共有

3

作者: Angsa Kecil
last update 公開日: 2026-07-17 12:52:20

Di area depan kantor, Laras mulai panik saat mendapati tamu istimewanya datang.

“Selamat datang di Elvora Perfumery, Pak Bima,” sambut Laras seraya mempersilakan pria itu duduk di ruang tamu eksekutif. “Sebuah kehormatan Anda bersedia menyempatkan waktu.”

Bima mengibaskan tangannya singkat, menolak untuk duduk. “Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi. Saya mau lihat langsung lokasi pembuatan dan ruang laboratorium racik Anda.”

Laras mengangguk cepat. “Tentu, Pak. Mari saya antarkan.”

Mereka berdua berjalan bersisian menyusuri koridor berdinding kaca yang menghubungkan area kantor dengan laboratorium utama.

“Perfumer yang Anda cari sedang membuat formula baru, Pak,” tutur Laras di tengah langkah mereka. “Semoga racikannya kali ini bisa memenuhi ekspektasi Anda.”

Langkah Bima terhenti sejenak. Matanya memicing menatap pintu kaca laboratorium di depannya. “Bisa saya bertemu dengannya sekarang?”

“Tentu saja, Pak,” sahut Laras. Dia segera memberi isyarat tangan pada seseorang untuk memanggilnya.

Pintu kaca laboratorium bergeser terbuka secara otomatis.

Sesosok wanita melangkah keluar dari dalam ruangan. Tangannya bergerak melepas masker yang menutupi wajahnya. Dia sedang menyembunyikan detakan jantungnya yang cepat. Dia harus tampil biasa saja di depan suaminya.

Dengan lab coat putih yang terpasang pas di tubuhnya, wanita itu berjalan mendekat dengan langkah yang begitu anggun dan tenang.

Bima mematung seketika di tempatnya berdiri. Tatapannya terkunci, matanya melebar tak berkedip saat menatap paras cantik terpancar alami di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang secara tak wajar.

“Pak Bima, ini dia yang perfumer dari sampel yang kemarin saya kirimkan. Namanya Kiran, dia juga perfumer andalan di perusahaan kami,” ucap Laras mengenalkan wanita itu dengan bangga.

Megha mengangguk kecil, mengulas senyum tipis profesional. “Pak Bima, senang bisa bertemu dengan Anda.” Lalu, membuang napasnya lirih.

Sikap Megha begitu natural, seolah mereka berdua benar-benar dua orang asing yang baru pertama kali bertatap muka.

Tetapi Bima justru masih mematung. Pria itu menatap dalam-dalam setiap lekuk wajah wanita di depannya.

Suara itu ... terasa familiar di telinganya. Dan sorot mata wanita itu, dia seperti mengenalnya.

Tanpa sadar, Bima memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam. Seketika, aroma yang sangat halus dan khas menyergap indra penciumannya. Dosisnya begitu pas, sangat mirip dengan aroma unik yang terus membayanginya setiap malam.

Laras menatap heran pada Bima yang malah memejamkan mata, tapi dia memilih diam, tak berani menegur.

Di sisi lain, Megha meremas tautan tangannya di bawah. Jantungnya berdegup cepat. ‘Apa dia mengenaliku? Sebagai istri atau sebagai wanita yang menemaninya di malam itu?’ batinnya cemas, menahan napas sesekali.

Bima perlahan membuka matanya kembali. Tatapannya kemudian jatuh pada nama yang tersemat pada coat lab wanita itu.

“Kamu yang membuatnya? Aku mau lihat langsung caramu meracik. Dan apa sampel aroma lain pesananku sudah kamu siapkan?” tanya Bima, dengan mempertahankan wajah tenang dan datarnya.

‘Dia sama sekali tak mengenaliku. Ah, kamu terlalu banyak berharap, Megha. Dia saja tak mau menatapmu selama ini, mana paham dengan wajahmu, jangan berharap dia mengenalimu sebagai istri,’ batin Megha, ada sebersit rasa kecewa di hatinya.

Megha mengendalikan napasnya sedikit berat, berusaha menetralkan rasa gugup akibat tatapan intens Bima. “Sudah, Pak. Semua sampel permintaan Anda sudah siap di dalam.”

Merasakan atmosfer di sekitar mendadak berubah tegang, Laras berdehem pelan. “Ehm, kalau begitu silakan masuk ke area laboratorium, Pak.”

Sesuai standar operasional laboratorium, Laras menyerahkan satu set coat lab steril disposable dan penutup sepatu kepada Bima. Tanpa keberatan, pria itu memakainya.

Begitu pintu kaca laboratorium bergeser memisah area luar, Bima menghentikan langkahnya. Dia menoleh pada Laras.

“Bu Laras, Anda bisa tinggalkan kami berdua saja disini. Saya ingin berdiskusi secara privat mengenai kebutuhan parfum hotel saya langsung dengan perfumer Anda.”

Mata Megha menegang. ‘Kenapa mau berdua saja? Aturan macam apa itu?’ batinnya, tambah gugup.

Laras tertegun sejenak, tapi segera mengangguk. “Baik, Pak Bima. Jika butuh sesuatu, saya ada di luar.”

Pintu kaca tertutup otomatis.

Hening sesaat.

Bima menatap wanita itu dengan senyum tertahan. “Bisa kita langsung mulai?”

“Bisa, Pak.” Megha lalu berjalan lebih dulu menuju meja formulasi yang dipenuhi puluhan botol penetes kaca berlabel.

Tangannya yang sedikit gemetar mengambil sebuah kertas uji parfum.

“Ini tiga variasi aroma parfum baru, sudah disesuaikan dengan deskripsi yang Anda minta, Pak,” ucap Megha seprofesional mungkin, menyodorkan paper test itu tanpa berani menatap langsung mata Bima.

Bima tidak segera mengambil kertas itu. Pria itu justru melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma tubuh Megha menguasai indranya sepenuhnya.

“Kiran ....” Bima memanggil pelan. “Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Maaf, Pak. Saya tidak paham dengan apa yang dikatakan Anda.” Megha berusaha sekuat tenaga menjaga kestabilan suaranya.

Megha mengalihkan pandangannya, kembali menatap jajaran botol ekstrak di hadapannya demi menghindari tatapan tajam Bima.

Tetapi, Bima justru memajukan wajahnya ke arah leher Megha sambil memejamkan mata, dan mengendusnya dalam-dalam.

Sensasi hangat dari napas pria itu yang menyapu kulit lehernya membuat Megha tersentak. Rasanya kurang nyaman. Megha dengan cepat bergeser satu langkah ke samping.

“Ma-maaf, Pak, sepertinya Anda berdiri terlalu dekat.” Megha mencoba memasang benteng pertahanan. Meski dia pernah melewati malam bersama, tapi bukan berarti sekarang harus menerima perlakuan seperti itu. Apalagi Bima sama sekali tak mengenalnya dalam sekali lihat. Dan ini di tempat umum!

Bima menggeram dalam hati. Baru saja dia hendak mengeruk aroma yang begitu menenangkan itu, wanita ini justru memangkasnya. “Sayangnya, aku tidak pernah suka menjaga jarak dengan hal yang menarik di mataku.”

Pria itu tak peduli dengan batasan-batasan seperti itu. Sifat dasarnya yang arogan dan dominan membuat pikiran untuk menjaga jarak sama sekali tak terlintas di kepalanya.

Bima melangkah lagi, mengikis jarak hingga tubuhnya hampir menempel dengan Megha. “Aku mau aroma parfum ini,” bisiknya, kembali memajukan wajah dan menghirup aroma di sekitar leher wanita itu tanpa ragu.

‘Apa yang sebenarnya dia lakukan? Atau ini memang kelakuannya yang asli? Apa dia selalu seperti ini dengan banyak wanita? Menggunakan alibi apa pun untuk bersikap mesum seperti ini? Akh, bodoh kamu Megha, kamu sudah menyerahkan keperawananmu pada orang yang salah! Meskipun suamimu sendiri,’ batin wanita itu, geram sendiri dan menyesal.

Punggung Megha merinding hebat. Sikap aneh Bima benar-benar membingungkan dan membuatnya canggung. Di lorong sebelah laboratorium ini masih ada perfumer lain yang beraktivitas. Kalau ada yang tidak sengaja melihat interaksi ambigu itu, Megha tak bisa membayangkannya.

Megha kembali bergeser menjauh sambil menahan napasnya yang tak beraturan. “Silakan katakan Anda mau sampel yang mana, Pak. Dan tolong jangan melakukan tindakan yang bisa membuat orang lain salah paham.”

Bima tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Megha. Tebakannya soal aroma parfum di tubuh wanita ini sama sekali tidak salah. Sensasinya persis seperti malam itu.

Lebih dari itu, sebuah kejutan lain juga dia temukan, saat menghirupnya, secara instan membuat saraf-sarafnya yang tegang mendadak relaks.

“Aku mau aroma di tubuhmu,” ucap Bima pelan menekan katanya.

Mata Megha membelalak, lalu memasang mode waspada. Dia makin yakin dengan pikirannya kalau suaminya ini sangat mesum dan suka menggoda banyak wanita. Bisa dibilang ini pertemuan pertamanya secara formal sebagai orang asing, tapi Bima sudah berani bersikap seperti itu padanya.

“Maksud Anda apa, Pak? Tolong jangan bersikap seperti ini, saya wanita baik-baik.”

Tanpa peringatan, Bima menyambar pergelangan tangan Megha dan menariknya sedikit lebih dekat. Lalu, terkekeh dan tersenyum miring. “Aku mau aroma parfum yang ada di tubuhmu. Di mana kamu beli parfum ini? Atau kamu membuatnya sendiri?”

Megha terkejut setengah mati. Dia berusaha menarik lengannya kembali, tapi cengkeraman pria itu begitu kuat. “Pak, tolong jangan seperti ini!” Matanya membelalak tegang, napasnya berat gugup.

“Cepat jawab!” pekik Bima dengan napas yang mulai memburu, rasa penasaran kian memuncak. “Aroma parfum ini buatan siapa? Dan siapa saja yang memakainya? Katakan padaku!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   5

    Bu Laras tersenyum penuh arti, dengan binar mata jahil. “Pak Bima itu terkenal dingin, tapi punya sikap yang beda banget sama kamu. Kelihatan sekali dia tertarik. Anehnya lagi, langsung menyetujui kerja sama kita tanpa banyak drama.”Dingin sama wanita? Tawa Megha hampir meledak mendengarnya. ‘Yang ada dia mesum,’ batinnya.Megha mencoba mengatur napasnya. “Nggak ada apa-apa, Bu. Saya sama sekali tidak ada hubungan khusus dengannya. Siapalah saya bisa kenapa sama Pak Bima.” Dia memaksakan senyum tipis kaku.Bu Laras menyenggol lengan Megha pelan sembari terkekeh tipis. “Nggak apa-apa kalaupun ada, Kiran. Kabarnya Pak Bima itu sedang proses cerai dengan istrinya, sekretarisnya sendiri yang cerita.”Megha menghela napas panjang, menatap atasannya itu heran. “Bu Laras ini suka sekali mendengarkan gosip. Saya beneran tidak ada hubungan apa pun dengan Pak Bima. Justru saya mau minta tolong sama Ibu.”Bu Laras menaikkan dua alisnya, memajukan kepala sedikit. “Minta tolong apa? Mau Ibu comb

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   4

    Megha meringis saat cengkeraman di pergelangan tangannya makin menekan. “Lepaskan dulu tangan saya, Pak. Ini sakit.”Bima membuang napas beratnya, kasar, dan berusaha mengontrol emosi yang bergolak di dadanya. Perlahan, dia mengendurkan dan melepaskan pegangan tangannya.Dia merutuki diri yang tak bisa menahan penasarannya.Lalu, Megha mengusap pergelangan tangannya yang memerah, sambil menarik napas panjang untuk menata suaranya. “Kalau untuk aroma parfum yang ini, maaf, saya tidak bisa menjualnya. Ini aroma parfum pertama yang berhasil saya racik dengan bantuan mentor saya. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri dan beliau untuk tidak mengkomersilkan resep ini.”Mata Bima memicing tajam. Rasa penasarannya kian membumbung tinggi. “Jadi, cuma kamu yang pakai aroma parfum ini?”Megha mengangguk kecil, perasannya makin tak enak. Tetapi, dia sama sekali tidak paham dengan semua sikap itu.Bima kembali memangkas jarak di antara mereka, dengan tatapan intens.Megha yang tak nyaman refl

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   3

    Di area depan kantor, Laras mulai panik saat mendapati tamu istimewanya datang.“Selamat datang di Elvora Perfumery, Pak Bima,” sambut Laras seraya mempersilakan pria itu duduk di ruang tamu eksekutif. “Sebuah kehormatan Anda bersedia menyempatkan waktu.”Bima mengibaskan tangannya singkat, menolak untuk duduk. “Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi. Saya mau lihat langsung lokasi pembuatan dan ruang laboratorium racik Anda.”Laras mengangguk cepat. “Tentu, Pak. Mari saya antarkan.”Mereka berdua berjalan bersisian menyusuri koridor berdinding kaca yang menghubungkan area kantor dengan laboratorium utama.“Perfumer yang Anda cari sedang membuat formula baru, Pak,” tutur Laras di tengah langkah mereka. “Semoga racikannya kali ini bisa memenuhi ekspektasi Anda.”Langkah Bima terhenti sejenak. Matanya memicing menatap pintu kaca laboratorium di depannya. “Bisa saya bertemu dengannya sekarang?”“Tentu saja, Pak,” sahut Laras. Dia segera memberi isyarat tangan pada seseorang untuk

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   2

    Di kamar hotel, Bima mulai terusik kemudian mengerjap. Pria itu meraba-raba sisi ranjangnya.Kosong.Lalu matanya terbuka. Pelan Bima duduk sambil mengedar sisi ruang dan mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. “Sial ….” Bima memijat pelipisnya karena pening. Otaknya blank dan merasa memori jangka pendeknya kacau. Lalu, seketika matanya membeliak tajam saat menyibak selimut. Darah perawan. Wanita yang tidur dengannya ternyata masih perawan.“Argh!” Bima mengusap wajah dan menyugar kasar rambutnya. Dadanya naik turun dan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.Lalu, potongan-potongan puzzle kejadian semalam mulai muncul dan terangkai. Dia ingat setelah keluar dari kafe dalam hotel itu tubuhnya terasa panas, lalu ada seorang wanita yang menuntunnya. Setelah itu, dia menarik wanita itu ke atas ranjangnya.Darah Bima mendesir saat ingatan rasa semalam kembali terasa kuat. ‘Bima ….’ Suara wanita itu terdengar samar-samar dalam ingatan Bima.“Siapa wanita itu?”Bima sama se

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   1

    “Akhhh ....”Megha meringis saat merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Dia hendak bergerak, tapi tertahan sebuah lengan kekar yang melilit pinggangnya.Dia tak menyangka kalau semalam raganya sudah mengkhianati logikanya.Di kamar temaram, dua insan yang terikat pernikahan dingin selama hampir dua tahun itu, semalam justru hanyut dalam gelombang panas.Semalam, Megha datang ke hotel karena urusan pekerjaan. Namun, saat di koridor lantai dua puluh, dia melihat Bima sedang berjalan terhuyung. Bima, suami yang bahkan tak pernah menemuinya setelah hari pernikahan. Niat hati ingin membantu, justru dia ditarik ke atas ranjang.Kini, Bima masih tertidur pulas sambil memeluknya, dan Megha memberanikan diri menatap wajah tegas suaminya itu dalam jarak dekat. Jarinya terulur ragu, mengusap pelan rahang tegas suaminya.Meski dalam kondisi terlelap, tapi kesan dominan dan aura dingin pria itu tetap terpancar kuat. Dan selama pernikahan, baru kali ini Megha bisa menyentuh suaminya.‘Apa kamu aka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status