Home / Romansa / Teman Ranjang / Telpon Panas Radit

Share

Telpon Panas Radit

Author: Amila FM
last update publish date: 2026-09-15 23:37:52

Isi kepala Riri mendadak kosong. Perintah gila dari pria di seberang layar itu menghantam logikanya hingga membeku.

"Riri! Kamu ngapain?! Nggak dengar aku?! Atau ada cowok lain di sana?!" bentakan Radit menarik paksa kesadarannya kembali.

"Mas, kamu bercanda, kan?" Riri menatap nanar wajah kekasihnya di layar ponsel. 

Di sana tidak ada kehangatan, hanya sorot mata sayu yang sudah tertutup kabut gairah. Rahang pria itu terlihat mengeras dengan urat leher yang menonjol tegang.

"Aku nggak mau mengulang perkataanku. Buka baju kamu, sekarang!"

Tekanan suara Radit seketika memicu perkataan sakral sang ibu yang terkunci rapat di alam bawah sadarnya.

Dengan tatapan kosong, Riri menarik kaus yang ia kenakan melewati kepala. Tangannya bergerak ke punggung, melepas kaitan bra dan membiarkannya turun ke kasur. Tubuh bagian atasnya kini sepenuhnya telanjang di hadapan kamera, pasrah menunggu perintah berikutnya.

Pria di layar ponsel itu terkekeh puas. Terdengar bunyi gesekan resleting celana yang dibuka terburu-buru. Sudut kamera berguncang, memperlihatkan lengan Radit yang bergerak naik turun dalam ritme cepat. Ia memejamkan mata rapat-rapat, meloloskan erangan rendah yang berat.

"Sentuh tubuhmu, Ri. Nikmati sentuhan itu. Bayangkan aku, calon suamimu yang sedang menyentuhmu."

Terbentang jarak lebih dari seribu kilometer antara Nusa Penida dan Jakarta, namun Radit tetap sanggup menelanjangi tubuhnya dari jauh. Riri tidak menangis, tidak pula memohon agar pria itu berhenti. Hanya satu kalimat yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya, ‘Turuti perkataan Nak Radit.’

Terdengar suara pintu kamar hotel Riri terbuka. Danu masuk ke kamar Riri hendak mengembalikan kartu akses perempuan itu yang tidak sengaja terbawa olehnya. Baru beberapa langkah, pria itu menghentikan langkahnya. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal di samping badannya. Ia terpaku kaku di depan pintu.

“Lebih cepat, Ri! Gerakin tangan kamu lebih cepat!”  Terdengar suara parau Radit dari ponsel diiringi desahan-desahan nikmat. 

Jari tengah dan manis tangan kanan Riri bergerak maju mundur di antara pangkal pahanya yang terasa kering. Sedangkan tangan kanannya menyentuh dan meremas payudaranya sesuai perintah Radit.

Desahan yang lebih mirip rintihan keluar dari bibir Riri. Wajahnya meringis, menahan rasa tidak nyaman dari gesekan jari dengan bagian sensitifnya.

“Muka kamu jangan kayak orang kesakitan begitu! Emang aku nyiksa kamu?! Jangan bikin mood aku turun Gantari!” cecar Radit.

Riri tidak tahu harus bagaimana. Satu-satunya cara adalah dengan mengingat bagaimana Danu menyentuhnya untuk pertama kali. Sentuhannya yang lembut pada klitorisnya, rangsangan demi rangsangan yang membuat area sensitifnya basah dengan mudah.

Semua kejadian malam itu Riri putar kembali dalam otaknya, membuatnya berhasil mendesah nikmat dengan tangannya sendiri.

“Arrgghh!” Radit mengerang melepaskan hasratnya. Pria di layar itu terkekeh puas sambil melihat tubuh polos Gantari.

“Bagus, Ri! Kamu sudah melaksanakan tugas sebagai calon istri yang baik. Besok aku jemput kamu di bandara, kita langsung survey gedung. Lihat sendirikan kalau kamu mengabaikanku? Aku bisa mengikat kamu lebih erat, Ri.” Radit menyudahi video call dengan tawa kemenangannya.

Riri merebahkan dirinya. Mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ia membiarkan tubuhnya tetap terbuka.  Menunggu rasa sakit di area kewanitaannya sedikit mereda.

“Bajingan!” Danu menggeram rendah berjalan mendekati Riri setelah kontrol tubuhnya kembali normal.

Riri terkejut melihat pria itu sudah berdiri di hadapannya. Ia berusaha menutupi tubuhnya. Namun, tangan Danu bergerak lebih cepat, ia menarik selimut kuat-kuat, menutupi tubuh perempuan pujaan hatinya.

“Kelakuan dia udah lebih dari iblis! Aku harus ngomong sama dia!” 

Rahang Danu mengeras, ekspresi wajah nya dingin dan kaku. Ia mulai menyentuh layar ponselnya sendiri. Riri segera menarik tangan Danu. Pria itu pun memutar badan menatap perempuan yang terbaring lemah itu.

“Jangan, Nu. Kita udah omongin ini tadi.”

“Aku nggak nyangka dia sebejat itu ke kamu, Ri. Selama ini dia maksa kamu untuk tidur sama dia?” tanya Danu lembut, masih dengan raut wajah tegang dan rahang yang mengeras.

Riri menunduk ia menatap nanar tangan yang ia remas kuat-kuat. Memori yang tidak ingin ia ingat itu kembali muncul, berkelebat di kepalanya. Matanya terpejam, dahinya mengernyit. Wajah perempuan itu terlihat tidak nyaman.

“Kamu nggak usah jawab kalau kamu nggak mau, Ri.” Danu mengulurkan tangan mengelus bahu Riri

It's Okay. Kamu harus tau ini, Nu," dengan tubuh yang terbalut selimut, Riri menarik napas dalam-dalam. "Setiap ada kesempatan dia selalu minta ‘jatah’, termasuk di kantor.” ujarnya sambil mendongak dan menatap mata pria di hadapannya.

“Biadab banget itu orang! Covernya aja yang alim, dalemnya iblis!” geram pria itu sambil menggertakkan giginya.

Danu memeluk tubuh perempuan itu, mengelus lembut punggung polosnya. Riri membalas pelukannya dengan erat, menyandarkan kepalanya pada dada hangat Danu.

“Jadi…kalau kita backstreet, kamu nggak pa-pa?” tanya Riri mendongakkan kepala menatap pria yang mengisi hatinya.

“Terserah kamu, Ri. Yang penting kamu aman.” Danu mengusap pipi Riri lembut. “Oh, ini kartu kamar kamu kebawa sama aku tadi.”

“Thanks, Nu. Sorry, besok aku harus balik pagi-pagi,” ujar Riri dengan nada sedikit menyesal.

“It’s okay, Ri. Jangan lupa kabarin, ya.”

Danu berdiri dan berjalan pelan keluar kamar. Riri menghela nafas panjang, memperbaiki posisi tidurnya di atas ranjang. Tubuhnya terasa sakit dan lelah. Tapi, setidaknya hatinya kini sudah terisi dengan perasaan yang hangat dari seorang Kamandanu. Dan itu cukup untuk saat ini.

***

"Pernikahan ini terlalu cepat, Mas" ujar Riri menatap Radit yang sedang menyalakan mesin mobil. Ia sudah berada di Jakarta bersama kekasih sahnya saat ini. "Kita bahkan belum ngomongin konsep, belum cari tempat, dan aku butuh waktu buat siapin mental."

Radit tidak langsung menjalankan mobil. Ia melepaskan pegangannya dari setir, lalu menoleh perlahan ke arah Riri. Sorot matanya mendadak berubah layu, bahunya merosot ke bawah, memasang ekspresi seorang pria yang disakiti oleh pasangannya.

"Kamu beneran ragu sama aku, Ri?" suara Radit merendah, "Aku mau meresmikan hubungan kita biar kamu nggak merasa berdosa terus. Aku mau tanggung jawab atas kamu seutuhnya. Tapi kamu? Kamu masih mikir aku punya niat buruk?"

“Bukan begitu, Mas.”

“Kalau bukan begitu apa namanya!” suara Radit meninggi. Ia memukul stir mobil di hadapannya. Kebiasaan Radit. Setelah playing victim, emosinya akan meluap tidak terkontrol.

“Aku bukan hewan ternak yang bisa seenaknya dinikahin gitu aja ya, Mas!” emosi Gantari mulai tersulut.

“Jangan sok suci kamu! Inget, kamu bekasan aku ya, Gantari Kirana!”

Radit mengambil ponselnya di laci dashboard mobil. Ia tersenyum licik pada Riri sebelum menelpon seseorang dengan menyalakan speaker.

“Kamu mau nelpon siapa, Mas?”

Pandangan Riri mulai menyipit curiga. Namun, pria di hadapannya itu masih tersenyum santai.

“Assalamu’alaikum Nak Radit. Gimana? Udah sama Riri belum? Aduh maaf ya sudah merepotkan Nak Radit.”

Suara Ibu menggema di mobil pria yang masih tersenyum licik menatap Riri. Perempuan itu terkejut, tanpa pikir panjang ia melompat ke pangkuan Radit dan membekap mulut pria itu, mencegahnya untuk berbicara dengan ibunya.

“Please, jangan Mas.” pinta Riri lirih sambil menggeleng pelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Ranjang   Insiden Makan Siang

    Cincin berlian mentereng yang melingkar di jari manis Riri sukses membuat semua penghuni kantor yang bergerak di bidang energi terbarukan itu menganga kagum. “Beruntung banget ya, Mbak Riri.”“Ih iri banget bisa dapetin Pak Radit.”Bisik-bisik gosip antar kubikel di setiap divisi membicarakan betapa beruntungnya Ririi bisa mendapatkan Raditya Sadewa, lelaki sempurna yang tampan, baik hati dan mapan.Beda halnya di divisi asset management, tempat Riri dan Radit bernaung, Alea yang tahu betul penderitaan Riri, hanya mengumpat kesal di balik kubikelnya. “Heran deh orang-orang nggak tau mana yang fake dan real!”Riri hanya tersenyum melihat gadis di sampingnya misuh-misuh. Dengan cepat ia menenangkan Alea “Udah, Le. Diemin aja. Dulu kamu juga nggak tau kan gimana Mas Radit.” “Cckk!” Alea mendecakkan lidahnya. Ia setuju dengan perkataan Riri. Namun, ia merasa kesal dengan kenyataan itu. “Kamu beneran nggak pa-pa, Mbak Riri? Aku khawatir sama kamu kalau sampai nikah. Takut…amit-amit…KD

  • Teman Ranjang   Rencana Riri dan Danu

    “Mohon maaf Pak Radit, kita available paling cepat tiga bulan lagi sekitar bulan Februari.” Radit mengelus-elus dagunya. Dahinya mengernyit. Sepasang kekasih itu sudah berada di list terakhir venue pernikahan yang sudah Radit list sebelumnya. Namun, semua venue pilihan pria itu sudah full booked untuk tanggal yang ia mau. Venue terakhir inilah yang memiliki tanggal available yang paling cepat, itupun tiga bulan lagi. “Ya udah, Pak. Book dulu aja,” ujar Riri cepat-cepat. Ya Tuhan, semoga ini bisa jadi jalan keluar untukku, pinta Riri dalam hati. “Ya udah, Pak. Atas nama Radit. Nanti saya hubungi kembali jadi atau tidaknya. terima kasih.” Wajah pria itu terlihat tidak begitu senang. Ia menarik lengan kekasihnya untuk kembali ke parkiran. Di dalam mobil pun, Radit masih terdiam. Belum menstarter mobilnya. “Kita akad nikah di rumah aja biar cepet.” ucap Radit tanpa emosi. Riri yang terkejut memutar otak supaya Radit mau mempertimbangkan venue terakhir ini. Gantari ayo pikir! Perju

  • Teman Ranjang   Borgol Mahal

    “Nak Radit? Halo?” Suara ibu terdengar kebingungan mencari orang yang menelponnya. “Assalamualaikum, Bu. Riri udah sama Mas Radit, Bu,” ujar Riri buru-buru menjawab ibunya, masih dalam posisi membekap mulut Radit. Melihat ketakutan dan kegelisahan di raut wajah kekasihnya itu, mata Radit berbinar licik. “Alhamdullillah. Nak Radit mana, Ri? Ada apa telepon Ibu?” “Nggak kok…” Riri menahan napas. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya untuk menjawab pertanyaan Ibu. Kedua dadanya sudah diremas oleh Radit. Posisi Riri yang berada di atas pangkuan kekasihnya sangat menguntungkan bagi pria itu. Dengan mudahnya ia menarik tangan Riri yang menutupi mulutnya. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Riri. “Ayo coba lanjutin kalau bisa,” bisiknya. “Ri, Riri! Kalian kenapa? Kalian berantem? Kamu jangan bikin Ibu malu ya, Ri! Patuhi apa kata calon suamimu!” bentak Ibu. Radit tersenyum penuh kemenangan. Ia mulai membuka kemeja kancing Riri dan menyesap kedua dadanya bergantian. Sesekal

  • Teman Ranjang   Telpon Panas Radit

    Isi kepala Riri mendadak kosong. Perintah gila dari pria di seberang layar itu menghantam logikanya hingga membeku."Riri! Kamu ngapain?! Nggak dengar aku?! Atau ada cowok lain di sana?!" bentakan Radit menarik paksa kesadarannya kembali."Mas, kamu bercanda, kan?" Riri menatap nanar wajah kekasihnya di layar ponsel. Di sana tidak ada kehangatan, hanya sorot mata sayu yang sudah tertutup kabut gairah. Rahang pria itu terlihat mengeras dengan urat leher yang menonjol tegang."Aku nggak mau mengulang perkataanku. Buka baju kamu, sekarang!"Tekanan suara Radit seketika memicu perkataan sakral sang ibu yang terkunci rapat di alam bawah sadarnya.Dengan tatapan kosong, Riri menarik kaus yang ia kenakan melewati kepala. Tangannya bergerak ke punggung, melepas kaitan bra dan membiarkannya turun ke kasur. Tubuh bagian atasnya kini sepenuhnya telanjang di hadapan kamera, pasrah menunggu perintah berikutnya.Pria di layar ponsel itu terkekeh puas. Terdengar bunyi gesekan resleting celana yang

  • Teman Ranjang   Momen Damai

    Riri membiarkan ponselnya berdering begitu saja. Ia membuang pandangannya ke arah luar teras. Dering itu pun berhenti. Layar ponsel kembali hitam.“Kenapa nggak diangkat?” tanya Danu sarkas dari dalam kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil menyalakan sebatang rokok.Tidak lama, ponsel Riri kembali berdering, kali ini tertera IBU di layar ponselnya. Riri segera berdiri dan meraih ponselnya tersebut.“Halo, Bu…”“Riri! Kamu ngapain aja sih! Nak Radit nelpon ibu, katanya kamu nggak angkat-angkat telepon dia dari kemarin. Benar?!” terdengar suara teriakan ibunya dari ponsel.Mata Riri menatap Danu tajam. Ia masuk ke dalam kamar dan menyalakan speaker ponselnya. Perempuan itu berdiri di hadapan pria yang sedang merokok itu tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun.“Maaf, Bu. Riri ketiduran…”“Siapa yang suruh kamu pergi sendiri!” potong Ibu masih dengan nada yang tinggi. Kali ini, Danu ikut mendengar percakapan mereka. “Ibu sudah wanti-wanti kamu untuk turuti apapun yang Nak Radit minta. K

  • Teman Ranjang   Rahasia Kita

    `Aku tidak percaya, tubuhku lebih menikmati sentuhan pria lain daripada sentuhan kekasihku sendiri,’ batin Riri di bawah guyuran shower hangat yang membasahi seluruh tubuhnya. Uap panas mengepul tebal, mengaburkan cermin wastafel dan dinding kaca kamar mandi resort yang di sewa untuk beberapa waktu ke depan itu.Sudah hampir setengah jam dia berdiri mematung di sana, membiarkan aliran air membilas sisa-sisa aroma alkohol, keringat, dan jejak sentuhan semalam yang masih terasa membakar di permukaan kulitnya.`Arrghh, bisa-bisanya aku tidur sama rekan kerjaku sendiri?! Kacau kamu Gantari!` Pikirannya berputar liar, terlempar kembali pada kekacauan semalam.Riri masih mengingat lumatan bibir Danu. Rasa manis nikotin bercampur tequila dari bibir pria itu masih terasa walaupun dia sudah berkumur berkali-kali.Belum lagi sentuhan dan gerakan Danu yang seirama dengannya, membuat perempuan itu masih merasakan getaran kenikmatan pelepasannya semalam.Beda halnya saat bersama Radit, kekasihnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status