LOGINSky baru selesai menyelesaikan urusannya dengan orang yang hampir saja di tabrak nya. Meski tidak sepenuhnya kesalahannya, Sky tetap meminta maaf dan memberikan uang kompensasi pada orang tersebut.
Sky masuk kembali ke dalam mobil, ia merasa sedikit heran karna tidak melihat istrinya Lena, yang semula duduk di kursi penumpang sebelah kemudi. Sky pun menoleh ke belakang, hanya ada putra nya Gala, duduk sendirian di kursi penumpang bagian belakang. "Mama kemana Gala? Kok kamu sendirian?" Tanya Sky, memasang wajah penasaran. "Mama sudah berangkat ke kantor Pa, tadi waktu Papa turun dari mobil untuk melihat orang itu, bos Mama nelponin terus. Jadinya Mama berangkat ke kantor pakai taksi," jawab bocah berusia lima tahun itu jujur. Sky tampak sangat kesal dan kecewa, ia merasa semakin hari semakin tidak di hargai oleh istrinya. "Keterlaluan sekali kamu Lena, pergi begitu saja tanpa berpamitan pada ku. Semakin hari kamu semakin berubah, lebih memprioritaskan karir di bandingkan keluarga kecil kita." Sungut Sky, dengan dada yang terasa sesak. "Papa... ayo kita lanjut jalan, nanti Gala bisa terlambat ke sekolah." Seru Gala, berhasil mengejutkan Sky. Sky menghela nafas panjang sebelum menjawab perkataan putranya. "Iya sayang, ini juga Papa mau jalan." Jawab Sky, seraya menghilangkan kontak mobil nya. Tak butuh waktu lama mobil yang di Kendarai Sky sudah sampai di depan sekolah Gala, ia turun dari mobil lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk putranya. Dengan cekatan Sky membantu Gala turun dari mobil, menggandeng anaknya menuju pintu gerbang sekolah. Di sana ada seorang Guru yang menyabut para muridnya, dia tersenyum manis saat menyambut Gala dan Papanya yang baru datang. "Selamat pagi Gala, selamat pagi pak Sky." Ucap seorang Guru wanita dengan ramah. "Selamat pagi, Bu..." Sahut Gala, dengan semangat. Sementara Sky hanya tersenyum kecil pada Guru anaknya. Semua murid di TK Ceria ini hanya di antara dan di jemput sampai depan gerbang sekolah saja, mereka di sambut oleh Guru, tujuan adalah agar semua murid lebih mandiri dan percaya diri. "Gala, Papa pergi kerja dulu ya? Gala belajar yang rajin di sekolah, jangan nakal ya sayang. Nanti pulang sekolah Papa akan jemput Gala." Pesan Sky pada putranya sebelum ia pergi bekerja. Gala anak yang sangat penurut dan pengertian, Bocah kecil itu pun mengangguk patuh. "Iya Pa, Papa hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, nanti kaya tadi hampir kecelakaan." Serunya mengingatkan ayahnya. "Iya sayang, Papa janji tidak akan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Ya sudah sekarang Gala masuk ke dalam kelas ya? Tapi sebenarnya salam dulu sama Papa." Sky mengulurkan tangan, Gala langsung menyalami dan mencium punggung tangan ayahnya. Setelah nya mereka pun berpisah untuk sementara waktu. ***** Sky baru sampai di rumah, hari ini ia tidak jadi berangkat ke kantor karna tiba-tiba tidak bersemangat, itu semua gara-gara ulah istrinya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan. Tok... tok... tok... Sky mengetuk pintu rumahnya, dari arah dalam Rini membuka pintu. Ia terkejut saat melihat majikannya yang sudah memakai setelan kerja kembali ke rumah, padahal biasanya jam segini Sky pasti sudah berada di kantor. "Apa ada barang yang ketinggalan, Tuan?" Tanya Rini dengan ekspresi ragu-ragu. Sky merespon pertanyaan Rini hanya dengan gelengan kepala, wajahnya tampak datar. "Hari ini saya tidak berangkat ke kantor, nanti kalau istri saya menghubungi kamu, bilang saja saya sedang tidak enak badan." Ujar Sky pada Rini. Pengasuh anak nya itu mengangguk kecil, "baik, Pak." Sky tidak berkata apa-apa lagi, ia langsung pergi melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. sementara itu, Rini menghela nafas lega, ia selalu gugup dan sedikit takut jika berintegritas dengan majikan laki-lakinya. "Tuan kenapa Rin?" Tanya Bi Atun, berhasil mengejutkan Rini. Gadis itu tersentak kaget sampai memegangi dadanya yang sudah berdebar kencang. "Ya ampun Bibi... ngagetin aku aja sih." Jawab Rini, "aku juga nggak tau Tuan kenapa Bi. Tapi kelihatannya lesu gitu." Ucapnya menjelaskan pada Bi Atun. Bi Atun mengangguk kecil, sebagai orang yang sudah bekerja sangat lama di keluarga Sky, ia tau apa yang di rasakan majikannya. Sebenarnya Bi Atun merupakan Art di rumah orang tua Sky, ia bekerja di sana dari Sky masih SMA. Hingga pada akhirnya Sky menikah dengan Lena, Bi Atun di perintahkan oleh Ibunya Sky untuk bekerja di rumah anaknya. "Kasihan sekali Tuan Sky, Nyonya semakin sibuk dengan karir nya dan mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu untuk Den Gala." Celetuk Bi Atun pada Rini. "Iya, Bi. Hampir tiap hari nyonya pergi pagi dan pulang malam, jika waktu libur pun nyonya masih selalu sibuk. Kadang saya sangat kasihan pada Den Gala, dia selalu tampak murung karna merindukan mamanya. Apalagi akhir-akhir ini Den Gala sering nangis dan kesal karna ingin di perhatikan nyonya, dia sampai tidak mau di urus sama saya." ujar Rini, perawat Gala yang sedang curhat pada Bi Atun. "Bibi juga kasian Rin, tapi mau bagaimana lagi, kita tidak bisa melakukan apa-apa buat Den Gala. Bibi hanya bisa berdoa, semoga saja nyonya segera berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak dan suaminya." "Amin..." Rini mengaminkan ucapan Bi Atun. "Seandainya saja saya jadi nyonya, sudah pasti saya akan lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang hanya fokus mengurusi anak dan suami. Apa lagi yang mau saya cari, punya suami tampan, kaya raya dan hidup serba kecukupan, memiliki anak yang pintar seperti Gala." Kata Rini pada Bi Atun. "Sayang nya kamu bukan nyonya Rin, udah simpan saja khayalan kamu itu." celetuk Bi Atun sambil terkekeh kecil, sementara Rini sudah memanyunkan bibirnya. ***** Di Desa, Senja mendapat telepon dari kakaknya Lena. Dia di perintahkan untuk segera berangkat ke kota untuk mengasuh keponakannya, Gala. Awalnya Senja menolak karna dia merasa segan harus tinggal di rumah kakak sementara sang kakak tidak berada di rumah, namun Lena terus memaksa adiknya sampai mengadu pada ibunya. Alhasil Senja kena omel ibunya, hingga ia pun akhirnya setuju untuk berangkat ke kota siang ini. Untung nya jarak dari Desa ke kota hanya memakan waktu sekitar dua jam menggunakan angkutan umum. Senja sudah tiga kali berkunjung ke rumah sang kakak sendirian, namun biasanya ia hanya menginap satu atau dua hari saja karna segan pada kakak iparnya, itupun jika sang kakak ada di rumah. "Mbak Lena ngapain sih nyuruh aku tinggal di rumah nya? Aku kan males," Sungut Senja misuh-misuh sambil menyiapkan pakaian ke dalam tas. "Udah jangan ngomel terus Senja, lagian kamu juga kan ngangur di rumah nggak ada kerjaan. Ibu belum punya biaya buat kuliah kamu, Mbak mu bilang kamu di sana buat ngurusin Gala juga di gaji kok nggak gratisan. Gala sudah tidak mau di rawat pengasuhnya, makannya mbak mu nyuruh kamu karna kamu Tante nya." kata Ibu Asih memberi pengertian pada putri bungsunya. "Iya Bu... Senja paham. Lagian Ibu juga pasti nggak bisa nolak kemauan Mbak Lena, karna selama ini dia kan ngirimin uang bulanan untuk kita." "Itu kamu tau! Sudah jangan banyak bicara lagi, ingat ya Sen tugas kamu di sana untuk jagain Gala. Kamu jangan sampai menggoda kakak ipar mu itu, jangan jadi pelakor di rumah tangga Mbak mu sendiri." Seru Bu Asih memperingatkan putri bungsunya. Deg... Jantung Senja langsung terasa berhenti berdetak.Sky baru selesai menyelesaikan urusannya dengan orang yang hampir saja di tabrak nya. Meski tidak sepenuhnya kesalahannya, Sky tetap meminta maaf dan memberikan uang kompensasi pada orang tersebut.Sky masuk kembali ke dalam mobil, ia merasa sedikit heran karna tidak melihat istrinya Lena, yang semula duduk di kursi penumpang sebelah kemudi. Sky pun menoleh ke belakang, hanya ada putra nya Gala, duduk sendirian di kursi penumpang bagian belakang."Mama kemana Gala? Kok kamu sendirian?" Tanya Sky, memasang wajah penasaran."Mama sudah berangkat ke kantor Pa, tadi waktu Papa turun dari mobil untuk melihat orang itu, bos Mama nelponin terus. Jadinya Mama berangkat ke kantor pakai taksi," jawab bocah berusia lima tahun itu jujur.Sky tampak sangat kesal dan kecewa, ia merasa semakin hari semakin tidak di hargai oleh istrinya. "Keterlaluan sekali kamu Lena, pergi begitu saja tanpa berpamitan pada ku. Semakin hari kamu semakin berubah, lebih memprioritaskan karir di bandingkan keluarga keci
Chit.... Bunyi suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal, untungnya Sky bisa mengerem mendadak hingga tidak terjadi kecelakaan. Semua orang yang ada di dalam mobil sudah tampak panik dan ketakutan, terutama Gala yang masih anak-anak. "Nyaris saja aku nabrak orang!" Gumam Sky lirih, sebelum turun dari mobil dan melihat orang yang hampir saja di tabrak nya, ia lebih dulu melihat kondisi putranya di bangku penumpang yang ada di belakang. "Gala baik-baik saja kan, Nak?" Tanya Sky, dengan nada lembut. Bocah berusia lima tahun itu langsung mengangguk. "Iya pa, Gala baik-baik saja. Papa hati-hati bawa mobilnya, ya?" "Iya, sayang. Maafin Papa ya sudah membuat Gala ketakutan, Papa janji akan lebih hati-hati lagi bawa mobilnya. Sekarang Gala sama Mama tunggu di mobil dulu ya sebentar, Papa mau mengecek orang yang tadi hampir kecelakaan." "Iya, Pa." Jawab Gala, patuh. Berbeda dengan respon Gala, Lena justru melarang suaminya untuk turun dari mobil. "Kamu ngapain sih Mas pake n
Deg.... Seketika jantung Lena terasa seperti berhenti berdetak, kata-kata sindiran dari suaminya berhasil melukai perasaannya sebagai seorang ibu. Tidak terima dengan ucapan Sky, yang menyebutnya tidak punya waktu untuk mengurus sang putra, meskipun itu sebuah kenyataan. Lena langsung melayangkan protes pada suaminya. "Maksud kamu ngomong seperti itu apa, Mas? Kamu mau meracuni pikiran Gala yang masih muda suci supaya dia membenci aku?" Tanya Lena dengan nada tinggi, berhasil membuat Gala ketakutan lalu memeluk erat leher sang ayah. "Papa... Gala takut. Mama kenapa jadi marah-marah seperti monster?" Seru Gala dengan suara bergetar. Sky tampak memasang wajah datar saat menatap istrinya, kemudian menenangkan anaknya yang masih tampak ketakutan. "Gala tenang ya jangan takut, Mama tidak marah sama Gala kok." Ucapnya dengan sangat lembut. Anak kecil itu mengangguk, kedua matanya berkaca-kaca menatap ibunya. Lena menghela nafas panjang, kemudian berjalan mendekati putranya. "S
Tiba-tiba ponsel milik Lena, yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur berbunyi. Lena yang sudah memejamkan mata langsung kembali terbuka, dengan cekatan tangan nya meraih benda canggih itu dan mengecek siapa yang menghubunginya malam-malam. "Pak Ronald," gumam Lena dengan nada lirih, ternyata yang menghubungi nya adalah atasannya. Ia langsung melirik pada suaminya, Sky tampak hanya diam menatap penasaran pada sang istri. "Siapa yang menghubungi kamu malam-malam begini? Nggak usah di angkat telponnya, bukannya tadi kamu bilang lagi capek banget ya mau istirahat." Ujar Sky, dengan nada datar. Lena mencebik kecil, merasa jika suaminya sangat bawel. "Ini bos aku Mas, ya kali nggak aku angkat telponnya." Jawab Lena, dengan nada ketus. "Ya tapi ini kan sudah malam, bukan waktunya jam kerja juga." Lanjut Sky, membantah jawaban istrinya. Bukanya nurut apa yang dikatakan suaminya, Lena malah melengos dan beranjak dari atas tempat tidur menuju pintu keluar kamar untuk mengangka
Pukul sembilan malam, Lena baru pulang dari kantor. Ia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah sepi karna putra semata wayang nya pasti sudah tidur. "Apa Gala sudah tidur, Bi?" tanya Lena pada pembantunya yang membukakan pintu. "Sudah, nyonya." Jawab Bi Atun dengan suara lembut. Tangan nya sibuk mengunci pintu, memastikan pintu sudah benar-benar terkunci dengan sempurna. "Kalau Mas Sky? Apa dia juga sudah tidur?" Tanya Lena, lagi. "Kalau tuan saya tidak tau nyonya, tapi sepertinya beliau sudah berada di dalam kamar nya. Tadi setelah selesai makan malam dan menidurkan Den Gala, tuan langsung masuk ke dalam kamar." Jawab Bi Atun menjelaskan. Lena mengangguk kecil, ia lngsung meninggalkan Bi Atun begitu saja, berjalan menuju ke kamarnya. Sebelum Lena masuk ke dalam kamar, Bi Atun lebih dulu bertanya. "Nyonya... apa nyonya mau makan malam biar saya siapkan? Atau nyonya mau saya buatin minuman hangat?" tanyanya pada sang majikan, sudah jadi kebiasaan Bi Atu







