Share

BAB 2 TEMPAT MENCURIGAKAN

Penulis: Alsya Ananda
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-11 08:58:04

Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan rumah besar berpagar tinggi. Bukan studio, bukan pula kantor produksi. Elena Maheswari turun perlahan, mengenakan sweater panjang berwarna gelap dan ransel hitam yang menempel di punggungnya. Matanya segera menyapu seluruh bangunan tiga lantai itu, mencoba menakar situasi sebelum melangkah lebih jauh.

Sepi.

Gelap.

Dan… terlalu sunyi.

Langkahnya sempat terhenti, ragu, seolah ingin berbalik dan meninggalkan tempat itu. Namun, mobil sewaannya telah pergi, meninggalkannya sendirian di depan gerbang yang tertutup rapat, seakan memaksa Elena menghadapi rumah itu sendirian.

“Bukannya studio itu harus terang biar hasil fotonya bagus?” gumamnya pelan, suaranya nyaris hilang di udara senja yang dingin.

Dengan napas tertahan, Elena menekan bel. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang pria botak muncul. Senyumannya lebar—terlalu lebar, dan matanya menyipit, menatap Elena seolah sedang mengupasnya dari atas sampai bawah tanpa menyentuh.

“Selamat datang, Nona Elena. Sudah ditunggu. Sini saya antar ke ruang ganti,” ujarnya dengan suara terlalu ramah untuk suasana yang begitu menekan.

Elena menahan napas. Langkahnya perlahan saat mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah. Bau lembap bercampur parfum murahan langsung menyambutnya. Ruangan luas dengan lorong panjang menuju ruang ganti membuat bulu kuduknya merinding. Dinding krem yang monoton, lampu temaram, dan heningnya tempat itu menimbulkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

“Silakan. Bajunya sudah disiapkan,” ucap pria botak itu sambil menunjuk satu gantungan pakaian.

Elena menoleh dan terpaku. Lingerie hitam transparan tergantung, dengan sebuah thong merah menyala di sampingnya. Mata Elena menajam ke arah kaca besar di ruang ganti, lalu ia mengusir pria itu pergi dengan satu gerakan tangan, menutup pintu, dan menguncinya rapat.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh ranselnya dan mengeluarkan alat kecil—detektor kamera tersembunyi. Lampu kecil di alat itu menyala, dan ia mulai mengitari ruangan, memeriksa sudut demi sudut.

BIP.

BIP.

BIP BIP BIP.

Hasilnya mengerikan. Di balik cermin, di atas lampu, di sudut AC, bahkan di bawah gantungan pakaian—terdapat tujuh kamera tersembunyi seukuran kancing. Tanpa alat itu, Elena mungkin tak akan sadar bahwa setiap gerakannya diawasi.

Dingin. Tegas. Tanpa ragu, Elena melangkah keluar. “Maaf, saya belum tanda tangan kontrak. Dan kalian belum bayar. Jadi saya berhak pergi.”

Orang-orang di ruangan utama menoleh. Beberapa berdiri, wajah mereka tak ramah. “Kamu udah dipanggil, yaudah jalanin! Jangan rewel, udah datang ke sini!” bentak salah satu pria.

Elena tersenyum tipis, namun tatapannya tajam. Ia membuka jaket, mengikat rambutnya ke atas, dan mengubah posturnya dalam sekejap: dagu terangkat, bahu tegap, siap menghadapi bahaya.

“Aku ini ban hitam taekwondo. Mau nyoba sentuh, silakan. Tapi jangan menyesal kalau kalian pulang dalam keadaan babak belur.”

Pria botak itu tertawa, seakan mendengar lelucon. Di sekelilingnya ada dua pria berbadan besar dan bermuka galak. Elena menelan ludah, menyadari gertakannya hanyalah tipuan. Pelatihan dasarnya masih minim, dan melawan tiga pria sebesar itu nyaris mustahil.

“Hiaaaaa!!!” teriak Elena, mencoba memompa keberanian diri sendiri. Namun tak lama, sekelompok pria berjas hitam masuk. Gerak mereka cepat dan presisi. Dalam waktu kurang dari dua menit, ketiga pria galak itu tumbang. Satu tergeletak sambil muntah darah, satu lagi kabur, dan sisanya hanya terdiam ketakutan.

Elena berdiri, mengatur napas, matanya meneliti sekeliling ruangan. Pria-pria berjas hitam itu berbaris rapi di sisi kanan dan kiri, bersiaga. Tak lama kemudian, seorang pria bersetelan hitam abu-abu masuk. Langkahnya tenang, namun setiap langkah terasa berat, penuh wibawa.

Kenan Adityawan.

Di belakangnya, seorang pria berjas biru mengikuti, diam-diam mengamati, jelas sebagai orang kepercayaan Kenan. Kenan menatap Elena dari ujung kepala hingga kaki. Pandangannya tajam, dingin, dan sedikit meremehkan.

“Ini… yang kau bilang modelnya?” suaranya datar, penuh evaluasi.

Orang kepercayaannya hanya mengangguk dan tetap diam.

“Kacau,” Kenan berkomentar singkat, lalu memberi aba-aba dengan jarinya. “Bawa dia.”

Dua anak buahnya langsung bergerak. Elena mundur satu langkah, hatinya berdegup kencang. “Hei, kalian siapa!! Jangan macam-macam ya!” teriaknya, tapi tak ada jawaban.

Ia diangkat seperti karung, meronta, menendang, namun kekuatan pria-pria itu terlalu besar. Kenan menoleh ke sisa kru studio yang masih terdiam. Tatapannya membunuh.

“…jangan pernah muncul di depan saya! lagi.”

Lalu, ruangan dipenuhi suara jeritan, dentuman, dan tangisan pendek. Dalam sekejap, sunyi kembali menyelimuti rumah itu. Sunyi yang lebih mencekam daripada sebelumnya, membuat Elena sadar bahwa ia telah memasuki dunia yang berbeda—dan bahaya yang menunggu jauh lebih nyata daripada yang ia bayangkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 8 ELENA DAN RIBUAN RAYUANNYA

    Beberapa hari berlalu sejak Kenan meninggalkan ruang makan dengan wajah yang tegang.Tak ada yang tahu dengan apa yang Kenan pikirkan selama dia menghindari kontak dengn Elena dan Naras. Namun hari itu, Kenan memanggil Elena dan Naras ke ruang kerjanya. Ruang itu tenang dan rapi, hanya terdengar suara lembut kertas kontrak yang dibalik perlahan. Aroma kayu jati bercampur wangi teh melati memenuhi ruangan. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepul, ditemani sepiring camilan mahal yang bahkan belum disentuh. Kenan duduk di tengah, bersikap resmi seperti hakim yang akan memutus perkara. Di sisi kanan, Elena duduk dengan kaki bersilang, menatap lembaran kontrak dengan alis yang sedikit mengernyit. Naras duduk di seberangnya, bahunya tegang, namun tatapannya tetap lembut setiap kali Elena bergerak. Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum Elena berhenti di satu pasal. “Pasal 17,” gumamnya pelan, “Kedua belah pihak wajib melakukan hubungan suami istri minimal satu kali dalam satu

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 7 LANGKAH DI TAMAN BARAT

    Esoknya,udara pagi masih basah oleh embun ketika Elena keluar dari kamarnya, mengenakan jaket tipis dan sepatu lari. Rumah itu masih sepi—hanya suara burung yang riuh dari kejauhan. Tapi langkahnya tak langsung menuju gerbang. Ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung koridor. Pintu kamar Naras. Ia mengetuk pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Tapi setelah beberapa detik, suara langkah mendekat. Pintu terbuka perlahan, menampakkan wajah Naras dengan rambut acak dan tatapan setengah sadar. “Elena?” suaranya serak, hampir berbisik. “Aku mau lari pagi. Kau ikut?” tanya Elena sambil tersenyum. Naras terdiam. Sejenak ia tampak ingin menolak, tapi kemudian sesuatu di wajah Elena membuatnya berpikir ulang. “Tunggu sepuluh menit,” katanya akhirnya, lalu menutup pintu. Elena tersenyum tipis. Entah kenapa, ia merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang kecil tapi penting. Di Taman Barat langit berwarna keperakan, dan rumput masih basah. Keduanya mulai berlari menyusuri

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 6 PERKENALAN ELENA DAN NARAS

    Ruang makan pagi itu terasa terlalu luas dibandingka ukuran rumah pada umumnya. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal, dan meja panjang berlapis taplak putih membuat suasana seperti galeri seni—bukan ruang makan. Hening. Hanya suara jam antik berdetak di dinding, satu detik terasa seperti tiga. Kenan dan Elena melangkah masuk bersamaan, bagai dua model di atas panggung catwalk. Di ujung meja, seorang pria sudah lebih dulu duduk dengan punggung tegak dan sendok di tangan. Sup di depannya masih utuh, uapnya telah berhenti mengepul—seolah ia hanya duduk di sana untuk menatap refleksi dirinya di permukaan kuah. “Naras,” suara Kenan datar, seperti perintah rutin tanpa emosi. “Ini Elena. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita.” Naras menoleh perlahan. Wajahnya halus, pucat, seperti porselen hidup. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada ketegangan. “Selamat pagi,” ucapnya lembut. Suaranya rapi, seolah dia sudah mempertimbahkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. E

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 5 PELAYANAN KELAS ATAS

    Ketukan keras menggema dari balik pintu apartemen. Elena meringis sambil menarik selimut ke kepala. Masih pukul tujuh pagi, dan dunia seharusnya belum menuntut siapa pun untuk bangun secepat itu. Dengan mata sayu dan rambut acak-acakan, ia berjalan gontai ke pintu. “Iya, iya, siapa sih pagi-pagi begini...” gumamnya setengah tidur sambil memutar kunci. Begitu pintu terbuka, ia tertegun. Lima pria berseragam hitam berdiri rapi di depannya—tegak, gagah, dan sama sekali tidak terlihat seperti tukang tagih listrik. “Eh... aku telat bayar pajak, ya?” suaranya kecil, nyaris gugup. Salah satu dari mereka menunduk sopan. “Maaf, Nona. Kami diminta menjemput Anda.” “Menjemput?” alis Elena terangkat tinggi. Tapi sebelum sempat ia menuntut penjelasan, dua orang sudah memegang lengannya dengan sopan—namun kuat. “Hey! Aku belum mandi! Aku masih bau semalam tahu nggak?! Lepasin!” Ia meronta, tapi tubuhnya dengan mudah dibawa masuk ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan. Pintu menutu

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 4 TELAH DIPUTUSKAN

    Mobil hitam itu meluncur pelan di bawah cahaya lampu jalan. Hujan sisa sore masih membasahi aspal, memantulkan kilau kota yang tampak dingin dan jauh. Di kursi belakang, Elena menyilangkan tangan, bersandar malas, namun matanya tajam menatap jendela. Bayangan dirinya memantul di kaca, terlihat seperti perempuan yang mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Di sebelahnya, Kenan duduk dengan postur tegak sempurna. Dingin, nyaris tak bergerak, seperti patung hidup yang terbuat dari kesabaran dan keangkuhan. Wajahnya tenang, tapi Elena tahu, di balik ketenangan itu ada sisi gelap yang tak terjamah orang lain. “Lebih baik kau menginap di hotel malam ini.” suara Kenan terdengar datar, tanpa nada emosi, memecah keheningan yang menekan. Elena menoleh cepat, menatapnya dengan dahi berkerut. “Hell no. Aku akan pulang ke apartemenku.” Kenan hanya melirik sekilas. Ada guratan geli di matanya, meski bibirnya tetap datar. “Aku tidak yakin tempatmu cukup layak.” Elena segera berkacak

  • Terjebak Cinta Posesif: Suami Kaya Yang Berbahaya   BAB 3 – TAWARAN YANG SULIT UNTUK DITOLAK

    Elena duduk di sebuah ruangan luas dan mewah. Lampu gantung kristal menggantung di atas meja bundar berdiameter hampir dua meter. Kursi-kursi kayu berukir mengelilinginya — seperti ruang rapat suatu kerajaan. Ia bersandar dengan santai. Celana panjangnya robek sedikit di lutut akibat diseret paksa barusan. "Bukankah seharusnya kamu setidaknya memberiku minum... setelah bawa aku seperti karung beras?” ucapnya sembari menepuk-nepuk lututnya. Kenan berdiri di seberang meja. Dingin, acuh, dan sedikit tersinggung.Tanpa menjawab, ia mengangkat dagunya. Salah satu anak buahnya bergerak cepat, menuangkan air mineral ke gelas kristal, dan menyodorkannya ke Elena. Elena mencibir, menyesap sedikit, lalu berkata tajam “Langsung ke intinya. Kamu mau apa? Kalau buat melecehkanku, nggak perlu susah-susah bawa aku ke tempat ini.” lKenan melotot. Matanya tajam seperti belati, wajahnya menegang karena jijik. “Kamu bukan seleraku.” Elena tersenyum sinis. “Nggak nanya.” Suasana menegang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status