Home / Romansa / Teman Ranjang / Borgol Mahal

Share

Borgol Mahal

Author: Amila FM
last update publish date: 2026-09-15 23:38:48

“Nak Radit? Halo?” Suara ibu terdengar kebingungan mencari orang yang menelponnya.

“Assalamualaikum, Bu. Riri udah sama Mas Radit, Bu,” ujar Riri buru-buru menjawab ibunya, masih dalam posisi membekap mulut Radit. Melihat ketakutan dan kegelisahan di raut wajah kekasihnya itu, mata Radit berbinar licik. 

“Alhamdullillah. Nak Radit mana, Ri? Ada apa telepon Ibu?”

“Nggak kok…” Riri menahan napas. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya untuk menjawab pertanyaan Ibu. Kedua dadanya sudah diremas oleh Radit. Posisi Riri yang berada di atas pangkuan kekasihnya sangat menguntungkan bagi pria itu.

Dengan mudahnya ia menarik tangan Riri yang menutupi mulutnya. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Riri.

“Ayo coba lanjutin kalau bisa,” bisiknya.

“Ri, Riri! Kalian kenapa? Kalian berantem? Kamu jangan bikin Ibu malu ya, Ri! Patuhi apa kata calon suamimu!” bentak Ibu.

Radit tersenyum penuh kemenangan. Ia mulai membuka kemeja kancing Riri dan menyesap kedua dadanya bergantian.  Sesekali ia memilin dan menarik pucuk dada yang sudah mengeras. Perempuan itu hanya bisa menahan rasa sakit itu dalam diam. Ia tidak bisa membuka suara karena sambungan telpon Ibunya masih menyala.

“Kamu kok nggak jawab Ibu, Ri?! Ya sudah matikan saja teleponnya. Titip salam untuk Nak Radit! Assalamualaikum.” Akhirnya sambungan telepon terputus.

Radit tertawa puas. Sedangkan Riri tertunduk lemas.

“Makanya nggak usah macem-macem sama aku,” ucap Radit ringan. Dengan cepat ia segera memindahkan posisi tubuh Riri. Kini kekasihnya itu berada di bawahnya. Radit menurunkan jok kursi mobil, memberikannya akses untuk menjamah tubuh Riri dengan lebih leluasa.

“Kamu mau ngapain, Mas? Ini di parkiran umum!” suara perempuan itu terdengar panik dan cemas.

Radit tidak peduli dengan perkataan Riri. Celananya yang sudah sesak tidak bisa menunggu lebih lama. Pria itu mengangkat dress dan menurunkan pakaian dalam kekasihnya.

“Kamu duluan yang nyerang aku ya, Ri.” Seringai pria itu sangat menyeramkan di mata Riri. Tanpa ada sentuhan yang romantis untuk merangsang area sensitif perempuan itu, Radit langsung menyatukan miliknya dengan Riri begitu saja.

***

“Ri, lihat deh cincin ini. Looks gorgeous like you.” Radit menunjukkan sebuah cincin berlian berdesain mewah dan mendominasi. Mereka sudah berada di salah satu butik perhiasan setelah Radit menyelesaikan pelepasannya di mobil.

Riri menatap cincin mewah yang menurutnya ‘heboh’ itu tanpa minat sedikit pun. Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan antusiasme seorang calon pengantin. Ia masih sibuk menahan sakit di area kewanitaannya akibat pemaksaan yang dilakukan Radit.

“Mbak, coba lihat yang ini,” Riri menunjuk sebuah cincin solitaire bermata berlian sederhana yang tak sengaja terlihat olehnya. “Mas, kalau yang ini gimana? Lebih elegan dan nyaman dipakai.” 

Riri memasang cincin itu di jari manis kiri dan memandangi tangan kiri yang ia angkat.

Terdengar helaan napas Radit yang duduk di sampingnya. Dengan wajah lembut dan tatapan sedih yang dibuat-buat, ia meletakkan kotak cincin pilihannya kembali ke meja.

“Riri sayang, bukannya aku nggak kasih kebebasan kamu untuk milih. Tapi kalau kita pilih cincin pilihan kamu itu, sadar nggak apa kata keluargaku, kolegaku, dan keluargamu ke aku nanti?” ucap Radit dengan mata sendu.

“Yang penting niat kamu kan tulus, Mas. Ini juga cantik kok, lagi populer dan kesannya elegan.” Riri membela diri.

“Kamu memang selalu tahu ketulusan aku, Sayang. Tapi orang lain nggak kayak kamu. Mereka akan mikir aku ini pelit dan nggak perhatian sama kamu. Kamu mau calon suami kamu direndahin?” Kali ini suara Radit sedikit bergetar. 

Riri melirik ke arah staf counter. Beberapa dari mereka memandang kasihan kepada Radit, seakan-akan pria itu adalah sosok pria baik hati yang sial memiliki calon istri keras kepala.

“Maafin aku, Mas. Kita ambil pilihan kamu aja.” Riri melepas cincin solitaire minimalis itu.

Radit pun langsung tersenyum lembut. Dia mengambil cincin pilihannya dan memasangkannya di jari manis kiri Riri. Ia mencengkeram keras pergelangan tangan calon istrinya itu diam-diam, masih dengan senyum lembut di wajahnya.

“Kamu udah ada yang punya ya, Ri. Ingat! Jangan pernah kamu lepas ya, Sayang.” Suara pria itu terdengar lembut, namun penuh ancaman. Sejak detik ini, Riri sadar, ada borgol kecil mewah yang resmi mengikatnya.

***

“Aku perhatiin kamu ngelawan aku terus sejak pulang dari Nusa Penida?” tanya Radit ketika mereka berdua sedang memasang seatbelt di dalam mobil setelah selesai membeli cincin dan perhiasan.

“Aku cuma ngasih tau pendapat aku, bukan ngelawan.”

“Tapi pendapat kamu selalu ngerendahin aku, calon suamimu!” suara Radit mulai meninggi, tidak terima perempuan itu mencoba menjawabnya.

“Kalau gitu kita nggak usah nikah. Ngapain kita sama-sama kalau sudut pandang kita beda!” Riri tidak mau mengalah untuk mempertahankan harga dirinya. 

“Diajarin sama siapa kamu? Danu? Kamu ke Nusa Penida sama Danu, kan? Makanya pulang dari sana kamu bantah aku terus.” suara Radit kali ini rendah dan tenang. Tapi tatapannya sangat menyeramkan, membuat tubuh Riri bergidik.

“Kamu ngapain bawa-bawa Danu?” perempuan itu berusaha menyembunyikan raut paniknya.

“Hah, kamu pikir aku bodoh? Tiba-tiba dia ambil cuti dadakan pas sama hari keberangkatan kamu ke Nusa Penida? Makanya kamu nggak bilang-bilang aku kalau kamu mau ke Nusa Penida, ya.”

“Stop, Mas! Nggak usah ngarang!”

“Kenapa? Kamu takut?” Radit mulai mendekat ke arah Riri. Hembusan napasnya terasa di leher perempuan itu.

“Kamu berubah, Mas. Atau ini memang kelakuan asli kamu?” 

Pria dihadapan Riri terkekeh pelan, seakan ia mengejek pertanyaan yang dilontarkan perempuan itu.

“Berubah? Kamu mungkin yang berubah.” Radit mencengkeram dagu Riri tanpa ragu. “Kalau kamu nurut, bersikap manis dan nggak banyak bantah perkataan aku, pasti aku akan memperlakukan kamu dengan manis, Riri.”

“Sakit, Mas!” perempuan itu memukul tangan kokoh kekasihnya itu.

“Kamu nggak usah merasa tersiksa, aku yang dirugikan oleh kamu di sini. Kamu yang nolak untuk berhubungan badan sama aku pertama kali, padahal baru disentuh sedikit, punya kamu udah basah banget. Kamu nggak ingat?”

“Cukup, Mas. Lepasin!’ Riri meronta agar tangan itu terlepas dari dagunya. Radit tertawa melihat usaha yang dilakukan perempuan itu.

“Coba kamu inget lagi waktu awal kita mulai pacaran. Aku selalu sediain kopi dan mawar kuning di meja kamu setiap pagi. Aku pastikan kamu nggak telat makan siang. Aku selalu nanya kabar kamu, nasehatin kamu nggak dekat-dekat Danu supaya orang-orang kantor nggak ngerendahin kamu.” suara Radit berubah lembut, mengalun penuh kegetiran. Siapapun yang mendengarnya akan percaya bahwa ia adalah pria yang tersakiti.

“Kamu nggak waras, Mas. Mana ada orang normal nge-chat pacarnya setiap lima menit sekali?” Gantari mencoba melawan dengan fakta yang tidak disebutkan pria itu. Radit melepaskan cengkraman tangannya.

“Ingat Gantari, aku bisa bikin kamu dibuang keluargamu saat ini juga,” ancam Radit. Wajahnya masih berada tepat di hadapan Riri. “Aku tinggal bilang kamu udah nggak perawan lagi, selingkuh sama pria lain. Kira-kira Ibu kamu bakal percaya aku atau kamu?”

Riri menelan ludah. Kewarasannya sudah tidak mampu menghadapi ancaman Radit lagi. Kenyataan bahwa Ibunya akan lebih mendukung Radit pun semakin menyiksa batinnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Ranjang   Hati yang Tulus

    Danu menikmati bir dinginnya sambil melihat surat kehilangan yang baru saja diberikan Riri. Ia meletakkan gelasnya dan tersenyum puas sambil menyerahkan kembali surat kehilangan tersebut pada wanita yang duduk di sampingnya.“Kok dikasih lagi ke aku?” tanya Riri sedikit heran. Ia menerima surat tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam tas.Danu mengubah posisinya menghadap ke arah Riri agar lebih leluasa untuk berbicara.“Sorry, Ri. Aku nggak bisa nemenin kamu ke imigrasi. Tapi aku udah hubungi kenalan aku untuk bantu kamu buat BAP dan proses pembuatan paspor baru kamu,” jelas pria itu sambil menggenggam tangan Riri pelan. Wanita di sampingnya mengernyitkan dahi.“Kenapa kamu nggak ikut?” “Jadi, lusa itu ada monthly meeting jajaran direksi dan seluruh kepala divisi, termasuk aku dan Radit. Thanks god meeting ini bisa bantu kamu untuk urus paspor,” jelas pria itu sambil menatap mata Riri berusaha meyakinkan semua akan baik-baik saja. “Acaranya dari pagi sampai malam di hotel

  • Teman Ranjang   Rencana demi Rencana

    Riri mematung, ia meremas rok kerjanya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Paspor fisiknya kini ditahan. Tanpa paspor itu, pengurusan visa pelajarnya akan tertunda dan terancam gagal. "Iya, Mas. Aku ngerti," bisik Riri pelan, memaksakan diri agar suaranya tidak bergetar. "Pintar," puji Radit puas, menepuk pipi Riri dua kali. "Makan yang banyak. Badan kamu harus fit…seperti tadi malam," kekeh Radit yang membuat dahi perempuan itu berkeringat. Satu jam kemudian, mereka kembali ke ruang divisi asset management. Begitu Radit melangkah masuk ke ruangannya, Riri berdalih hendak ke toilet. Tapi, ia langsung berbelok menuju tangga darurat. Gantari Kirana: Nu, tangga darurat, sekarang! Perempuan itu meremas ponsel dan dompet yang pegangnya. Tidak lama, pintu tangga darurat terbuka dan Danu muncul dengan wajah yang tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa? Radit ngapain lagi?" todong Danu langsung. "Mas Radit... dia pegang paspor aku, Nu," suara Riri bergetar. "Dia minta I

  • Teman Ranjang   Passport yang Tertahan

    Riri mematikan sambungan. Segera ia mengirimkan lokasi dan beberapa foto sekitar. Perempuan itu berusaha bersembunyi di balik pohon besar, takut Radit mencari dan menariknya paksa kembali ke mobil.Lima menit berlalu, sebuah motor tampak melaju pelan. “Danu!” Teriak perempuan itu. Pengendara motor itu menoleh dan membuka kaca visor. Riri segera berlari dari persembunyiannya, menuju Danu yang langsung memberikannya helm cadangan yang ia kenakan sebelumnya.“Malam ini kamu ikut aku ke apartemen,” ucapnya datar. Riri diam tidak membantah, mengikuti kemanapun kekasih rahasianya itu membawanya.Danu memapah Riri yang masih gemetar dari parkiran motor hingga kamarnya. “Aku mau ke kamar mandi dulu, makasih ya, Nu.”Sebelum mencuci wajahnya, Riri menatap pantulan wajahnya di cermin.‘Kamu kuat, kamu hebat, kamu bisa lepas dari Radit. Tapi aku capek,’ Air mata menggenang di pelupuk mata perempuan itu. Ia buru-buru menghapus air mata dan mencuci wajahnya. Sekali lagi ia menatap pantulan waja

  • Teman Ranjang   Hukuman Riri

    Wajah perempuan itu berubah panik. Ia melihat jam terkirimnya pesan oleh Radit, 18.45 dan langsung melihat jam di ponselnya, 20.10. Buru-buru ia membalas pesan dari kekasihnya itu. Gantari : ‘Aku tunggu kamu, udah di mana Mas?’ Raditya : ‘Paling cepet setengah jam lagi sampe.’ “Ck, Danu!” Teriak Riri segera berlari ke arah pantry menyusul Danu. “Mas Radit pulang malam ini, setengah jam lagi dia sampe kostan aku. Aku balik sekarang, ya.” “Shit, anjritlah! Gue anter pake motor biar cepet. Lo langsung turun tunggu di depan apartemen.” Pria yang sedang menyiapkan makan malam itu, menghentikan kegiatannya. Ia langsung mencari kunci motor dan helm tambahan. Sedangkan Riri, ia sudah berdiri menunggu lift terbuka. ia pun masuk dan memencet tombol G dengan tergesa-gesa. Setelah pintu liftnya kembali terbuka, Riri berlari ke depan jalan raya utama. Danu, sudah menunggunya dan menyodorkan helm tambahan untuk Riri. “Peluk pinggang aku. Kita ngebut malam ini.” Tidak sampai 20 menit pria i

  • Teman Ranjang   Kepulangan Mendadak

    Mbak Ratih berjalan menuju kubikel Riri. Matanya terpusat pada layar komputer milik perempuan yang sedang duduk gelisah did bangkunya.“Kamu mau lanjut S2? Kamukan udah mau nikah, Ri?!” Suara melengking Mbak Ratih terdengar di seluruh sudut ruangan asset management. Riri masih terdiam. ia terus memutar otak mencari alasan yang masuk akal.‘Kalau aku bilang cuma iseng-iseng, dia bakalan laporan ke Mas Radit,’ batin Riri.“Aku minta tolong Mbak Riri, Mbak,” suara Alea terdengar dari kubikel sebelah. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Alea yang duduk santai di kursinya.“Kamu kan masih nyusun skripsi? Ngapain cari S2?” “Ya abis wisuda aku mau lanjut S2 emang nggak boleh?” balas Alea tidak mau kalah. Mbak Ratih mendengus kesal.“Cari sendiri makanya! Jangan nyusahin orang!” seru Mbak Ratih kesal. “Kamu juga, Ri. Nggak usah aneh-aneh! Inget calon suami kamu tuh Mas Radit! Banyak banget yang ngantri jadi istri dia!” Wanita paruh baya itu pun berjalan menuju kubikelnya sendiri. Riri h

  • Teman Ranjang   Ketahuan?

    Sekembalinya dari makan siang, Danu menyentuh bahu Riri pelan, kode mengajaknya untuk ke tetangga darurat. Perempuan itu mengangguk dan memanggil Alea yang berjalan beberapa langkah di depannya.“Le, aku ke toilet duu, ya!”“Oke, Mbak!” serua Allea sambil membalikkan badan sambil mengacungkan jempol dan kembali berjalan menuju ruangan asset management.Kedua pasangan backstreet itupun dengan santai berjalan menuju tangga darurat, wilayah teraman mereka untuk mengobrol.“Mau?” tanya Danu menawarkan rokok setelah pintu tertutup rapat.“Nggak, Nu. Thanks.”“Lagi seneng ya?” tanya pria itu jahil yang disambut tawa ringan perempuan yang duduk di sampingnya. “Kalau boleh tahu, yang jadi trigger kecelakaan kemarin apa?”Riri menoleh menatap wajah pria di sampingnya.“Gara-gara kau bales WA di grup.”“Hah? Grup kantor?” Danu menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Okay, karena yang kita omongin itu fake caleg saleh, aku nggak heran. Tapi, please kamu harus lebih hati-hati,” pria itu mengelus t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status