Compartir

Terjebak Cinta CEO Brengsek
Terjebak Cinta CEO Brengsek
Autor: Leein

Bab 1: Awal mula

Autor: Leein
last update Última actualización: 2026-01-28 08:58:58

Bunyi ketukan keyboard memenuhi ruangan sekretaris yang sunyi. Raisa Valentine menatap layar komputer di hadapannya dengan fokus, jemarinya bergerak lincah menyusun laporan keuangan triwulan yang harus selesai sore ini. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang,masih ada tiga jam sebelum deadline.

Tiba-tiba, suara tawa renyah seorang wanita tiba-tiba memecah keheningan.

Raisa mengangkat kepalanya. Sepasang kekasih—tidak, bukan pasangan kekasih—melintas di depan mejanya. Sang pria tinggi tegap dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh atletisnya, sementara wanita berambut pirang di sampingnya mengenakan dress merah yang terlalu ketat dan terlalu pendek untuk ukuran kantor.

Caesar Johnson.

CEO Johnson Corp yang baru berusia 30 tahun, pewaris tunggal keluarga konglomerat paling berpengaruh di Amerika, dan... bosnya.

Mata Raisa sedikit bergetar saat tatapan mereka bertemu sekilas. Caesar hanya melempar pandangan singkat, dingin, tanpa emosi, sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya dengan wanita itu masih terkikik di sampingnya.

Pintu ruangan tertutup dengan bunyi klik pelan.

Raisa menghela napas panjang, kembali menatap layar komputernya. Tapi huruf-huruf di sana tiba-tiba menjadi kabur. Tanpa disadari, ingatannya melayang ke tujuh tahun yang lalu—hari yang mengubah segalanya.

Tujuh Tahun yang Lalu

Raisa menggenggam erat tas kulit lusuh di pangkuannya. Tangannya basah oleh keringat dingin. Di sekelilingnya, sembilan wanita lain duduk dengan postur sempurna, mengenakan blazer mahal dan membawa portfolio tebal. Mereka semua terlihat percaya diri, berpengalaman, profesional.

Sementara Raisa? Baru lulus kuliah tiga bulan lalu dengan nilai pas-pasan, tidak punya pengalaman kerja, dan mengenakan blazer pinjaman dari temannya yang sedikit kebesaran di bahu.

"Nona Raisa?"

Raisa tersentak. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal, Ibu Sandra, kepala HRD—memanggil namanya dari ambang pintu.

"I-iya?" Raisa berdiri terlalu cepat, hampir menjatuhkan tasnya.

"Silakan masuk."

Ruang wawancara lebih besar dari yang Raisa bayangkan. Meja panjang kayu mahoni mengkilap di bawah lampu kristal mewah. Tiga orang duduk di sisi lain meja, Ibu Sandra, seorang pria berbadan besar yang sepertinya dari divisi keuangan, dan...

Napas Raisa tertahan.

Di tengah, duduk seorang pria muda yang tidak mungkin tidak dikenali. Caesar Johnson. CEO termuda dalam sejarah Johnson Corp. Wajahnya sering menghiasi majalah bisnis dan tabloid, tidak hanya karena kesuksesannya, tapi juga karena skandal-skandalnya dengan berbagai wanita.

Tapi melihatnya langsung... Raisa merasa pria itu berbeda.

Caesar Johnson lebih tampan dari fotonya. Rahang tegas, mata kelam yang tajam, dan aura berkuasa yang mengisi seluruh ruangan. Dia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan lengan berotot yang tidak lazim untuk seorang CEO yang seharusnya lebih banyak duduk di balik meja.

"Silakan duduk, Nona Raisa." Suaranya dalam, tenang, tapi ada sesuatu yang membuat Raisa merasa telanjang di bawah tatapannya.

Raisa duduk, berusaha tidak terlihat gemetar.

"Jadi..." Ibu Sandra membuka CV Raisa dengan ekspresi skeptis. "Anda lulus dari Universitas Negeri dengan IPK 3.5, tidak ada pengalaman kerja, dan ini adalah lamaran pekerjaan pertama Anda?"

"Y-ya, Bu." Raisa menelan ludah.

"Mengapa Anda pikir Anda cocok untuk posisi sekretaris CEO? Ini posisi yang sangat menuntut. Kami butuh seseorang dengan pengalaman minimal tiga tahun."

Raisa membuka mulut, tapi kata-kata tidak keluar. Dia sudah mempersiapkan jawaban, tapi sekarang semuanya menguap.

"Tunggu." Suara Caesar memotong. Semua mata tertuju padanya. "Biarkan aku yang menanyainya."

Ibu Sandra mengangguk, mundur ke kursinya.

Caesar bersandar, menatap Raisa dengan intensitas yang membuat jantungnya berdegup kencang. "Mengapa kau melamar di sini? Jangan beri jawaban template dari buku panduan wawancara. aku ingin tahu alasan sebenarnya."

Raisa menatap mata kelam itu. Ada sesuatu dalam tatapannya, bukan menghakimi, tapi... menunggu. Menyelidik. Seolah dia benar-benar ingin tahu.

Dan entah kenapa, Raisa memutuskan untuk jujur.

"Sejak saya duduk dibangku SMA, saya sudah memiliki cita-cita untuk masuk ke dalam perusahaan ini, saya sudah mendengar betapa hebatnya perusahaan ini, jadi saya memutuskan untuk melamar disini, jika saya diterima saja berjanji. dengan sepenuh hati akan melakukan pekerjaan dengan baik."

"Selain itu... Adik saya sakit." Suaranya parau. "Leukemia. Dia baru berusia 15 tahun. Orang tua saya sudah meninggal tiga tahun lalu, jadi saya satu-satunya yang bisa mengurusnya. Pengobatannya... sangat mahal. Saya butuh pekerjaan dengan gaji yang cukup untuk biaya rumah sakit dan kemoterapi. Johnson Corp menawarkan benefit kesehatan terbaik dan gaji tertinggi di industri ini. Jadi saya melamar."

Hening.

Ibu Sandra berdehem tidak nyaman. "Nona Valentine, meskipun kami simpati dengan situasi Anda, tapi—"

"Berapa lama kau kuliah sambil kerja?"

Lagi-lagi Caesar yang bertanya. Raisa mengerjap.

"Empat tahun penuh, Pak. Saya bekerja paruh waktu di tiga tempat berbeda untuk membiayai kuliah saya sendiri dan membantu biaya pengobatan Mia—adik saya."

"Tiga pekerjaan sekaligus?" Caesar mengangkat alis. "Sambil kuliah?"

"Ya, Pak. Kasir di minimarket pagi hari, pelayan di kafe sore hari, dan entri data freelance malam hari."

"Dan kau lulus tepat waktu dengan IPK 3.5?" Untuk pertama kali, ada nada... kagum? Di suara Caesar. "Itu cukup mengesankan."

bu Sandra terlihat akan protes, tapi Caesar mengangkat tangan menghentikannya.

"Pengalaman bukan segalanya. Dedikasi, loyalitas, kemampuan bertahan di bawah tekanan, itu yangku cari. Dan dia jelas punya semuanya."

Raisa menatap Caesar dengan mata membulat. Dia... membela dirinya?

Wawancara berlanjut hampir satu jam, pertanyaan tentang kemampuan organisasi, penguasaan software, kecepatan mengetik, kemampuan multitasking. Raisa menjawab sebisa mungkin, tapi dia tahu jawaban-jawabannya jauh dari sempurna dibanding sembilan kandidat lain di luar.

Tapi setiap kali Ibu Sandra atau pria dari divisi keuangan itu terlihat meragukan, Caesar selalu... membela. Entah dengan pertanyaan lanjutan yang memberi Raisa kesempatan memperbaiki jawaban, atau dengan komentar yang menempatkan pengalaman hidupnya setara dengan pengalaman kerja formal.

Saat wawancara berakhir, Raisa keluar dengan perasaan campur aduk, antara harapan dan ketidakpercayaan.

Tiga hari kemudian, dia menerima telepon.

"Nona Raisa? Ini dari HRD Johnson Corp. Selamat, Anda diterima sebagai sekretaris pribadi CEO. Anda bisa mulai bekerja Senin depan."

Raisa berdiri membeku di tengah apartemen kecilnya, ponsel gemetar di tangan. Lalu kakinya melemas. Dia jatuh berlutut, menangis, tangis bahagia yang tidak bisa ditahan.

"Mia!" teriaknya pada adiknya yang sedang berbaring lemah di kamar. "Kakak diterima! Kakak dapat pekerjaan!"

Mia tersenyum lemah dari balik selimut. "Aku tahu Kakak pasti bisa."

Malam itu, sambil memeluk adiknya yang kurus, Raisa bersumpah dalam hati: Dia akan bekerja sekeras mungkin. Dia akan membuktikan bahwa Caesar Johnson tidak salah memilihnya. Dia akan setia pada perusahaan ini, pada bos yang sudah memberinya kesempatan saat tidak ada orang lain yang mau.

Dia tidak tahu bahwa kesetiannya suatu hari bisa menghancurkannya.

Masa Kini

"Aahhh... Caesar... pelan-pelan..."

Suara desahan melengking menembus pintu kayu tebal ruang CEO.

Raisa berhenti mengetik. Jemarinya membeku di atas keyboard. Matanya menatap kosong ke arah pintu tertutup itu.

Tujuh tahun. Tujuh tahun dia bekerja di sini. Tujuh tahun menyaksikan adegan yang sama berulang kali—Caesar membawa wanita berbeda ke ruangannya, kadang di tengah jam kerja, kadang setelah meeting penting, kadang bahkan sebelum sarapan.

Dan setiap kali, Raisa harus duduk di sini, mendengar suara-suara itu, sambil terus mengetik laporan seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ohh... lebih cepat... yaa seperti itu..."

Raisa menghela napas panjang, memakai headphone, dan menyalakan musik klasik dengan volume maksimal. Musik Beethoven mengalir, menenggelamkan suara-suara dari ruangan sebelah.

Tangannya kembali menari di atas keyboard. Wajahnya tenang, profesional, tidak menunjukkan emosi apa pun.

Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang terus retak perlahan, menyakitkan, dan tanpa henti.

Karena Raisa Valentine punya satu rahasia yang tidak boleh siapa pun tahu, terutama Caesar Johnson:

Dia mencintai bosnya. Sudah sejak tujuh tahun lalu. Sejak hari itu, saat pria itu membelanya di hadapan orang-orang yang meragukan. Sejak hari itu, saat Caesar memberinya harapan di saat hidupnya paling gelap.

Dan cinta itu tidak pernah pudar, bahkan setelah dia menyaksikan Caesar dengan ratusan wanita berbeda. Bahkan setelah dia tahu Caesar tidak akan pernah melihatnya sebagai apa pun selain sekretaris yang efisien.

Raisa menatap layar komputer dengan mata yang perlahan berkaca-kaca.

"Dasar bodoh," bisiknya pada dirinya sendiri. "Kau ini memang bodoh, Raisa."

Tapi meski begitu, dia tidak bisa pergi. Tidak bisa meninggalkan pria yang sudah menyelamatkan hidupnya—meski pria itu tidak pernah tahu betapa dalam cinta yang Raisa pendam selama tujuh tahun ini.

Dan suatu hari nanti, kesetiaan bodoh itu akan membuatnya membayar harga yang terlalu mahal.

Tapi hari itu belum tiba.

Hari ini, Raisa Valentine masih setia. Masih mencintai dalam diam. Masih mengetik laporan sambil mendengar bosnya bercinta dengan wanita lain.

Seperti biasa.

Seperti tujuh tahun terakhir.

Atau sampai hatinya benar-benar hancur berkeping-keping.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 11: bukan pesta biasa (1)

    Tidak ada yang istimewa sampai tengah malam.Raisa terus berjalan dari satu sudut dek ke sudut lainnya, memeriksa meja, berbicara singkat dengan staf katering, memastikan minuman tetap tersedia dan musik tidak terlalu keras.Tamu datang dan pergi dalam kelompok-kelompok kecil, mengobrol dengan gelas di tangan, tertawa dengan cara orang-orang yang terbiasa berada di tempat seperti ini.Raisa mengecek daftarnya untuk kesekian kalinya. Semua tamu sudah terkonfirmasi hadir.Dia sudah meminta penjaga di pintu masuk untuk menghubunginya langsung kalau ada tamu tambahan yang datang terlambat.Sejauh ini tidak ada insiden. Tidak ada tamu yang mabuk terlalu cepat, tidak ada konflik yang harus diredakan, tidak ada makanan yang tumpah di atas gaun seseorang.Tapi ada sesuatu yang membuat Raisa sedikit mengernyit sejak tadi.Beberapa klien datang tidak dengan satu pasangan, tapi dua, bahkan tiga. Dan hampir semuanya wanita.Raisa mencatatnya secara mental tanpa memberikan komentar, karena bukan t

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   bab 6: sudah terbiasa

    Makan siang yang penuh ketegangan itu berakhir dengan gelas wine Clarissa yang hanya diminum setengah dan steak-nya yang hampir tidak disentuh. Dia menghabiskan sebagian besar waktu makan dengan berbicara, menyentuh lengan Caesar, tertawa terlalu keras untuk lelucon yang tidak ada, semua usaha untuk mendapatkan perhatian pria yang duduk di sampingnya. Tapi Caesar tidak merespons. Dia makan dengan tenang, sesekali melirik ponselnya, dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada wanita cantik di sampingnya. Akhirnya Caesar meletakkan garpu, mengusap mulut dengan serbet linen, dan berdiri. "Selesai. Kita pergi." Dia menatap Raisa, bukan Clarissa. Clarissa langsung berdiri juga, meraih tas tangannya. "Aku ikut. Kita bisa ke hotel sekarang, kan? Kau bilang tadi tidak bisa, tapi mungkin sekarang—" "Tidak." Caesar sudah berjalan menuju pintu ruangan, tangannya kembali menarik pergelangan tangan Raisa. "Aku akan kembali ke kantor. Kau pulang sendiri." "Caesar!" Suara Clarissa men

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 5: Canggung

    Raisa membeku. 'Kenapa dia kembali?'Caesar melangkah cepat menuju mejanya, matanya menatap tajam ke arah Raisa yang sekarang terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Keringat membasahi seluruh dahinya, tangannya gemetar di atas meja, napasnya sedikit tersengal."Kau," kata Caesar dengan suara rendah yang penuh amarah. "Kau bilang kau baik-baik saja?" "Pak, saya-" "Diam."Caesar meraih tangan Raisa dan menariknya berdiri dengan satu gerakan cepat. Raisa hampir berteriak kesakitan, tapi dia menahan diri."Pak, saya benar-benar baik""Diam, aku bilang!" Caesar menyeretnya menuju elevator dengan tarikan yang tidak lembut sama sekali.Raisa tersandung, kakinya tidak bisa mengikuti langkah cepat Caesar. Perutnya yang sakit membuatnya tidak bisa bergerak dengan baik.Dan kemudian, dia jatuh.Lututnya membentur lantai keras. Raisa menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menyebar dari lutut ke seluruh tubuhnya.Caesar berhenti. Dia menatap ke bawah, melihat Raisa yang jatuh berlutut dengan wa

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 4: Bukan tipenya

    Pagi itu, Raisa sudah sampai di kantor pukul 06.45. Lima belas menit lebih awal dari janji. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk pada Caesar, meski sebenarnya tubuhnya masih terasa lelah dari semalam merawat Mia yang tiba-tiba demam tinggi setelah Raisa pulang.Dia sempat tertidur di kursi rumah sakit, bangun pukul empat pagi, pulang ke apartemen untuk mandi dan ganti baju, lalu langsung menuju kantor tanpa sempat sarapan.Raisa meletakkan tasnya di meja, menyalakan komputer, dan menatap pintu ruang CEO yang masih gelap. Caesar belum datang. Dia memutuskan untuk membuat kopi dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang mungkin diperlukan untuk pembahasan strategi meeting dengan klien Jepang.Tepat pukul tujuh, bunyi ding elevator berbunyi. Caesar keluar dengan langkah panjang, mengenakan setelan jas biru navy yang membuatnya terlihat lebih menawan dari biasanya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya segar seolah dia tidur nyenyak tadi malam.Tidak seperti Raisa yang tampak seperti zombie.Pagi

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 3: Jatuh cinta

    Rahang Clarissa mengeras. Tangannya menggenggam erat jas yang dia pakai. "Caesar, aku pikir kita akan makan malam bersama? Kau bilang—" "Aku bilang kita mungkin makan bersama kalau aku tidak ada urusan," potong Caesar tanpa melihat ke arahnya. Matanya tetap tertuju pada Raisa. "Dan sekarang aku punya urusan. Jadi, Raisa? Bagaimana?" Raisa merasakan ketegangan di udara. Clarissa terlihat seperti akan meledak—wajahnya memerah, napasnya sedikit memburu. Tapi dia menahan diri, mungkin karena tidak ingin terlihat posesif atau cemburu di depan Caesar. Pria seperti Caesar Johnson membenci wanita yang clingy. Raisa sudah melihat pola ini puluhan kali. Wanita-wanita yang mencoba mengikat Caesar, yang bersikap posesif, yang menuntut perhatian lebih, mereka semua berakhir dibuang lebih cepat dari yang lain. Dan Raisa... tidak ingin membuat masalah dengan Clarissa. Atau lebih tepatnya, dia tidak ingin menjadi bagian dari permainan rumit Caesar dengan wanita-wanitanya. "Maaf, Pak," kata Raisa

  • Terjebak Cinta CEO Brengsek   Bab 2: Sudah terbiasa

    Pukul lima sore, Raisa menekan tombol save untuk terakhir kalinya. Laporan keuangan triwulan sudah selesai, lengkap dengan analisis proyeksi dan rekomendasi strategi untuk kuartal berikutnya. Dia mencetak dokumen setebal dua puluh halaman itu, memasukkannya ke dalam folder biru dengan logo Johnson Corp, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya mantap menuju pintu ruang CEO. Tangannya mengangkat untuk mengetuk, tapi dia urungkan. Setelah tujuh tahun, Raisa sudah tahu kapan harus mengetuk dan kapan tidak. Suara-suara tadi sudah berhenti sejak setengah jam lalu, yang berarti mereka sudah selesai dan kemungkinan besar sedang... bersantai. Raisa memutar kenop pintu dan masuk tanpa mengetuk. Pemandangan di dalam ruangan tidak mengejutkannya lagi. Caesar Johnson duduk bersandar di sofa kulit hitam mewah di sudut ruangannya, dada telanjang memperlihatkan perut sixpack yang sempurna. Celana jasnya sudah kembali terpasang meski ikat pinggang masih tergeletak di lantai. Rambutnya acak-a

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status