ログイン
Carlo Bianchi berdiri ragu di depan pintu besar itu. Tangannya berkeringat meski udara malam terasa dingin. Jas yang ia kenakan tampak rapi, tapi tidak mampu menyembunyikan kegelisahan di balik bahunya yang kaku. Dua pria berbadan besar berdiri di kanan kiri pintu, wajah mereka datar, mata tajam mereka terus mengawasi setiap gerakan Carlo. Salah satu dari mereka membuka pintu tanpa berkata apa pun.
Carlo melangkah masuk, Alexandro De Luca duduk santai di sofa besar berwarna gelap. Kemejanya terbuka satu kancing, dasinya terlepas. Seorang wanita berpakaian minim berada di atasnya, rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajahnya. Tawa pelan terdengar sangat menggoda. Alexandro mengangkat tangan sedikit setelah tahu ada yang masuk ke ruangannya, Wanita itu berhenti dan menoleh ke arah pintu, lalu ke arah Carlo. "Pergi," kata Alexandro singkat. Wanita itu turun tanpa protes, merapikan pakaiannya dengan wajah datar. Ia melirik Carlo sekilas lalu melangkah pergi melewati pintu samping. Ruangan kembali sunyi, Alexandro menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap Carlo tanpa ekspresi. "Duduk," kata Alexandro. Carlo menurut. Ia duduk di kursi di seberang sofa, punggungnya tegak tapi tegang. Kakinya bergerak gelisah. Alexandro mengambil gelas di meja, meneguk minumannya dengan tenang. "Aku datang untuk meminta waktu," kata Carlo. Alexandro mengangkat alis sedikit. "Waktu," ulangnya datar. "Iya, sedikit saja. Aku akan melunasi semuanya. Aku janji," kata Carlo sambil menelan ludah. Alexandro meletakkan gelasnya, bunyi kaca menyentuh meja terdengar jelas. "Kau sudah meminta waktu tiga kali," katanya pelan. Carlo menunduk. "Bisnisku tidak berjalan seperti yang kuharapkan." "Itu bukan urusanku," jawab Alexandro. "Aku tahu," Carlo cepat menyela. "Tapi aku sedang mencari cara. Aku..." "Carlo," potong Alexandro. Satu kata itu cukup membuat Carlo terdiam. "Utangmu tidak kecil dan bunganya tidak berhenti berjalan hanya karena kau terus meminta waktu padaku." Carlo mengepalkan tangan. "Aku bukan bermaksud menghindar. Aku hanya..." "Kau terlambat," kata Alexandro dingin. Carlo mengangkat kepala. "Aku mohon." Untuk sesaat, Alexandro hanya menatapnya. "Kau tahu apa yang paling tidak kusukai?" tanya Alexandro. Carlo menggeleng pelan. "Orang yang datang ke sini tanpa membawa solusi dan hanya membawa kata 'mohon'." Carlo menghela napas berat. "Aku tidak punya apa-apa lagi." "Aku beri kau satu kesempatan," lanjut Alexandro. Carlo menegakkan punggung. "Kesempatan apa?" Alexandro berdiri. Tingginya membuat Carlo reflek ikut berdiri, meski lututnya terasa lemah. "Bawakan aku sesuatu yang setara dengan nilaimu, sesuatu yang membuat utang itu dianggap lunas." Carlo terdiam cukup lama. "Seperti kepalamu," kata Alexandro sambil tersenyum licik. Carlo terkejut mendengarnya, Keringat dingin mengalir di tengkuknya. Ia tahu Alexandro tidak sedang bercanda. Pria itu tidak pernah melempar kata tanpa maksud. Carlo menelan ludah, lalu tanpa sadar matanya bergerak ke sudut ruangan, ke arah pintu samping yang baru saja tertutup. Di benaknya terbayang kembali perempuan yang tadi berada di atas Alexandro. Tubuh ramping, wajah cantik, kulit mulus. Perempuan malam, salah satu dari sekian banyak yang bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, dan entah dari mana, sebuah ide liar muncul. Carlo menghela napas, lalu berkata dengan suara yang lebih hati-hati, "Aku mungkin punya sesuatu." Alexandro mengangkat pandangan. Tidak antusias, tapi cukup tertarik untuk tidak menyela. "Apa itu?" tanyanya datar. "Aku punya seorang anak perempuan." Alexandro tidak bereaksi, wajahnya tetap sama. "Dia cantik, sangat cantik bahkan lebih cantik dari perempuan barusan." Ia tersenyum kecil, senyum putus asa yang mencoba menjual harapan. "Dia muda, cantik dan terdidik, bukan perempuan bayaran." Alexandro terkekeh pelan, bukan tawa keras dan hanya suara rendah yang penuh ketidakpedulian. "Kau pikir aku kekurangan perempuan, Carlo?" katanya. Carlo tersentak. "Bukan itu maksudku, tapi ini berbeda. Dia..." "Aku bisa mendapatkan perempuan mana pun. Model, aktris, putri orang kaya, atau perempuan jalanan. Tinggal sebutkan." Ia melangkah mendekat satu langkah. "Apa yang membuatmu berpikir putrimu istimewa?" Carlo terdiam sesaat, jantungnya berdetak keras. Namun, ia tidak bisa mundur. "Karena dia milikku dan aku menyerahkannya padamu." Alexandro menatap Carlo lama. "Siapa nama putrimu?" tanyanya. Carlo tersentak kecil, tapi cepat menjawab, "Elena." Alexandro mengulang nama itu pelan, lalu berbalik, berjalan kembali ke sofanya. Ia duduk, menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Elena," ulangnya lagi. "Cantik, katamu." "Iya," Carlo mengangguk cepat. "Sangat cantik, semua orang memujinya. Dia bahkan..." "Berapa nilainya?" tanya Alexandro memotong. Carlo tercekat. "Maksudmu?" "Utangmu, apakah menurutmu satu perempuan secantik apa pun cukup untuk menutup semua itu?" Carlo terdiam, angka-angka itu muncul di kepalanya dan ia tahu jawabannya. "Tidak sepenuhnya, tapi itu bisa menjadi jaminan jika aku tidak akan kabur," jawab Carlo. Alexandro tersenyum tipis. "Kau masih belum mengerti." Ia berdiri lagi, lalu berjalan perlahan mengelilingi Carlo. Setiap langkahnya membuat Carlo semakin kecil. "Aku tidak membeli perempuan," lanjutnya. "Aku memilih." Carlo berbalik mengikuti geraknya. "Maka pilihlah dia. Kau tidak akan menyesal jika menikahi putriku." Alexandro berhenti tepat di depan Carlo. Jarak mereka dekat, terlalu dekat. "Bawakan fotonya," katanya. Carlo mengangkat kepala cepat. "Apa?" "Foto," ulang Alexandro. "Aku ingin melihat apa yang kau sebut cantik." Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Carlo merogoh tas kerjanya dengan tangan gemetar. Dari saku terdalam tempat ia biasa menyimpan dokumen penting, ia menarik keluar sebuah foto yang sudah agak usang di sudut-sudutnya. Foto itu terbungkus plastik bening, jelas sering dikeluarkan lalu disimpan kembali. "Aku selalu membawanya," kata Carlo terburu-buru. "Aku ingin kau melihatnya sekarang." Alexandro menoleh perlahan, tidak ada ketidaksabaran di wajahnya, tidak juga minat yang berlebihan. Ia hanya mengulurkan tangan, telapak terbuka, menunggu. Carlo menyerahkan foto itu. Selembar kertas kecil berpindah tangan namun bagi Carlo, rasanya seperti menyerahkan sesuatu yang jauh lebih besar. Alexandro menurunkan pandangannya ke foto itu. Itu foto keluarga. Diambil bertahun-tahun lalu, Carlo berdiri di tengah dengan senyum bangga. Di sampingnya, istrinya dan di depan adalah Elena. Cantik, bahkan dalam foto lama itu, kecantikannya menonjol. Rambutnya panjang dan terawat, wajahnya cerah, senyumnya percaya diri. Gadis yang memang lahir untuk diperlihatkan pada dunia. Carlo menahan napas. Ia memperhatikan wajah Alexandro dengan saksama, mencari tanda-tanda ketertarikan. Alexandro memiringkan foto itu sedikit, menatap lebih dekat. Matanya berhenti cukup lama pada Elena. Tidak ada senyum, tidak ada perubahan ekspresi yang jelas. Namun, Carlo melihatnya ada jeda. Alexandro tidak langsung mengembalikan foto itu. Ia menggeser pandangannya ke sosok lain di foto tersebut. Gadis di sisi yang sedikit terpinggirkan. Tidak berdiri di tengah, tidak menatap kamera dengan percaya diri. Tubuhnya lebih besar, senyumnya samar seolah ia tahu dirinya bukan fokus utama foto itu. Alexandro menatap foto itu lebih lama sekarang. "Ini..." gumam Alexandro pelan. Carlo mencondongkan tubuh tanpa sadar. "Elena," katanya cepat. "Putriku yang itu." Alexandro tidak menyahut. Ia tetap menatap foto itu, jarinya sedikit menekan bagian plastik yang melapisi wajah gadis di sisi foto. Carlo mulai gelisah. "Aku yakin kau akan tertarik," lanjutnya, mencoba menutup kegugupan. "Dia akan cocok berdiri di samping pria sepertimu."Aku tidak bisa berhenti menangis. Tubuhku terus mengkhianatiku. Setiap kali aku merasa baik, mual itu kembali. Setiap kali aku ingin dekat dengan suamiku, perutku mual. Setiap kali aku ingin menjadi istri yang baik, tubuhku menghalangi.Alexandro tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa duduk di sampingku, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Tangannya terulur, ingin menyentuhku, tapi dia takut membuatku mual."Aku benci ini, Ale," kataku di antara isakan."Benci apa?""Aku benci mual ini.""Ini hanya sementara.""Kapan? Kapan ini akan berakhir? Aku tidak tahan lagi."Alexandro tidak menjawab.Aku menangis semakin keras.Malam itu, aku tidur sendirian di kamar. Alexandro tidur di kamar lain. Aku tidak bisa memaksanya mendekat, dan aku tidak bisa memaksanya menjauh. Aku hanya bisa menangis ke dalam bantal, berharap besok akan lebih baik.Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan aneh. Perutku masih mual, tapi bukan mual biasa. Mual yang lebih kuat, lebih menusuk, lebih menyiksa
"Aku rindu BDSM," kataku."Apa kamu serius?" tanyanya."Aku serius.""Tapi kamu sedang hamil.""Aku tahu.""Dan kamu mual kalau aku dekat.""Aku tidak mual lagi."Alexandro diam."Kamu yakin?" tanyanya."Aku yakin."Dia memanggil pelayan, membayar tagihan, lalu meraih tanganku. "Ayo pulang."Di rumah, kami langsung menuju kamar tidur. Alexandro mengunci pintu. Aku duduk di tepi tempat tidur, jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena gugup. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali kami melakukan ini. Tubuhku mungkin sudah lupa, tapi pikiranku tidak pernah."Ale," panggilku."Apa.""Aku yang memulai."Dia mengedip. "Kamu?""Aku. Kamu duduk di kursi. Jangan bergerak. Jangan bicara. Jangan lakukan apa pun."Alexandro menurut. Dia duduk di kursi dekat jendela, menatapku dengan mata gelap. Aku berdiri, berjalan ke lemari, dan mengeluarkan kotak hitam. Kotak berisi mainan-mainan kami. Borgol kulit hitam berlapis bulu domba. Lilin kecil. Tali sutra. Sumbat mulut. Semuanya ti
Sudut Pandang Lucia.Aku menangis. Bukan tangisan biasa. Tangisan yang keluar dari dadaku yang sesak, dari perutku yang mual, dari mataku yang perih. Aku tahu ini kekanak-kanakan, dan aku tahu ini karena hormon, tapi aku tidak bisa mengendalikannya. Aku hanya bisa menangis.Alexandro panik. Aku bisa melihatnya dari caranya melangkah mendekat, lalu mundur, lalu mendekat lagi, lalu mundur lagi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berdiri di sana, tangannya terulur tapi tidak berani menyentuh."Lulu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu," katanya."Suaramu naik satu oktaf. Itu namanya membentak.""Itu hanya sedikit lebih keras.""Sama saja."Alexandro menghela napas. "Maaf. Sungguh. Aku tidak akan mengulanginya."Aku masih menangis dan tidak bisa berhenti."Lulu, sudahlah. Jangan menangis. Kamu bisa dehidrasi.""Aku sudah minum air.""Tapi kamu terus muntah.""Itu bukan karena menangis. Itu karena kehamilan."Alexandro tidak menjawab. Dia
Marco mengedip. Tidak sering tuannya memberi pujian, apalagi kenaikan gaji."Terima kasih, Tuan."Alexandro tidak menjawab. Dia berjalan ke mejanya, duduk, dan membuka laptopnya. Marco pergi.Tapi Alexandro tidak bisa fokus. Layar laptop menampilkan laporan keuangan, grafik, dan angka-angka. Matanya membaca baris demi baris, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Ke Lucia, ke perutnya yang membesar, ke dua bayi yang akan segera lahir, ke tubuh hangat istrinya, kulitnya yang lembut, dan erangannya yang membuatnya kehilangan kendali.Kontolnya mengeras.Alexandro menghela napas. Dia menutup laptop. Dia berdiri. Dia mondar-mandir di ruangan. Itu tidak membantu. Kontolnya masih keras.Dia melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Dia mulai melakukan push-up. Satu. Dua. Tiga. Dua puluh. Seratus. Keringat mulai membasahi kemejanya. Otot-ototnya menegang, tapi hasratnya tak surut.Dia berdiri. Napasnya masih tersengal. Dia menutup mata. Dia membayangkan Lucia, tapi membayangkannya hanya
Di kantor lantai dua puluh tujuh, dengan langit-langit tinggi, dinding kaca, dan pemandangan kota yang membentang luas, Alexandro duduk di balik meja kayu mahoni. Namun matanya tidak tertuju pada laptop atau dokumen yang berserakan. Dia menatap kosong ke arah jendela, seolah merenungkan sesuatu yang berat.Marco masuk tanpa mengetuk."Tuan, laporan dari tim keamanan sudah datang," kata Marco, meletakkan sebuah tablet di atas meja.Alexandro mengedip. "Apa isinya?""Tentang teman Nyonya Lucia. Namanya Bianca."Alexandro mengambil tablet itu. Matanya bergerak cepat melintasi layar, membaca baris demi baris. Ekspresinya tidak berubah, tapi rahangnya sedikit mengeras."Bianca menerima tawaran pekerjaan melalui media sosial. Gaji tinggi, lokasi di luar negeri. Dia pergi tanpa memberi tahu siapa pun.""Modus operandi yang sama," gumam Alexandro."Benar, Tuan. Modus operandi yang sama yang digunakan Matteo Bianchi untuk menjebak korbannya. Tawaran pekerjaan, gaji tinggi, berangkat ke luar ne
Beberapa hari kemudian, dokter mengizinkanku pulang. Kondisiku sudah stabil, mualku mulai reda, dan bayi-bayi dalam kandunganku dinyatakan sehat. Alexandro menjemputku sendiri, tanpa Marco, tanpa Gianna. Hanya dia dan aku. Di mobil, dia menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap jika dia melepaskan."Kamu lega?" tanyaku."Aku lega. Tapi juga waspada. Fabio bilang kehamilan kembar lebih berisiko. Kau harus lebih berhati-hati.""Aku tahu.""Jangan banyak bergerak. Jangan angkat barang berat. Jangan...""Ale, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Jangan buat aku ingin kembali."Dia tersenyum tipis. "Baik."Hari demi hari berlalu. Perutku mulai membesar. Tidak terlalu cepat, tapi cukup untuk membuatku sulit bergerak. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar nanti. Hamil saja sudah menyiksa, apalagi hamil kembar? Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus kuat untuk bayi-bayi ini.Kuliah dimulai lagi. Aku memaksakan diri untuk tetap masuk, meskipun tubuhku sering terasa le
Aku menatap kalimat terakhir itu lama sekali.Tinta hitamnya terlihat biasa saja, tapi rasanya seperti borgol yang sudah terpasang di kedua pergelangan tanganku.Tidak dapat dibatalkan.Aku menutup map itu perlahan. Dadaku terasa sesak. Tanganku hampir saja meraih pena yang sudah disediakan di atas
Aku masuk ke dalam mobil mewah itu dengan tangan gemetar. Aku tidak membawa banyak barang, hanya tas kecil berisi pakaian ganti, ponsel, dan dompet tipisku. Kalung ibuku tetap melingkar di leherku, aku menolak melepaskannya. Itu satu-satunya hal yang masih memberiku rasa aman.Sebelum pintu mobil
Malam itu kami pulang ke rumah. Tubuhku rasanya hampir roboh. Kakiku pegal karena seharian berdiri, pundakku nyeri karena membawa tas dan kotak tanpa henti. Kepalaku terasa berat, tapi aku tetap turun terakhir dari mobil, memastikan semua barang sudah kubawa masuk.Bibiku membuka pintu dengan seman
Lucia.Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya, seperti rutinitas yang sudah melekat di tubuhku, aku langsung menuju dapur. Memanaskan sup, menggoreng telur, menata roti di piring. Semua kulakukan otomatis, seolah tubuhku bergerak tanpa perlu diperintah. Semalam aku hampir tidak tidur







