Share

Bab 3

Author: CAHAYA HATI
last update Last Updated: 2026-01-04 22:27:00

Deg....

Seketika jantung Lena terasa seperti berhenti berdetak, kata-kata sindiran dari suaminya berhasil melukai perasaannya sebagai seorang ibu. Tidak terima dengan ucapan Sky, yang menyebutnya tidak punya waktu untuk mengurus sang putra, meskipun itu sebuah kenyataan. Lena langsung melayangkan protes pada suaminya.

"Maksud kamu ngomong seperti itu apa, Mas? Kamu mau meracuni pikiran Gala yang masih muda suci supaya dia membenci aku?" Tanya Lena dengan nada tinggi, berhasil membuat Gala ketakutan lalu memeluk erat leher sang ayah.

"Papa... Gala takut. Mama kenapa jadi marah-marah seperti monster?" Seru Gala dengan suara bergetar.

Sky tampak memasang wajah datar saat menatap istrinya, kemudian menenangkan anaknya yang masih tampak ketakutan. "Gala tenang ya jangan takut, Mama tidak marah sama Gala kok." Ucapnya dengan sangat lembut.

Anak kecil itu mengangguk, kedua matanya berkaca-kaca menatap ibunya. Lena menghela nafas panjang, kemudian berjalan mendekati putranya.

"Sayang... Maafkan Mama ya? Mama tidak bermaksud berbicara dengan nada tinggi, ini semua karna Papa yang sudah memancing amarah Mama." Ujar Lena, malah melemparkan kesalahannya pada sang suami.

Lena mengambil alih Gala dari gendongan suaminya, Sky membiarkan hal itu terjadi. Ia justru malah senang karna akhirnya Gala berhasil mendapatkan perhatian dari ibunya yang super sibuk dan lebih mementingkan karir di bandingkan anak dan suaminya.

Di dalam gendongan sang ibu, Gala mengangguk, kemudian berkata dengan suaranya yang lembut. "Mama jangan marah lagi ya, Gala takut lihat Mama marah. Gala sayang banget sama Mama."

Lena tersenyum manis, kemudian menjawab. "Iya sayang... Mama nggak akan marah lagi kalau Papa nggak buat Mama marah. Ya udah, sekarang Gala lanjut lagi ya sarapan nya, kan mau berangkat ke sekolah." Kata Lena pada putranya.

"Iya Ma," jawab Gala patuh. Tak mau membuat sang Mama kembali marah, ia tidak lagi meminta untuk di suapi makan pada Mamanya, meski sebenarnya sangat menginginkan hal itu.

"Sus... tolong suapi Gala makan pagi ya?" Suruh Lena pada pengasuh putranya.

"Baik, Bu." Jawab Sus Rini.

Gala langsung di ambil alih oleh pengasuhnya, sementara Lena duduk di salah satu kursi untuk sarapan sebelum berangkat kerja.

Sky hanya diam, memilih fokus pada sarapan nya. Beberapa saat kemudian, Lena membuka obrolan. Ia akan meminta izin pada suaminya untuk perjalanan dinas keluar kota.

"Mas... Nanti siang aku berangkat ke Surabaya untuk perjalanan dinas. Disana aku sekitar lima hari, jadi kamu tolong jagain Gala dengan baik."

Sky menatap tajam pada istrinya, kemudian menjawab. "Harus ya kamu pergi selama itu? Kamu tega ninggalin Gala? Udah lah sayang... sebaiknya kamu resign aja dari pekerjaan kamu itu, aku mampu kok menafkahi kamu dan memenuhi semua kebutuhan kalian. Kamu cukup mengurus aku dan Gala saja, biar aku yang cari uang untuk kebutuhan kita." Seru Sky, untuk kesekian kalinya ia meminta istrinya untuk berhenti bekerja.

Lena langsung melirik sinis pada Sky. "Jangan mancing-mancing lagi ya Mas, aku nggak mau berhenti bekerja. Bertahun-tahun aku menempuh pendidikan tinggi tapi hanya berakhir menjadi ibu rumah tangga, sia-sia saja dong gelar yang sudah aku raih dengan susah payah selama ini?Jangan ngaco deh!" jawab Lena, sambil mendengus sebal.

Sky menanggapi dengan santai. "Tidak ada yang sia-sia, semua ilmu yang kamu dapat bisa untuk mendidik Gala. Anak kita itu sangat membutuhkan sosok ibunya dalam proses perkembangan, dan itu sudah tanggung jawab kamu."

Wajah Lena semakin cemberut, ia tidak suka dengan pemikiran suaminya yang di anggap kuno. "Nggak... pokoknya aku nggak setuju dengan permintaan kamu itu." Ujar Lena dengan nada ketus.

Gala hanya diam menyaksikan obrolan kedua orang tuanya, ia baru selesai sarapan. "Den Gala... sarapannya sudah selesai, ayo kita bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah." Ajak Sus Rini, pada Gala.

"Iya Sus, tapi Gala mau sekolah nya di anterin Mama sebelum Mama pergi jauh." ucapnya dengan nada lirih, matanya menatap penuh harap pada sang Mama.

Pengasuh nya itu hanya diam, bingung mau menjawab apa. sementara itu, Sky hanya melirik istrinya, menunggu jawaban dari Lena untuk putranya.

"Aduh sayang... Mama minta maaf ya? Mama tidak bisa nganterin Gala pergi ke sekolah, Gala berangkat bareng Sus aja ya? Atau bareng Papa saja, Mama udah buru-buru mau berangkat kerja soalnya." jawab Lena beralasan.

Sky tersenyum kecut, istrinya itu benar-benar tidak perduli pada putra mereka. Gala menatap sendu pada Mama nya, ekspresi nya begitu kecewa dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. "Nggak mau... Gala mau pergi ke sekolah nya di antara sama Mama. Gala tidak mau berangkat di antar Sus, Gala mau di antar sama Mama dan Papa kaya teman-teman Gala yang lainnya." Seru Gala dengan nada tinggi, anak kecil itu tidak bisa lagi membendung air matanya yang kini sudah membanjiri kedua pipinya.

Melihat putranya yang sudah menangis, Lena pun akhirnya luluh. "Iya sayang... Mama yang akan antarin Gala ke sekolah, tapi Gala Janggan nagis lagi ya?" Seru Lena, dengan nada lembut.

Seketika tangis bocah berusia lima tahun itu langsung berhenti, dengan kedua tangannya yang kecil menghapus air mata nya sendiri. Wajahnya yang semula sendu kini berubah menjadi ceria, "hore.... akhirnya Gala bisa di antarkan ke sekolah sama Mama dan Papa." Soraknya kegirangan.

Melihat putranya bahagia, Sky pun tersenyum lebar. "Ya sudah, sekarang kita berangkat ke sekolah ya sayang." Ujar Sky, pada putranya.

Gala mengangguk setuju, ia langsung berlari menuju ke sofa untuk mengambil tas yang sudah di siapkan pengasuhnya.

*****

Saat ini Sky dan Lena berada di perjalanan untuk mengantar putranya Gala ke sekolah, anak laki-laki yang duduk di bangku penumpang bagian belakang itu tidak berhenti mengoceh, ia menceritakan tentang kegiatan nya di sekolah.

Sky mendengarkan cerita putranya dengan antusias, sesekali menjawab dan bertanya pada Gala. Sementara Lena, ia hanya diam dan sibuk dengan ponsel di tangan nya. Lena sedang berbalas pesan dengan bosnya yang sudah tidak sabar menanti kehadiran sekretaris nya itu.

Lena melirik tajam pada suaminya, kemudian berkata. "Bisa cepetan sedikit nggak sih Mas nyupir nya? Aku udah di chat terus sama bos aku, pagi ini aku harus menyampaikan agenda untuk perjalanan bisnis ke Surabaya." Omel Lena, pada suaminya.

Sky menjawab dengan nada datar, dia sudah benar-benar muak dengan sikap istrinya yang selalu mengutamakan pekerjaan di bandingkan kebahagiaan sang putra. "Kamu mau kita celaka kalau aku ngebut bawa mobilnya?"

Lena memutar malas manik matanya, "Nggak usah lebay deh Mas. Udah nggak usah banyak omong, buruan bawa mobilnya biar cepat sampai di sekolah Gala." Omel Lena, lagi.

Di kursi belakang, Gala kembali memasang wajah sedih melihat kedua orang tuanya yang seperti sedang berdebat. "Mama dan Papa jangan marah-marah lagi, Gala jadi sedih." Celetuk anak kecil itu dengan polosnya.

Lena mencebik kecil, tidak berniat untuk menenangkan putranya karna suasana hatinya sedang bad mood. Sementara Sky, ia langsung menoleh kebelakang sejenak untuk melihat keadaan Gala dan menenangkan putranya itu. "Gala jangan sedih ya? Mama dan Papa tidak marahan kok. Sebentar lagi kita akan sampai di sekolah Gala, ayo semangat tidak boleh sedih." Kata Sky menghibur putranya.

Sky kembali menoleh ke depan, namun tiba-tiba ia di kejutkan dengan orang yang menyeberang jalan sembarangan. "Awas Mas....." Teriak Lena dengan suara kencang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab 5

    Sky baru selesai menyelesaikan urusannya dengan orang yang hampir saja di tabrak nya. Meski tidak sepenuhnya kesalahannya, Sky tetap meminta maaf dan memberikan uang kompensasi pada orang tersebut.Sky masuk kembali ke dalam mobil, ia merasa sedikit heran karna tidak melihat istrinya Lena, yang semula duduk di kursi penumpang sebelah kemudi. Sky pun menoleh ke belakang, hanya ada putra nya Gala, duduk sendirian di kursi penumpang bagian belakang."Mama kemana Gala? Kok kamu sendirian?" Tanya Sky, memasang wajah penasaran."Mama sudah berangkat ke kantor Pa, tadi waktu Papa turun dari mobil untuk melihat orang itu, bos Mama nelponin terus. Jadinya Mama berangkat ke kantor pakai taksi," jawab bocah berusia lima tahun itu jujur.Sky tampak sangat kesal dan kecewa, ia merasa semakin hari semakin tidak di hargai oleh istrinya. "Keterlaluan sekali kamu Lena, pergi begitu saja tanpa berpamitan pada ku. Semakin hari kamu semakin berubah, lebih memprioritaskan karir di bandingkan keluarga keci

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab 4

    Chit.... Bunyi suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal, untungnya Sky bisa mengerem mendadak hingga tidak terjadi kecelakaan. Semua orang yang ada di dalam mobil sudah tampak panik dan ketakutan, terutama Gala yang masih anak-anak. "Nyaris saja aku nabrak orang!" Gumam Sky lirih, sebelum turun dari mobil dan melihat orang yang hampir saja di tabrak nya, ia lebih dulu melihat kondisi putranya di bangku penumpang yang ada di belakang. "Gala baik-baik saja kan, Nak?" Tanya Sky, dengan nada lembut. Bocah berusia lima tahun itu langsung mengangguk. "Iya pa, Gala baik-baik saja. Papa hati-hati bawa mobilnya, ya?" "Iya, sayang. Maafin Papa ya sudah membuat Gala ketakutan, Papa janji akan lebih hati-hati lagi bawa mobilnya. Sekarang Gala sama Mama tunggu di mobil dulu ya sebentar, Papa mau mengecek orang yang tadi hampir kecelakaan." "Iya, Pa." Jawab Gala, patuh. Berbeda dengan respon Gala, Lena justru melarang suaminya untuk turun dari mobil. "Kamu ngapain sih Mas pake n

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab 3

    Deg.... Seketika jantung Lena terasa seperti berhenti berdetak, kata-kata sindiran dari suaminya berhasil melukai perasaannya sebagai seorang ibu. Tidak terima dengan ucapan Sky, yang menyebutnya tidak punya waktu untuk mengurus sang putra, meskipun itu sebuah kenyataan. Lena langsung melayangkan protes pada suaminya. "Maksud kamu ngomong seperti itu apa, Mas? Kamu mau meracuni pikiran Gala yang masih muda suci supaya dia membenci aku?" Tanya Lena dengan nada tinggi, berhasil membuat Gala ketakutan lalu memeluk erat leher sang ayah. "Papa... Gala takut. Mama kenapa jadi marah-marah seperti monster?" Seru Gala dengan suara bergetar. Sky tampak memasang wajah datar saat menatap istrinya, kemudian menenangkan anaknya yang masih tampak ketakutan. "Gala tenang ya jangan takut, Mama tidak marah sama Gala kok." Ucapnya dengan sangat lembut. Anak kecil itu mengangguk, kedua matanya berkaca-kaca menatap ibunya. Lena menghela nafas panjang, kemudian berjalan mendekati putranya. "S

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab2

    Tiba-tiba ponsel milik Lena, yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur berbunyi. Lena yang sudah memejamkan mata langsung kembali terbuka, dengan cekatan tangan nya meraih benda canggih itu dan mengecek siapa yang menghubunginya malam-malam. "Pak Ronald," gumam Lena dengan nada lirih, ternyata yang menghubungi nya adalah atasannya. Ia langsung melirik pada suaminya, Sky tampak hanya diam menatap penasaran pada sang istri. "Siapa yang menghubungi kamu malam-malam begini? Nggak usah di angkat telponnya, bukannya tadi kamu bilang lagi capek banget ya mau istirahat." Ujar Sky, dengan nada datar. Lena mencebik kecil, merasa jika suaminya sangat bawel. "Ini bos aku Mas, ya kali nggak aku angkat telponnya." Jawab Lena, dengan nada ketus. "Ya tapi ini kan sudah malam, bukan waktunya jam kerja juga." Lanjut Sky, membantah jawaban istrinya. Bukanya nurut apa yang dikatakan suaminya, Lena malah melengos dan beranjak dari atas tempat tidur menuju pintu keluar kamar untuk mengangka

  • Tergoda Pesona Adik Ipar   Bab 1

    Pukul sembilan malam, Lena baru pulang dari kantor. Ia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah sepi karna putra semata wayang nya pasti sudah tidur. "Apa Gala sudah tidur, Bi?" tanya Lena pada pembantunya yang membukakan pintu. "Sudah, nyonya." Jawab Bi Atun dengan suara lembut. Tangan nya sibuk mengunci pintu, memastikan pintu sudah benar-benar terkunci dengan sempurna. "Kalau Mas Sky? Apa dia juga sudah tidur?" Tanya Lena, lagi. "Kalau tuan saya tidak tau nyonya, tapi sepertinya beliau sudah berada di dalam kamar nya. Tadi setelah selesai makan malam dan menidurkan Den Gala, tuan langsung masuk ke dalam kamar." Jawab Bi Atun menjelaskan. Lena mengangguk kecil, ia lngsung meninggalkan Bi Atun begitu saja, berjalan menuju ke kamarnya. Sebelum Lena masuk ke dalam kamar, Bi Atun lebih dulu bertanya. "Nyonya... apa nyonya mau makan malam biar saya siapkan? Atau nyonya mau saya buatin minuman hangat?" tanyanya pada sang majikan, sudah jadi kebiasaan Bi Atu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status