Se connecterMobil hitam milik Eric memasuki halaman rumah. Senja hampir menelan langit, dan seperti biasa, ia pulang dengan tubuh lelah dan kepala penuh pikiran akan pekerjaan.
Begitu mesin dimatikan, ia menghembuskan napas berat lalu keluar dari mobil. Tangan Eric langsung terarah pada dasi yang sejak pagi terasa mencekik. Ia longgarkan dengan gerakan cepat, seolah ingin segera bebas dari hari yang panjang. Saat ia menginjak anak tangga pertama di teras, pintu utama sudah terbuka. Louisa muncul dengan senyum tipis yang selalu tersemat manis di bibirnya. Ia mengulurkan tangan mengambil tas kerja Eric, lalu melepaskan jas dari pundak pria itu. Semua dilakukan dengan gerakan yang begitu halus dan tenang, seperti rutinitas yang sudah dihafal selama bertahun-tahun. “Mau minum teh dulu atau langsung mandi?” tanyanya lembut. “Mandi," Jawaban Eric pendek, tanpa menatap ke arah Louisa. Louisa hanya mengangguk. Ia mengikuti langkah Eric menuju kamar, langkah yang penuh dengan keheningan. Setelah meletakkan tas dan jas Eric, Louisa masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan keran bathtub dan memastikan suhu air sesuai. Lalu setelahnya ia meneteskan aroma terapi favorit Eric. Peppermint dan cedarwood, aroma yang dulu selalu membuat Eric tersenyum. Tapi itu dulu. "Bantu aku menggosok punggungku." Baru saja Louisa hendak keluar dari kamar itu, suara Eric menahannya. Ini hal biasa, dan ia akan bertahan jika Eric yang memintanya. "Iya." Louisa langsung menyusul Eric yang sudah masuk lebih dulu. Louisa merapat ke dalam kamar mandi. Uap hangat mulai memenuhi ruangan dengan aroma menenangkan. Eric sudah duduk bersandar di tepi bathtub dengan punggung menghadap Louisa. Tanpa banyak kata, Louisa mengambil spons lembut dan membasahinya, lalu mulai menggosok perlahan punggung Eric. Gerakannya halus, hati-hati, seolah takut menyakiti pria yang selalu ia tatap penuh hormat. Eric menutup matanya. Napasnya teratur, tapi rahangnya mengeras. Ada banyak hal yang ia sembunyikan di balik diamnya dan Louisa tahu itu. “Pekerjaanmu berat hari ini?” tanya Louisa pelan. “Seperti biasa,” jawab Eric pendek. Hanya itu. Tidak ada lagi penjelasan tambahan. Louisa tersenyum tipis, meski hatinya tergores sedikit. Sudah bertahun-tahun seperti ini, ia tetap bertahan. Karena ia mencintai Eric, sehingga apa pun yang kurang berkenan di hatinya, Louisa akan terus maklum. “Sudah cukup. Terima kasih,” ucap Eric lirih ketika ia merasa cukup. Louisa memaksakan senyumnya sedikit lebih lebar. “Sama-sama.” Ia tahu, ia hanya menjadi tempat singgah untuk lelahnya Eric. Tapi ia berharap, suatu hari nanti, ia juga menjadi tempat pulang hati Eric. Sebagian orang mungkin mengira Eric dan Louisa sudah menikah. Wajar saja, Louisa sudah tinggal di rumah itu hampir delapan tahun. Mereka terlihat seperti pasangan suami-istri yang menjalani hidup normal bersama. Padahal kenyataannya, tidak ada ikatan resmi apa pun di antara keduanya.. Tidak ada buku nikah atau cincin yang mengikat jari manis mereka. Semua hanyalah kebersamaan tanpa adanya kepastian. Louisa tinggal di sana karena dua hal, rasa cintanya yang terlalu dalam dan rasa terima kasih yang tak pernah lunas pada Eric. Sepuluh tahun lalu, dunia Eric runtuh. Diana, istri yang ia cintai, mengalami kecelakaan parah. Segala upaya sudah dilakukan, tapi luka itu terlalu berat. Dan Diana mengembuskan napas terakhirnya tak lama kemudian. Namun sebelum pergi, Diana masih sempat meminta satu hal. Ia ingin ginjalnya disumbangkan kepada sepupunya, Louisa, yang saat itu hanya menunggu waktu karena gagal ginjal kronis yang dideritanya. Eric menolak. Ia tak sanggup membayangkan tubuh Diana disentuh pisau bedah setelah ia mati. Tapi itu permintaan terakhir istrinya, sehingga rasanya Eric tak mampu menolaknya. Dengan mata bengkak dan hati yang koyak, Eric akhirnya mengizinkan operasi itu dilakukan. Membiarkan salah satu organ milik Diana berpindah ke tubuh Louisa. Dan sejak hari itu, Louisa hidup dengan bagian tubuh Diana di dalam dirinya. Bagian dari seorang istri yang membuat pria itu tak pernah bisa benar-benar melihat Louisa sebagai wanita itu sendiri. Louisa keluar dari kamar mandi setelah memastikan Eric bisa melanjutkan mandinya sendiri. Ia mengeringkan sedikit uap yang menempel di wajahnya dengan punggung tangan sebelum bergegas ke lemari pakaian. Ia memilihkan kemeja putih bersih dan celana bahan hitam yang selalu menjadi favorit Eric. Semua ia letakkan rapi di atas ranjang. Setelah semuanya siap, Louisa duduk di tepi ranjang. Tangannya saling menggenggam dan lututnya ia rapatkan. Tatapannya kosong sesaat, memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak ia pikirkan. Ia menunggu. Beberapa menit berlalu sampai suara langkah Eric terdengar mendekat. Louisa langsung berdiri, ia memaksakan senyum lembut seperti yang selalu ia lakukan. “Makasih, Lou,” ucap Eric singkat sambil mengambil kemejanya. “Untuk itu aku di sini,” jawab Louisa. Suaranya hampir tenggelam oleh suara gesekan kain kemeja yang dipakai seorang pria yang tak pernah benar-benar melihat perasaannya. Saat Eric mengancingkan kemejanya, Louisa menatap punggung itu, punggung yang tadi sempat ia sentuh dengan penuh kasih. Punggung yang ingin ia peluk sepanjang malamnya, tapi sayangnya hal itu belum menjadi kenyataan sepenuhnya. Ia masih bisa merasakan kehangatannya, tapi belum dengan rasanya. “Bricia sudah pulang?” tanya Eric. “Belum,” jawab Louisa. “Tadi siang dia pamit makan siang dengan temannya.” Eric mengangguk pelan. "Iya, dia juga menghubungiku." Kemudian Eric berbalik, ia mendekat ke Louisa sampai jarak tinggal sejengkal. Pria itu menunduk, lalu tanpa aba-aba, mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Louisa. Lumatan yang awalnya pelan berubah menuntut, seolah ia tak ingin melepaskan. Begitu merasa cukup, Eric akhirnya menjauh perlahan. Ujung jarinya menyentuh bibir Louisa yang kini memerah. “Andrew bilang akan ke sini. Tolong siapkan makan malam. Seadanya saja, tak perlu membuat dirimu repot,” ucapnya ringan. Sebelum pergi, Eric terlebih dulu menunduk dan mengecup dahi Louisa, singkat tapi terasa manis. Eric lalu melangkah keluar kamar terlebih dahulu. Sikap manis Eric yang datang sesekali, seperti yang baru saja ia lakukan, selalu berhasil menahannya tetap tinggal. Meski Louisa tahu, hati Eric masih belum sepenuhnya menjadi miliknya. ***“Daddy…” Alodie dan Aldric berlari kencang memasuki area kafe. Kedua bocah itu langsung mencari keberadaan Daddy-nya, sementara Bricia berjalan santai di belakang mereka. “Daddy…” Sekali lagi suara itu melengking, dan Andrew langsung keluar dari area pantry. “Wah… wah… siapa ini yang datang?” Andrew berjongkok di depan kedua anaknya, lalu membuka tangan lebar. “Hug Daddy dulu…” Alodie dan Aldric langsung masuk ke dalam pelukannya bersamaan. Setelah itu, Andrew menunjuk kedua pipinya. “Kiss juga dong pipi Daddy.” Keduanya menurut, mencium pipi kanan dan kiri Andrew tanpa ragu. “Anak pintar,” ucap Andrew, tersenyum lebar. “Daddy… Daddy, Alodie mau kasih tahu. Tugas berhitung Alodie dapat seratus.” Alodie menunjukkan lembar kertas dengan bangga. “Wah… pintar sekali jagoan Daddy,” puji Andrew, matanya ikut berbinar. “Tapi Aldric nggak dapat seratus,” tambah Alodie polos. Andrew menoleh ke arah putranya. Aldric langsung menunduk, wajahnya sedikit berubah. “Dapat berapa, hm?”
“Ya ampun… Aldric!” Pekikan kaget Andrew justru disambut gelak tawa Bricia. Perempuan itu tertawa lepas sampai memukul sisi ranjang di sampingnya. Retno yang berada di luar kamar langsung panik. Ia bergegas masuk, takut terjadi sesuatu. “Ada apa ini?” tanyanya cepat. Ia berdiri kaku sambil memegang sutil di tangannya. Bricia masih belum menjawab. Ia masih terbahak, tangannya menunjuk ke arah Andrew yang kini diam mematung. Wajah pria itu basah, bukan oleh keringat, melainkan karena kencing Aldric. “Astaga…” gumam Retno, antara kaget dan menahan tawa. Andrew menutup mata sebentar, menghela napas panjang, lalu menatap bayi laki-lakinya yang tampak tak berdosa. “Kamu ya…” ucapnya pasrah. Bricia semakin keras tertawa. “Makanya, jangan sok jago. Tadi yang pengen Aldric siapa?” “Nggak ada yang pengen, tadi kamu yang nyuruh suit, Baby,” balas Andrew, masih dengan wajah basah. Sebulan sudah berlalu sejak perjuangan panjang Bricia siang itu. Kini rumah mereka selalu dipenuhi tang
Perawat itu segera keluar memanggil dokter. Tak lama, dokter kandungan Bricia kembali masuk ke dalam ruangan, langkahnya tenang namun sigap. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Bricia dan Andrew bergantian. “Bu Bricia, Pak Andrew… saya ingin memastikan sekali lagi,” ujarnya hati-hati. “Apakah keputusan untuk operasi sesar ini sudah dipertimbangkan dengan matang?” Bricia menatap Andrew sekilas, lalu kembali pada dokter. Meski wajahnya pucat dan dipenuhi rasa lelah, anggukannya kali ini tegas. “Iya, Dok… saya mau operasi saja.” Andrew mengusap punggung tangan Bricia pelan, lalu ikut mengangguk. “Kami sepakat, Dok.” Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Baik. Kami akan segera siapkan tindakan. Mohon tetap tenang, ya. Tim kami akan menangani sebaik mungkin.” Beberapa perawat langsung bergerak cepat. Alat-alat mulai disiapkan, suasana ruangan berubah menjadi lebih sibuk dan terarah. Andrew masih di sisi Bricia, tak melepaskan genggamannya sedikit pun. Karena sed
Andrew berlari kencang dari arah parkiran rumah sakit. Harry yang masih berada di balik kemudi hanya bisa melihatnya pergi tanpa sempat mencegah. Ia tahu, kepanikan itu tak bisa ditahan, Andrew pasti sudah tak sabar ingin sampai ke ruang persalinan, memastikan keadaan Bricia. Sebelumnya, Andrew ada janji temu dengan rekan bisnisnya di sebuah hotel. Namun, rencana itu berubah. Ia memilih memindahkan pertemuan ke kafe miliknya karena ada beberapa dokumen penting yang tertinggal di sana. Beruntung, rekan bisnisnya tidak keberatan. Mereka sepakat untuk bertemu di kafe tersebut. Namun, baru saja Andrew tiba dan belum sempat duduk, ponselnya berdering. Nama Feli muncul di layar. Dan dari sanalah semuanya berubah. Feli mengabarkan bahwa Bricia sudah dibawa ke rumah sakit. Andrew tak membuang waktu. Begitu melewati pintu utama rumah sakit, langkahnya langsung berbelok menuju area lift. Jarum penunjuk lantai masih berada di atas, dan perlahan turun satu per satu. Itu terasa terlalu lama
Beberapa purnama telah terlewati. Hari demi hari dijalani Bricia dengan penuh perjuangan dalam kehamilan kembarnya.Bulan ini memasuki masa HPL kehamilan Bricia. Tak ada yang pasti, bisa pagi, siang, atau malam, kapan kedua buah hatinya akan hadir ke dunia.Berbagai keluhan mulai ia rasakan. Wajah dan kakinya sesekali membengkak, perutnya terasa begah karena mengandung dua bayi sekaligus, hingga malam-malam yang sering ia lalui tanpa bisa tidur dengan nyenyak.Namun, di tengah semua itu, Andrew selalu ada. Menjadi suami siaga yang tak pernah absen, hadir kapan pun Bricia membutuhkan.“Bri… mau makan buah mangga?” suara Feli terdengar dari dapur. Ia sedang bersama Retno di sana.Sudah dua hari terakhir Feli dan Retno menginap di rumah Andrew. Tentu saja, Harry ikut serta. Semua itu atas permintaan Bricia yang mulai diliputi rasa takut menjelang persalinan.Rencananya, siang ini Eric, Louisa, dan Erlio juga akan menyusul, membuat rumah itu semakin ramai.“Nggak mau mangga, Fel,” seru Br
Setelah menghabiskan waktu seharian, Feli dan Harry kembali ke kamar hotelnya. Sudah waktunya mereka beristirahat, atau mungkin justru melakukan kegiatan lain. “Abang yang bersih-bersih dulu, ya.” Feli menyodorkan pakaian ganti Harry yang ia ambil dari dalam lemari. Tak ada penolakan, Harry menerima baju itu lalu mengangguk. Ia berjalan ke kamar mandi dengan langkah tenang. Setelah Harry masuk, Feli kembali membuka lemarinya. Ia mengambil baju yang sudah dibelikan Bricia, sebuah lingerie berwarna merah menyala. Feli memejamkan mata sejenak. Ia geli sendiri melihat betapa minimnya pakaian itu. Bahkan terlihat sedikit transparan. Lalu, bagaimana jika nanti ia mengenakannya? Bisa saja hampir seluruh tubuhnya terekspos. Namun, Feli mencoba meyakinkan dirinya. Bukankah sebagai seorang istri, ia juga ingin menyenangkan suaminya? Pada akhirnya, ia tetap mengambilnya. Dipeluknya pakaian itu, lalu ia duduk di tepi ranjang sambil menunggu Harry keluar. Di detik-detik itu, Feli menarik na
Di dalam kamar, Amanda tampak terburu-buru mencium bibir Eric. Hasrat yang lama ia pendam akhirnya menemukan jalannya ketika bibir mereka bertaut.Ia telah menunggu lama momen ini, bahkan sejak sebelum wisuda kelulusan mereka. Tapi selama ini, Amanda memilih diam dan mengubur keinginan itu. Ia tahu
Pukul sepuluh lewat beberapa menit, Louisa tiba di kediaman Eric. Lampu kamar Bricia masih menyala, tanda perempuan itu belum tidur. Dan Louisa tahu, Feli pasti menginap.Begitu pintu utama terbuka, langkahnya terhenti. Ia menyapu ruangan itu dengan pandangan lama, lalu mengembuskan napas berat. Se
Bricia menelan ludah. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum genit, melainkan tatapan yang penuh arti.“Om…,” gumamnya pelan, “ini di kantor, Om.”Andrew terkekeh kecil. Dahinya menempel di dahi Bricia.“Memangnya kenapa kalau di kantor?” tanyanya santai, sebelum kembali mengecup bibir Bricia penu
“Bri… kenalkan, ini Tante Amanda.”Untuk beberapa detik, Bricia hanya mematung. Tatapannya terkunci pada senyum lebar Amanda yang terasa terlalu ramah untuk situasi seperti ini.“Bri?” Eric menegur pelan.“Eh, iya…” Bricia tersentak ringan, memaksakan senyum, lalu mengulurkan tangan. “Bricia, Tan…”







