LOGIN“Mohon maaf Pak Radit, kita available paling cepat tiga bulan lagi sekitar bulan Februari.”
Radit mengelus-elus dagunya. Dahinya mengernyit. Sepasang kekasih itu sudah berada di list terakhir venue pernikahan yang sudah Radit list sebelumnya. Namun, semua venue pilihan pria itu sudah full booked untuk tanggal yang ia mau. Venue terakhir inilah yang memiliki tanggal available yang paling cepat, itupun tiga bulan lagi.
“Ya udah, Pak. Book dulu aja,” ujar Riri cepat-cepat.
Ya Tuhan, semoga ini bisa jadi jalan keluar untukku, pinta Riri dalam hati.
“Ya udah, Pak. Atas nama Radit. Nanti saya hubungi kembali jadi atau tidaknya. terima kasih.” Wajah pria itu terlihat tidak begitu senang. Ia menarik lengan kekasihnya untuk kembali ke parkiran.
Di dalam mobil pun, Radit masih terdiam. Belum menstarter mobilnya.
“Kita akad nikah di rumah aja biar cepet.” ucap Radit tanpa emosi. Riri yang terkejut memutar otak supaya Radit mau mempertimbangkan venue terakhir ini.
Gantari ayo pikir! Perjuangin waktu tiga bulan ini!
“Mas, kalau kita akad di rumah dan ngadain resepsi belakangan, kamu nggak malu sama kata orang?” Perempuan itu berkata perlahan sambil menyentuh lengan kekasihnya yang masih diam.“Ibu kamu mau kita segera menikah dan aku setuju.”
Riri menghela napas panjang, “Ibu selalu setuju sama kata-kata kamu, Mas. Cuma ibukan nggak tau gimana omongan keluarga besar kamu, omongan orang kantor dan kolega-kolega kamu, termasuk keluarga besarku nanti,” Riri melirik wajah Radit. Raut wajahnya masih datar seperti sebelumnya.
“Seenggaknya kita bisa ngadain acara lamaran yang mewah di hotel pilihan pertama kita atau di restoran mewah. Sayang banget cincin yang udah kamu beliin untuk aku cuma untuk acara akad nikah di rumah.”
Radit menoleh pada perempuan yang duduk di sampingnya itu. Matanya menatap Riri tajam. Perempua itu diam menatap balik tatapan kekasihnya dengan lembut.
“Okay, kali ini aku setuju sama kamu. Nanti malam aku akan telepon ibu kamu.” ujar Radit sambil menghidupkan mesin mobil. “Tapi ingat, Ri. Jangan macam-macam sama aku atau aku bisa hancurin hidup kamu.” Radit menoleh dan memberikan senyum termanisnya yang tampak menyeramkan di mata Riri.
“Makasih, Mas. Hati-hati pulangnya,” ucap Riri setelah Radit mengecup bibirnya. Ia turun dari mobil dan melambai ke arah mobil yang melaju meninggalkannya.
Perempuan itu mengambil ponsel dalam saku. Ia mengetik pesan sambil berjalan masuk ke dalam kamar kos.
Gantari Kirana : ‘Sorry aku baru ngabarin. Kamu udah di Jakarta, kan?’
Gantari Kirana : ‘Ada yang harus kita omongin, Nu.’
Riri melempar tas dan ponselnya ke atas kasur. Sementara kopernya, ia letakkan sembarangan di dekat lemari baju. Ia berbaring, melepas lelah setelah penerbangan kembali ke Jakarta, mencari cincin dan venue, lalu meladeni hasrat Radit di mobil.
“Aku harus bersih-bersih,” gumamnya berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.
Sepuluh menit dan tubuh Riri sudah terasa segar kembali. Ia mengambil ponselnya, memeriksa balasan dari Danu.
Toko Jaya : ‘Okay, aku udah reserved hidden bar, biar bisa ngobrol tenang.’
Toko Jaya : ‘Kamu mau aku jemput atau ketemu di sana?’
Riri segera membalas pesan Danu yang ia samarkan namanya menjadi Toko Jaya service laptop.
Gantari Kirana : ‘Share loc, Nu. Kita ketemu di sana. Aku berangkat sekarang.’
Riri langsung mengambil pakaian apapun yang ada di lemarinya. Tanpa memakai make up, ia langsung memesan taksi online menuju lokasi.
“Ri, udah lama? Sorry aku baru sampe rumah pas kamu W******p.” Danu datang dengan raut wajah bersalah. Ia segera memeluk singkat perempuan di hadapannya dan duduk di bangku kosong di sampingnya.
“It’s okay, Nu. Lumayan bisa me time dulu.” ujar Riri mengangkat gelas cocktailnya yang sudah kosong. Danu memesan mocktail dan cocktail yang sama untuk Riri. “Kok kamu nggak minum?” Riri mengernyitkan dahinya heran.
“Nanti yang anter kamu pulang siapa? Aku bawa mobil, Ri,” ujar Danu tersenyum. ”So, apa yang mau kamu omongin?”
“Aku mau lamaran sama Mas Radit minggu depan,” jeda perempuan itu sambil memperhatikan ekspresi pria di depannya.
Danu hanya terdiam, tidak ada perubahan ekspresi apapun pada wajahnya.
“Pernikahan bisa ditunda sampai tiga bulan, Nu. Kayaknya semesta masih sayang sama aku.”
Pria di sampingnya tersenyum mendengar berita yang menyenangkan itu.
“Kalau kita bisa cari bukti kelakuan Radit sebenarnya, Ibumu pasti batalin pernikahan ini,“ ujar Danu yakin.
“Untuk cari bukti itu kita butuh waktu lebih dari tiga bulan, Nu. Mas Radit selalu main rapi dan citranya yang baik bisa mempersulit usaha kita.” Riri mencoba berpikir, mengingat siapapun yang bisa membantunya mencari bukti. Satu buah nama melintas di kepalanya. “Kamu tau Alea? Anak magang yang barengan terus sama aku? Dia bisa bantu kita cari bukti.”
“Masalah cari bukti Radit clear. Terus apa yang buat kamu masih khawatir?”
“Cara nunda pernikahanku lebih lama lagi.” ujar Riri bingung. Ia meminum cocktail barunya yang sudah datang sambil memijit pelipisnya.
“Kalau kamu apply beasiswa S2 ke London kamu mau, Ri?” perempuan itu menoleh menatap pria di sampingnya itu dengan kening berkerut.
“Maksud kamu?”
“Ya kamu sekolah lagi. Bulan depan pendaftaran untuk beasiswa ke London udah di buka dan semester baru akan dimulai bulan Januari. Kalau kamu mulai apply dari sekarang, awal tahun kamu udah bisa berangkat.” Danu memperhatikan wajah Riri yang masih sibuk berpikir.
“Tapi gimana cara bilang ke ibuku? Dia yang menekan aku untuk cepat nikah.” Raut wajah Riri masih menunjukkan kebingungan. Danu memegang pundak perempuan itu, mencoba meyakinkannya.
“Coba kamu pikir lagi, kira-kira Ibumu mau kamu jadi istri yang bagaimana untuk pria yang speknya sempurna seperti Radit?”
Riri terdiam. Matanya bergerak-gerak mencoba mencari jawaban dari pertanyaan Danu.
“Ibu mau aku patuh sama Mas Radit dan nggak bikin malu dia.”
“Kalau kamu punya title Master, kamu bisa jadi kebanggaan suamimu dan keluarga. Nggak malu-maluin untuk dikenalin ke kolega Radit.”
“Tapi Ibu lebih suka aku patuh, Nu.” Riri masih merasa gusar.
“Kamu akan menjadi istri yang lebih patuh dan bisa mendukung suaminya di kantor dan rumah, kalau kamu punya pendidikan yang lebih tinggi Ini bisa jadi alasan untuk meyakinkan Ibumu.”
Riri terdiam. Semua yang dikatakan Danu terdengar sangat masuk akal kini.
“Tapi, gimana caranya, Nu?”
Danu tersenyum, berusaha menenangkan Riri.
“Kamu fokus dulu untuk keterima di Universitas yang kamu mau dan juga beasiswa yang kamu apply. Setelah itu baru bilang sama Ibu alasan mau lanjut sekolah.”
“Pernikahannya? Nggak mungkin tiba-tiba aku minta batalinkan?”
“Rencana nikah dan pembayarannya dilanjutkan aja sampai kamu bener-bener keterima. Kalau Radit suruh kamu ganti rugi, aku bakal bayar semuanya.”
Riri tersenyum lebar. Keraguannya hilang. Tanpa ragu, ia memeluk pria yang mengisi hatinya saat ini, optimis rencana ini akan berhasil.
“Mulai malam ini, kita harus main cantik supaya calon suami kamu itu nggak curiga.” ucap Danu sambil mengelus punggung Riri yang masih memeluknya.
Riri mematung, ia meremas rok kerjanya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Paspor fisiknya kini ditahan. Tanpa paspor itu, pengurusan visa pelajarnya akan tertunda dan terancam gagal. "Iya, Mas. Aku ngerti," bisik Riri pelan, memaksakan diri agar suaranya tidak bergetar. "Pintar," puji Radit puas, menepuk pipi Riri dua kali. "Makan yang banyak. Badan kamu harus fit…seperti tadi malam," kekeh Radit yang membuat dahi perempuan itu berkeringat. Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang divisi asset management. Begitu Radit melangkah masuk ke ruangannya, Riri berdalih hendak ke toilet. Tapi, ia langsung berbelok menuju tangga darurat. Gantari Kirana: Nu, tangga darurat, sekarang! Perempuan itu meremas ponsel dan dompet yang pegangnya. Tidak lama, pintu tangga darurat terbuka dan Danu muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa? Radit ngapain lagi?" todong Danu langsung. "Mas Radit... dia pegang paspor aku, Nu," suara Riri bergetar. "Dia minta I
Riri mematikan sambungan. Segera ia mengirimkan lokasi dan beberapa foto sekitar. Perempuan itu berusaha bersembunyi di balik pohon besar, takut Radit mencari dan menariknya paksa kembali ke mobil.Lima menit berlalu, sebuah motor tampak melaju pelan. “Danu!” Teriak perempuan itu. Pengendara motor itu menoleh dan membuka kaca visor. Riri segera berlari dari persembunyiannya, menuju Danu yang langsung memberikannya helm cadangan yang ia kenakan sebelumnya.“Malam ini kamu ikut aku ke apartemen,” ucapnya datar. Riri diam tidak membantah, mengikuti kemanapun kekasih rahasianya itu membawanya.Danu memapah Riri yang masih gemetar dari parkiran motor hingga kamarnya. “Aku mau ke kamar mandi dulu, makasih ya, Nu.”Sebelum mencuci wajahnya, Riri menatap pantulan wajahnya di cermin.‘Kamu kuat, kamu hebat, kamu bisa lepas dari Radit. Tapi aku capek,’ Air mata menggenang di pelupuk mata perempuan itu. Ia buru-buru menghapus air mata dan mencuci wajahnya. Sekali lagi ia menatap pantulan waja
Wajah perempuan itu berubah panik. Ia melihat jam terkirimnya pesan oleh Radit, 18.45 dan langsung melihat jam di ponselnya, 20.10. Buru-buru ia membalas pesan dari kekasihnya itu. Gantari : ‘Aku tunggu kamu, udah di mana Mas?’ Raditya : ‘Paling cepet setengah jam lagi sampe.’ “Ck, Danu!” Teriak Riri segera berlari ke arah pantry menyusul Danu. “Mas Radit pulang malam ini, setengah jam lagi dia sampe kostan aku. Aku balik sekarang, ya.” “Shit, anjritlah! Gue anter pake motor biar cepet. Lo langsung turun tunggu di depan apartemen.” Pria yang sedang menyiapkan makan malam itu, menghentikan kegiatannya. Ia langsung mencari kunci motor dan helm tambahan. Sedangkan Riri, ia sudah berdiri menunggu lift terbuka. ia pun masuk dan memencet tombol G dengan tergesa-gesa. Setelah pintu liftnya kembali terbuka, Riri berlari ke depan jalan raya utama. Danu, sudah menunggunya dan menyodorkan helm tambahan untuk Riri. “Peluk pinggang aku. Kita ngebut malam ini.” Tidak sampai 20 menit pria i
Mbak Ratih berjalan menuju kubikel Riri. Matanya terpusat pada layar komputer milik perempuan yang sedang duduk gelisah did bangkunya.“Kamu mau lanjut S2? Kamukan udah mau nikah, Ri?!” Suara melengking Mbak Ratih terdengar di seluruh sudut ruangan asset management. Riri masih terdiam. ia terus memutar otak mencari alasan yang masuk akal.‘Kalau aku bilang cuma iseng-iseng, dia bakalan laporan ke Mas Radit,’ batin Riri.“Aku minta tolong Mbak Riri, Mbak,” suara Alea terdengar dari kubikel sebelah. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Alea yang duduk santai di kursinya.“Kamu kan masih nyusun skripsi? Ngapain cari S2?” “Ya abis wisuda aku mau lanjut S2 emang nggak boleh?” balas Alea tidak mau kalah. Mbak Ratih mendengus kesal.“Cari sendiri makanya! Jangan nyusahin orang!” seru Mbak Ratih kesal. “Kamu juga, Ri. Nggak usah aneh-aneh! Inget calon suami kamu tuh Mas Radit! Banyak banget yang ngantri jadi istri dia!” Wanita paruh baya itu pun berjalan menuju kubikelnya sendiri. Riri h
Sekembalinya dari makan siang, Danu menyentuh bahu Riri pelan, kode mengajaknya untuk ke tetangga darurat. Perempuan itu mengangguk dan memanggil Alea yang berjalan beberapa langkah di depannya.“Le, aku ke toilet duu, ya!”“Oke, Mbak!” serua Allea sambil membalikkan badan sambil mengacungkan jempol dan kembali berjalan menuju ruangan asset management.Kedua pasangan backstreet itupun dengan santai berjalan menuju tangga darurat, wilayah teraman mereka untuk mengobrol.“Mau?” tanya Danu menawarkan rokok setelah pintu tertutup rapat.“Nggak, Nu. Thanks.”“Lagi seneng ya?” tanya pria itu jahil yang disambut tawa ringan perempuan yang duduk di sampingnya. “Kalau boleh tahu, yang jadi trigger kecelakaan kemarin apa?”Riri menoleh menatap wajah pria di sampingnya.“Gara-gara kau bales WA di grup.”“Hah? Grup kantor?” Danu menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Okay, karena yang kita omongin itu fake caleg saleh, aku nggak heran. Tapi, please kamu harus lebih hati-hati,” pria itu mengelus t
“Mbak Ratih lagi khusyuk ngegosip di pantry, lift barang kosong, sekarang atau kita nggak makan-makan di kubikel!” seru Alea setengah berbisik. Gadis magang itu langsung menginformasikan posisi mata-mata Radit di kantor. Selama Radit dinas ke Bandung, Mbak Ratih bertugas melaporkan semua kegiatan Riri selama di kantor. Tentu saja semua itu demi keamanan dan kenyamanan posisinya di divisi aset manajemen yang dipimpin Radit.Riri mengelus pergelangan tangan kirinya yang masih terbalut perban elastis. Perempuan itu masih khawatir dengan CCTV berjalan itu.“Ayo, Mbak! Nanti keburu Mbak Ratih selesai nyeduh kopi jahenya,” desak Alea pelan sambil menarik ujung blazer Riri.Perempuan itu segera bangkit dan buru-buru merapikan pakaiannya. Keduanya berbelok ke koridor yang biasa digunakan oleh office boy, memanfaatkan jalur tangga darurat lantai menuju pintu keluar darurat di dekat area parkiran mobil.Di gang samping gedung yang luput dari sorotan CCTV, mobil SUV milik Danu sudah menunggu m







