LOGINDeg....
Seketika jantung Lena terasa seperti berhenti berdetak, kata-kata sindiran dari suaminya berhasil melukai perasaannya sebagai seorang ibu. Tidak terima dengan ucapan Sky, yang menyebutnya tidak punya waktu untuk mengurus sang putra, meskipun itu sebuah kenyataan. Lena langsung melayangkan protes pada suaminya. "Maksud kamu ngomong seperti itu apa, Mas? Kamu mau meracuni pikiran Gala yang masih suci supaya dia membenci aku?" Tanya Lena dengan nada tinggi, berhasil membuat Gala ketakutan dan memeluk erat leher sang ayah. "Papa... Gala takut. Mama kenapa jadi marah-marah seperti monster?" Seru Gala dengan suara bergetar. Sky tampak memasang wajah datar saat menatap istrinya, kemudian menenangkan anaknya yang masih tampak ketakutan. "Gala tenang ya? jangan takut, Mama tidak marah sama Gala kok." Ucapnya dengan sangat lembut. Anak kecil itu mengangguk, kedua matanya berkaca-kaca menatap ibunya. Lena menghela nafas panjang, kemudian berjalan mendekati putranya. "Sayang... Maafkan Mama ya? Mama tidak bermaksud berbicara dengan nada tinggi, ini semua karna Papa yang sudah memancing amarah Mama." Ujar Lena, malah melemparkan kesalahannya pada sang suami. Lena mengambil alih Gala dari gendongan suaminya, Sky membiarkan hal itu terjadi. Ia justru malah senang karna akhirnya Gala berhasil mendapatkan perhatian dari ibunya yang super sibuk dan lebih mementingkan karir di bandingkan keluarga kecil mereka. Di dalam gendongan sang ibu, Gala mengangguk, kemudian berkata dengan suaranya yang lembut. "Mama jangan marah lagi ya, Gala takut lihat Mama marah. Gala sayang banget sama Mama." Lena tersenyum manis, kemudian menjawab. "Iya sayang... Mama nggak akan marah lagi kalau Papa nggak mancing kemarahan mama. Ya sudah, sekarang Gala lanjut lagi ya sarapan nya, kan mau berangkat ke sekolah." Kata Lena pada putranya. "Iya Ma," jawab Gala patuh. Tak mau membuat sang Mama kembali marah, ia tidak lagi meminta untuk di suapi makan pada Mamanya, meski sebenarnya masih sangat menginginkan hal itu. "Sus... tolong suapi Gala sarapan lagi, ya?" Suruh Lena pada pengasuh putranya. "Baik, Bu." Jawab Sus Rini. Gala langsung di ambil alih oleh pengasuhnya, sementara Lena duduk di salah satu kursi yang sedikit jauh dari suaminya untuk melakukan sarapan sebelum berangkat kerja. Sky hanya diam, memilih fokus pada sarapan nya. Beberapa saat kemudian, Lena membuka obrolan. Ia akan meminta izin pada suaminya untuk perjalanan dinas keluar kota. "Mas... Nanti siang aku berangkat ke Surabaya untuk perjalanan dinas. Disana aku sekitar lima hari, jadi kamu tolong jagain Gala dengan baik." Sky menatap tajam pada istrinya, kemudian menjawab. "Harus ya kamu pergi selama itu? Kamu tega ninggalin Gala? Udah lah sayang... sebaiknya kamu resign aja dari pekerjaan kamu itu, aku sangat mampu kok menafkahi kamu dan memenuhi semua kebutuhan kalian. Kamu cukup mengurus aku dan Gala saja, biar aku yang cari uang untuk kebutuhan kita." Ujar Sky, untuk kesekian kalinya ia meminta istrinya agar berhenti bekerja. Lena langsung melirik sinis pada Sky, tentu dia keberatan dengan permintaan suaminya. "Jangan mancing-mancing emosi ku lagi ya Mas, aku nggak mau berhenti bekerja. Bertahun-tahun aku menempuh pendidikan tinggi, tapi hanya berakhir menjadi ibu rumah tangga! sia-sia saja dong gelar sarjana yang sudah aku raih dengan susah payah selama ini?Jangan ngaco deh!" jawab Lena, sambil mendengus sebal. Sky menanggapi dengan santai. "Tidak ada yang sia-sia, semua ilmu yang kamu dapat bisa digunakan untuk mendidik Gala. Anak kita itu sangat membutuhkan sosok ibunya dalam proses perkembangan dan pertahanan nya, dan itu salah satu tanggung jawab kamu sebagai ibunya." Wajah Lena semakin cemberut, ia tidak suka dengan pemikiran suaminya yang di anggap kuno. "Nggak... pokoknya aku nggak setuju dengan permintaan kamu itu." Ujar Lena dengan nada ketus. Gala hanya diam menyaksikan obrolan kedua orang tuanya, ia sudah selesai sarapan. "Den Gala... sarapannya sudah selesai, ayo kita bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah." Ajak Sus Rini, pada Gala. "Iya Sus, tapi Gala mau sekolah nya di anterin Mama sebelum Mama pergi jauh." ucapnya dengan nada lirih, matanya menatap penuh harap pada sang Mama. Pengasuh nya itu hanya bisa diam, bingung mau menjawab apa. sementara itu, Sky hanya melirik penasaran pada istrinya, menunggu jawaban dari Lena untuk putranya. "Aduh sayang... Mama minta maaf ya? Mama tidak bisa nganterin Gala pergi ke sekolah, Gala berangkat bareng Sus aja ya? Atau bareng Papa saja, Mama udah buru-buru mau berangkat kerja soalnya." jawab Lena beralasan. Sky tersenyum kecut, istrinya itu benar-benar tidak perduli pada putra mereka. Gala menatap sendu pada ibunya, ekspresi nya begitu kecewa dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. "Nggak mau... Gala mau pergi ke sekolah nya di antar sama Mama. Gala tidak mau berangkat di antar Sus, Gala mau di antar sama Mama dan Papa kaya teman-teman Gala yang lainnya." Seru Gala dengan nada tinggi, anak kecil itu tidak bisa lagi membendung air matanya yang kini sudah membanjiri kedua pipinya. Melihat putranya yang sudah menangis, Lena pun akhirnya luluh. "Iya sayang... Mama yang akan antarin Gala ke sekolah, tapi Gala Janggan nagis lagi ya?" Seru Lena, dengan nada lembut. Seketika tangis bocah berusia lima tahun itu langsung berhenti, dengan kedua tangan kecil nya, Gala menghapus air mata nya sendiri. Wajahnya yang semula sendu kini berubah menjadi ceria, "hore.... akhirnya Gala bisa di antarkan ke sekolah sama Mama dan Papa, kaya teman-teman yang lain." Soraknya kegirangan. Melihat putranya bahagia, Sky pun tersenyum lebar. "Ya sudah, sekarang kita berangkat ke sekolah ya sayang." Ujar Sky, pada putranya. Gala mengangguk setuju, ia langsung berlari menuju ke sofa untuk mengambil tas yang sudah di siapkan pengasuhnya. ***** Saat ini Sky dan Lena berada di perjalanan untuk mengantar putranya Gala ke sekolah, anak laki-laki yang duduk di bangku penumpang bagian belakang itu tidak berhenti mengoceh, ia menceritakan tentang kegiatan nya selama di sekolah. Sky mendengarkan cerita putranya dengan antusias, sesekali menjawab dan bertanya pada Gala. Sementara Lena, ia hanya diam dan sibuk dengan ponsel di tangan nya. Lena sedang berbalas pesan dengan bosnya yang sudah tidak sabar menanti kehadiran sekretaris nya itu. Lena melirik tajam pada suaminya, kemudian berkata. "Bisa cepetan sedikit nggak sih Mas nyupir mobilnya? Aku udah di chat terus sama bos aku, pagi ini aku harus menyampaikan agenda untuk perjalanan bisnis ke Surabaya." Omel Lena, pada suaminya. Sky menjawab dengan suara datar, dia sudah benar-benar muak dengan sikap istrinya yang selalu mengutamakan pekerjaan di bandingkan kebahagiaan sang putra. "Kamu mau kita celaka kalau aku ngebut bawa mobilnya?" Lena memutar malas manik matanya, "Nggak usah lebay deh Mas. Udah nggak usah banyak omong, buruan tambah kecepatan mobilnya biar cepat sampai di sekolah Gala." Omel Lena, lagi. Di kursi belakang, Gala kembali memasang wajah sedih melihat kedua orang tuanya yang kembali terlihat perdebatan. "Mama sama Papa jangan marah-marah lagi, Gala jadi sedih." Celetuk anak kecil itu dengan suara sedikit bergetar. Lena mencebik kecil, tidak berniat untuk menenangkan putranya karna suasana hatinya sudah bad mood. Sementara Sky, ia langsung menoleh kebelakang sejenak untuk melihat keadaan Gala dan langsung berusaha untuk menenangkan putranya itu. "Gala jangan sedih ya? Mama dan Papa tidak marahan kok. Sebentar lagi kita akan sampai di sekolah Gala, ayo semangat tidak boleh sedih." Kata Sky menghibur putranya. Gala mengangguk kecil. Sky kembali menoleh ke depan, namun ia di kejutkan oleh orang tiba-tiba yang menyeberang jalan sembarangan tanpa melihat kanan kiri dulu. "Awas Mas....." Teriak Lena dengan suara kencang.Bu Asih berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah menantu dan anak nya dengan langkah tergesa dan wajah penuh kecemasan. Matanya yang mulai berkaca-kaca terus menatap ke arah pintu depan, berharap segera melihat sosok Lena, Senja dan menantunya Sky yang belum juga pulang sejak tadi malam. Setiap detik yang berlalu seperti menambah beban di dadanya, membuat napasnya terasa sesak."Ini mereka pada kemana sih? Kenapa sampai pagi ini belum pada pulang juga, di hubungi tidak bisa... semoga saja tidak terjadi sesuatu pada mereka semua," gumamnya pelan, suaranya nyaris tersendat oleh rasa takut yang menghimpit hatinya.Di sudut ruangan, pintu kamar terbuka perlahan. Gala, cucu kecilnya yang baru bangun tidur, melangkah keluar dengan mata yang masih sembab dan rambut acak-acakan. Bocah itu menatap sang nenek dengan wajah polos penuh tanya. "Nenek..." Sorak nya dengan nada ceria, tadi malam ia tidur bersama sang nenek. Gala berlari kecil menghampiri nenek nya, kemudian bertanya. "Nenek lagi
Sinar lembut matahari pagi menembus celah jendela kamar hotel, menari di atas tumpukan selimut yang kusut akibat aktivitas panas yang terjadi tadi malam. Senja terbaring di ranjang itu, tubuhnya terasa lelah dan remuk. Perlahan, kelopak matanya berkedip, berusaha menangkap cahaya yang menusuk retina. Kepala Senja berdenyut nyeri, seakan ada badai kecil yang mengamuk di dalamnya. "Ssttt... aduh, kenapa pusing banget?" gumamnya dengan suara serak, bibirnya meringis menahan sakit yang menggelayuti. Tiba-tiba, rasa perih yang tajam menjalar di area paling pribadi sampai membuatnya menahan napas, wajahnya berkerut kesakitan. Pandangan Senja mulai menjelajah sekeliling ruangan yang terasa asing, ia sadar jika ini bukan lah kamar nya. "I_ini aku ada dimana?" Gumamnya dalam hati. Memori samar-samar malam tadi mulai mengintip dari sudut pikirannya, terpecah menjadi potongan-potongan kabur dan desahan yang menggema di ruangan itu. Senja menekan pelipisnya, mencoba menyusun kembali kejadian
Lena sudah kembali menghampiri Ronald, senyumnya dipaksa mengembang saat menghampiri kekasihnya itu. "Maaf ya Mas, kamu nunggu lama. Tadi perut aku sakit banget," cicitnya beralasan.Ronald mengagguk kecil, bibir nya tersenyum tipis. "Nggak apa-apa sayang, yang penting sekarang kamu sudah kembali." Jawabnya dengan nada santai.Ronald menarik lembut tubuh Lena, membawa kekasih gelapnya itu dalam dekapannya. "Ayo kita lanjutkan dansanya," ajak Ronald. Lena langsung mengangguk setuju meski suasana hatinya saat ini tengah badmood setelah kejadian tadi.Ronald memeluk erat pinggang Lena, sesekali menciumi bibir wanita itu. Lena tidak menolak, namun tidak membalas juga seperti sebelumnya. Bayangan suaminya yang lebih membela Senja terus memenuhi pikirannya, membuat nya tampak kurang bergairah.Ronald dapat merasakan perubahan Lena, bukannya kecewa atau kesal... pria itu justru tersenyum tipis seolah-olah tengah menikmati permainan yang paling seru di dunia.Sky sudah menghabiskan jusnya, ia
Lena mengerang frustasi, ia semakin benci pada adiknya. Wanita itu menendang apa saja yang ada di dekatnya, melampiaskan kemarahan pada benda-benda di sekitarnya. "Dasar Senja brengsek..." Umpatnya pada sang adik. "Awas aja kamu nanti ya, aku akan memberi pelajaran supaya kamu tidak mengoda suamiku lagi. Kamu pikir Mas Sky, mau apa sama kamu yang hanya gadis kampung berpendidikan rendah." Lena sangat yakin jika suaminya tidak akan tergoda dengan adiknya yang di anggap biasa-biasa saja itu, menurut nya... levelnya jauh lebih tinggi di atas sang adik. Meski demikian, ia tetap tidak suka dengan situasi ini, menganggap jika suaminya hanya memanfaatkan Senja untuk membuatnya cemburu. Ronald bersembunyi mengawasi Lena, bibir nya tersenyum tipis melihat sekretaris nya itu marah-marah karna cemburu. "Kamu lucu juga ya Len, bisa-bisanya cemburu pada adik sendiri dan suamimu. Kalau di pikir... seharusnya suamimu lah yang cemburu karna kau lebih memilih menemani ku dari pada dia." Tiba-
Sky menggenggam tangan Senja dengan erat, seolah ingin melindungi dan menularkan rasa percaya diri pada gadis tersebut. Langkah mereka mantap, melewati para tamu undangan lain untuk menghampiri Pak Wijaya, sosok pria paruh baya dengan jas hitam rapi dan senyum ramah, tengah menerima tamu-tamu penting. Senja menatap Sky dengan mata yang berkilat, sedikit tegang dan gugup. "Santai aja Sen, jangan gugup. Ada aku di sebelah kamu, pria tampan yang akan melindungi kamu." Bisik Sky, dengan nada menggoda. Senja mencebik kecil, lalu berkata. "Jangan ngomong aneh-aneh lah Mas, bikin aku tambah nervous aja." Balas nya dengan nada sedikit ketus. Saat ini mereka sudah berdiri di hadapan Pak Wijaya, Sky mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak Wijaya. "Selamat malam, Pak Wijaya. Terima kasih atas undangannya, ini kehormatan besar bagi saya bisa hadir di acara anniversary perusahaan Bapak malam ini," ucap Sky dengan suara yang tegas namun hangat. Pak Wijaya membalas dengan senyu
Naura menarik napas dalam-dalam, menghirup banyak oksigen sebelum membuka pintu kamar dan bertemu dengan kakak iparnya, Sky."Semoga aja aku nggak malu-maluin Mas Sky. Bisa ngamuk tu Nenek sihir kalau sampai aku bikin malu suaminya." Gumam Senja lirih, kata Nenek sihir itu di peruntukan pada sang kakak, Lena.Ceklek...Senja membuka pintu kamarnya, ia melirik sekilas pada Kakak iparnya sebelum akhirnya menunduk malu.Di depannya, Sky di buat takjub dengan penampilan adik iparnya. Senja tampak sangat cantik dan seksi, melebihi kecantikan dan keseksian istrinya."Kamu udah siap?" Tanya Sky pada Senja, suaranya sedikit gugup. Di depannya, gadis itu mengangguk kecil sebagai jawaban."Ya udah... ayo kita berangkat sekarang, ini malah Minggu... takutnya jalanan macet." Sky melanjutkan kalimatnya."Ayo, Mas." Jawab Senja, singkat.Sky mengulurkan tangannya, Senja langsung menatap wajah kakak iparnya, seolah meminta penjelasan lanjut. "Gandeng tangan aku Sen, biar nggak canggung saat di pesta







