Masuk
Pukul sembilan malam, Lena baru pulang dari kantor. Ia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah sepi karna putra semata wayang nya pasti sudah tidur.
"Apa Gala sudah tidur, Bi?" tanya Lena pada pembantunya yang membukakan pintu. "Sudah, nyonya." Jawab Bi Atun dengan suara lembut. Tangan nya sibuk mengunci pintu, memastikan pintu sudah benar-benar terkunci dengan sempurna. "Kalau Mas Sky? Apa dia juga sudah tidur?" Tanya Lena, lagi. "Kalau tuan saya tidak tau nyonya, tapi sepertinya beliau sudah berada di dalam kamar nya. Tadi setelah selesai makan malam dan menidurkan Den Gala, tuan langsung masuk ke dalam kamar." Jawab Bi Atun menjelaskan. Lena mengangguk kecil, ia lngsung meninggalkan Bi Atun begitu saja, berjalan menuju ke kamarnya. Sebelum Lena masuk ke dalam kamar, Bi Atun lebih dulu bertanya. "Nyonya... apa nyonya mau makan malam biar saya siapkan? Atau nyonya mau saya buatin minuman hangat?" tanyanya pada sang majikan, sudah jadi kebiasaan Bi Atun, setiap sang majikan baru pulang dari luar pasti menawarkan makanan atau minuman. "Tidak perlu Bi, saya sudah makan malam di luar tadi. Sekarang saya mau langsung istirahat," jawab Lena. Bi Atun mengangguk kecil, membiarkan majikanya melanjutkan langkahnya menuju ke dalam kamar. "Lembur lagi?" Tanya Sky, saat sang istri baru membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Ia tengah duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di kepala ranjang, di pangkunya ada laptop yang masih menyala. Sky sedang mengecek ulang laporan yang di kirim asisten pribadinya, sengaja sambil menunggu kepulangan sang istri karna ingin mengajak bermesraan, apa lagi sekarang malam Jumat, waktunya menjalani sunah Rasull. "Iya, Mas." Jawab Lena, sambil mengulas senyum tipis. Dia melangkah mendekati lemari kaca berisi koleksi tas branded miliknya, Lena meletakkan kembali tas yang baru saja di pakainya kedalam tempatnya semula. Sky hanya memperhatikan apa yang dilakukan istrinya dari atas tempat tidur. "Kamu kok belum tidur Mas, lagi ngerjain apa sih?" Tanya Lena, tanpa menoleh pada suaminya. Ia sedang sibuk melepaskan semua asesoris yang di pakai nya. "Belum... aku lagi ngecek ulang laporan sambil nungguin kamu pulang." Jawab Sky, jujur. Lena mengangguk kecil sebagai respon. "Aku mau mandi dulu ya, Mas. Udah gerah banget soalnya setelah seharian beraktivitas." Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Lena mengambil handuk dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. ***** Di dalam kamar mandi, Rena melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia masuk ke dalam bath tub yang sudah berisi air hangat dan sabun untuk berendam merilekskan tubuhnya yang terasa lelah. "Aahhh... lelahnya," suara desahan kecil lolos dari mulut Lena saat merasakan air hangat menyentuh kulitnya. Lena memejamkan mata, mengingat kembali momen panas yang tadi dia lakukan bersama atasannya di kantor sebelum pulang kerumah. Ya, di belakang suaminya ia menjalin hubungan terlarang dengan bosnya. Lena bekerja di salah satu perusahaan ternama sebagai sekretaris. Awal bekerja semua berjalan normal dan profesional, namun semenjak mereka sering bepergian berdua keluar kota untuk urusan pekerjaan, hubungan terlarang itu pun pelan-pelan mulai terjalin. tok... tok... tok... Lena yang tengah memejamkan mata terkejut mendengar suara ketukan pintu, ia berdecak kesal karna ada yang menganggu aktivitas nya, ia yakin jika sang suami lah pelakunya. "Ck, ngapain sih Mas Sky pake acara ketuk pintu segala? ganggu kegiatan aku aja," sungut Lena merasa tak senang. "Sayang... kamu lama banget sih mandi nya. Buruan dong... udah malam nggak baik mandi terlalu lama." Seru Sky dari depan pintu kamar mandi. "Iya, Mas! Kamu bawel bnget sih, ini bentar lagi juga udah kelar." Sahut Lena, seraya misuh-misuh. Lena segera menyelesaikan aktivitas mandi nya, menyambar handuk yang tergantung di atasnya dan mengelap tubuhnya yang basah. Ceklek... Lena membuka pintu kamar mandi, wajahnya tampak sedikit kesal. "Kamu ngapain sih Mas gangguin aku? orang lagi asik berendam juga." Sungut nya, menatap sinis pada Sky. Sky hanya tersenyum manis, kemudian menarik lembut tangan istrinya membawa Lena untuk duduk di tepi ranjang. "Sayang... ini kan malam Jumat, waktunya kita ibadah enak." Kata Sky, sambil tersenyum nakal. Lena memutar malas manik matanya, dia sedang tidak ingin melakukan hubungan intim dengan suaminya. Toh dia juga baru saja melakukan itu sebelum pulang dari kantor dengan atasannya, tentu saja ia akan menolak ajakan dari suaminya. "Aku capek banget Mas, mau langsung istirahat karna besok pagi aku harus datang lebih cepat ke kantor. Lain kali aja ya?" Ujar Lena, tanpa memikirkan perasaan suaminya yang pasti kecewa. Tanpa merasa bersalah, Lena beranjak dari tepi ranjang menuju walk in closet untuk berganti pakaian tidur. Hanya butuh waktu beberapa menit, ia akhirnya keluar dari ruangan itu sudah mengenakan piyama. Lena langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, tidak menghiraukan wajah kecewa dari suaminya yang sudah rela menunda waktu istirahatnya demi menunggu sang istri pulang untuk di ajak bercinta. "Tidur Mas, udah malam ini." Seru Lena, sambil memejamkan mata. Sky menghela nafas panjang, mau tidak mau dia harus menelan rasa kecewa karna penolakan sang istri. Kalau Sky mau, sebenarnya bisa saja dia memaksa istri nya, namun dia bukan tipe suami egois. Tiba-tiba Sky teringat pada putranya yang sejak tadi merindukan mamanya, ia pun berkata pada Lena. "Sayang... kamu nggak mau ngelihat Gala dulu di kamarnya? Dia itu kangen banget lho sama mamanya, minimal kamu cium ataupun peluk Gala sebentar." Lena mendengus kesal, menurut nya suaminya terlalu bawel. "Buat apa? Gala juga udah tidur kan, jadi ngapain aku lihat dia, yang ada aku bakalan gangguin dia tidur. Udahlah Mas besok pagi aja kan bisa, aku tu capek banget tau, nggak pengertian banget sih kamu jadi suami." Semprot Lena, dengan nada ketus. Dengan terpaksa, Sky hanya bisa diam lalu ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri, tangannya terulur untuk memeluk pinggang ramping istrinya. Tanpa di duga, Lena langsung menepis tangan suaminya. "Mas... nggak usah pakai acara peluk-peluk segala, aku risih." Ucap Lena, tanpa perasaan. "Aku cuma mau peluk doang masa nggak boleh sih, sayang?" Seru Sky, dengan nada getir. Lena mencebik kecil, tidak perduli pada perasaan Sky. "Udah di bilang risih juga, masih juga nggak ngerti. Aku tu capek banget lho Mas habis lebur, tolong ngerti sedikit kek, jangan egois." Sungut Lena sambil ngomel-ngomel, ia menolak di sentuh dalam bentuk apapun oleh suaminya. Tiba-tiba...Bu Asih berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah menantu dan anak nya dengan langkah tergesa dan wajah penuh kecemasan. Matanya yang mulai berkaca-kaca terus menatap ke arah pintu depan, berharap segera melihat sosok Lena, Senja dan menantunya Sky yang belum juga pulang sejak tadi malam. Setiap detik yang berlalu seperti menambah beban di dadanya, membuat napasnya terasa sesak."Ini mereka pada kemana sih? Kenapa sampai pagi ini belum pada pulang juga, di hubungi tidak bisa... semoga saja tidak terjadi sesuatu pada mereka semua," gumamnya pelan, suaranya nyaris tersendat oleh rasa takut yang menghimpit hatinya.Di sudut ruangan, pintu kamar terbuka perlahan. Gala, cucu kecilnya yang baru bangun tidur, melangkah keluar dengan mata yang masih sembab dan rambut acak-acakan. Bocah itu menatap sang nenek dengan wajah polos penuh tanya. "Nenek..." Sorak nya dengan nada ceria, tadi malam ia tidur bersama sang nenek. Gala berlari kecil menghampiri nenek nya, kemudian bertanya. "Nenek lagi
Sinar lembut matahari pagi menembus celah jendela kamar hotel, menari di atas tumpukan selimut yang kusut akibat aktivitas panas yang terjadi tadi malam. Senja terbaring di ranjang itu, tubuhnya terasa lelah dan remuk. Perlahan, kelopak matanya berkedip, berusaha menangkap cahaya yang menusuk retina. Kepala Senja berdenyut nyeri, seakan ada badai kecil yang mengamuk di dalamnya. "Ssttt... aduh, kenapa pusing banget?" gumamnya dengan suara serak, bibirnya meringis menahan sakit yang menggelayuti. Tiba-tiba, rasa perih yang tajam menjalar di area paling pribadi sampai membuatnya menahan napas, wajahnya berkerut kesakitan. Pandangan Senja mulai menjelajah sekeliling ruangan yang terasa asing, ia sadar jika ini bukan lah kamar nya. "I_ini aku ada dimana?" Gumamnya dalam hati. Memori samar-samar malam tadi mulai mengintip dari sudut pikirannya, terpecah menjadi potongan-potongan kabur dan desahan yang menggema di ruangan itu. Senja menekan pelipisnya, mencoba menyusun kembali kejadian
Lena sudah kembali menghampiri Ronald, senyumnya dipaksa mengembang saat menghampiri kekasihnya itu. "Maaf ya Mas, kamu nunggu lama. Tadi perut aku sakit banget," cicitnya beralasan.Ronald mengagguk kecil, bibir nya tersenyum tipis. "Nggak apa-apa sayang, yang penting sekarang kamu sudah kembali." Jawabnya dengan nada santai.Ronald menarik lembut tubuh Lena, membawa kekasih gelapnya itu dalam dekapannya. "Ayo kita lanjutkan dansanya," ajak Ronald. Lena langsung mengangguk setuju meski suasana hatinya saat ini tengah badmood setelah kejadian tadi.Ronald memeluk erat pinggang Lena, sesekali menciumi bibir wanita itu. Lena tidak menolak, namun tidak membalas juga seperti sebelumnya. Bayangan suaminya yang lebih membela Senja terus memenuhi pikirannya, membuat nya tampak kurang bergairah.Ronald dapat merasakan perubahan Lena, bukannya kecewa atau kesal... pria itu justru tersenyum tipis seolah-olah tengah menikmati permainan yang paling seru di dunia.Sky sudah menghabiskan jusnya, ia
Lena mengerang frustasi, ia semakin benci pada adiknya. Wanita itu menendang apa saja yang ada di dekatnya, melampiaskan kemarahan pada benda-benda di sekitarnya. "Dasar Senja brengsek..." Umpatnya pada sang adik. "Awas aja kamu nanti ya, aku akan memberi pelajaran supaya kamu tidak mengoda suamiku lagi. Kamu pikir Mas Sky, mau apa sama kamu yang hanya gadis kampung berpendidikan rendah." Lena sangat yakin jika suaminya tidak akan tergoda dengan adiknya yang di anggap biasa-biasa saja itu, menurut nya... levelnya jauh lebih tinggi di atas sang adik. Meski demikian, ia tetap tidak suka dengan situasi ini, menganggap jika suaminya hanya memanfaatkan Senja untuk membuatnya cemburu. Ronald bersembunyi mengawasi Lena, bibir nya tersenyum tipis melihat sekretaris nya itu marah-marah karna cemburu. "Kamu lucu juga ya Len, bisa-bisanya cemburu pada adik sendiri dan suamimu. Kalau di pikir... seharusnya suamimu lah yang cemburu karna kau lebih memilih menemani ku dari pada dia." Tiba-
Sky menggenggam tangan Senja dengan erat, seolah ingin melindungi dan menularkan rasa percaya diri pada gadis tersebut. Langkah mereka mantap, melewati para tamu undangan lain untuk menghampiri Pak Wijaya, sosok pria paruh baya dengan jas hitam rapi dan senyum ramah, tengah menerima tamu-tamu penting. Senja menatap Sky dengan mata yang berkilat, sedikit tegang dan gugup. "Santai aja Sen, jangan gugup. Ada aku di sebelah kamu, pria tampan yang akan melindungi kamu." Bisik Sky, dengan nada menggoda. Senja mencebik kecil, lalu berkata. "Jangan ngomong aneh-aneh lah Mas, bikin aku tambah nervous aja." Balas nya dengan nada sedikit ketus. Saat ini mereka sudah berdiri di hadapan Pak Wijaya, Sky mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak Wijaya. "Selamat malam, Pak Wijaya. Terima kasih atas undangannya, ini kehormatan besar bagi saya bisa hadir di acara anniversary perusahaan Bapak malam ini," ucap Sky dengan suara yang tegas namun hangat. Pak Wijaya membalas dengan senyu
Naura menarik napas dalam-dalam, menghirup banyak oksigen sebelum membuka pintu kamar dan bertemu dengan kakak iparnya, Sky."Semoga aja aku nggak malu-maluin Mas Sky. Bisa ngamuk tu Nenek sihir kalau sampai aku bikin malu suaminya." Gumam Senja lirih, kata Nenek sihir itu di peruntukan pada sang kakak, Lena.Ceklek...Senja membuka pintu kamarnya, ia melirik sekilas pada Kakak iparnya sebelum akhirnya menunduk malu.Di depannya, Sky di buat takjub dengan penampilan adik iparnya. Senja tampak sangat cantik dan seksi, melebihi kecantikan dan keseksian istrinya."Kamu udah siap?" Tanya Sky pada Senja, suaranya sedikit gugup. Di depannya, gadis itu mengangguk kecil sebagai jawaban."Ya udah... ayo kita berangkat sekarang, ini malah Minggu... takutnya jalanan macet." Sky melanjutkan kalimatnya."Ayo, Mas." Jawab Senja, singkat.Sky mengulurkan tangannya, Senja langsung menatap wajah kakak iparnya, seolah meminta penjelasan lanjut. "Gandeng tangan aku Sen, biar nggak canggung saat di pesta







