LOGINChit....
Bunyi suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal, untungnya Sky bisa mengerem mendadak hingga tidak terjadi kecelakaan. Semua orang yang ada di dalam mobil sudah tampak panik dan ketakutan, terutama Gala yang masih anak-anak. "Nyaris saja aku nabrak orang!" Gumam Sky lirih, sebelum turun dari mobil dan melihat orang yang hampir saja di tabrak nya, ia lebih dulu melihat kondisi putranya di bangku penumpang yang ada di belakang. "Gala baik-baik saja kan, Nak?" Tanya Sky, dengan nada lembut. Bocah berusia lima tahun itu langsung mengangguk. "Iya pa, Gala baik-baik saja. Papa hati-hati bawa mobilnya, ya?" "Iya, sayang. Maafin Papa ya sudah membuat Gala ketakutan, Papa janji akan lebih hati-hati lagi bawa mobilnya. Sekarang Gala sama Mama tunggu di mobil dulu ya sebentar, Papa mau mengecek orang yang tadi hampir kecelakaan." "Iya, Pa." Jawab Gala, patuh. Berbeda dengan respon Gala, Lena justru melarang suaminya untuk turun dari mobil. "Kamu ngapain sih Mas pake ngecek orang itu segala? Buat apa coba, buang-buang waktu aja! Udahlah nggak perlu pake di cek segala, kan nggak ketabrak juga. Lagian salah orang itu juga yang nyebrang jalan nggak lihat-lihat dulu, punya mata kok nggak di pakai." Sungut Lena sambil ngomel-ngomel. "Tapi Len, kasihan orang itu. Dia pasti sangat shock dan trauma karna nyaris saja hampir aku tabrak, ya alhamdulilah nya semua itu bisa terhindar tapi tetep kita harus menunjukkan rasa tanggung jawab." Kata Sky, memberi pengertian kepada istrinya. Dasar nya Lena emang seorang istri yang egois, dia tetep tidak perduli dengan penjelasan dari suaminya. "Bodo amat Mas, aku nggak perduli. Buruan kita lanjut lagi perjalanan, aku udah telat ini. Kamu dengar kan sedari tadi ponsel aku terus berbunyi? Itu bos aku yang ngehubungi terus-terusan." Kali ini Sky tidak perduli dengan perkataan istrinya, dia tidak bisa lari dari tanggung jawab begitu saja. "Terserah kamu mau bilang apa Len, kali ini aku tidak setuju dengan keinginan kamu." Tanpa menunggu bantahan dari istrinya, Sky langsung turun dari mobil untuk melihat orang yang sedang di ke rumunin warga. Sementara di dalam mobil, Lena tampak sangat kesal pada suaminya yang di anggap lebih mementingkan orang lain di bandingkan dirinya. "Mama sabar ya Ma, Papa cuma sebentar kok." Seru Gala, mencoba menenangkan ibunya yang terus mengomel. Lena menghela nafas panjang, kemudian menoleh ke belakang. "Tapi Mama harus buru-buru berangkat ke kantor sayang. Gala berangkat ke sekolah nya di antar Papa saja ya? Mama sudah telat sekali berangkat kerja nya, nanti Mama bisa di marah sama bos Mama lho, emang Gala mau Mama di marahin?" Tanya Lena memasang wajah sedih. Wajah Gala pun ikutan sedih, anak kecil itu menggeleng kan kepalanya. "Gala tidak mau Mama di marahin sama bos Mama, tapi Gala ingin ke sekolah di antara Mama. Gala tidak mau berangkat ke sekolah di antar Sus lagi, Gala selalu di ejek sama teman-teman Gala." Jawabnya dengan suara bergetar. Ponsel Lena kembali berbunyi, Ronald lah yang menghubunginya karna sudah tidak sabar untuk bertemu sekretaris sekaligus kekasihnya itu. "Gala lihat ini, bos Mama terus menghubungi Mama. Gala tolong dong sayang... tolong ngerti keadaan Mama." Pinta Lena, sambil memasang wajah memelas. Gala hanya diam, ia bingung harus bagaimana. Di satu sisi Gala merasa kasihan pada Mama nya, namun di sisi lain ia sangat menginginkan untuk di antar ke sekolah oleh Mama nya. "Gala jangan sedih sayang. Mama janji, kapan-kapan akan mengantar dan menjemput Gala ke sekolah. Tapi untuk sekarang ini Mam benar-benar tidak bisa sayang, ayolah Gala... tolong mengerti keadaan Mama." Lena memohon pada putranya. "Nanti Mama akan menghubungi aunty Senja, meminta dia untuk tinggal di rumah kita dan merawat Gala." Ternyata bujuk rayu Lena kali ini berhasil, wajah Gala yang semula sedih seketika langsung berbinar. "Aunty Senja akan tinggal di rumah kita? Mama tidak bohongin Gala kan, kapan Aunty Senja akan datang?" Tanya Gala tidak sabaran. "Nanti sore atau besok pagi aunty sudah sampai di rumah kita. Sekarang Mama berangkat ke kantor dulu ya, Gala ke sekolah di antara Papa, ok?" Lena kembali meminta izin pada putranya. "Iya, Ma." jawab Gala, akhirnya. Lena tersenyum lega. Tanpa meminta izin dulu pada suaminya, ia langsung memesan taksi online lewat salah satu aplikasi. Selesai memesan taksi, Lena yang akan meninggalkan putranya selama lima hari, meminta Gala untuk memeluk dan menciumnya sebentar. "Udah ya nak, Gala baik-baik di rumah sama Papa dan aunty nanti. Sekarang Mama pergi dulu ya, itu taksi Mama sudah datang." Pamit Lena pada putra semata wayangnya. Gala mengangguk kecil, "Mama hati-hati ya? Jangan lupa nanti aunty Senja suruh datang ke rumah kita buat nemani Gala." ucapnya sebelum berpisah. "Iya, sayang. Nanti di dalam taksi Mama langsung hubungi aunty kamu, bay Gala...." ujar Lena, melambaikan tangan. Gala membalas lambaian tangan ibunya, dari dalam mobil dia memperhatikan ibunya yang masuk ke dalam taksi.Sky baru selesai menyelesaikan urusannya dengan orang yang hampir saja di tabrak nya. Meski tidak sepenuhnya kesalahannya, Sky tetap meminta maaf dan memberikan uang kompensasi pada orang tersebut.Sky masuk kembali ke dalam mobil, ia merasa sedikit heran karna tidak melihat istrinya Lena, yang semula duduk di kursi penumpang sebelah kemudi. Sky pun menoleh ke belakang, hanya ada putra nya Gala, duduk sendirian di kursi penumpang bagian belakang."Mama kemana Gala? Kok kamu sendirian?" Tanya Sky, memasang wajah penasaran."Mama sudah berangkat ke kantor Pa, tadi waktu Papa turun dari mobil untuk melihat orang itu, bos Mama nelponin terus. Jadinya Mama berangkat ke kantor pakai taksi," jawab bocah berusia lima tahun itu jujur.Sky tampak sangat kesal dan kecewa, ia merasa semakin hari semakin tidak di hargai oleh istrinya. "Keterlaluan sekali kamu Lena, pergi begitu saja tanpa berpamitan pada ku. Semakin hari kamu semakin berubah, lebih memprioritaskan karir di bandingkan keluarga keci
Chit.... Bunyi suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal, untungnya Sky bisa mengerem mendadak hingga tidak terjadi kecelakaan. Semua orang yang ada di dalam mobil sudah tampak panik dan ketakutan, terutama Gala yang masih anak-anak. "Nyaris saja aku nabrak orang!" Gumam Sky lirih, sebelum turun dari mobil dan melihat orang yang hampir saja di tabrak nya, ia lebih dulu melihat kondisi putranya di bangku penumpang yang ada di belakang. "Gala baik-baik saja kan, Nak?" Tanya Sky, dengan nada lembut. Bocah berusia lima tahun itu langsung mengangguk. "Iya pa, Gala baik-baik saja. Papa hati-hati bawa mobilnya, ya?" "Iya, sayang. Maafin Papa ya sudah membuat Gala ketakutan, Papa janji akan lebih hati-hati lagi bawa mobilnya. Sekarang Gala sama Mama tunggu di mobil dulu ya sebentar, Papa mau mengecek orang yang tadi hampir kecelakaan." "Iya, Pa." Jawab Gala, patuh. Berbeda dengan respon Gala, Lena justru melarang suaminya untuk turun dari mobil. "Kamu ngapain sih Mas pake n
Deg.... Seketika jantung Lena terasa seperti berhenti berdetak, kata-kata sindiran dari suaminya berhasil melukai perasaannya sebagai seorang ibu. Tidak terima dengan ucapan Sky, yang menyebutnya tidak punya waktu untuk mengurus sang putra, meskipun itu sebuah kenyataan. Lena langsung melayangkan protes pada suaminya. "Maksud kamu ngomong seperti itu apa, Mas? Kamu mau meracuni pikiran Gala yang masih muda suci supaya dia membenci aku?" Tanya Lena dengan nada tinggi, berhasil membuat Gala ketakutan lalu memeluk erat leher sang ayah. "Papa... Gala takut. Mama kenapa jadi marah-marah seperti monster?" Seru Gala dengan suara bergetar. Sky tampak memasang wajah datar saat menatap istrinya, kemudian menenangkan anaknya yang masih tampak ketakutan. "Gala tenang ya jangan takut, Mama tidak marah sama Gala kok." Ucapnya dengan sangat lembut. Anak kecil itu mengangguk, kedua matanya berkaca-kaca menatap ibunya. Lena menghela nafas panjang, kemudian berjalan mendekati putranya. "S
Tiba-tiba ponsel milik Lena, yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur berbunyi. Lena yang sudah memejamkan mata langsung kembali terbuka, dengan cekatan tangan nya meraih benda canggih itu dan mengecek siapa yang menghubunginya malam-malam. "Pak Ronald," gumam Lena dengan nada lirih, ternyata yang menghubungi nya adalah atasannya. Ia langsung melirik pada suaminya, Sky tampak hanya diam menatap penasaran pada sang istri. "Siapa yang menghubungi kamu malam-malam begini? Nggak usah di angkat telponnya, bukannya tadi kamu bilang lagi capek banget ya mau istirahat." Ujar Sky, dengan nada datar. Lena mencebik kecil, merasa jika suaminya sangat bawel. "Ini bos aku Mas, ya kali nggak aku angkat telponnya." Jawab Lena, dengan nada ketus. "Ya tapi ini kan sudah malam, bukan waktunya jam kerja juga." Lanjut Sky, membantah jawaban istrinya. Bukanya nurut apa yang dikatakan suaminya, Lena malah melengos dan beranjak dari atas tempat tidur menuju pintu keluar kamar untuk mengangka
Pukul sembilan malam, Lena baru pulang dari kantor. Ia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah sepi karna putra semata wayang nya pasti sudah tidur. "Apa Gala sudah tidur, Bi?" tanya Lena pada pembantunya yang membukakan pintu. "Sudah, nyonya." Jawab Bi Atun dengan suara lembut. Tangan nya sibuk mengunci pintu, memastikan pintu sudah benar-benar terkunci dengan sempurna. "Kalau Mas Sky? Apa dia juga sudah tidur?" Tanya Lena, lagi. "Kalau tuan saya tidak tau nyonya, tapi sepertinya beliau sudah berada di dalam kamar nya. Tadi setelah selesai makan malam dan menidurkan Den Gala, tuan langsung masuk ke dalam kamar." Jawab Bi Atun menjelaskan. Lena mengangguk kecil, ia lngsung meninggalkan Bi Atun begitu saja, berjalan menuju ke kamarnya. Sebelum Lena masuk ke dalam kamar, Bi Atun lebih dulu bertanya. "Nyonya... apa nyonya mau makan malam biar saya siapkan? Atau nyonya mau saya buatin minuman hangat?" tanyanya pada sang majikan, sudah jadi kebiasaan Bi Atu







