Share

Bab 200

Penulis: Author Marr
last update Tanggal publikasi: 2026-08-10 21:44:33

Sudut Pandang Lucia

Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang dari klinik, suasana terasa lebih ringan. Mungkin karena beban tes sperma sudah selesai. Mungkin karena Fabio berhasil membuat Alexandro sedikit lebih santai dengan lelucon-leluconnya yang menyebalkan. Atau mungkin karena aku sendiri akhirnya bisa bernapas lebih lega karena mengetahui rahimku sehat, tidak ada masalah dariku, aku tidak mandul.

Aku memandang suamiku yang sedang mengemudi. Entah di mana Marco sehingga Alexandro harus meny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 255

    Beberapa hari kemudian, dokter mengizinkanku pulang. Kondisiku sudah stabil, mualku mulai reda, dan bayi-bayi dalam kandunganku dinyatakan sehat. Alexandro menjemputku sendiri, tanpa Marco, tanpa Gianna. Hanya dia dan aku. Di mobil, dia menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap jika dia melepaskan."Kamu lega?" tanyaku."Aku lega. Tapi juga waspada. Fabio bilang kehamilan kembar lebih berisiko. Kau harus lebih berhati-hati.""Aku tahu.""Jangan banyak bergerak. Jangan angkat barang berat. Jangan...""Ale, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Jangan buat aku ingin kembali."Dia tersenyum tipis. "Baik."Hari demi hari berlalu. Perutku mulai membesar. Tidak terlalu cepat, tapi cukup untuk membuatku sulit bergerak. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar nanti. Hamil saja sudah menyiksa, apalagi hamil kembar? Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus kuat untuk bayi-bayi ini.Kuliah dimulai lagi. Aku memaksakan diri untuk tetap masuk, meskipun tubuhku sering terasa le

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 254

    Mona terkejut. Wajahnya berubah pucat, lalu merah, lalu pucat lagi. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Tangannya yang tadi dengan percaya diri bersilang di dada, kini jatuh lemas di sisi tubuhnya."Apa katamu?" bisiknya.Isabella berdiri tegak di hadapan Mona. Wajahnya tidak lagi sayu seperti biasanya. Matanya tajam. Ada api di sana. Api yang sudah padam selama bertahun-tahun, kini menyala kembali."Aku bilang, kau hanya pelacur. Pelacur yang merebut suami orang saat istri sahnya masih hidup dan masih berjuang melawan penyakitnya."Mona mundur selangkah. "Kau tidak tahu apa-apa.""Aku tahu segalanya. Aku tahu bagaimana kau masuk ke keluarga De Luca. Aku tahu bagaimana kau memanfaatkan kelemahan Abraham. Aku tahu bagaimana kau menyingkirkan istri sahnya dan aku tahu bagaimana kau sekarang berusaha menyingkirkan menantumu sendiri."Aku menatap ibuku. Aku belum pernah melihatnya seperti ini."Mom, apa maksudmu?"Isabella tidak menatapku. Matanya masih tertuju pada Mona.

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 253

    Alexandro tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya berdiri di dekat jendela, membelakangi aku, menatap ke luar dengan mata yang tidak fokus. Tangannya di saku celana. Pundaknya tegang. Aku tahu dia sedang merenung memikirkan sesuatu."Ale," panggilku.Dia tidak menjawab."Apa kau baik-baik saja?""Aku baik-baik saja.""Tapi kau diam sejak tadi.""Aku hanya berpikir.""Tentang apa?"Dia berbalik. Wajahnya masih datar, tapi matanya berbeda."Tentang bagaimana aku akan menjadi ayah yang baik.""Kau akan menjadi ayah yang baik, Ale.""Kau yakin?""Aku yakin."Dia tersenyum tipis. "Aku harap kau benar."Pintu ruangan terbuka.Aku menoleh. Mona, ibu tiri Alexandro, masuk dengan gaun sutra merah, rambut disanggul tinggi, perhiasan berlian di leher dan telinga. Di belakangnya, Abraham, ayah Alexandro, berjalan dengan langkah tegap, suit abu-abu rapi, rambut disisir ke belakang. Wajahnya ramah, senyumnya hangat, seperti biasanya."Lucia, anakku," sapa Abraham. "Kami dengar kau dirawat di rumah s

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 252

    Aku terbangun dengan rasa dingin di punggung tangan kiri. Bukan dingin biasa. Dingin yang menusuk, yang berasal dari selang plastik bening yang terhubung ke kantong cairan di tiang besi di samping tempat tidur. Infus lagi. Aku di rumah sakit lagi.Bau antiseptik. Bau alkohol. Bau rumah sakit. Bau yang sudah terlalu familiar.Aku membuka mata lagi. Aku menatap langit-langit dan masih sama seperti terakhir kali. Aku wanita penyakitan. Seumur hidup mungkin harus berteman dengan rumah sakit. Aku menyentuh perutku."Maafkan Mama," bisikku.Air mataku jatuh.Pintu terbuka.Alexandro masuk. Suit hitamnya masih rapi, tapi kemeja putihnya sedikit kusut di bagian kerah. Rambutnya masih tertata, tapi ada beberapa helai yang jatuh di dahinya. "Lulu," panggilnya."Aku di sini."Dia berjalan mendekat dan duduk di kursi samping tempat tidur, meraih tanganku yang tidak terpasang infus, menggenggamnya erat."Aku minta maaf," kataku."Kau minta maaf untuk apa?""Aku wanita penyakitan dan aku terus m

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 251

    Beberapa hari kemudian, rumah terasa sunyi. Alexandro pergi bekerja seperti biasa, meskipun dia berjanji akan mengurangi aktivitasnya. Tapi janji itu sepertinya hanya bertahan sebentar. Ada rapat, ada klien, ada proyek yang tidak bisa ditunda. Aku tidak bisa marah. Aku sudah terlalu sering marah.Aku duduk di ruang keluarga, memeluk bantal, menatap televisi yang tidak aku nyalakan. Rasanya bosan dan aku ingin melakukan sesuatu, tapi tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak bisa keluar karena mual. Aku tidak bisa bekerja karena libur semester. Aku hanya bisa duduk di sini, menunggu waktu berlalu.My Mom, Isabella, duduk di kursi dekat jendela. Tangannya sibuk merajut. Benang biru muda melilit di jarumnya, membentuk pola-pola kecil yang rumit. Aku tidak tahu sejak kapan dia belajar merajut. Matanya fokus, tangannya terampil, dan sesekali dia tersenyum sendiri."Mom, itu untuk siapa?" tanyaku."Untuk cucuku, aku akan buatkan baju, topi, sepatu, dan selimut. Semua warna biru.""Kenapa bi

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 250

    Aku mengangguk pelan. Aku tahu Alexandro benar tapi aku tidak bisa begitu saja melupakan Elena. Dia sepupuku. Meskipun dia jahat padaku, meskipun dia sombong, meskipun dia selalu meremehkanku, dia tetap keluarga."Kau mau mandi?" tanya Alexandro."Iya. Aku berkeringat.""Jangan terlalu lama. Air hangat saja. Jangan pakai air panas.""Aku tahu."Aku berjalan ke kamar mandi lalu membuka keran, membiarkan air hangat mengalir di tubuhku. Aromanya lavender, seperti biasa. Aku mengambil sabun cair, menuangkannya ke spons, lalu menggosokkannya ke tubuhku. Tanganku turun ke perutku. "Halo, bayi. Aku mamamu. Maaf, mamamu sering marah-marah akhir-akhir ini. Mamamu juga sering mual. Tapi mamamu sayang kamu. Mamamu akan jaga kamu dan mamamu akan berikan yang terbaik untuk.Aku memejamkan mata. Aku membayangkan wajah anakku nanti. Akan mirip siapa? Akan mirip aku? Atau akan mirip Alexandro? Aku berharap dia mirip Alexandro."Aku tidak sabar bertemu kamu," bisikku.Ponselku berdering di luar kama

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 2

    POV Lucia."Apa ini?!"Suara itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku menoleh dan bibiku sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam, matanya langsung tertuju pada gaun itu. Di atas meja, gaun berwarna pastel itu tergeletak rusak. Pinggirannya menghitam, ada lubang kecil di bagian dada,

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 1

    Carlo Bianchi berdiri ragu di depan pintu besar itu. Tangannya berkeringat meski udara malam terasa dingin. Jas yang ia kenakan tampak rapi, tapi tidak mampu menyembunyikan kegelisahan di balik bahunya yang kaku. Dua pria berbadan besar berdiri di kanan kiri pintu, wajah mereka datar, mata tajam me

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 6

    Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 5

    Aku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.Sebelum pintu mobil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status