Home / Rumah Tangga / Teman Ranjang Majikanku / Bab 7 Penasaran Berujung Ketagihan

Share

Bab 7 Penasaran Berujung Ketagihan

Author: Dewa Ndaru
last update Last Updated: 2025-12-16 19:11:07

Dona ikut tersentak kaget. Entah kenapa untuk sekarang ia berubah cengeng. Biasanya ia selalu kuat. Selalu menang argumen dari Bayu.

Sikap yang sekuat tadi seketika sirna. Air matanya tidak bisa lagi ia tampung. Tumpah berceceran, membasahi pipi.

Mungkin perasaannya yang teramat dalam pada Bayu, yang membuatnya bisa sebodoh ini.

"Keterlaluan kamu Bayu!" isaknya menangis. Dona tidak bisa tahankan lagi. Memilih untuk segera pergi.

Rasanya sakit saja, kedatangannya tidak diharap. Justru Bayu terlihat tidak suka. Bahkan menggertak sekuat tenaga di depan Kartika. Padahal ia hanya butuh perhatian, serta kehadiran Bayu di tengah-tengah momen penting di hidupnya.

Nyatanya sekarang, sikap Bayu mulai berubah. Jarang bersama, bahkan sangat sulit untuk ditemui.

Bayu belum bersikap setelah melihat Dona pergi. Namun, bukan berarti ia acuh. Diamnya sambil terus berpikir.

Perasaanya dilanda dilema. Memilih antara ego atau pergi mengejar Dona, yang notabene anak dari pemilik perusahaan sekaligus pemegang saham terbesar perusahaan.

Bayu pejamkan sejenak matanya sambil mengepalkan telapak tangan. Mencoba menekan ego sekuat tenaga.

"Huft!"

"DONA!" lantangnya memanggil.

Tidak bisa ia abaikan Dona begitu saja. Bagaimanapun, selama ini Dona telah membantu banyak dirinya. Termasuk dalam urusan pekerjaan.

Bayu bangkit segera dari kursi. Berlari keluar mengejar Dona. Namun, sebelum pergi ia sempatkan menatap dulu Kartika yang berdiri di ujung sana.

Kartika balas tatapan Bayu yang nanar, bingung sendiri dengan kondisinya. Tapi tidak berani Kartika berkata apapun ataupun ikut berkomentar. Sepanjang pertengkaran berlangsung, ia berdiri di sana. Menjadi saksi sekaligus menjadi pendengar.

Sebenarnya bukan sekali ini saja. Selama bekerja di sana, tidak hanya sekali ia mendengar ribut-ribut antara Bayu dan tuangannya, Dona.

Kartika paham akan kapastisanya untuk tidak ikut campur atau memberi nasehat pada Bayu. Termasuk tidak ingin kehadirannya jadi pemicu, orang ketiga diantara hubungan mereka.

Nyatanya, hati kecilnya belum juga rela melepaskan. Perasaannya sudah terlanjur nyaman dengan Bayu. Seperti menemukan rumah baru.

Kartika temenung sendiri ditemani suara tetesan air kran serta tangan yang tetap sibuk mengelap gelas-gelas kaca.

Pikirannya menerawang, teringat masa-masa mesranya dengan Bayu. Saat awal pertama kali perasaan itu tumbuh.

*

*

*

Juni, 08:30

Kartika bangun lebih pagi lalu memulai semua pekerjaan rumah seperti biasa. Hari ini terhitung sudah sepekan ia tinggal dan bekerja. Ia sudah mulai nyaman serta sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan.

Suara bising alat rumah tangga sudah terdengar riuh sejak pagi. Mulai dari mesin cuci, blender sampai vakum cleaner. Kartika begitu sibuk, berkutat dengan semua alat-alat modern ini. Beralih-alih dari memasak hingga mencuci piring.

Di sebelah sana, Bayu duduk di sofa panjang sambil menikmati sebotol minuman dingin. Kepalanya masih sedikit pusing. Efek minuman yang ia konsumi.

Semalam ia baru saja keluar minum dengan teman-teman. Baru juga tiba di rumah subuh tadi diantar salah seorang rekan.

Namun tidak bisa lagi untuknya beristirahat. Alaram pagi memanggilnya untuk lekas bangun. Tanggung jawab pekerjaan juga ikut menyadarkannya agar lekas bangkit.

Sesekali Bayu memijat kening yang masih terasa pusing. Kesadaran ini belum kembali normal. Pandangan matanya kabur. Melihat bayang-bayang Kartika yang pecah jadi sepuluh.

Bayu paksakan berdiri. Berjalan mendekati Kartika meski oleng. Tanpa perhitungan ia menjatuhkan diri. Mendekap erat tubuh Kartika dari arah belakang.

"Mas!" Kartika spontan kaget. Reflek melepas pelukan Bayu.

"Mau kemana sih? Biarin aku gini dulu," protes Bayu lengkap dengan suara serak khas bangun tidur. Ia sudah terlanjur nyaman begini. Enggan untuk melepas.

Kartika terpaksa menuruti. Membiarkan Bayu dalam posisi begini. Memejamkan mata seraya memeluknya.

Ia masih begitu sulit untuk melepaskan pelukan Bayu yang teramat kuat. Kekuatannya tidak sebanding. Porsi tubuhnya juga tidak imbang melawan Bayu yang punya postur tubuh atletlis bak dewa yunani.

Cukup lama Kartika dipaksa begini. Sampai membuat wanita ini risih lalu kembali melawan.

"Mas lepas! Saya gak enak, takut dilihat Mbak Dona," protesnya.

Bayu turuti itu, tapi mata ini belum beralih, menatap lekat kearah Kartika. Ia juga tidak menginginkan jarak. Berusaha mendekat sampai wanita ini takut.

"Mas, jangan deket-deket. Saya gak enak." Kartika gugup, membuang wajah kearah lain. Tapi untuk berlari ia tidak bisa. Bayu terlalu licik mengunci tubuhnya, menyudutkannya pada tepian meja.

Kartika semakin gugup saat wajah Bayu mendekat. Selalu memalingkan wajahnya kearah lain. Enggan menatap balik.

Sempat terbesit keinginan untuk melawan dan berbuat kasar. Hanya saja, Kartika masih berpikir kemana nanti ia akan pergi. Sedang ia sangat butuh pekeraan ini. Baru juga ia diterima dan belum menerima gaji sepeserpun.

Kartika coba pejamkan rapat-rapat matanya. Berharap Bayu iba dan mengakhiri kegilannya.

"Kartika, gimana kalau kita coba jalani hubungan dewasa," bisik Bayu seketika membuka kedua matanya sampai terbelalak lebar.

Kartika coba pahami maksud ucapan Bayu yang terdengar ganjil di otak. "Maksud Mas Bayu?"

"Hubungan dewasa, antara kamu dan aku. Dan hanya kita yang tahu." Kartika terbelelak, mencoba mencari jawaban dari sorot mata Bayu.

Bayu cukup tersenyum ringan. Meraih tangan Kartika lalu mengecup kecil pada punggung tangannya.

Kartika reflek menarik tangannya. Menyembunyikannya dari Bayu. "Maaf Mas, saya gak bisa," tolaknya cepat. Berharap Bayu tersadar dari ide gilanya itu.

Nyatanya tidak semudah itu, Bayu beralih meraih dagunya. Membingkai wajah cantik Kartika sambil tersenyum tipis.

"Kenapa gak bisa?"

"Mas Bayu, jangan gila! Gimana sama Mbak Dona?" tegur Kartika keras.

Bayu masih saja bisa tersenyum. Membelai rambut Kartika sambil berkata. "Dona gak akan tahu sayang, hubungan ini hanya kita yang tahu," rayunya masih membelai lembut rambut Kartika.

Kartika berusaha untuk tidak terlena. Meski sebetulnya ia juga menginginkan ini. Sudah lama ia tidak mendapat perlakuan semanis ini. Mantan suaminya yang dulu begitu cuek. Jarang sekali menyentuh atau memanggilnya dengan sebutan mesra.

Pikiran dan hati Kartika sedang bertaruh. Berusaha untuk berpikir logis. Menepis tawaran Bayu.

"Maaf Mas, saya gak tertarik," ungkapnya, terlihat begitu puas setelah bisa berkata.

Tawa Bayu pecah, terkekeh dengan aksi penolakan Kartika. Bayu sendiri punya alasan kuat. Ia merasa tidak bisa diremehkan. Diluar sana banyak para wanita yang berebut untuk bisa dekat dengannya. Ia sangat yakin dengan ketampanan haqiqi serta kesempurnaan hidup yang ia miliki.

"Kamu gak bisa bohong Kartika. Mustahil kalau kamu menolak. Bukannya selama ini diam-diam kamu selalu memperhatikanku."

Bibir Kartika beku. Terkejut dengan ucapan Bayu kali ini. Tidak munafik, sejauh ini ia sangat mengagumi Bayu. Tidak menyangka Bayu memperhatikan gelagatnya. Namun, tidak berani ia berekspetasi terlalu tinggi. Ia dan Bayu terlalu jauh, bagai langit dengan bumi.

Bayu kembali tersenyum kecil. Mendekat sampai menekan tubuh Kartika ke tepian meja.

"Hanya kita, aku dan kamu," bisik pria ini penuh arti lebih dalam.

Bayu semakin merapatkan tubuhnya. Membuat tubuh Kartika terkunci. Bibirnya ikut terkunci. Disertai pandangan mata yang kosong. Menatap samar-samar bibir Bayu yang semakin mendekati. Serta hawa panas nafasnya semakin terasa.

Cup!

Kartika tidak bisa berpaling. Memejamkan mata, mengikuti kata otak.

Semakin dalam, dalam dan jauh. Tidak sadar jika pakainnya yang dikenakan mulai tanggal.

"Ouhhh...Mas..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Ranjang Majikanku   Bab 15 Pengakuan Kartika

    Bayu keluar lebih dulu dari kamar kecil tadi. Langkahnya penuh kehati-hatian. Melenggang seolah tidak terjadi sesuatu padanya dan Kartika tadi. Seraya merapikan kerah kemeja. Sementara, Kartika masih berada di dalam. Menunggu giliran untuk keluar. Setelah cukup yakin, ia baru berani keluar dari tempat ini sambil mengendap-endap. Lorong panjang menuju area belakang tetap sepi. Tidak ada seorang yang melintas. Ditunjang pencahayaan yang sedikit gelap. Kartika berjalan menyusuri lorong menuju dapur sambil merapikan bajunya yang sedikit koyak. Hal yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya. Mbok Rah, asisten rumah tangga orang tua Bayu melihat itu semua. Dengan jelas, Mbok Rah merekam kebersamaan Bayu dan Kartika yang sama-sama keluar dari dalam gudang kecil sambil membenerkan pakaian. "Astaga!" Kagetnya sampai membungkam mulut ini. Mbok Rah bergegas, menyusul Kartika ke dalam dapur. Bagimanapun, ia sangat peduli. Semenjak datang dan bekerja pada keluarga ini. Mbok Rah banyak memba

  • Teman Ranjang Majikanku   Bab 14 Aw! Ada Maling!!

    Kartika terpaku mendengar candaan Pak Yuan. Terlebih saat ini tatapan semua orang sedang menujunya. Melirik tanpa ampun. Tubuh Kartika mendadak kaku. Kesulitan untuk bergerak. "Emm...itu saya..." ucapnya sangat lirih lalu terpotong. Tanpa sempat ia lanjutkan. Di tengah suasana canggung dan tak pasti. Bu Leni membuka celotehan. Membanggakan Dona, sang calon mantu. "Kalau dipikir-pikir, Dona juga gak kalah pintarnya dalam hal memasak. Kemarin dia sempat buatkan cake secara khusus untuk saya. Soal rasa gak usah diragukan lagi, lulusan FnB Prancis."Dona nampak menyunggingkan senyuman lalu kembali menyendokan potongan kecil makanan ke dalam mulut dengan tenang. Rasa percaya dirinya kembali hadir berkat Bu Leni. Merasa sangat bangga sekaligus istimewa. Dalam hal ini ia menang telak. Tidak ada yang bisa menandingi."Kamu juga Bayu masih aja berani konsumsi kopi berlebih. dokter kemarin kan sudah mewanti-wanti kamu untuk mengurangi. Kasian lambung kamu jadi korban," tutur Bu Leni beralih

  • Teman Ranjang Majikanku   Bab 13 Sambutan Calon Mertua

    "Besok sore datang ke rumah. Kita mau ada acara pesta," ucap suara seorang pria dari balik telefon yang Bayu panggil dengan sebutan Papa."Pesta apa Pa? Tumben," balasnya masih dalam posisi basah sambil meredam suara nafas yang ngos-ngosan."Pesta kecil-kecilan aja. Ulang tahun pernikahan Mama dan Papa yang ke 35 tahun." Bayu menghela nafas panjang. Sementara Kartika masih menguping pembicaraan tepat di belakang punggung Bayu. "Papa gak mau tahu intinya kamu harus datang dan gak boleh alesan. Besok, secara khusus Dona dan Papanya juga bakal datang. Mereka yang bakal siapin surprise party buat acara nanti. Oh iya, sekalian Papa minta tolong buat kamu ajak Kartika ke rumah. Biar dia bantu-bantu Mbok Rah di belakang," tuturnya. Bayu dan Kartika kompak saling memandang setelah mendengar. Tidak lama, telfon mati. Bayu taruh dulu ponselnya ke atas nakas lalu kembali ke posisi awal. Duduk berhadapan dengan Kartika. "Kenapa?" tanya Bayu atas sikap Kartika yang berbeda. Raut wajah Kartika t

  • Teman Ranjang Majikanku   Bab 12 1:1

    18:55Kartika terbangun, tersadar sudah tidak mendapati pakaian di tubuh. Wanita cantik ini lekas bangun. Meraih handuk yang tergelatak di lantai lalu melilitkan lagi ke tubuh. Kartika palingkan wajah ke samping. Menatap Bayu yang masih tertidur pulas dan hanya memakai celana pendek sepaha. Baru saja tadi mereka menuntaskan permainan singkat. Setelah itu terlelap bersama. Kartika baru terbangun lagi disaat waktu sudah menginjak malam. "Ah! Bisa-bisanya aku ikut tiduran disini," gerutu Kartika lekas bangkit, berdiri dari sana.Konyol saja, jika ketahuan Dona dalam kondisi seperti ini. Kartika enggan berbuat bodoh. Sebisa mungkin ia tutupi hubungan ini agar tidak terendus yang lain. Termasuk Dona. Ia berpaling dari sana. Bergerak cepat menuju kamar. Kartika terlalu terburu-buru, tidak ingat untuk menutup pintu lebih dulu. Dalam pikirannya, hanya ingin cepat-cepat mengenakan pakain dengan pantas dan kembali beraktifitas dengan normal. Namun, langkah kaki Bayu lebih cepat. Bergerak m

  • Teman Ranjang Majikanku   Bab 11 Aku Suka yang Keras kok Mas

    Ruang Direktur,Tok tok tok"Permisi Pak! Saya boleh masuk?" "Hem," dehem Bayu yang sedang duduk di kursi. Sibuk meneliti laporan. Bahkan tidak sempat melirik Sintia yang datang. "Ini obatnya Pak." Sintia mendekat, menaruh segelas air putih serta 2 butir obat di meja. Bayu melirik obat yang Sinta sodorkan. Baru teringat satu nama yang selalu ia simpan rapat-rapat dalam hati. "Kartika." ucapnya. Hampir terlupa jika ia tadi memintanya untuk datang. Bayu berdiri dari kursi. Wajahnya kebingungan, clingungkan mencari Kartika. "Mana dia?" "Maksud Bapak, Kartika?" "Iya dia ada dimana?" tanyanya antusias. "Udah pulang Pak," jawab Sintia sambil menunjuk luar, yang terjadi Bayu jutru murka. Berlari keluar mengejar Kartika. "Hah!" kesalnya berlari melewati Sintia yang masih berada di tempat. Sintia kebingunan, tidak paham letak salahnya dimana. Ia merasa sudah jadi sekertaris yang baik dan teladan, tapi masih saja salah di mata pimpinan. "Maksdunya apa coba?" gumam Sintia seorang diri

  • Teman Ranjang Majikanku   Bab 10 Keras, Sekeras Batu

    "Maaf ada urusan apa ya?" tanya balik wanita ini. "Saya Kartika, asisten rumah tangga Pak Bayu. Kebetulan saya diminta kesini buat antar obat beliau," jelasnya sambil menunjukan bungkusan kecil yang ia bawa. "Baik, sebentar ya?" Kartika mengangguk, sebentar menunggu kabar. Resepionis tersebut sedang menghubungi seseorang. Tidak lama ia muncul, balik menemui Kartika. "Pak Bayu kebetulan sedang ada tamu, tapi gak apa-apa. Mbak diminta keatas aja. Nanti bisa temui Sintia, sekertaris Pak Bayu." "Oh, iya terimakasih." "Sama-sama," sikapnya baik tersenyum ramah. Kartika balik tersenyum. Merasa begitu dihargai. Awalnya ia skeptis, berpikir tidak ada yang mungkin menggubris kehadirannya, karena penampilanya yang sesederhana ini. Nyatanya, orang-orang di kantor begitu ramah. Tidak ada diskriminasi. Semua orang berhak datang, tanpa memandang kelas atau status sosial. Kartika melangkah maju. Berjalan percaya diri menuju ruang yang wanita tadi tunjukkan. Sekarang ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status