ログインTiba-tiba ponsel milik Lena, yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur berbunyi. Lena yang sudah memejamkan mata langsung kembali terbuka, dengan cekatan tangan nya meraih benda canggih itu dan mengecek siapa yang menghubunginya malam-malam.
"Pak Ronald," gumam Lena dengan nada lirih, ternyata yang menghubungi nya adalah atasannya. Ia langsung melirik pada suaminya, Sky tampak hanya diam menatap penasaran pada sang istri. "Siapa yang menghubungi kamu malam-malam begini? Nggak usah di angkat telponnya, bukannya tadi kamu bilang udah capek banget ya, mau istirahat." Ujar Sky, dengan nada datar. Lena mencebik kecil, merasa jika suaminya sangat bawel. "Ini bos aku Mas, ya kali nggak aku angkat telponnya." Jawab Lena, dengan nada ketus. "Ya tapi ini kan sudah malam, bukan waktunya jam kerja lagi." Lanjut Sky, membantah jawaban istrinya. Bukanya nurut apa yang dikatakan suaminya, Lena malah melengos dan beranjak dari atas tempat tidur menuju pintu keluar kamar untuk mengangkat panggilan telepon dari bosnya yang merangkap sebagai kekasih gelapnya juga. Sky hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi pada sikap istrinya yang semakin hari semakin tidak menghargai nya sebagai suami. "Kenapa sekarang kamu semakin berubah, Lena?" Gumamnya lirih. Sky ikut beranjak dari tempat tidur, malam ini ia akan tidur bersama putranya saja agar tidak semakin kecewa dengan sikap istrinya. Sky melangkah menuju kamar Gala, untungnya kamarnya dan kamar sang putra memiliki akses pintu yang langsung terhubung, jadi ia tidak perlu keluar dari kamar dulu untuk menuju kamar Gala, cukup membuka pintu langsung sampai di kamar putranya. Sky tersenyum tipis melihat wajah polos putranya yang terlelap, dengan gerakan hati-hati ia membaringkan tubuhnya di samping Gala. "Sayang... malam ini Papa bobok sama Gala, ya?" serunya dengan sangat lembut, tangan nya terulur memeluk tubuh kecil Gala dengan gerakan hati-hati, tidak mau mengusik ketenangan sang putra. Sementara itu, di ruangan santai Lena sedang mengangkat panggilan telepon dari Ronald, atasan sekaligus kekasih gelapnya. Mereka tengah terlibat obrolan mesra, Lena tidak perduli dengan perasaan suaminya yang sudah kecewa padanya. "Sayang... aku kangen sama kamu." ucap Ronald, dari seberang telepon. Lena terkekeh kecil mendengar suara manja kekasih gelapnya. "Ya ampun sayang... perasaan tadi kita udah bersenang-senang sebelum pulang kerja, kenapa kamu masih bilang kangen sih? Ah... pasti cuma gombal kan?" Balas Lena, dengan nada manja pula. "Aku tidak gombal sayang, beneran masih kangen sama kamu. Aku ingin punya waktu lebih banyak sama kamu, tubuh kamu selalu buat aku kecanduan." Lena langsung senyum-senyum sendiri, ia kembali teringat momen panas yang selalu mereka lakukan setelah jam pulang dari kantor. Tak bisa di pungkiri, Lena juga ketagihan dengan sentuhan bosnya itu yang selalu berhasil membuatnya terbang melayang. "Ya sudah, besok kita lakukan lagi lebih lama dari biasanya." Jawab Lena, dengan gampang nya. Ia sama sekali tidak memikirkan perasaan suaminya dan putranya yang menginginkan memiliki waktu luang berkumpul keluarga. "Tidak sayang, itu tidak akan cukup. Besok siang kita akan melakukan perjalanan ke Surabaya terus lanjut ke Bali selama lima hari, di Surabaya kita akan melakukan pekerjaan selama dua hari, dan tiga hari sisanya untuk kita bersenang-senang di Bali." Seru Ronald, pada sekretaris nya, Lena. Dia sudah merencanakan semua ini sejak tadi pagi, dan baru memberi kabar pada Lena malah harinya agar sekretaris nya itu segera bersiap-siap. "Aku mau banget sayang, tapi emangnya istri kamu nggak curiga apa?" Tanya, Lena memastikan. Ia tidak mau hubungan terlarang nya dengan bosnya di curigai dan terkuak, Lena tidak ingin pisah dengan suaminya. Meski menjalin hubungan terlarang di belakang Sky, namun Lena sangat mencintai suaminya, sungguh serakah sekali Lena ini. "Masalah itu kamu tidak perlu khawatir sayang, istri aku akan berangkat liburan ke luar negeri besok. Pokoknya kamu tenang saja, semuanya sudah aku atur Serapi mungkin." Kata Ronald meyakinkan Lena. "Ya deh... aku percaya sama kamu sayang, apa sih yang nggak bisa di lakukan pemilik perusahaan yang sudah terkenal ini." kata Lena, memuji kekasih gelapnya. "Udah dulu ya sayang telponan nya, nanti suamiku dan istri kamu curiga lagi." "Ya sayang, sampai ketemu besok. Selamat istirahat," ucap Ronald sebelum mengakhiri telepon. "Selamat istirahat, sayang." Balas Lena, di akhir panggilan. Setelah selesai mengobrol mesra dengan atasannya, Lena kembali masuk ke dalam kamar. Di sana ia tidak mendapati suaminya di atas tempat tidur. "Lho... Mas Sky kemana? Kok nggak ada sih? Apa jangan-jangan dia tadi keluar dari kamar dan menguping semua obrolan ku dengan Ronald?" Gumam Lena, dengan ekspresi khawatir. Takut jika apa yang di pikirkan nya menjadi kenyataan, Lena memutuskan untuk mencari keberadaan suaminya. Ia mengecek Sky ke kamar mandi tapi tidak ada, kemudian keluar dari kamar untuk mencari Sky di setiap ruangan namun tidak juga di temukan keberadaan suaminya itu. "Kok nggak ada ya, kemana perginya, Mas Sky?" ujar Lena sambil berpikir keras. Tinggal satu ruangan yang belum ia cek, yaitu kamar putranya. "Kamar Gala... mungkin saja Mas Sky ada di kamar Gala." Tanpa pikir panjang, Lena segera mengecek suaminya di sana. Saat membuka pintu kamar putranya, Lena bernapas lega melihat suaminya dan sang putra yang sudah terlelap. "huff... ternyata di sini toh. Bagus deh Mas Sky tidur sama Gala, jadi aku lebih nyaman karna nggak ada yang gangguin." Lena kembali menutup pintu kamar putranya, ia bernapas lega karna ternyata suaminya tidak menguping obrolan mesranya dengan sang atasan. ***** Pagi ini Gala dan Sky sedang sarapan di meja makan. Gala makan di suapi oleh pengasuhnya, sementara Sky mengambil makanannya sendiri, tidak seperti para suami-suami pada umumnya yang makannya selalu di layani oleh istrinya. Dari atas tanga, terdengar suara sepatu hak tinggi milik Lena yang berjalan menuruni anak tangga, di belakangnya ada salah satu Art yang membawakan koper besar miliknya. "Selamat pagi semuanya," sapa Lena pada suami dan putranya. Gala langsung tersenyum lebar saat melihat sang ibu, orang yang sangat ia rindukan. "Mama..." serunya sambil beranjak dari kursi, bocah kecil itu berlari semangat kearah ibunya sambil merentangkan kedua tangannya. Melihat putranya yang begitu antusias saat melihatnya, Lena pun segera berjongkok menyambut putranya dalam pelukan. "Anak mama," seru Lena sambil menciumi pucuk kepala Gala. Anak kecil itu sangat bahagia, ia begitu merindukan pelukan sang Ibu yang hampir tak pernah punya waktu untuk nya. "Gala kangen sekali sama mama," ucapnya jujur. "Mama juga kangen sekali sama Gala," Jawab Lena sambil melerai pelukannya. "Gala lagi sarapan ya? Ya udah yuk dilanjutin lagi, kan mau berangkat sekolah, nanti telat lho kalau lama-lama sarapan nya." Kata Lena pada putranya. Gala mengangguk patuh. "Iya ma, ayo kita sarapan bareng." Ajak Gala, "Gala mau makan di suapi sama mama." Lena tersenyum tipis, kemudian menjawab. "Maaf sayang... Mama tidak bisa suapin Gala sekarang, karna mama harus buru-buru berangkat kerja, Gala di suapin sama Sus aja ya?" Ujar Lena pada sang putra. Tampak wajah kecewa langsung terbit di wajah Gala, Sky yang melihat wajah sendu putranya itu langsung menggendong tubuh kecil Gala. "Biar Papa aja yang suapi Gala makan ya, Mama sibuk mau berangkat kerja dan nggak punya waktu untuk mengurus Gala." Kata Sky, dengan nada datar namun syarat akan sindiran untuk istrinya. Deg....Bu Asih berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah menantu dan anak nya dengan langkah tergesa dan wajah penuh kecemasan. Matanya yang mulai berkaca-kaca terus menatap ke arah pintu depan, berharap segera melihat sosok Lena, Senja dan menantunya Sky yang belum juga pulang sejak tadi malam. Setiap detik yang berlalu seperti menambah beban di dadanya, membuat napasnya terasa sesak."Ini mereka pada kemana sih? Kenapa sampai pagi ini belum pada pulang juga, di hubungi tidak bisa... semoga saja tidak terjadi sesuatu pada mereka semua," gumamnya pelan, suaranya nyaris tersendat oleh rasa takut yang menghimpit hatinya.Di sudut ruangan, pintu kamar terbuka perlahan. Gala, cucu kecilnya yang baru bangun tidur, melangkah keluar dengan mata yang masih sembab dan rambut acak-acakan. Bocah itu menatap sang nenek dengan wajah polos penuh tanya. "Nenek..." Sorak nya dengan nada ceria, tadi malam ia tidur bersama sang nenek. Gala berlari kecil menghampiri nenek nya, kemudian bertanya. "Nenek lagi
Sinar lembut matahari pagi menembus celah jendela kamar hotel, menari di atas tumpukan selimut yang kusut akibat aktivitas panas yang terjadi tadi malam. Senja terbaring di ranjang itu, tubuhnya terasa lelah dan remuk. Perlahan, kelopak matanya berkedip, berusaha menangkap cahaya yang menusuk retina. Kepala Senja berdenyut nyeri, seakan ada badai kecil yang mengamuk di dalamnya. "Ssttt... aduh, kenapa pusing banget?" gumamnya dengan suara serak, bibirnya meringis menahan sakit yang menggelayuti. Tiba-tiba, rasa perih yang tajam menjalar di area paling pribadi sampai membuatnya menahan napas, wajahnya berkerut kesakitan. Pandangan Senja mulai menjelajah sekeliling ruangan yang terasa asing, ia sadar jika ini bukan lah kamar nya. "I_ini aku ada dimana?" Gumamnya dalam hati. Memori samar-samar malam tadi mulai mengintip dari sudut pikirannya, terpecah menjadi potongan-potongan kabur dan desahan yang menggema di ruangan itu. Senja menekan pelipisnya, mencoba menyusun kembali kejadian
Lena sudah kembali menghampiri Ronald, senyumnya dipaksa mengembang saat menghampiri kekasihnya itu. "Maaf ya Mas, kamu nunggu lama. Tadi perut aku sakit banget," cicitnya beralasan.Ronald mengagguk kecil, bibir nya tersenyum tipis. "Nggak apa-apa sayang, yang penting sekarang kamu sudah kembali." Jawabnya dengan nada santai.Ronald menarik lembut tubuh Lena, membawa kekasih gelapnya itu dalam dekapannya. "Ayo kita lanjutkan dansanya," ajak Ronald. Lena langsung mengangguk setuju meski suasana hatinya saat ini tengah badmood setelah kejadian tadi.Ronald memeluk erat pinggang Lena, sesekali menciumi bibir wanita itu. Lena tidak menolak, namun tidak membalas juga seperti sebelumnya. Bayangan suaminya yang lebih membela Senja terus memenuhi pikirannya, membuat nya tampak kurang bergairah.Ronald dapat merasakan perubahan Lena, bukannya kecewa atau kesal... pria itu justru tersenyum tipis seolah-olah tengah menikmati permainan yang paling seru di dunia.Sky sudah menghabiskan jusnya, ia
Lena mengerang frustasi, ia semakin benci pada adiknya. Wanita itu menendang apa saja yang ada di dekatnya, melampiaskan kemarahan pada benda-benda di sekitarnya. "Dasar Senja brengsek..." Umpatnya pada sang adik. "Awas aja kamu nanti ya, aku akan memberi pelajaran supaya kamu tidak mengoda suamiku lagi. Kamu pikir Mas Sky, mau apa sama kamu yang hanya gadis kampung berpendidikan rendah." Lena sangat yakin jika suaminya tidak akan tergoda dengan adiknya yang di anggap biasa-biasa saja itu, menurut nya... levelnya jauh lebih tinggi di atas sang adik. Meski demikian, ia tetap tidak suka dengan situasi ini, menganggap jika suaminya hanya memanfaatkan Senja untuk membuatnya cemburu. Ronald bersembunyi mengawasi Lena, bibir nya tersenyum tipis melihat sekretaris nya itu marah-marah karna cemburu. "Kamu lucu juga ya Len, bisa-bisanya cemburu pada adik sendiri dan suamimu. Kalau di pikir... seharusnya suamimu lah yang cemburu karna kau lebih memilih menemani ku dari pada dia." Tiba-
Sky menggenggam tangan Senja dengan erat, seolah ingin melindungi dan menularkan rasa percaya diri pada gadis tersebut. Langkah mereka mantap, melewati para tamu undangan lain untuk menghampiri Pak Wijaya, sosok pria paruh baya dengan jas hitam rapi dan senyum ramah, tengah menerima tamu-tamu penting. Senja menatap Sky dengan mata yang berkilat, sedikit tegang dan gugup. "Santai aja Sen, jangan gugup. Ada aku di sebelah kamu, pria tampan yang akan melindungi kamu." Bisik Sky, dengan nada menggoda. Senja mencebik kecil, lalu berkata. "Jangan ngomong aneh-aneh lah Mas, bikin aku tambah nervous aja." Balas nya dengan nada sedikit ketus. Saat ini mereka sudah berdiri di hadapan Pak Wijaya, Sky mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak Wijaya. "Selamat malam, Pak Wijaya. Terima kasih atas undangannya, ini kehormatan besar bagi saya bisa hadir di acara anniversary perusahaan Bapak malam ini," ucap Sky dengan suara yang tegas namun hangat. Pak Wijaya membalas dengan senyu
Naura menarik napas dalam-dalam, menghirup banyak oksigen sebelum membuka pintu kamar dan bertemu dengan kakak iparnya, Sky."Semoga aja aku nggak malu-maluin Mas Sky. Bisa ngamuk tu Nenek sihir kalau sampai aku bikin malu suaminya." Gumam Senja lirih, kata Nenek sihir itu di peruntukan pada sang kakak, Lena.Ceklek...Senja membuka pintu kamarnya, ia melirik sekilas pada Kakak iparnya sebelum akhirnya menunduk malu.Di depannya, Sky di buat takjub dengan penampilan adik iparnya. Senja tampak sangat cantik dan seksi, melebihi kecantikan dan keseksian istrinya."Kamu udah siap?" Tanya Sky pada Senja, suaranya sedikit gugup. Di depannya, gadis itu mengangguk kecil sebagai jawaban."Ya udah... ayo kita berangkat sekarang, ini malah Minggu... takutnya jalanan macet." Sky melanjutkan kalimatnya."Ayo, Mas." Jawab Senja, singkat.Sky mengulurkan tangannya, Senja langsung menatap wajah kakak iparnya, seolah meminta penjelasan lanjut. "Gandeng tangan aku Sen, biar nggak canggung saat di pesta







