로그인Kayra, kocak ^^
82 Sepasang manusia duduk berdampingan di bulatan besi yang turun perlahan dari langit-langit ballroom. Celana panjang ungu mengilat berumbai yang mereka kenakan, berkibar seiring dengan gerakan bulatan besi yang terus berputar pelan, hingga sosok keduanya menghadap penonton. Harvitha bersorak kala mengenali kedua akrobaters, yakni Alvaro dan Asmiratih. Atalaric juga ikut berteriak sambil bertepuk tangan guna menyemangati kedua rekannya di atas.Setelah putaran besi terhenti, Asmiratih mengulurkan tangan kanannya yang langsung dipegangi Alvaro. Asmiratih bergeser ke kanan, lalu melepaskan tangan kiri dari besi, dan beralih memegangi karet yang diulurkan Alvato. Setelah yakin pegangannya kuat, Asmiratih berpindah ke depan Alvaro, dan menginjak kedua kaki pria itu yang sengaja ditekuk ke atas, guna menyangga kedua kaki perempuan berbaju ungu campur silver. Asmiratih melepaskan tangan kanannya dari pegangan Alvaro. Perempuan bermata besar itu melengkungkan badan ke belakang, sambil
81"Abi! Jangan joget-joget mulu! Urus kembar tilu!" pekik seseorang yang muncul dari pintu kiri sambil menggendong Zharufa dan Zhani. Sedangkan Zhardan digendong di punggung, menggunakan kain elastis. Gelakak penonton mengencang kala mengenali orang tersebut adalah Lazuardi, yang kembali berdandan sebagai separuh perempuan. Harvitha tertawa kencang, sebelum turun dari panggung bersama Amelina dan Fairly. Ketiganya berpindah duduk ke deretan kursi terdepan, lalu mereka meneruskan menonton pertunjukan tersebut. "Bun, kenapa bawa kiddos ke sini?" tanya Zikria, sembari berusaha menahan tawanya yang nyaris keluar. "Bunda mau hang out. Anak-anak, Abi yang urus," balas Lazuardi, sebelum menurunkan kedua bocah ke lantai. Kemudian dia berjongkok dan melepaskan kain elastis, supaya Zhardan bisa turun dan bergabung dengan kedua adiknya, yang tengah memeluk kaki sang abi. "Abi lagi kerja, Bun," kilah Zikria. "Jangan kerja mulu! Semua istri juga harus diperhatikan." "Semua? Istri Abi cuma B
80Ballroom Hotel Janitra siang itu kembali dipenuhi pengunjung. Bila saat akad tadi pagi tamunya hanya ratusan orang, pada resepsi tersebut jumlah tamunya membengkak hingga 1500 orang. Pebisnis senior yang datang bersama keluarga, disambut pasangan Ezhar dan Rustina, Gamal dan Darnila, serta kedua Paman dan Bibi Harvitha, yang bertugas sebagai penyambut tamu. Sementara semua bos aliansi menjadi tanggung jawab Bryan, Sekar, Tohpati, Sherina, Imran, Maudy, Damsaz, Kyle, Nirpataka dan Zinnia. Utari yang masih dalam proses pemulihan, duduk menyandar di sofa khusus untuknya di ruang VIP 2, bersama keluarga besar kedua mempelai. Naysila menemani Utari, sembari mengawasi semua anak dan keponakannya. Fikri yang kembali bertugas sebagai MC bersama Rinjani, melakukan sesi tanya jawab dengan penonton. Kedua pembawa acara juga melemparkan candaan pada kedua mempelai di pelaminan, yang memanggapinya dengan senyuman. "Bang, seperti apa pertunjukan kali ini? Apakah sama dengan resepsi Mas Heru
79Sabtu pagi, ballroom Hotel Janitra telah dipenuhi banyak orang yang mengenakan seragam sama warna, yakni cokelat muda buat laki-laki, dan peach untuk perempuannya. Suara Zufair dan Shaqueena memenuhi area. Kedua MC itu menyebutkan susunan acara, sebelum mempersilakan Hasni dan Heru memberikan pidato singkat, guna mewakili keluarga masing-masing. Setelahnya, acara akad pun dimulai. Atalaric dan Harvitha tampak serius mendengarkan penuturan penghulu. Kemudian Atalaric dan Hasni diminta melakukan latihan. Tidak berselang lama. Acara akad yang sebenarnya pun dimulai. Hasni melafazkan kalimat ijab yang dibalas Atalaric dengan ucapan kabul yang tegas, dan dalam satu tarikan napas. Penghulu menanyakan keabsahannya pada kedua saksi, yakni Rahmad (Kakak Azizah), dan Gamal. Setelahnya, sang penghulu membaca doa yang diamini hadirin. Atalaric menghela napas panjang dan melepaskannya perlahan. Dadanya seketika tenang dan beban berat di pundaknya pun langsung lenyap. Atalaric mengusapkan ke
78Acara kajian dimulai tepat pukul 8 waktu setempat. Shihabuddin, bapaknya Zikria, memberikan tausiah yang diselipi candaan, hingga jemaahnya berulang kali tertawa. Tidak terkecuali dengan Harvitha. Perempuan berjilbab sage mengilat itu sibuk menyeka sudut matanya yang berair, akibat banyak tertawa. Gelakak Harvitha mengencang, ketika Lazuardi berlakon sebagai calon suaminya, dan menjawab semua pertanyaan Shihabuddin dengan serius."Di, kalau nggak tahu siapa calonnya Vitha, Bapak mikirnya kamu yang akan nikah," tutur Shihabuddin, seraya tersenyum. "Doain, Pak. Setelah ini, Bapak ngisi acara pengajian sebelum nikahanku," balas Lazuardi. "Aamin. Nanti Bapak doakan kamu 5 menit full di depan Ka'bah." "Bapak mau umrah?" "Ya. Minggu ketiga Januari. Bareng sama Emak OY, suaminya, dan beberapa abangmu." "Loh, Emak OY ikut juga?" tanya Deswin. "Aku sudah ngomong dari kemaren, Win," sela Zikria. "Makanya aku minta Zulfan ngurus dokumen tambahan buat Emak dan Babeh," lanjutnya. Deswin
77Matahari baru menyingsing dari ufuk timur, tetapi kediaman Wirya telah ramai orang yang sibuk mempersiapkan acara kajian, sekaligus siraman, yang akan berlangsung beberapa jam mendatang.Harvitha dan keluarga besarnya yang telah datang sejak kemarin malam, ditempatkan di rumah Marwa dan Zayd. Mereka juga ikut sibuk membersihkan seluruh area luas 6 rumah tersebut, yang menyatu di sepanjang halaman belakang. Pekarangan depan rumah Bayazid, Marwa dan Zayd, telah tertutupi tenda hijau campur putih. Begitu pula dengan halaman dekat kolam ikan, dan pekarangan hingga jalan blok depan rumah Wirya. Sebab jalan itu hanya dilalui penghuni satu blok dan rumah Wirya berada di ujung kanan, penghuni lain blok itu tidak keberatan harus memutar dan melintasi ujung kiri. Jam 6, Elma tiba di rumah Marwa. Dia mengajak Harvitha ke kamar tamu satu di rumah utama, yang menjadi tempat berkumpulnya semua panitia perempuan. Elma bergegas merias Harvitha. Kemudian sang calon pengantin bertukar pakaian di







