LOGINIsi kepala Riri mendadak kosong. Perintah gila dari pria di seberang layar itu menghantam logikanya hingga membeku.
"Riri! Kamu ngapain?! Nggak dengar aku?! Atau ada cowok lain di sana?!" bentakan Radit menarik paksa kesadarannya kembali.
"Mas, kamu bercanda, kan?" Riri menatap nanar wajah kekasihnya di layar ponsel.
Di sana tidak ada kehangatan, hanya sorot mata sayu yang sudah tertutup kabut gairah. Rahang pria itu terlihat mengeras dengan urat leher yang menonjol tegang.
"Aku nggak mau mengulang perkataanku. Buka baju kamu, sekarang!"
Tekanan suara Radit seketika memicu perkataan sakral sang ibu yang terkunci rapat di alam bawah sadarnya.
Dengan tatapan kosong, Riri menarik kaus yang ia kenakan melewati kepala. Tangannya bergerak ke punggung, melepas kaitan bra dan membiarkannya turun ke kasur. Tubuh bagian atasnya kini sepenuhnya telanjang di hadapan kamera, pasrah menunggu perintah berikutnya.
Pria di layar ponsel itu terkekeh puas. Terdengar bunyi gesekan resleting celana yang dibuka terburu-buru. Sudut kamera berguncang, memperlihatkan lengan Radit yang bergerak naik turun dalam ritme cepat. Ia memejamkan mata rapat-rapat, meloloskan erangan rendah yang berat.
"Sentuh tubuhmu, Ri. Nikmati sentuhan itu. Bayangkan aku, calon suamimu yang sedang menyentuhmu."
Terbentang jarak lebih dari seribu kilometer antara Nusa Penida dan Jakarta, namun Radit tetap sanggup menelanjangi tubuhnya dari jauh. Riri tidak menangis, tidak pula memohon agar pria itu berhenti. Hanya satu kalimat yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya, ‘Turuti perkataan Nak Radit.’
Terdengar suara pintu kamar hotel Riri terbuka. Danu masuk ke kamar Riri hendak mengembalikan kartu akses perempuan itu yang tidak sengaja terbawa olehnya. Baru beberapa langkah, pria itu menghentikan langkahnya. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal di samping badannya. Ia terpaku kaku di depan pintu.
“Lebih cepat, Ri! Gerakin tangan kamu lebih cepat!” Terdengar suara parau Radit dari ponsel diiringi desahan-desahan nikmat.
Jari tengah dan manis tangan kanan Riri bergerak maju mundur di antara pangkal pahanya yang terasa kering. Sedangkan tangan kanannya menyentuh dan meremas payudaranya sesuai perintah Radit.
Desahan yang lebih mirip rintihan keluar dari bibir Riri. Wajahnya meringis, menahan rasa tidak nyaman dari gesekan jari dengan bagian sensitifnya.
“Muka kamu jangan kayak orang kesakitan begitu! Emang aku nyiksa kamu?! Jangan bikin mood aku turun Gantari!” cecar Radit.
Riri tidak tahu harus bagaimana. Satu-satunya cara adalah dengan mengingat bagaimana Danu menyentuhnya untuk pertama kali. Sentuhannya yang lembut pada klitorisnya, rangsangan demi rangsangan yang membuat area sensitifnya basah dengan mudah.
Semua kejadian malam itu Riri putar kembali dalam otaknya, membuatnya berhasil mendesah nikmat dengan tangannya sendiri.
“Arrgghh!” Radit mengerang melepaskan hasratnya. Pria di layar itu terkekeh puas sambil melihat tubuh polos Gantari.
“Bagus, Ri! Kamu sudah melaksanakan tugas sebagai calon istri yang baik. Besok aku jemput kamu di bandara, kita langsung survey gedung. Lihat sendirikan kalau kamu mengabaikanku? Aku bisa mengikat kamu lebih erat, Ri.” Radit menyudahi video call dengan tawa kemenangannya.
Riri merebahkan dirinya. Mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ia membiarkan tubuhnya tetap terbuka. Menunggu rasa sakit di area kewanitaannya sedikit mereda.
“Bajingan!” Danu menggeram rendah berjalan mendekati Riri setelah kontrol tubuhnya kembali normal.
Riri terkejut melihat pria itu sudah berdiri di hadapannya. Ia berusaha menutupi tubuhnya. Namun, tangan Danu bergerak lebih cepat, ia menarik selimut kuat-kuat, menutupi tubuh perempuan pujaan hatinya.
“Kelakuan dia udah lebih dari iblis! Aku harus ngomong sama dia!”
Rahang Danu mengeras, ekspresi wajah nya dingin dan kaku. Ia mulai menyentuh layar ponselnya sendiri. Riri segera menarik tangan Danu. Pria itu pun memutar badan menatap perempuan yang terbaring lemah itu.
“Jangan, Nu. Kita udah omongin ini tadi.”
“Aku nggak nyangka dia sebejat itu ke kamu, Ri. Selama ini dia maksa kamu untuk tidur sama dia?” tanya Danu lembut, masih dengan raut wajah tegang dan rahang yang mengeras.
Riri menunduk ia menatap nanar tangan yang ia remas kuat-kuat. Memori yang tidak ingin ia ingat itu kembali muncul, berkelebat di kepalanya. Matanya terpejam, dahinya mengernyit. Wajah perempuan itu terlihat tidak nyaman.
“Kamu nggak usah jawab kalau kamu nggak mau, Ri.” Danu mengulurkan tangan mengelus bahu Riri
“It's Okay. Kamu harus tau ini, Nu," dengan tubuh yang terbalut selimut, Riri menarik napas dalam-dalam. "Setiap ada kesempatan dia selalu minta ‘jatah’, termasuk di kantor.” ujarnya sambil mendongak dan menatap mata pria di hadapannya.
“Biadab banget itu orang! Covernya aja yang alim, dalemnya iblis!” geram pria itu sambil menggertakkan giginya.
Danu memeluk tubuh perempuan itu, mengelus lembut punggung polosnya. Riri membalas pelukannya dengan erat, menyandarkan kepalanya pada dada hangat Danu.
“Jadi…kalau kita backstreet, kamu nggak pa-pa?” tanya Riri mendongakkan kepala menatap pria yang mengisi hatinya.
“Terserah kamu, Ri. Yang penting kamu aman.” Danu mengusap pipi Riri lembut. “Oh, ini kartu kamar kamu kebawa sama aku tadi.”
“Thanks, Nu. Sorry, besok aku harus balik pagi-pagi,” ujar Riri dengan nada sedikit menyesal.
“It’s okay, Ri. Jangan lupa kabarin, ya.”
Danu berdiri dan berjalan pelan keluar kamar. Riri menghela nafas panjang, memperbaiki posisi tidurnya di atas ranjang. Tubuhnya terasa sakit dan lelah. Tapi, setidaknya hatinya kini sudah terisi dengan perasaan yang hangat dari seorang Kamandanu. Dan itu cukup untuk saat ini.
***
"Pernikahan ini terlalu cepat, Mas" ujar Riri menatap Radit yang sedang menyalakan mesin mobil. Ia sudah berada di Jakarta bersama kekasih sahnya saat ini. "Kita bahkan belum ngomongin konsep, belum cari tempat, dan aku butuh waktu buat siapin mental."
Radit tidak langsung menjalankan mobil. Ia melepaskan pegangannya dari setir, lalu menoleh perlahan ke arah Riri. Sorot matanya mendadak berubah layu, bahunya merosot ke bawah, memasang ekspresi seorang pria yang disakiti oleh pasangannya.
"Kamu beneran ragu sama aku, Ri?" suara Radit merendah, "Aku mau meresmikan hubungan kita biar kamu nggak merasa berdosa terus. Aku mau tanggung jawab atas kamu seutuhnya. Tapi kamu? Kamu masih mikir aku punya niat buruk?"
“Bukan begitu, Mas.”
“Kalau bukan begitu apa namanya!” suara Radit meninggi. Ia memukul stir mobil di hadapannya. Kebiasaan Radit. Setelah playing victim, emosinya akan meluap tidak terkontrol.
“Aku bukan hewan ternak yang bisa seenaknya dinikahin gitu aja ya, Mas!” emosi Gantari mulai tersulut.
“Jangan sok suci kamu! Inget, kamu bekasan aku ya, Gantari Kirana!”
Radit mengambil ponselnya di laci dashboard mobil. Ia tersenyum licik pada Riri sebelum menelpon seseorang dengan menyalakan speaker.
“Kamu mau nelpon siapa, Mas?”
Pandangan Riri mulai menyipit curiga. Namun, pria di hadapannya itu masih tersenyum santai.
“Assalamu’alaikum Nak Radit. Gimana? Udah sama Riri belum? Aduh maaf ya sudah merepotkan Nak Radit.”
Suara Ibu menggema di mobil pria yang masih tersenyum licik menatap Riri. Perempuan itu terkejut, tanpa pikir panjang ia melompat ke pangkuan Radit dan membekap mulut pria itu, mencegahnya untuk berbicara dengan ibunya.
“Please, jangan Mas.” pinta Riri lirih sambil menggeleng pelan.
Riri mematung, ia meremas rok kerjanya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Paspor fisiknya kini ditahan. Tanpa paspor itu, pengurusan visa pelajarnya akan tertunda dan terancam gagal. "Iya, Mas. Aku ngerti," bisik Riri pelan, memaksakan diri agar suaranya tidak bergetar. "Pintar," puji Radit puas, menepuk pipi Riri dua kali. "Makan yang banyak. Badan kamu harus fit…seperti tadi malam," kekeh Radit yang membuat dahi perempuan itu berkeringat. Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang divisi asset management. Begitu Radit melangkah masuk ke ruangannya, Riri berdalih hendak ke toilet. Tapi, ia langsung berbelok menuju tangga darurat. Gantari Kirana: Nu, tangga darurat, sekarang! Perempuan itu meremas ponsel dan dompet yang pegangnya. Tidak lama, pintu tangga darurat terbuka dan Danu muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa? Radit ngapain lagi?" todong Danu langsung. "Mas Radit... dia pegang paspor aku, Nu," suara Riri bergetar. "Dia minta I
Riri mematikan sambungan. Segera ia mengirimkan lokasi dan beberapa foto sekitar. Perempuan itu berusaha bersembunyi di balik pohon besar, takut Radit mencari dan menariknya paksa kembali ke mobil.Lima menit berlalu, sebuah motor tampak melaju pelan. “Danu!” Teriak perempuan itu. Pengendara motor itu menoleh dan membuka kaca visor. Riri segera berlari dari persembunyiannya, menuju Danu yang langsung memberikannya helm cadangan yang ia kenakan sebelumnya.“Malam ini kamu ikut aku ke apartemen,” ucapnya datar. Riri diam tidak membantah, mengikuti kemanapun kekasih rahasianya itu membawanya.Danu memapah Riri yang masih gemetar dari parkiran motor hingga kamarnya. “Aku mau ke kamar mandi dulu, makasih ya, Nu.”Sebelum mencuci wajahnya, Riri menatap pantulan wajahnya di cermin.‘Kamu kuat, kamu hebat, kamu bisa lepas dari Radit. Tapi aku capek,’ Air mata menggenang di pelupuk mata perempuan itu. Ia buru-buru menghapus air mata dan mencuci wajahnya. Sekali lagi ia menatap pantulan waja
Wajah perempuan itu berubah panik. Ia melihat jam terkirimnya pesan oleh Radit, 18.45 dan langsung melihat jam di ponselnya, 20.10. Buru-buru ia membalas pesan dari kekasihnya itu. Gantari : ‘Aku tunggu kamu, udah di mana Mas?’ Raditya : ‘Paling cepet setengah jam lagi sampe.’ “Ck, Danu!” Teriak Riri segera berlari ke arah pantry menyusul Danu. “Mas Radit pulang malam ini, setengah jam lagi dia sampe kostan aku. Aku balik sekarang, ya.” “Shit, anjritlah! Gue anter pake motor biar cepet. Lo langsung turun tunggu di depan apartemen.” Pria yang sedang menyiapkan makan malam itu, menghentikan kegiatannya. Ia langsung mencari kunci motor dan helm tambahan. Sedangkan Riri, ia sudah berdiri menunggu lift terbuka. ia pun masuk dan memencet tombol G dengan tergesa-gesa. Setelah pintu liftnya kembali terbuka, Riri berlari ke depan jalan raya utama. Danu, sudah menunggunya dan menyodorkan helm tambahan untuk Riri. “Peluk pinggang aku. Kita ngebut malam ini.” Tidak sampai 20 menit pria i
Mbak Ratih berjalan menuju kubikel Riri. Matanya terpusat pada layar komputer milik perempuan yang sedang duduk gelisah did bangkunya.“Kamu mau lanjut S2? Kamukan udah mau nikah, Ri?!” Suara melengking Mbak Ratih terdengar di seluruh sudut ruangan asset management. Riri masih terdiam. ia terus memutar otak mencari alasan yang masuk akal.‘Kalau aku bilang cuma iseng-iseng, dia bakalan laporan ke Mas Radit,’ batin Riri.“Aku minta tolong Mbak Riri, Mbak,” suara Alea terdengar dari kubikel sebelah. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Alea yang duduk santai di kursinya.“Kamu kan masih nyusun skripsi? Ngapain cari S2?” “Ya abis wisuda aku mau lanjut S2 emang nggak boleh?” balas Alea tidak mau kalah. Mbak Ratih mendengus kesal.“Cari sendiri makanya! Jangan nyusahin orang!” seru Mbak Ratih kesal. “Kamu juga, Ri. Nggak usah aneh-aneh! Inget calon suami kamu tuh Mas Radit! Banyak banget yang ngantri jadi istri dia!” Wanita paruh baya itu pun berjalan menuju kubikelnya sendiri. Riri h
Sekembalinya dari makan siang, Danu menyentuh bahu Riri pelan, kode mengajaknya untuk ke tetangga darurat. Perempuan itu mengangguk dan memanggil Alea yang berjalan beberapa langkah di depannya.“Le, aku ke toilet duu, ya!”“Oke, Mbak!” serua Allea sambil membalikkan badan sambil mengacungkan jempol dan kembali berjalan menuju ruangan asset management.Kedua pasangan backstreet itupun dengan santai berjalan menuju tangga darurat, wilayah teraman mereka untuk mengobrol.“Mau?” tanya Danu menawarkan rokok setelah pintu tertutup rapat.“Nggak, Nu. Thanks.”“Lagi seneng ya?” tanya pria itu jahil yang disambut tawa ringan perempuan yang duduk di sampingnya. “Kalau boleh tahu, yang jadi trigger kecelakaan kemarin apa?”Riri menoleh menatap wajah pria di sampingnya.“Gara-gara kau bales WA di grup.”“Hah? Grup kantor?” Danu menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Okay, karena yang kita omongin itu fake caleg saleh, aku nggak heran. Tapi, please kamu harus lebih hati-hati,” pria itu mengelus t
“Mbak Ratih lagi khusyuk ngegosip di pantry, lift barang kosong, sekarang atau kita nggak makan-makan di kubikel!” seru Alea setengah berbisik. Gadis magang itu langsung menginformasikan posisi mata-mata Radit di kantor. Selama Radit dinas ke Bandung, Mbak Ratih bertugas melaporkan semua kegiatan Riri selama di kantor. Tentu saja semua itu demi keamanan dan kenyamanan posisinya di divisi aset manajemen yang dipimpin Radit.Riri mengelus pergelangan tangan kirinya yang masih terbalut perban elastis. Perempuan itu masih khawatir dengan CCTV berjalan itu.“Ayo, Mbak! Nanti keburu Mbak Ratih selesai nyeduh kopi jahenya,” desak Alea pelan sambil menarik ujung blazer Riri.Perempuan itu segera bangkit dan buru-buru merapikan pakaiannya. Keduanya berbelok ke koridor yang biasa digunakan oleh office boy, memanfaatkan jalur tangga darurat lantai menuju pintu keluar darurat di dekat area parkiran mobil.Di gang samping gedung yang luput dari sorotan CCTV, mobil SUV milik Danu sudah menunggu m







