登入Aku seorang wanita karir dengan jabatan cukup tinggi, tapi entah sejak kapan aku mulai menderita penyakit memalukan yang sulit dijelaskan. Saking parahnya, saat bekerja pun aku harus diam-diam ke kamar mandi hanya untuk memenuhi hasrat tubuhku. Aku tak tahan dengan ganguan ini, sampai akhirnya suamiku membawaku ke seorang dokter ternama. Katanya dokter itu punya cara pengobatan khusus. Namun, saat proses pengobatan berlangsung, tiba-tiba batang membara milik dokter itu malah menyentuh titik paling sensitif di tubuhku…
查看更多Aroma masakan perlahan memenuhi dapur, bercampur dengan uap hangat yang mengepul dari panci di atas kompor. Arumi bergerak cekatan, tangannya terampil mengolah bahan-bahan yang telah ia siapkan sejak tadi. Di luar, langit tampak kelabu, awan menggantung rendah seolah menahan hujan agar tak jatuh. Hari itu terasa lebih tenang dari biasanya, terlebih karena suaminya sedang tidak bekerja.
Leonard memang memutuskan untuk tinggal di rumah. Tidak ada jadwal kantor, tidak pula panggilan mendadak. Hari itu, mereka sepakat menghabiskan waktu bersama, seperti pasangan rumah tangga pada umumnya. Arumi menjalani perannya, membereskan rumah sambil sesekali melirik jam dinding, memastikan semuanya berjalan seperti biasa. Ia melangkah ke ruang tengah, meletakkan segelas kopi hangat di atas meja. "Mas, hari ini ada rencana mau keluar nggak?" tanyanya pelan. Leonard menggeleng sambil menyandarkan punggungnya. "Nggak deh. Kayaknya mau di rumah aja." Arumi mengangguk kecil, lalu bertanya lagi, "Kerja kamu memang libur atau ambil cuti sih?" Leonard menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Kenapa emangnya kalau aku ambil cuti?" Nada bicaranya naik tipis. "Kamu nggak suka lihat suamimu di rumah?" Dengan cepat Arumi menggeleng. "Nggak, Mas. Bukan gitu maksudnya. Aku cuma nanya." Ia tersenyum tipis. "Ya sudah, kalau memang mau cuti." Suasana kembali sunyi, hanya suara televisi yang menyala tanpa benar-benar mereka perhatikan. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar. "Mundur! Mundur dikit lagi!" Arumi refleks menoleh ke arah jendela. "Loh?" Ia bangkit dan berjalan mendekat. "Mas, kayaknya ada yang pindahan deh." Di sebelah rumah mereka, rumah yang cukup lama kosong sebuah mobil berhenti. Beberapa kardus dan perabot tampak diturunkan satu per satu. "Mau ada tetangga baru, ya?" gumam Arumi. Ia memberanikan diri keluar. Seorang wanita berambut sebahu tengah mengatur barang-barangnya. Arumi menghampiri dengan senyum ramah. "Mbak pindah ke sini?" tanyanya. Wanita itu menoleh dan mengangguk. "Iya, Mbak. Sekarang aku yang tinggal di rumah ini." "Wah, akhirnya ada yang nempatin juga." Arumi tersenyum lebih lebar. "Kenalin, aku Arumi." "Aku Indah," jawabnya hangat. "Mudah-mudahan kita bisa jadi tetangga yang akrab, ya, Mbak." "Amin," balas Indah singkat, tapi senyumnya terasa tulus. Sore menjelang ketika Arumi kembali duduk di sofa, jemarinya sibuk memainkan ponsel. Pikirannya masih memutar ulang kejadian hari itu tentang tetangga baru, tentang rumah yang kini tak lagi kosong. "Aku mau bantuin tetangga baru kita, Arumi." Ucapan Leonard membuatnya tersentak. Arumi menoleh cepat, menatap suaminya dengan raut heran. "Hah? Memangnya kamu udah kenal dekat sama tetangga baru kita, Mas?" Leonard mengambil jaketnya. "Emangnya harus kenal dekat dulu?" ucapnya ringan. "Arumi, mau bantu orang itu nggak perlu lihat kenal dekat atau nggaknya." Sebelum Arumi sempat menjawab, Leonard sudah melangkah pergi. Pintu terbuka, lalu tertutup kembali, meninggalkan sunyi yang tiba-tiba terasa berat. Arumi menghela napas panjang. Ia tahu, tak ada yang salah dengan membantu sesama. Namun entah kenapa, perasaannya tak sepenuhnya tenang. Pikirannya berkelana, mengaitkan kejadian ini dengan cerita-cerita yang akhir-akhir ini sering ia baca tentang perselingkuhan, tentang tetangga baru, tentang rumah tangga yang perlahan retak tanpa disadari. Ia mengusap wajahnya pelan. "Haduh… jauh-jauh deh pikiran jahatku," gumamnya, meski hatinya tak sepenuhnya yakin bisa menyingkirkan rasa itu begitu saja. **** "Mbak Arumi!" Arumi menoleh, "Eh, Ika!!" Arumi langsung memeluk tubuh wanita itu. Ika, adik kelasnya dahulu. "Mbak, aku kangen banget tau sama kamu." Ika tampak begitu senang bertemu dengan Arumi, "Wah Mbak, ini anak kamu?" "Iya Ika, namanya Cella. Masih 2 tahun umurnya, Minggu depan dia ulang tahun loh!" Ika tersenyum senang, "Wah! Aku usahakan datang deh Mbak, oh ya sebelah rumah Mbak ada tetangga baru ya?" "Ada, kenapa memangnya? Kamu kenal sama dia?" "Namanya Indah? Aku nggak terlalu dekat, tapi tau. Mbak saran aku hati-hati." Arumi mengerutkan keningnya, kali ini ia tampak lebih serius. "Hati-hati kenapa? Memangnya dia kenapa sih, jangan nakut-nakutin." "Bukan bermaksud nakut-nakutin Mbak, tapi dia punya riwayat yang nggak bener. Suaminya udah menikah, dia itu janda. Anaknya masih umur 5 tahun." "Indah aja pisah sama suaminya karena ketahuan selingkuh. Pokoknya harus hati-hati sama Indah Mbak." Arumi menelan ludahnya, ia semakin parno sekarang. "Gitu ya, terima kasih ya. Kalau gitu aku bakalan lebih hati-hati." Ika mengangguk, "Iya Mbak, aku pamit duluan!" ---- Malam tiba, Arumi tampak gelisah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu. Sementara Leonard bekum juga pulang, suaminya itu juga tak menjawab teleponnya sama sekali. "Haduh, ada apa ya?" guman Arumi, ia terus mondar-mandir. Ting! Sebuah pesan masuk, Arumi buru-buru melihatnya. Ternyata itu adalah pesan dari suaminya. Leonard: [Aku masih ada rapat, tidur aja duluan.] Arumi menghela napas panjang, disisi lain ia lega karena suaminya baik-baik saja. Namun ia juga terus merasa gelisah. "Mudah-mudahan semua baik-baik saja.." guman Arumi.Aku benar-benar disiksa habis-habisan hari itu.Begitu jam pulang kerja pukul lima sore, aku langsung bergegas ke kliniknya. Aku begitu haus akan tubuhnya, seperti orang kehilangan akal.Aku disiksa habis-habisan selama lebih dari tiga jam. Kali ini, aku merasa gairah yang membakar tubuhku mulai padam perlahan.Seperti biasa, dia hanya melemparkan sekotak tisu padaku untuk membersihkan tubuh.Lalu, dia menerima panggilan telepon dan keluar ruangan. Saat aku sudah berpakaian dan bersiap untuk pergi, tiba-tiba mataku tertuju pada layar komputer di samping.Tampaknya ada sebuah laporan medis di sana.Karena penglihatanku cukup tajam, aku langsung bisa melihat namaku tertulis di bagian atas.Entah dorongan dari mana, aku pun mendekat dan membacanya.Namun, begitu melihat isi dokumen itu, mataku membelalak dan tubuhku mulai gemetar hebat!Itu bukan laporan diagnosa, melainkan laporan eksperimen!Di dalamnya tertulis bahwa sebenarnya kondisi psikologisku tidak ada gangguan apapun dan semuany
Sepertinya pelampiasan emosiku kemarin sore benar-benar luar biasa, jadi sepanjang perjalanan pulang aku merasa lemas.Sesampainya di rumah, aku hanya asal pesan makanan lewat aplikasi, mandi sebentar lalu langsung tidur. Kali ini, aku bahkan tak merengek ke suami seperti biasanya.Saat bangun keesokan paginya, kulihat suamiku menatapku dengan ekspresi sangat puas.“Kelihatannya ini memang masalah psikologis. Pengobatan itu ada gunanya juga. Semalam kamu nggak kambuh sama sekali.”Ujar suamiku sambil menepuk-nepuk pundakku.“Sayang, aku tahu kamu mungkin agak malu, tapi semua ini demi kebaikanmu juga. Penyakit ini sudah benar-benar mengganggu kehidupan dan pekerjaan kita.”Aku dan suamiku bekerja di perusahaan yang sama.Beberapa bulan terakhir ini, aku benar-benar tersiksa karena penyakit ini. Banyak pekerjaan yang terbengkalai.Untungnya masih ada suamiku yang selalu jadi penopang. Kalau tidak, aku mungkin sudah ketahuan atasan sejak lama.Namun, tentu saja menangani dua beban kerja
Begitu langit mulai gelap, barulah dia melepas tubuhku dengan wajah puas.Padahal sudah menghabiskan siang penuh dengan aktivitas fisik, tapi Daniel tetap terlihat seperti tak terjadi apa-apa saat mengenakan kembali pakaiannya.Lalu meraih sekantong tisu basah di atas meja dan melemparkannya ke arahku.“Rapikan dirimu.”Kepalaku masih terasa melayang, belum sepenuhnya lepas dari sensasi luar biasa barusan. Tubuhku pun masih menyisakan getaran lembut sisa dari puncak kenikmatan itu.Jari-jariku terus gemetar, bahkan memegang tisu basah pun rasanya tak punya tenaga.Seluruh ruang praktek dipenuhi aroma yang membuat wajah memanas dan jantung berdebar. Aku bahkan bisa melihat beberapa bekas cairan yang belum mengering, menempel di sofa dan lantai.Itu semua adalah jejak dari kenikmatanku tadi.Sekitar lima enam menit kemudian, barulah aku bisa memaksakan diri untuk merapikan diriku.Meski pakaianku agak berantakan, setidaknya masih bisa dipakai. Tapi, stokingku sudah tak bisa diselamatkan
“Kamu… jangan….”Ukurannya jelas dua kali lipat lebih besar dari milik suamiku, membuat aku takut seketika.Rasa bersalah pada suamiku juga membuat pikiranku jadi sedikit kacau.Tanpa sadar aku ingin menjauh, tapi Daniel sama sekali tidak menghentikanku.Dia hanya berdiri tegak di sana, sepasang matanya sama sekali tak menunjukkan hasrat apa pun, hanya menatapku dengan dingin.“Aku nggak akan memaksamu, mau lanjut perawatan atau nggak, itu tergantung kamu sendiri.”Mau atau tidak?Tanpa sadar, aku merapatkan kedua kakiku dan merasakan bagian sensitifku seperti dipenuhi semut yang terus-menerus merayap!Aku sangat menginginkan sesuatu yang bisa menenangkan perasaan itu.Dan benda itu tepat ada di depanku….Ukurannya bahkan lebih besar dari tongkat peri yang biasa kupakai!Aku merasa seolah seluruh cairan dalam tubuhku semakin terkuras.Dalam sekejap, tenggorokanku terasa kering. Sementara, mataku tak bisa lepas dari tempat yang memancarkan panas itu.Tak apa-apa, ini hanya pengobatan. D
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論