Home / Romansa / Terapi Hasrat Dokter Bagas / Bab 86 — Bagas VS Tania

Share

Bab 86 — Bagas VS Tania

Author: Dark_Pen
last update Last Updated: 2025-12-25 18:58:38

Tepat jam sepuluh menjelang siang, akhirnya Tania tiba di klinik tempat Bagas bekerja. Klinik ini bukan klinik yang dibuka untuk umum, bahkan hanya segelintir orang yang tahu jika klinik ini ada. Tania sendiri mendapat informasi mengenai klinik ini dari Yanuar waktu itu. Bagi Tania, klinik tak ubahnya klinik kecil pada umumnya, tidak sebanding dengan pekerjaan Yanuar di rumah sakit.

Dengan raut wajah yang menyiratkan kekesalan, Tania melangkah masuk ke dalam—mendorong pintu kaca dengan lagak bak putri raja, padahal ia hanyalah seonggok sampah yang tidak tahu diri.

Tania mengenakan blouse off-shoulder dan celana wide-leg. Setelan yang membuatnya tampil begitu menawan dan menggoda, dengan leher putih yang tampak memikat.

Di lobi, ia bertemu dengan Suster Mayra yang sudah kembali duduk di balik meja kerjanya.

Sambil menenteng tas kecil di tangannya, ia mendekat.

“Sus, dokter Bagasnya ada?”

Suster Mayra mengangkat wajahnya menatap Tania begitu lama. Lalu ia bangkit dan tersenyum ramah.

“M
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 98 — Wanita Pertama

    Bagas melepaskan pautan bibir mereka dengan perlahan, membiarkan napas Renata yang tersenggal memburu di depan wajahnya. Ia mengusap bibir bawah Renata yang sedikit basah dengan ibu jarinya, memberikan tatapan yang seolah menjanjikan surga sekaligus neraka di gedung barunya nanti."Aku tidak pernah membandingkanmu dengan siapa pun, Renata," bisik Bagas serak, memberikan kepastian palsu yang sangat dibutuhkan oleh ego wanita itu. "Tapi profesionalisme dan kesenangan pribadi adalah dua hal yang berbeda. Mayra adalah efisiensi, sedangkan kamu... kamu adalah candu."Renata tersenyum puas, harga dirinya yang sempat terusik kini kembali pulih karena sanjungan maut Bagas. "Pastikan saja kamu menepati janjimu tentang 'Kunci Malam Jumat' itu, Bagas. Karena jika tidak, kamu tahu seberapa jauh tanganku bisa menjangkaumu.""Aku pria yang menepati janji," sahut Bagas sambil berdiri tegak kembali, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. “Lagi pula kau pemilik saham terbesar di klinik batuku, mana m

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 97 — Klinik Baru

    Satu bulan berlalu. Bagas sudah selesai mendesain sebuah gedung yang ia beli melalui agen properti kenalan Renata. Gedung tiga lantai yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Secara tempat dan letak, bangunan ini benar-benar sangat strategis dan sesuai keinginan Bagas.Ia sudah mempersiapkan semuanya. Gedung itu siap pakai, tinggal Bagas mengisi beberapa staf untuk membantu dirinya di sana.Orang pertama yang terlintas di pikiran Bagas adalah Suster Mayra. Ia ingin suster cantik itu kembali menjadi asisten pribadinya namun kini di kliniknya sendiri.Bagas keluar dari bangunan tersebut, berdiri di depan menatap tempat yang sebentar lagi akan menjadi istana baru baginya untuk ‘menyembuhkan’ luka para wanita yang kesepian. Ia tersenyum tipis, menarik napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan energi dan semangat baru.Siang itu, Bagas langsung berangkat menuju ke klinik Re:Vive—klinik yang telah membuat sisi gelap dirinya terbuka dan ia cukup menikmatinya.Klinik itu masih terlihat se

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 96 — Renata Menyerah

    Bagas tersenyum tipis, dan ia langsung naik ke ranjang dan mulai menindih tubuh Renata. “Aahhh!” Renata mengerang, merasakan kejantanan Bagas menghimpit perutnya. Bagas mulai menjelajahi tubuh Renata dengan ciuman-ciuman panas dan gigitan kecil yang membuat Renata menjerit nikmat. Ia sengaja bermain di area-area yang ia tahu merupakan titik lemah wanita matang itu. Setiap kali Renata mencoba mengambil alih kendali dengan tangannya, Bagas mengunci tangan itu ke atas bantal, memaksanya untuk hanya bisa menerima. Bagas mulai mengeluarkan kejantanannya, melepas celana dalam dan menghempaskan ke sembarang arah. Ia membuka kaki Renata lebar, lalu mulai menggesekkan miliknya di area paling sensitif milik wanita itu. "Sshhh! Bagas! Kamu... Ahhh, kamu gila!" rintih Renata saat merasakan kejantanan Bagas yang sudah menegang sempurna mulai menekan area kewanitaannya yang sudah sangat basah. "Aku memang gila, Renata. Dan kamu yang membuatku seperti ini," balas Bagas. Tanpa basa-ba

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 95 — Perlawanan Gairah

    Ciuman Renata terasa seperti tuntutan mutlak, sebuah klaim kepemilikan yang tidak menerima penolakan. Bagas bisa merasakan lidah Renata yang menyapu rongga mulutnya dengan rakus, seolah wanita itu sedang menyedot seluruh energi dan keberadaannya. Namun, Bagas bukalan pria yang bisa ditaklukkan begitu saja, ia tahu di mana titik lemah wanita itu.Bagas tidak membalas dengan kelembutan. Ia justru mencengkeram rahang Renata, memaksa wanita itu sedikit mendongak sementara ia membalas lumatan itu dengan lebih beringas. Tangan Bagas yang lain melingkar di pinggang ramping Renata, menarik tubuh berbalut gaun beludru itu hingga menempel kasar pada tubuhnya."Ahhh... Bagas," desah Renata di sela cumbuan mereka. Ia bisa merasakan perubahan energi pada diri pria ini. Bagas tidak lagi sekedar patuh, ia mulai melawan, dan itu justru membuat Renata semakin bergairah.Bagas melepaskan pautan bibir mereka, namun tetap menjaga jarak yang sangat intim. Napas mereka yang memburu bersahutan di ruang tamu

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 94 — Sisi Lain Renata

    Beberapa hari telah berlalu. Nama dr. Bagaskara telah dipulihkan kembali oleh pihak rumah sakit. Izin prakteknya dikembalikan.“Terima kasih, dr. Bagas atas keluasan hatinya. Kami juga mohon maaf atas semua kesalahpahaman yang berlarut ini.”Bagas bangkit, menjabat tangan ketua dewan komite.“Terima kasih banyak, Pak. Saya rasa tidak ada yang perlu dimaafkan. Lagi pula semua kebenarannya telah terungkap.”Bagas tersenyum ramah, wibawanya di rumah sakit ini telah kembali seutuhnya.“Jadi atas tawaran kami pihak rumah sakit, harap Dokter pertimbangkan kembali. Kami sangat membutuhkan sosok psikolog muda berbakat seperti anda, Dok.”Direktur rumah sakit tersebut tersenyum hangat, ia menawarkan jabatan menjanjikan kepada Bagas. Bagas ditawarkan untuk menjadi kepala departemen psikologi yang akan membawahi semua psikolog klinis biasa di rumah sakit.“Terima kasih, Pak, atas tawarannya. Namun beri saya waktu,” jawab Bagas pelan.“Baik, Dok, tidak masalah.”Pertemuan singkat itu berjalan han

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 93 — Kemenangan yang Lengkap

    Bagas terus memacu ritme gerakannya di dalam mulut Helena, tangannya mencengkeram erat bahu wanita itu sebagai tumpuan. Suara napas Bagas yang berat dan geraman rendahnya memenuhi kamar, beradu dengan suara kecapan basah dari mulut Helena yang bekerja keras. Sensasi hangat dan jepitan dari bibir Helena benar-benar membuat Bagas berada di ambang batas pertahanannya."Cukup, sayang... kalau diteruskan, aku bisa selesai di sini," bisik Bagas serak sambil menarik perlahan kejantanannya keluar dari mulut Helena yang kini nampak basah dan sedikit memerah.Helena mendongak, matanya nampak sayu dan penuh damba. Ia seolah tidak ingin kehilangan momentum itu sedikit pun. Bagas kemudian berpindah posisi, ia menarik gaun satin Helena hingga benar-benar terlepas, menyisakan wanita itu dalam keadaan polos sempurna di bawah siraman cahaya bulan.Bagas segera melucuti celana dalamnya, membiarkan tubuh mereka bersentuhan kulit ke kulit tanpa penghalang. Ia merangkak naik, memposisikan dirinya di antar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status