Home / Mafia / Terikat Pada Sang Mafia / Bab 4. Ibu Mertua yang Sangat Baik

Share

Bab 4. Ibu Mertua yang Sangat Baik

Author: Romero Un
last update publish date: 2026-10-30 09:07:35

Brak!

Brux menghantam meja ruang kerja sang pemimpin klan, dengan kepalan tangan yang sebesar batu sungai itu. “Sialan! Apa yang dipikirkan para tetua gila itu?!”

Mikha mengangguk setuju dengan kemarahan Brux. “Don, ini keputusan konyol! Kau yakin diam saja?!” 

Dante tak menjawab. Ekor matanya melirik ke arah pintu tertutup yang ada di seberang ruangannya. 

Di balik pintu itu, Leah terkurung dengan status barunya. Istri kedua Don Dante Redvern. 

Setelah keputusan hukuman Zach ditetapkan, tetua langsung memproses pernikahan antara Dante dan Leah di depan semua orang. Dan disahkan baik secara hukum negara Newstrell maupun hukum klan Redvern.

“Jangan bodoh!” tukas Dante, akhirnya bereaksi. 

Keempat anggota tim inti hanya bisa mengerutkan dahi. Mereka tahu, tujuan para tetua adalah untuk membatasi pergerakan Leah, tapi bukankah tidak harus dengan pernikahan?

“Bos, kami paham tetua ingin menjadikan Leah tahanan,” ujar Mikha lagi. “Tapi bukan dengan pernikahan juga! Bagaimana dengan Nyonya Sera?”

Dante mengangkat satu alis. Apa yang akan terjadi antara dirinya dengan istri pertamanya—Seraphine, bukanlah urusan mereka. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam hidup pernikahan Dante dengan Seraphine.

“Brux, tempatkan orangmu untuk memantau Leah!” perintah Dante tanpa menggubris pertanyaan Mikha. “Dan kalian, kembali ke posisi!”

“Siap, Don!”

Sementara mereka kembali bekerja, Leah sejak tadi duduk tepat di belakang pintu kamar barunya. Ia mendengar seluruh percakapan mereka, yang terasa menyesakkan. 

Begitu pun, Leah bisa memahami posisi masing-masing. 

Leah hanya menyayangkan, bahwa mereka bahkan tidak mengusahakan pengusutan lebih lanjut dan memilih percaya pada bukti. 

“Tidak salah juga percaya pada bukti. Apalagi Alexis yang mengonfirmasi bukti itu,” keluh Leah pedih. “Tapi apa aku tidak layak untuk mereka percayai satu kali lagi? Ini bukan masalah kecil.”

Helaan napas lelah dan putus asa terdengar dari mulut Leah. “Aku menikah hanya untuk menjadi tahanan. Bagaimana aku bisa mencari cara untuk membersihkan nama Zach?”

Leah menutup rapat-rapat matanya yang lelah. Ia teringat bagaimana kedua orang tuanya selalu berdiri penuh kebanggaan di samping Cedric, penguasa klan sebelum Dante. Dan sekarang, dua anaknya dituduh berkhianat.

“Apa mungkin Zach benar-benar melakukan pengkhianatan?” gumam Leah ketika pikirannya mulai tenang. “Kalau sampai benar, aku punya tugas melindungi Don. Aku tidak bisa diam saja.”

Di saat yang sama, seseorang mengetuk pintu kamarnya. “Leah! Apa aku bisa mengganggumu sebentar?” 

Netra Leah seolah hampir lepas mendengar suara itu. Dengan cepat ia berdiri dan merapikan diri, kemudian membuka pintu. “Nyonya Ellyan! Apa ada yang bisa kubantu?”

Wanita paruh baya yang dipanggil Ellyan itu terkesiap. “Astaga! Panggilan apa itu? Aku sudah jadi ibumu, Leah. Kenapa masih memanggilku dengan sebutan Nyonya?”

Wajah Leah terlihat gugup. Ia memang sering mendengar cerita bahwa istri kedua Cedric itu sangat keibuan dan lembut. Namun, ia tak menyangka akan mendapat perlakuan semanis ini. 

“Ah … ehm. Maafkan saya. Saya tidak berani menyebut Anda begitu, Nyonya,” balas Leah dengan kepala tertunduk. “Kalau boleh, sampai saya punya keberanian itu, saya tetap memanggil Anda ‘Nyonya Ellyan’.”

Ellyan terkekeh gemas seraya meremas kedua lengan Leah. “Ah … aku merasa kau adalah menantuku yang sesungguhnya. Sera tidak pernah bertingkah manis sepertimu, Leah.”

Dahi Leah berkerut. “Apa maksudnya, Nyonya?”

“Well, kau sadar kan? Seraphine jarang sekali datang ke rumah ini,” keluh Ellyan seperti para ibu kebanyakan yang sedih karena anaknya atau menantunya jarang muncul. 

Lagi, Ellyan berceloteh, “Dia terlalu mandiri. Dante saja tidak dipandangnya. Padahal mereka itu teman sejak kecil. Begitu menikah, mereka justru seperti orang asing.”

Leah semakin tidak tahu harus mengatakan apa. Ia pun hanya bisa menawarkan senyum canggung sebagai respons terhadap celotehan itu. 

Melihat Leah sepertinya bingung, Ellyan pun membelokkan topik. “Ah! Benar juga! Aku ke sini karena ingin dekat saja dengan menantu baruku. Apa aku boleh masuk, Leah?”

“Astaga! Di mana sopan santunku!” pekik Leah yang langsung membuka jalan bagi mertua dadakannya itu. “Mari, Nyonya!”

Ellyan terkekeh lagi. Alih-alih berjalan masuk, ia merangkul lengan Leah dan masuk ke dalam. Seperti seorang sahabat berjalan bersama-sama.

Hati Leah mulai tersentuh. Ia bersyukur bahwa keluarga Redvern tidak seperti keluarga dalam cerita-cerita novel, di mana istri kedua selalu jahat pada anak tirinya. Karena memang, Ellyan terkenal sangat dekat dengan Dante dan Carla, walau sudah memiliki putra sendiri—Damian.

Sambil duduk di salah satu kursi yang ada di kamar Leah, Ellyan kembali mencurahkan isi hatinya. “Carla itu, sudah sibuk dengan keluarga barunya. Dia juga sama saja. Sudah tidak punya waktu menjengukku. Jadi, aku senang sekali punya teman ngobrol seperti ini, Leah. Kalau aku membicarakan ibumu, apa kau akan sedih?”

Deg!

Kematian orang tua Leah memang bukan hal yang terjadi baru-baru ini. Beberapa tahun sudah berlalu sejak hari naas itu. Begitu pun, hatinya masih merindukan mereka. 

“Aku mungkin hanya rindu pada mereka, Nyonya. Apa Anda kenal dekat dengan orang tuaku?”

“Tentu saja, Nak. Tentu saja. Bagaimanapun, mereka adalah orang kepercayaan Cedric.” Ellyan tersenyum penuh kelembutan. “Biasanya, kamu ngobrol apa, Nak, dengan Mira?”

Leah ikut tersenyum. Otaknya langsung memutar lagi masa ketika orang tuanya masih hidup. Ia pun menceritakan banyak hal, tetapi menghindari membicarakan rahasia yang harus disimpannya. 

Dan ketika sadar ia bicara terlalu banyak, Leah langsung terkesiap. “Astaga! Maafkan saya, Nyonya. Saya terbawa suasana.”

Namun, Ellyan tergelak seraya menepuk punggung tangan Leah yang duduk berseberangan. “Leah, kalau ada kesempatan, aku ingin berkunjung ke rumahmu.” 

Netra Leah membulat, kaget. “Ke rumah saya? Kenapa?”

“Aku ingin mengenang lagi masa-masa aku berkunjung ke sana dan menghabiskan waktu di taman belakang dengan ibumu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terikat Pada Sang Mafia   Bab 7. Rencana Kabur Leah

    Blam!Pintu di depan Leah tertutup, tanpa Leah bisa melanjutkan ucapannya. Empat penjaga lorong pun memaksa Leah untuk berdiri dan tidak membuat keributan lagi. “Nona Leah, Anda sebaiknya kembali ke kamar!” tegas salah satu penjaga. “Jangan menambah emosi Don!”Tak bisa bersikap keras kepala lebih lama lagi, Leah pun menurut. Ia segera berbalik dan masuk lagi ke kamarnya. “Bagaimana aku bisa menilai kalau aku tidak diizinkan bertemu Zach?!” Leah melempar bantal ke seberang ruangan. Kesal dan merasa tak berdaya. Tidak punya kuasa untuk memaksakan keinginannya. Padahal dulu, pendapatnya adalah salah satu yang pasti didengar oleh Dante.Setelah gagal mengemis belas kasihan sang pemimpin, kini penjagaan semakin diperketat. Membuat Leah semakin sulit bergerak.Pandangannya mengelilingi kamar tidur tempat ia terkurung. “Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini? Aku bukan ingin kabur. Hanya ingin mengamati kondisi kediaman Redvern.”Kemudian, sebuah ide gila muncul dalam pikiran Leah.

  • Terikat Pada Sang Mafia   Bab 6. Memohon Belas Kasihan

    “Leah.”Gabreil tersenyum, tetapi kali ini senyum itu tidak sampai terpancar dari tatapan matanya. “Jangan memaksakan keberuntungan terlalu banyak. Aku memilih tetap memandangmu sebagai teman saja, sudah bagus untukmu.”Netra Leah membelalak, tak menyangka akan mendengar kalimat menusuk itu dari seseorang yang masih melempar senyum padanya. Ia langsung melepas genggamannya dari tangan Gabreil. “Aku mengerti.”Gabreil mengangguk. “Jadilah istri pajangan sesuai tujuan sebutan itu, Leah. Kau bisa minta aku membawakanmu oleh-oleh kalau memang kau bosan.”Kata-kata Gabreil menusuk hati Leah lebih tajam daripada tawa lepas Brux dan Mikha.Tanpa merasa bersalah, Gabreil pamit pergi setelah menepuk pundak Leah, layaknya seorang teman. Meninggalkan Leah yang masih terduduk di lantai, kehilangan kata-kata. Setelah yakin Gabreil sudah jauh melewati lorong, Leah mengangkat tubuhnya dan kembali ke ruang tahanan—kamar tidurnya.‘Tenangkan dirimu, Leah!’ Leah menekan kuat-kuat kedua netranya denga

  • Terikat Pada Sang Mafia   Bab 5. Teman yang Tersisa

    ‘Tahanan berbentuk pernikahan ini ternyata tidak terlalu buruk.’Setidaknya, itulah pikiran Leah setelah bertemu Ellyan kemarin. Bahkan sorenya, Cedric menghampiri Leah untuk mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa menentang Patriark Calte atas keputusan itu. ‘Setidaknya, aku bisa menyelamatkanmu dan Zach dari hukuman berat.’ Begitu, kata Cedric. Pagi ini, Leah bangun dengan pikiran yang lebih segar. Ia segera bersiap untuk memberi salam pagi pada Dante. Sebelum dia menjadi suami Leah, terlebih dulu dia adalah pemimpin klan dan orang yang pernah menjadi pemimpinnya. Di depan ruang kerja sang Don, Leah menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk. Tak ada balasan atau izin dari dalam, tetapi pintu dibuka oleh seseorang. Sialnya, itu Brux. Mantan rekan kerja Leah yang paling vokal menyuarakan kemarahannya terhadap ia dan Zach. “Berani sekali kau menunjukkan wajahmu di depanku, Jalang!” raung Brux.Seketika, beberapa orang yang sedang ada di dalam ruang kerja Dante menoleh. Bahk

  • Terikat Pada Sang Mafia   Bab 4. Ibu Mertua yang Sangat Baik

    Brak!Brux menghantam meja ruang kerja sang pemimpin klan, dengan kepalan tangan yang sebesar batu sungai itu. “Sialan! Apa yang dipikirkan para tetua gila itu?!”Mikha mengangguk setuju dengan kemarahan Brux. “Don, ini keputusan konyol! Kau yakin diam saja?!” Dante tak menjawab. Ekor matanya melirik ke arah pintu tertutup yang ada di seberang ruangannya. Di balik pintu itu, Leah terkurung dengan status barunya. Istri kedua Don Dante Redvern. Setelah keputusan hukuman Zach ditetapkan, tetua langsung memproses pernikahan antara Dante dan Leah di depan semua orang. Dan disahkan baik secara hukum negara Newstrell maupun hukum klan Redvern.“Jangan bodoh!” tukas Dante, akhirnya bereaksi. Keempat anggota tim inti hanya bisa mengerutkan dahi. Mereka tahu, tujuan para tetua adalah untuk membatasi pergerakan Leah, tapi bukankah tidak harus dengan pernikahan?“Bos, kami paham tetua ingin menjadikan Leah tahanan,” ujar Mikha lagi. “Tapi bukan dengan pernikahan juga! Bagaimana dengan Nyonya

  • Terikat Pada Sang Mafia   Bab 3. Keputusan yang Tidak Adil

    Bam!Leah langsung bersujud sampai kepalanya menghantam lantai. “Don Dante! Tolong perhitungkan loyalitasku—”“Loyalitas apa yang kau maksud, Nona Leah?! Bukankah bisa saja kau ini berkomplot dengan adikmu?!” raung salah satu tetua, sampai ia berdiri geram dan menunjuk-nunjuk ke arah Leah. Dante menatap anak buah wanita satu-satunya itu, kemudian beralih mengamati para patriark yang duduk angkuh di meja panjang yang ada di pinggir ruangan. “Patriark Cedric belum hadir. Atas dasar apa keputusan kalian dibuat, hm?”“Patriark Calte sudah mewakili—”“Apa Patriark Calte tahu?” Dante memotong ucapan si tetua pemarah tadi. “Keluarga Oswald menukar nyawa mereka demi putranya agar bisa hidup?”Para tua-tua terdiam mendengar ucapan Dante. Di saat yang sama, pintu aula terbuka. Pria yang disebut Dante pun muncul. “Apa sidang ini sengaja dipercepat demi menghindariku?”Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Cedric, ayah Dante sekaligus putra Calte Redvern, sang pemimpin para tetua, hanya terseny

  • Terikat Pada Sang Mafia   Bab 2. Hukuman Dijatuhkan

    “Aku tidak bersalah! Itu bukan milikku, Boss!”Hati Leah seperti tersayat-sayat mendengar raungan adik lelakinya di aula kecil kediaman utama Redvern, keesokan harinya. Sekuat tenaga, ia menahan air mata agar tidak jatuh membasahi wajahnya.Keempat rekan kerja Leah menatap dengan mata menyalak. Marah dan merasa dikhianati. Bahkan mereka menduga, Leah mungkin ikut berkhianat.“Zachael Oswald!” sentak Brux murka. “Bukti yang ada sudah jelas! Apa lagi yang kau sangkal?!”Leah pun hanya bisa menutup mata, seolah dengan begitu ia bisa mendorong masuk air mata yang mulai tak tertahankan. Dari ponsel yang mereka temukan, Alexis mendapati bahwa di dalam ponsel itu ada banyak pesan sehari-hari antara Zach dan Leah. Termasuk foto-foto yang tidak pernah terekspos ke publik, media sosial milik Zach dan email yang tersambung pada akun media sosial itu. Sementara itu, Dante Redvern tak kunjung membuka mulut. Jemari tangannya mengetuk sandaran tangan kayu, di bawah lengan kanannya. Ekor mata sang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status