登入Pagi di Mayfair kembali menyapa dengan keanggunan yang dingin. Sinar matahari mencoba menembus tirai beludru abu-abu di kamar utama, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas seprai sutra yang masih berantakan. Dante sudah bangun lebih dulu—kebiasaan seorang CEO yang otaknya tidak pernah benar-benar berhenti berputar.Ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan kemeja putih bersih yang belum dikancingkan. Matanya tertuju pada pantulan dirinya, namun pikirannya tertuju pada pesan Silas semalam, Firma hukum Thomas Thorne. “Hoaaahmmm…”Lexy menggeliat di balik selimut, matanya perlahan terbuka dan menemukan punggung tegap suaminya sebagai pemandangan pertama. "Kau selalu bangun seolah-olah dunia akan kiamat jika kau terlambat lima menit," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Dante menoleh, senyum tipis menghiasi bibirnya. Ia berjalan kembali ke tepi tempat tidur, membungkuk untuk mencium kening Lexy. "Dunia tidak akan kiamat, tapi pasar saham London tidak peduli jik
Gemercik air yang tenang bergema di dalam kolam renang pribadi di lantai teratas griya Mayfair. Halaman itu dirancang dengan estetika minimalis namun mewah; dindingnya terbuat dari kaca setinggi langit-langit yang menawarkan panorama London yang berkabut, sementara air kolamnya yang hangat menguap tipis, menciptakan atmosfer yang intim dan terisolasi dari dunia luar.Leo sudah berada di sayap lain bangunan, tertidur pulas setelah kelelahan bermain, ditemani oleh pengasuh dan tim medis terbaik. Kini, hanya ada Dante dan Lexy.Dante berdiri di tepi kolam, hanya mengenakan celana pendek hitam yang memamerkan otot-otot tubuhnya yang atletis—hasil dari disiplin keras dan modifikasi genetik yang tak pernah ia minta. Ia menatap air dengan pikiran yang melayang, sampai ia mendengar suara pintu geser terbuka.Lexy masuk dengan mengenakan bikini berwarna zamrud yang kontras dengan kulit putih porselennya. Rambutnya diikat asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya."Kau ma
Pagi di London selalu punya cara untuk terlihat puitis, namun bagi Lexy, suasana hati suaminya adalah ramalan cuaca yang lebih penting. Setelah ketegangan soal pelacak GPS tempo hari, Dante tampaknya berusaha menebus dosa dengan cara yang lebih manusiawi. Ia membawa Leo jalan-jalan ke sebuah kafe di kawasan Knightsbridge sebelum jadwal pemeriksaan rutin bocah itu di klinik.Leo tampak jauh lebih segar. Pipinya mulai berisi, dan binar matanya kembali setelah sekian lama redup oleh rasa sakit."Kak, lihat! Ada burung besar di sana!" Leo menunjuk ke arah taman melalui jendela kaca kafe yang luas."Itu burung merpati, Leo. Di London, mereka adalah pemilik jalanan," sahut Dante sambil mengusap kepala Leo. l.Ia kemudian menoleh pada Lexy, menggenggam tangannya di atas meja kayu ek yang dipelitur rapi. "Kau terlihat lebih tenang hari ini. Apa karena aku mematikan pelacak itu?"Lexy menyipitkan mata, memberikan senyum penuh arti. "Jangan coba-coba menyalakannya lagi, atau aku akan memasangny
Satu minggu setelah kejadian di New Bond Street Mall, berita tentang Dante Maverick yang membeli sebuah pusat perbelanjaan hanya karena istrinya diremehkan menjadi buah bibir di seluruh kalangan elit London. Namun Dante tidak peduli. Baginya, uang hanyalah angka yang bisa cari ulang dengan sangat mudah, namun martabat Lexy adalah harga mati baginya.Pagi itu, Dante sedang berdiri di balkon, menatap tablet di tangannya dengan kening berkerut di hadapan sungai Thames. "Kau sedang merencanakan untuk membeli London Bridge?" tanya Lexy mendekat, membawa nampan berisi camilan ringan.Dante mendongak, dan dalam sekejap, raut wajahnya yang kaku melunak. Ia meletakkan tabletnya di meja dan segera menarik Lexy ke dalam pelukannya. "Aku hanya memastikan keamanan rute yang akan kau lalui hari ini menuju galeri."Lexy mengernyitkan dahi. "Rute? Dante come on, galeri itu hanya sepuluh menit dari sini. Aku bisa naik taksi atau bahkan berjalan kaki."Dante semakin mengeratkan pelukannya, menempelk
Pagi di London menyapa dengan kabut tipis yang menyelimuti kawasan Mayfair, namun di dalam townhouse mewah milik Dante, suasana terasa hangat dan penuh dengan aroma kopi Blue Mountain yang mahal. Dante berdiri di depan jendela besar ruang makannya, mengenakan kemeja sutra hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, menampilkan jam tangan Patek Philippe yang berkilau terkena cahaya lampu kristal.Pikirannya masih terbayang pada dokumen di lacinya kemarin, namun ia adalah seorang ahli dalam menyembunyikan badai di balik wajah yang tenang. Saat mendengar langkah kaki ringan mendekat, ia segera mengubah ekspresinya."Kau sudah bangun?" tanya Dante, berbalik dan menemukan Lexy yang tampak segar dengan gaun terusan sederhana namun elegan.Lexy tersenyum, berjalan mendekati suaminya dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. "Leo sudah tidur lagi setelah sarapannya. Dokter Arvidsson bilang dia butuh banyak istirahat minggu ini. Jadi..." Lexy menatap Dante dengan pandangan menggoda. "Ap
Jet pribadi milik Thorne-Maverick Industries—perusahaan baru yang lahir dari reruntuhan Maverick Corp—mendarat di Bandara London City saat senja mulai menyelimuti kota dengan kabut tipis yang dingin. Bagi dunia, Dante Maverick adalah sosok yang baru saja melakukan keajaiban finansial dengan melakukan hostile takeover terhadap sisa-sisa saham perusahaannya sendiri setelah menjatuhkan Sterling. Namun bagi Dante, kepulangannya ke London bukan lagi tentang uang. Melainkan tentang cintanya yang mulai bersarang pada Alexandra."London, Sayang," bisik Dante saat Lexy keluar dari pesawat. "Tempat di mana kita tidak perlu melihat ke belakang lagi."Lexy menghirup udara London yang lembap namun terasa bersih. "Townhouse di Mayfair? Kau benar-benar tidak bisa hidup tanpa kemewahan, ya?"Dante terkekeh, menarik Lexy ke dalam dekapannya, melindunginya dari angin kencang di landasan. "Tentu saja aku bisa hidup tanpa kemewahan, tapi aku tidak ingin istriku merasakannya. Lagipula, Mayfair adalah tem
Markas safe house di wilayah Queens itu jauh dari bayangan kemewahan seorang Dante Maverick. Ruangan itu sempit, berbau debu lama, dan hanya memiliki satu jendela kecil yang menghadap ke gang belakang yang gelap. Namun, bagi Dante, ini adalah benteng pertahanan terakhir yang tidak terdaftar di aset
Sirene polisi masih meraung di bawah sana, namun Dante tidak tampak seperti pria yang merasa sudah menang. Matanya menatap lampu biru-merah yang memantul di kaca gedung dengan tatapan yang kosong."Dante? Kenapa wajahmu seperti itu? Victoria akan dibawa pergi. Julian sudah di tangan polisi. Bukanka
Fajar mulai menyingsing di atas cakrawala Manhattan, menyapu sisa-sisa hujan semalam dengan cahaya jingga yang dingin. Di dalam kediaman Maverick, suasana masih terasa seperti di tengah badai. Dante dan Lexy melangkah keluar dari lift, masih mengenakan pakaian yang sama—yang bernoda debu, darah, da
Kegelapan di dalam terowongan drainase itu terasa pekat dan menyesakkan, seolah-olah tembok beton di sekeliling mereka perlahan-lahan menyempit untuk menelan siapa pun yang berani melintas. Suara tetesan air yang jatuh ke genangan limbah menggema, menciptakan irama monoton yang mencekam. Dante ber







