merasa begitu lega, Dona berhasil ia kendalikan. Tapi bukan berarti ia bisa tenang. Bayu mulai berpikir untuk taktik kedepan, meningkatkan kewaspadaan. Tidak ingin hubungannya dengan Kartika sampai ketahuan. * Di dalam kamar, Kartika sekarang sedang berada. Buru-buru ia masuk lalu mengunci pintu. Jantung ini masih berdegup kencang. Adrenalinya serasa dipermainkan. Nyaris saja ia ketahuan. Ia sendiri juga heran, Bayu bisa datang dari sana dengan wajah malasnya. Komplit dengan handuk yang mengalung di leher. Rasanya baru saja mereka menuntaskan permainan. Ia yakin saat buru-buru keluar kamar, Bayu masih berada di dalam kamarnya. Entah lah, yang jelas Kartika tidak ingin berpikir dulu tentang itu, yang terpenting sekarang ia masih bisa selamat. Kartika menggelengkan kepala. Ogah untuk mengingat semua. Kaki ini bergegas melangkah, meraih celana dalam Bayu yang sempat tertinggal di dalam kamarnya. "Ini jangan sampai ketahuan. Bisa-bisa jadi masalah baru," ocehnya mengambil cepat celana dalam yang tergeletak di bawah ranjang lalu menyembunyikan cepat ke dalam kaos besar yang ia pakai. Kartika berniat untuk membawanya keluar kamar lalu menaruhnya ke dalam kantong loundry. * * 07.45 Ruang makan apartemen Bayu Dona masih terlihat berada di sana. Duduk di kursi makan masih memakai pakaian yang sama. Piyama, komplit dengan roll rambut serta bar facenya. Di seberangnya, Bayu juga ikut duduk sejajar. Sudah memakai jas rapi. Sibuk menikmati sarapan. "Kenapa gak makan? Ayo cepat! Nikmatin sarapanmu, setelah itu aku antar kamu pulang," ucap Bayu sambil sibuk mengunyah. Ia juga tidak menatap Dona yang duduk di depan. Matanya terlalu fokus pada makanan yang ia santap. Sedang tangannya sibuk menyuap telur ke dalam mulut. Dona melengoskan wajah malas, menekuk kedua tangan di depan dada. Dirinya sudah tidak berselera menikmati sarapan yang Kartika masak khusus untuknya. "Aku gak lapar," ketusnya sambil membuang wajah kearah samping. Enggan menyentuh makanan. Bayu melirik sekilas Dona yang duduk di hadapannya. Enggan lagi memaksa. Sebatas hanya berbasa-basi. "Lagian ngapain sih, pagi-pagi datang sambil teriak-teriak. Lihat itu! Kamu aja masih pakai baju kaya gitu! Harusnya kamu bisa telfon aku dulu, gak kaya begini," tudingnya menilai sepihak, tanpa tahu alasan yang sebenarnya. Emosi Dona terpantik. Sengaja menggebrak meja sambil melototkan mata. "Apa kamu bilang? Kalau bisa aku hubungi, udah aku hubungi dari tadi. Kamu buang kemana hape kamu sampai gak bisa dihubungi," ucapnya berapi-api. "Maaf, aku lupa isi daya semalam." Bayu menurunkan intonasi suara. Sedikit gugup untuk menjelaskan. "Oh iya, lupa? Lupa atau memang sengaja dimatiin biar gak dihubungin," tudingnya dibumbui senyum mengejek. Kuping Bayu spontan berdenging. Tersinggung atas ucapan yang Dona lontarkan. "Kalau aku bilang lupa, ya lupa. Ngapain sih suka banget cari gara-gara," bentak Bayu tidak suka. "Siapa yang cari gara-gara? Aku kan cuma tanya. Seharusnya kamu seneng dong aku datang. Bukannya malah marah-marah." "Siapa yang marah? Kamu itu yang senengnya bikin masalah. Udah datang teriak-teriak!" "Masalah! Oke, fine! Sekarang kamu berani buat nyalahin aku," kata Dona meninggi. "Ya memang kamu yang salah," debat Bayu enggan menurunkan ego. "Oke, dari sekian pengorbanan yang udah aku lakuin buat kamu. Kamu nyalahin aku buat perkara seremeh ini? Ini gak adil," ucapnya lagi sudah menitikan air mata. Dada ini terasa sangat sesak. Sampai ia pegang dengan tangan. "Udahlah, gak usah drama! Kamu kan tahu sendiri kesibukanku. Aku itu capek. Perkara hape mati aja sampai sewot," acuhnya sambil kembali makan. Dona berdiri langsung dari kursi. Amarahnya mulai tak terkendali. Menunjuk Bayu yang sedang makan sambil berbicara dengan intonasi tinggi. "Sama, aku juga capek. Aku juga sibuk, tapi apa kamu pernah ada sedikitpun perhatian buat aku. Aku jatuh, aku sakit, sampai aku di rawat, kamu ada dimana? Ha!?" Mata Bayu memerah murka. Menggebrak meja sekeras-kerasnya sampai membuat Kartika yang berada tidak jauh dari sana tersentak kaget. Brok! "MAKSUD KAMU APA? KAMU MAU NYARI PERKARA BARU LAGI!"Bayu keluar lebih dulu dari kamar kecil tadi. Langkahnya penuh kehati-hatian. Melenggang seolah tidak terjadi sesuatu padanya dan Kartika tadi. Seraya merapikan kerah kemeja. Sementara, Kartika masih berada di dalam. Menunggu giliran untuk keluar. Setelah cukup yakin, ia baru berani keluar dari tempat ini sambil mengendap-endap. Lorong panjang menuju area belakang tetap sepi. Tidak ada seorang yang melintas. Ditunjang pencahayaan yang sedikit gelap. Kartika berjalan menyusuri lorong menuju dapur sambil merapikan bajunya yang sedikit koyak. Hal yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya. Mbok Rah, asisten rumah tangga orang tua Bayu melihat itu semua. Dengan jelas, Mbok Rah merekam kebersamaan Bayu dan Kartika yang sama-sama keluar dari dalam gudang kecil sambil membenerkan pakaian. "Astaga!" Kagetnya sampai membungkam mulut ini. Mbok Rah bergegas, menyusul Kartika ke dalam dapur. Bagimanapun, ia sangat peduli. Semenjak datang dan bekerja pada keluarga ini. Mbok Rah banyak memba
Kartika terpaku mendengar candaan Pak Yuan. Terlebih saat ini tatapan semua orang sedang menujunya. Melirik tanpa ampun. Tubuh Kartika mendadak kaku. Kesulitan untuk bergerak. "Emm...itu saya..." ucapnya sangat lirih lalu terpotong. Tanpa sempat ia lanjutkan. Di tengah suasana canggung dan tak pasti. Bu Leni membuka celotehan. Membanggakan Dona, sang calon mantu. "Kalau dipikir-pikir, Dona juga gak kalah pintarnya dalam hal memasak. Kemarin dia sempat buatkan cake secara khusus untuk saya. Soal rasa gak usah diragukan lagi, lulusan FnB Prancis."Dona nampak menyunggingkan senyuman lalu kembali menyendokan potongan kecil makanan ke dalam mulut dengan tenang. Rasa percaya dirinya kembali hadir berkat Bu Leni. Merasa sangat bangga sekaligus istimewa. Dalam hal ini ia menang telak. Tidak ada yang bisa menandingi."Kamu juga Bayu masih aja berani konsumsi kopi berlebih. dokter kemarin kan sudah mewanti-wanti kamu untuk mengurangi. Kasian lambung kamu jadi korban," tutur Bu Leni beralih
"Besok sore datang ke rumah. Kita mau ada acara pesta," ucap suara seorang pria dari balik telefon yang Bayu panggil dengan sebutan Papa."Pesta apa Pa? Tumben," balasnya masih dalam posisi basah sambil meredam suara nafas yang ngos-ngosan."Pesta kecil-kecilan aja. Ulang tahun pernikahan Mama dan Papa yang ke 35 tahun." Bayu menghela nafas panjang. Sementara Kartika masih menguping pembicaraan tepat di belakang punggung Bayu. "Papa gak mau tahu intinya kamu harus datang dan gak boleh alesan. Besok, secara khusus Dona dan Papanya juga bakal datang. Mereka yang bakal siapin surprise party buat acara nanti. Oh iya, sekalian Papa minta tolong buat kamu ajak Kartika ke rumah. Biar dia bantu-bantu Mbok Rah di belakang," tuturnya. Bayu dan Kartika kompak saling memandang setelah mendengar. Tidak lama, telfon mati. Bayu taruh dulu ponselnya ke atas nakas lalu kembali ke posisi awal. Duduk berhadapan dengan Kartika. "Kenapa?" tanya Bayu atas sikap Kartika yang berbeda. Raut wajah Kartika t
18:55Kartika terbangun, tersadar sudah tidak mendapati pakaian di tubuh. Wanita cantik ini lekas bangun. Meraih handuk yang tergelatak di lantai lalu melilitkan lagi ke tubuh. Kartika palingkan wajah ke samping. Menatap Bayu yang masih tertidur pulas dan hanya memakai celana pendek sepaha. Baru saja tadi mereka menuntaskan permainan singkat. Setelah itu terlelap bersama. Kartika baru terbangun lagi disaat waktu sudah menginjak malam. "Ah! Bisa-bisanya aku ikut tiduran disini," gerutu Kartika lekas bangkit, berdiri dari sana.Konyol saja, jika ketahuan Dona dalam kondisi seperti ini. Kartika enggan berbuat bodoh. Sebisa mungkin ia tutupi hubungan ini agar tidak terendus yang lain. Termasuk Dona. Ia berpaling dari sana. Bergerak cepat menuju kamar. Kartika terlalu terburu-buru, tidak ingat untuk menutup pintu lebih dulu. Dalam pikirannya, hanya ingin cepat-cepat mengenakan pakain dengan pantas dan kembali beraktifitas dengan normal. Namun, langkah kaki Bayu lebih cepat. Bergerak m
Ruang Direktur,Tok tok tok"Permisi Pak! Saya boleh masuk?" "Hem," dehem Bayu yang sedang duduk di kursi. Sibuk meneliti laporan. Bahkan tidak sempat melirik Sintia yang datang. "Ini obatnya Pak." Sintia mendekat, menaruh segelas air putih serta 2 butir obat di meja. Bayu melirik obat yang Sinta sodorkan. Baru teringat satu nama yang selalu ia simpan rapat-rapat dalam hati. "Kartika." ucapnya. Hampir terlupa jika ia tadi memintanya untuk datang. Bayu berdiri dari kursi. Wajahnya kebingungan, clingungkan mencari Kartika. "Mana dia?" "Maksud Bapak, Kartika?" "Iya dia ada dimana?" tanyanya antusias. "Udah pulang Pak," jawab Sintia sambil menunjuk luar, yang terjadi Bayu jutru murka. Berlari keluar mengejar Kartika. "Hah!" kesalnya berlari melewati Sintia yang masih berada di tempat. Sintia kebingunan, tidak paham letak salahnya dimana. Ia merasa sudah jadi sekertaris yang baik dan teladan, tapi masih saja salah di mata pimpinan. "Maksdunya apa coba?" gumam Sintia seorang diri
"Maaf ada urusan apa ya?" tanya balik wanita ini. "Saya Kartika, asisten rumah tangga Pak Bayu. Kebetulan saya diminta kesini buat antar obat beliau," jelasnya sambil menunjukan bungkusan kecil yang ia bawa. "Baik, sebentar ya?" Kartika mengangguk, sebentar menunggu kabar. Resepionis tersebut sedang menghubungi seseorang. Tidak lama ia muncul, balik menemui Kartika. "Pak Bayu kebetulan sedang ada tamu, tapi gak apa-apa. Mbak diminta keatas aja. Nanti bisa temui Sintia, sekertaris Pak Bayu." "Oh, iya terimakasih." "Sama-sama," sikapnya baik tersenyum ramah. Kartika balik tersenyum. Merasa begitu dihargai. Awalnya ia skeptis, berpikir tidak ada yang mungkin menggubris kehadirannya, karena penampilanya yang sesederhana ini. Nyatanya, orang-orang di kantor begitu ramah. Tidak ada diskriminasi. Semua orang berhak datang, tanpa memandang kelas atau status sosial. Kartika melangkah maju. Berjalan percaya diri menuju ruang yang wanita tadi tunjukkan. Sekarang ia







