Mag-log inBam!
Leah langsung bersujud sampai kepalanya menghantam lantai. “Don Dante! Tolong perhitungkan loyalitasku—”
“Loyalitas apa yang kau maksud, Nona Leah?! Bukankah bisa saja kau ini berkomplot dengan adikmu?!” raung salah satu tetua, sampai ia berdiri geram dan menunjuk-nunjuk ke arah Leah.
Dante menatap anak buah wanita satu-satunya itu, kemudian beralih mengamati para patriark yang duduk angkuh di meja panjang yang ada di pinggir ruangan. “Patriark Cedric belum hadir. Atas dasar apa keputusan kalian dibuat, hm?”
“Patriark Calte sudah mewakili—”
“Apa Patriark Calte tahu?” Dante memotong ucapan si tetua pemarah tadi. “Keluarga Oswald menukar nyawa mereka demi putranya agar bisa hidup?”
Para tua-tua terdiam mendengar ucapan Dante.
Di saat yang sama, pintu aula terbuka. Pria yang disebut Dante pun muncul. “Apa sidang ini sengaja dipercepat demi menghindariku?”
Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Cedric, ayah Dante sekaligus putra Calte Redvern, sang pemimpin para tetua, hanya tersenyum ke arah mereka.
“Kalian ingin menghukum keluarga Oswald?” tanya Cedric sambil melangkah naik ke atas podium, duduk di salah satu kursi yang tersedia.
“Bukan!” seru tetua yang sejak tadi aktif bicara. “Kami menghukum pengkhianat! Zachael Oswald. Pengkhianat harus mati!”
Cedric mencerna dokumen di depannya kemudian melirik ke arah adik Leah. “Zach?”
Tahu bahwa ia mendapat kesempatan bicara, Zach langsung membuka mulut. “Saya tidak pernah melakukan semua itu, Patriark Cedric. Ini benar-benar tidak masuk akal.”
“Aku tahu, kalau hukuman ditunda, kalian takut Zach akan merencanakan pengkhianatan lain. Benar?” Cedric melempar pertanyaan yang langsung mendapat anggukan kepala.
“Ditambah lagi, Leah punya akses sebagai tim intelijen Don,” imbuh salah satu tetua bernama Jeffrey. “Dia pasti dengan mudah mengobrak-abrik klan kita!”
Cedric mengangguk setuju.
Leah dan Zach hanya bisa pasrah. Jika tidak diberi kesempatan untuk membuktikan diri, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.
“Aku akan mengeluarkan Leah dari tim,” putus Dante tiba-tiba.
Semua orang terkesiap, bahkan Leah dan Zach tertegun di tempat. Rasa bersalah Zach dan keputusasaan Leah terlihat jelas di wajah mereka.
Lagi, Dante melanjutkan, “Sebagai gantinya, tarik kembali keputusan kalian!”
“Apa kau sudah gila, Dante?” sentak Calte akhirnya berbicara. “Kau mau membebaskan seorang pengkhianat?! Apa kau ingin Redvern segera hancur?”
Namun, Dante mendengus geli. “Bukankah kakek yang mengajarkanku? Utang nyawa itu seumur hidup? Aku bahkan tidak mempertahankan mereka seumur hidup, hanya satu kali kesempatan. Apa kau lupa caranya membayar pengorbanan?”
Calte membuka mulut, tetapi menutupnya lagi.
Namun, Cedric malah tertawa. “Aku setuju dengan putraku, Yah. Demi pengorbanan Garreth dan Mira. Aku menarik lagi keputusan hukuman Zach!”
Suara napas yang tersentak karena kaget kembali memenuhi ruangan.
“Tapi!” Cedric menegaskan satu hal. “Aku minta salah satu anggota keluarga Oswald sebagai jaminan loyalitas.”
Leah terdiam. Dalam keluarga Oswald memang ada beberapa saudara, tapi Leah tahu mereka tidak akan mau dijadikan jaminan.
Tidak ada yang menjawab. Bahkan Dante juga tidak berniat ikut campur lebih jauh. Ia sudah menyuarakan pendapatnya dan melakukan apa yang diajarkan mereka selama ini. Baginya itu cukup.
Pada akhirnya, Calte melempar keputusan akhir dengan kesal hati. “Aku menyetujui pembatalan hukuman Zach. Kau hanya akan dikurung.”
“Te—terima kasih, Patriark Calte!” seru Zach sambil membungkuk sampai dahinya menyentuh lantai.
Beberapa orang, termasuk tim inti Dante, terlihat tidak setuju dengan keputusan itu.
“Ini tidak adil! Rekan kita jadi korban, tapi si pengkhianat ini hanya dikurung di bawah tanah?” bisik Brux geram.
“Santai, Brux!” tahan Mikha walau dengan hati marah. “Don pasti punya rencana.”
Mengabaikan kasak-kusuk, Calte melanjutkan keputusannya. “Lalu kau, Leah. Kau yang menjadi jaminan. Menikahlah dengan Dante!”
Dante yang sejak tadi terlihat tak peduli dan hanya duduk nyaman di kursi bahkan langsung menurunkan kakinya, tanda ia tidak suka mendengar keputusan terakhir Calte.
“Jangan gila, Old man! Apa urusannya—”
“Aku tidak minta pendapatmu, anak muda!” sentak Calte seraya berdiri, berniat meninggalkan aula. “Jadikan Leah istri keduamu dan awasi dua kakak-beradik itu!”
Hati Leah terasa seperti ada yang meneteskan air asam. Diperlakukan layaknya barang seperti ini, membuatnya geram. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ini lebih dari cukup, daripada harus mati tanpa bisa membuktikan Zach tidak bersalah.
“Leah?” panggil Calte menantang. “Kau begitu ingin mempertahankan nyawa adikmu, bukan? Lantas apa jawabanmu?”
Keputusan itu memang dirasa tidak adil menurut anggota klan.
Namun, bukan berarti Leah merasa hal itu adil bagi dirinya. Ia harus kehilangan pekerjaan dan kenyamanan yang selama ini didapat sebagai anggota tim inti Don.
Begitu pun, Leah tidak bisa menolak. Menolak berarti merelakan nyawa adiknya.
Walau hatinya terbakar amarah karena tidak punya kekuatan untuk membela diri dan juga adiknya, Leah tetap menurunkan tubuhnya ke arah Calte. Menjawab dengan penuh hormat dan rasa syukur.
“Kami menerima keputusan bijak Patriark Calte.”
Blam!Pintu di depan Leah tertutup, tanpa Leah bisa melanjutkan ucapannya. Empat penjaga lorong pun memaksa Leah untuk berdiri dan tidak membuat keributan lagi. “Nona Leah, Anda sebaiknya kembali ke kamar!” tegas salah satu penjaga. “Jangan menambah emosi Don!”Tak bisa bersikap keras kepala lebih lama lagi, Leah pun menurut. Ia segera berbalik dan masuk lagi ke kamarnya. “Bagaimana aku bisa menilai kalau aku tidak diizinkan bertemu Zach?!” Leah melempar bantal ke seberang ruangan. Kesal dan merasa tak berdaya. Tidak punya kuasa untuk memaksakan keinginannya. Padahal dulu, pendapatnya adalah salah satu yang pasti didengar oleh Dante.Setelah gagal mengemis belas kasihan sang pemimpin, kini penjagaan semakin diperketat. Membuat Leah semakin sulit bergerak.Pandangannya mengelilingi kamar tidur tempat ia terkurung. “Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini? Aku bukan ingin kabur. Hanya ingin mengamati kondisi kediaman Redvern.”Kemudian, sebuah ide gila muncul dalam pikiran Leah.
“Leah.”Gabreil tersenyum, tetapi kali ini senyum itu tidak sampai terpancar dari tatapan matanya. “Jangan memaksakan keberuntungan terlalu banyak. Aku memilih tetap memandangmu sebagai teman saja, sudah bagus untukmu.”Netra Leah membelalak, tak menyangka akan mendengar kalimat menusuk itu dari seseorang yang masih melempar senyum padanya. Ia langsung melepas genggamannya dari tangan Gabreil. “Aku mengerti.”Gabreil mengangguk. “Jadilah istri pajangan sesuai tujuan sebutan itu, Leah. Kau bisa minta aku membawakanmu oleh-oleh kalau memang kau bosan.”Kata-kata Gabreil menusuk hati Leah lebih tajam daripada tawa lepas Brux dan Mikha.Tanpa merasa bersalah, Gabreil pamit pergi setelah menepuk pundak Leah, layaknya seorang teman. Meninggalkan Leah yang masih terduduk di lantai, kehilangan kata-kata. Setelah yakin Gabreil sudah jauh melewati lorong, Leah mengangkat tubuhnya dan kembali ke ruang tahanan—kamar tidurnya.‘Tenangkan dirimu, Leah!’ Leah menekan kuat-kuat kedua netranya denga
‘Tahanan berbentuk pernikahan ini ternyata tidak terlalu buruk.’Setidaknya, itulah pikiran Leah setelah bertemu Ellyan kemarin. Bahkan sorenya, Cedric menghampiri Leah untuk mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa menentang Patriark Calte atas keputusan itu. ‘Setidaknya, aku bisa menyelamatkanmu dan Zach dari hukuman berat.’ Begitu, kata Cedric. Pagi ini, Leah bangun dengan pikiran yang lebih segar. Ia segera bersiap untuk memberi salam pagi pada Dante. Sebelum dia menjadi suami Leah, terlebih dulu dia adalah pemimpin klan dan orang yang pernah menjadi pemimpinnya. Di depan ruang kerja sang Don, Leah menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk. Tak ada balasan atau izin dari dalam, tetapi pintu dibuka oleh seseorang. Sialnya, itu Brux. Mantan rekan kerja Leah yang paling vokal menyuarakan kemarahannya terhadap ia dan Zach. “Berani sekali kau menunjukkan wajahmu di depanku, Jalang!” raung Brux.Seketika, beberapa orang yang sedang ada di dalam ruang kerja Dante menoleh. Bahk
Brak!Brux menghantam meja ruang kerja sang pemimpin klan, dengan kepalan tangan yang sebesar batu sungai itu. “Sialan! Apa yang dipikirkan para tetua gila itu?!”Mikha mengangguk setuju dengan kemarahan Brux. “Don, ini keputusan konyol! Kau yakin diam saja?!” Dante tak menjawab. Ekor matanya melirik ke arah pintu tertutup yang ada di seberang ruangannya. Di balik pintu itu, Leah terkurung dengan status barunya. Istri kedua Don Dante Redvern. Setelah keputusan hukuman Zach ditetapkan, tetua langsung memproses pernikahan antara Dante dan Leah di depan semua orang. Dan disahkan baik secara hukum negara Newstrell maupun hukum klan Redvern.“Jangan bodoh!” tukas Dante, akhirnya bereaksi. Keempat anggota tim inti hanya bisa mengerutkan dahi. Mereka tahu, tujuan para tetua adalah untuk membatasi pergerakan Leah, tapi bukankah tidak harus dengan pernikahan?“Bos, kami paham tetua ingin menjadikan Leah tahanan,” ujar Mikha lagi. “Tapi bukan dengan pernikahan juga! Bagaimana dengan Nyonya
Bam!Leah langsung bersujud sampai kepalanya menghantam lantai. “Don Dante! Tolong perhitungkan loyalitasku—”“Loyalitas apa yang kau maksud, Nona Leah?! Bukankah bisa saja kau ini berkomplot dengan adikmu?!” raung salah satu tetua, sampai ia berdiri geram dan menunjuk-nunjuk ke arah Leah. Dante menatap anak buah wanita satu-satunya itu, kemudian beralih mengamati para patriark yang duduk angkuh di meja panjang yang ada di pinggir ruangan. “Patriark Cedric belum hadir. Atas dasar apa keputusan kalian dibuat, hm?”“Patriark Calte sudah mewakili—”“Apa Patriark Calte tahu?” Dante memotong ucapan si tetua pemarah tadi. “Keluarga Oswald menukar nyawa mereka demi putranya agar bisa hidup?”Para tua-tua terdiam mendengar ucapan Dante. Di saat yang sama, pintu aula terbuka. Pria yang disebut Dante pun muncul. “Apa sidang ini sengaja dipercepat demi menghindariku?”Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Cedric, ayah Dante sekaligus putra Calte Redvern, sang pemimpin para tetua, hanya terseny
“Aku tidak bersalah! Itu bukan milikku, Boss!”Hati Leah seperti tersayat-sayat mendengar raungan adik lelakinya di aula kecil kediaman utama Redvern, keesokan harinya. Sekuat tenaga, ia menahan air mata agar tidak jatuh membasahi wajahnya.Keempat rekan kerja Leah menatap dengan mata menyalak. Marah dan merasa dikhianati. Bahkan mereka menduga, Leah mungkin ikut berkhianat.“Zachael Oswald!” sentak Brux murka. “Bukti yang ada sudah jelas! Apa lagi yang kau sangkal?!”Leah pun hanya bisa menutup mata, seolah dengan begitu ia bisa mendorong masuk air mata yang mulai tak tertahankan. Dari ponsel yang mereka temukan, Alexis mendapati bahwa di dalam ponsel itu ada banyak pesan sehari-hari antara Zach dan Leah. Termasuk foto-foto yang tidak pernah terekspos ke publik, media sosial milik Zach dan email yang tersambung pada akun media sosial itu. Sementara itu, Dante Redvern tak kunjung membuka mulut. Jemari tangannya mengetuk sandaran tangan kayu, di bawah lengan kanannya. Ekor mata sang







