LOGINGemercik air yang tenang bergema di dalam kolam renang pribadi di lantai teratas griya Mayfair. Halaman itu dirancang dengan estetika minimalis namun mewah; dindingnya terbuat dari kaca setinggi langit-langit yang menawarkan panorama London yang berkabut, sementara air kolamnya yang hangat menguap tipis, menciptakan atmosfer yang intim dan terisolasi dari dunia luar.Leo sudah berada di sayap lain bangunan, tertidur pulas setelah kelelahan bermain, ditemani oleh pengasuh dan tim medis terbaik. Kini, hanya ada Dante dan Lexy.Dante berdiri di tepi kolam, hanya mengenakan celana pendek hitam yang memamerkan otot-otot tubuhnya yang atletis—hasil dari disiplin keras dan modifikasi genetik yang tak pernah ia minta. Ia menatap air dengan pikiran yang melayang, sampai ia mendengar suara pintu geser terbuka.Lexy masuk dengan mengenakan bikini berwarna zamrud yang kontras dengan kulit putih porselennya. Rambutnya diikat asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya."Kau ma
Pagi di London selalu punya cara untuk terlihat puitis, namun bagi Lexy, suasana hati suaminya adalah ramalan cuaca yang lebih penting. Setelah ketegangan soal pelacak GPS tempo hari, Dante tampaknya berusaha menebus dosa dengan cara yang lebih manusiawi. Ia membawa Leo jalan-jalan ke sebuah kafe di kawasan Knightsbridge sebelum jadwal pemeriksaan rutin bocah itu di klinik.Leo tampak jauh lebih segar. Pipinya mulai berisi, dan binar matanya kembali setelah sekian lama redup oleh rasa sakit."Kak, lihat! Ada burung besar di sana!" Leo menunjuk ke arah taman melalui jendela kaca kafe yang luas."Itu burung merpati, Leo. Di London, mereka adalah pemilik jalanan," sahut Dante sambil mengusap kepala Leo. l.Ia kemudian menoleh pada Lexy, menggenggam tangannya di atas meja kayu ek yang dipelitur rapi. "Kau terlihat lebih tenang hari ini. Apa karena aku mematikan pelacak itu?"Lexy menyipitkan mata, memberikan senyum penuh arti. "Jangan coba-coba menyalakannya lagi, atau aku akan memasangny
Satu minggu setelah kejadian di New Bond Street Mall, berita tentang Dante Maverick yang membeli sebuah pusat perbelanjaan hanya karena istrinya diremehkan menjadi buah bibir di seluruh kalangan elit London. Namun Dante tidak peduli. Baginya, uang hanyalah angka yang bisa cari ulang dengan sangat mudah, namun martabat Lexy adalah harga mati baginya.Pagi itu, Dante sedang berdiri di balkon, menatap tablet di tangannya dengan kening berkerut di hadapan sungai Thames. "Kau sedang merencanakan untuk membeli London Bridge?" tanya Lexy mendekat, membawa nampan berisi camilan ringan.Dante mendongak, dan dalam sekejap, raut wajahnya yang kaku melunak. Ia meletakkan tabletnya di meja dan segera menarik Lexy ke dalam pelukannya. "Aku hanya memastikan keamanan rute yang akan kau lalui hari ini menuju galeri."Lexy mengernyitkan dahi. "Rute? Dante come on, galeri itu hanya sepuluh menit dari sini. Aku bisa naik taksi atau bahkan berjalan kaki."Dante semakin mengeratkan pelukannya, menempelk
Pagi di London menyapa dengan kabut tipis yang menyelimuti kawasan Mayfair, namun di dalam townhouse mewah milik Dante, suasana terasa hangat dan penuh dengan aroma kopi Blue Mountain yang mahal. Dante berdiri di depan jendela besar ruang makannya, mengenakan kemeja sutra hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, menampilkan jam tangan Patek Philippe yang berkilau terkena cahaya lampu kristal.Pikirannya masih terbayang pada dokumen di lacinya kemarin, namun ia adalah seorang ahli dalam menyembunyikan badai di balik wajah yang tenang. Saat mendengar langkah kaki ringan mendekat, ia segera mengubah ekspresinya."Kau sudah bangun?" tanya Dante, berbalik dan menemukan Lexy yang tampak segar dengan gaun terusan sederhana namun elegan.Lexy tersenyum, berjalan mendekati suaminya dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. "Leo sudah tidur lagi setelah sarapannya. Dokter Arvidsson bilang dia butuh banyak istirahat minggu ini. Jadi..." Lexy menatap Dante dengan pandangan menggoda. "Ap
Jet pribadi milik Thorne-Maverick Industries—perusahaan baru yang lahir dari reruntuhan Maverick Corp—mendarat di Bandara London City saat senja mulai menyelimuti kota dengan kabut tipis yang dingin. Bagi dunia, Dante Maverick adalah sosok yang baru saja melakukan keajaiban finansial dengan melakukan hostile takeover terhadap sisa-sisa saham perusahaannya sendiri setelah menjatuhkan Sterling. Namun bagi Dante, kepulangannya ke London bukan lagi tentang uang. Melainkan tentang cintanya yang mulai bersarang pada Alexandra."London, Sayang," bisik Dante saat Lexy keluar dari pesawat. "Tempat di mana kita tidak perlu melihat ke belakang lagi."Lexy menghirup udara London yang lembap namun terasa bersih. "Townhouse di Mayfair? Kau benar-benar tidak bisa hidup tanpa kemewahan, ya?"Dante terkekeh, menarik Lexy ke dalam dekapannya, melindunginya dari angin kencang di landasan. "Tentu saja aku bisa hidup tanpa kemewahan, tapi aku tidak ingin istriku merasakannya. Lagipula, Mayfair adalah tem
Helikopter hitam itu mendarat di atap sebuah gedung perkantoran privat di pinggiran Zurich saat fajar masih berupa garis abu-abu yang dingin. Dante dan Lexy melangkah keluar, disambut oleh Marcus yang sudah menunggu dengan setelan jas rapi, seolah ledakan jet kargo beberapa jam lalu hanyalah gangguan jadwal kecil bagi seorang asisten billionaire."Tuan, Nona," Marcus membungkuk hormat. "Pakaian Anda sudah disiapkan di dalam. Kita punya waktu tiga jam sebelum Bank Lombard Odier dibuka untuk nasabah eksklusif."Dante mengangguk, tangannya tetap protektif di pinggang Lexy. "Keamanan?""Sterling telah mengirim tim ke perbatasan Prancis-Swiss. Dia masih berpikir Anda jatuh di sana. Dia belum tahu tentang protokol Ghost Flight yang kita gunakan," lapor Marcus sambil membukakan pintu lift.Di dalam ruang ganti yang mewah, Dante segera menanggalkan pakaian kotornya. Ia memilih setelan jas custom-made dari Savile Row berwarna biru arang yang sangat gelap, hampir hitam. Saat ia mengancingkan ke







