FAZER LOGIN
Tanda tangan. Dan sepuluh miliar ini—”
Kenan mengeluarkan kartu hitam dari saku jasnya. Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Ia meletakkannya tepat di tengah meja bundar, seolah tahu tidak ada yang akan menggesernya. “—jadi milikmu.” Elena tidak langsung menyentuhnya. Di bawah cahaya lampu gantung kristal, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Rahangnya mengeras, tulang pipinya menonjol—tipikal wajah perempuan yang terlatih untuk menghadapi kerasnya dunia. Rambut hitamnya diikat rendah, sedikit berantakan, menyisakan jejak kekacauan sore tadi. Angka di kontrak itu lebih dari cukup untuk menghapus seluruh kecemasannya: utang pendidikan, biaya hidup, dan masa depan yang selama ini terasa seperti lorong gelap tanpa pintu keluar. Namun tetap saja, pena itu tidak bergerak. “Tidak ada orang waras,” ucap Elena datar, “yang memberi uang sebanyak ini tanpa menginginkan sesuatu sebagai balasan.” Kenan menyandarkan punggung ke kursi. Posturnya santai, tapi penuh kontrol. Bahu lebarnya terbalut jas hitam abu-abu yang jatuh sempurna di tubuh atletisnya. Wajahnya keras, dingin—wajah pria yang terbiasa memberi perintah dan tidak pernah menerima penolakan. “Kamu cepat menangkap situasi,” katanya. “Itu kelebihanmu.” “Dan kekuranganku?” “Kamu terlalu berani.” Elena menyunggingkan senyum tipis. “Lanjutkan.” “Aku butuh kamu menjalankan satu peran.” “Peran apa?” “Istri.” Satu kata. Pendek. Tapi menghantam. Elena menatapnya, lalu terkekeh pelan. “Istrimu?” “Bukan,” koreksi Kenan tanpa ekspresi. “Istri Naras Adityawan. Adikku.” Ia menjeda, memastikan setiap kata jatuh tepat sasaran. “Pernikahan kontrak selama lima tahun. Kamu tinggal bersamanya. Menjaganya tetap stabil. Tidak kabur. Tidak membuat kekacauan.” Elena menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan kaki. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam. “Dan kamu pikir aku orang yang tepat?” Tatapan Kenan menyapu Elena dari ujung rambut sampai ujung sepatu—penilaian dingin, objektif. “Kamu masuk ke tempat yang salah dan sadar sebelum terlambat. Kamu tahu kapan harus kabur. Dan kamu tidak pingsan ketika terpojok.” Elena terkekeh. “Itu standar minimum untuk bertahan hidup.” Kenan tersenyum miring mendengarnya.Wanita yang duduk didepannya itu memang sangat pemberani. Ia menggeser pandangannya sedikit. “Studio itu tidak akan mengganggumu lagi.” Nada suaranya datar. Pasti. Ingatan Elena kembali ke sore tadi: ruangan foto yang remang, pintu terkunci, pakaian yang jelas bukan bagian dari kontrak, kamera tersembunyi di balik cermin. “Hampir saja aku dipaksa,” katanya pelan. “Kalau kamu tidak datang tepat waktu.." “Kamu tidak akan berada di sini,” potong Kenan. “Dan mereka akan mencari korban lain.” Bagi Kenan, itu fakta. Bukan ancaman. Bukan empati. Elena tidak tahu—belum tahu—bahwa pertemuan itu bukan kebetulan. Bahwa Kenan sudah mengamatinya selama beberapa hari karena nama Elena berada diantara belasan kandidat calon pasangan Naras,adiknya. Hening turun di antara mereka. “Selain uang,aku yakin kamu akan menyukai yang satu ini,” ujar Kenan kemudian. Ia memberi isyarat singkat. Sebuah foto diletakkan di meja. Darah Elena seolah berhenti mengalir. Foto itu menampilkan seorang anak perempuan —dirinya—duduk di antara dua orang dewasa. Rambut pendek. Senyum polos. Foto yang seharusnya tidak pernah ia lihat lagi. “Bagaimana kamu—” “Elena Maheswari,” potong Kenan perlahan. “Itu namamu sebelum panti asuhan menggantinya menjadi Selena.” Sebuah map tebal menyusul: sertifikat kelahiran, potongan koran lama, laporan kecelakaan. “Dari mana kamu dapat semua ini?” suara Elena nyaris pecah. “Dari masa lalu yang sengaja dihapus,” jawab Kenan. “Ayahmu Ardiansyah Maheswara. Pendiri Maheswara Group. Kamu pewarisnya—jika saja kelahiranmu tercatat secara sah.” Ruangan terasa berputar. Kilasan ingatan menghantamnya: suara rem, benturan, gelap. Setelah itu—panti asuhan. Nama baru. Hidup baru. “Apa… aku masih punya keluarga?” tanyanya lirih. Kenan mengangguk. “Pamanmu. Jason Maheswara. Orang yang kini memimpin perusahaan Ayahmu." Elena menutup map itu dengan gerakan tegas. Tangannya gemetar, tapi kepalanya tetap tegak. "Kapan aku bisa bertemu dengan adikmu?" tanyanya sembari menatap lurus kedepan. "Segera." Elena membuka halaman terakhir kontrak. Foto Naras terpampang jelas. Tatapan gelap. Rahang keras. Wajah pria yang tampak berbahaya. “Aku punya satu syarat.” “Katakan.” “Aku tidak mau kamu ikut campur,” ucap Elena tajam. “Apa pun yang terjadi antara aku dan Naras, itu urusan kami. Bukan milikmu.” Kenan menyipitkan mata. Udara di ruangan itu mengeras. “Kamu berani sekali menawar.” “Kamu tidak punya banyak pilihan,” balas Elena. “Dan kamu tahu itu.” Hening. Lama. Lalu Kenan mengangguk kecil. “Setuju.” Elena mengambil pena. Menandatangani kontrak itu tanpa ragu. Ia berdiri, menyelipkan kartu hitam ke dalam tasnya. “Aku tidak berutang padamu,” katanya dingin. Elena keluar dari ruangan itu dengan langkah tenang. Tapi begitu pintu tertutup, telapak tangannya basah oleh keringat. Ia menatap kontrak di dalam tasnya. Lima tahun. Pernikahan kontrak. Dan satu nama yang belum ia kenal— Naras Adityawan. Entah kenapa, nalurinya berbisik: keputusan ini tidak akan bisa ia batalkan.Beberapa hari berlalu sejak Kenan meninggalkan ruang makan dengan wajah yang tegang.Tak ada yang tahu dengan apa yang Kenan pikirkan selama dia menghindari kontak dengn Elena dan Naras. Namun hari itu, Kenan memanggil Elena dan Naras ke ruang kerjanya. Ruang itu tenang dan rapi, hanya terdengar suara lembut kertas kontrak yang dibalik perlahan. Aroma kayu jati bercampur wangi teh melati memenuhi ruangan. Di atas meja, secangkir teh hangat mengepul, ditemani sepiring camilan mahal yang bahkan belum disentuh. Kenan duduk di tengah, bersikap resmi seperti hakim yang akan memutus perkara. Di sisi kanan, Elena duduk dengan kaki bersilang, menatap lembaran kontrak dengan alis yang sedikit mengernyit. Naras duduk di seberangnya, bahunya tegang, namun tatapannya tetap lembut setiap kali Elena bergerak. Beberapa menit berlalu dalam diam sebelum Elena berhenti di satu pasal. “Pasal 17,” gumamnya pelan, “Kedua belah pihak wajib melakukan hubungan suami istri minimal satu kali dalam satu
Esoknya,udara pagi masih basah oleh embun ketika Elena keluar dari kamarnya, mengenakan jaket tipis dan sepatu lari. Rumah itu masih sepi—hanya suara burung yang riuh dari kejauhan. Tapi langkahnya tak langsung menuju gerbang. Ia berhenti di depan sebuah pintu di ujung koridor. Pintu kamar Naras. Ia mengetuk pelan. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban. Tapi setelah beberapa detik, suara langkah mendekat. Pintu terbuka perlahan, menampakkan wajah Naras dengan rambut acak dan tatapan setengah sadar. “Elena?” suaranya serak, hampir berbisik. “Aku mau lari pagi. Kau ikut?” tanya Elena sambil tersenyum. Naras terdiam. Sejenak ia tampak ingin menolak, tapi kemudian sesuatu di wajah Elena membuatnya berpikir ulang. “Tunggu sepuluh menit,” katanya akhirnya, lalu menutup pintu. Elena tersenyum tipis. Entah kenapa, ia merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang kecil tapi penting. Di Taman Barat langit berwarna keperakan, dan rumput masih basah. Keduanya mulai berlari menyusuri
Ruang makan pagi itu terasa terlalu luas dibandingka ukuran rumah pada umumnya. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal, dan meja panjang berlapis taplak putih membuat suasana seperti galeri seni—bukan ruang makan. Hening. Hanya suara jam antik berdetak di dinding, satu detik terasa seperti tiga. Kenan dan Elena melangkah masuk bersamaan, bagai dua model di atas panggung catwalk. Di ujung meja, seorang pria sudah lebih dulu duduk dengan punggung tegak dan sendok di tangan. Sup di depannya masih utuh, uapnya telah berhenti mengepul—seolah ia hanya duduk di sana untuk menatap refleksi dirinya di permukaan kuah. “Naras,” suara Kenan datar, seperti perintah rutin tanpa emosi. “Ini Elena. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita.” Naras menoleh perlahan. Wajahnya halus, pucat, seperti porselen hidup. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada ketegangan. “Selamat pagi,” ucapnya lembut. Suaranya rapi, seolah dia sudah mempertimbahkan setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. E
Ketukan keras menggema dari balik pintu apartemen. Elena meringis sambil menarik selimut ke kepala. Masih pukul tujuh pagi, dan dunia seharusnya belum menuntut siapa pun untuk bangun secepat itu. Dengan mata sayu dan rambut acak-acakan, ia berjalan gontai ke pintu. “Iya, iya, siapa sih pagi-pagi begini...” gumamnya setengah tidur sambil memutar kunci. Begitu pintu terbuka, ia tertegun. Lima pria berseragam hitam berdiri rapi di depannya—tegak, gagah, dan sama sekali tidak terlihat seperti tukang tagih listrik. “Eh... aku telat bayar pajak, ya?” suaranya kecil, nyaris gugup. Salah satu dari mereka menunduk sopan. “Maaf, Nona. Kami diminta menjemput Anda.” “Menjemput?” alis Elena terangkat tinggi. Tapi sebelum sempat ia menuntut penjelasan, dua orang sudah memegang lengannya dengan sopan—namun kuat. “Hey! Aku belum mandi! Aku masih bau semalam tahu nggak?! Lepasin!” Ia meronta, tapi tubuhnya dengan mudah dibawa masuk ke mobil hitam mewah yang sudah menunggu di depan. Pintu menutu
Mobil hitam itu meluncur pelan di bawah cahaya lampu jalan. Hujan sisa sore masih membasahi aspal, memantulkan kilau kota yang tampak dingin dan jauh. Di kursi belakang, Elena menyilangkan tangan, bersandar malas, namun matanya tajam menatap jendela. Bayangan dirinya memantul di kaca, terlihat seperti perempuan yang mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Di sebelahnya, Kenan duduk dengan postur tegak sempurna. Dingin, nyaris tak bergerak, seperti patung hidup yang terbuat dari kesabaran dan keangkuhan. Wajahnya tenang, tapi Elena tahu, di balik ketenangan itu ada sisi gelap yang tak terjamah orang lain. “Lebih baik kau menginap di hotel malam ini.” suara Kenan terdengar datar, tanpa nada emosi, memecah keheningan yang menekan. Elena menoleh cepat, menatapnya dengan dahi berkerut. “Hell no. Aku akan pulang ke apartemenku.” Kenan hanya melirik sekilas. Ada guratan geli di matanya, meski bibirnya tetap datar. “Aku tidak yakin tempatmu cukup layak.” Elena segera berkacak
Elena duduk di sebuah ruangan luas dan mewah. Lampu gantung kristal menggantung di atas meja bundar berdiameter hampir dua meter. Kursi-kursi kayu berukir mengelilinginya — seperti ruang rapat suatu kerajaan. Ia bersandar dengan santai. Celana panjangnya robek sedikit di lutut akibat diseret paksa barusan. "Bukankah seharusnya kamu setidaknya memberiku minum... setelah bawa aku seperti karung beras?” ucapnya sembari menepuk-nepuk lututnya. Kenan berdiri di seberang meja. Dingin, acuh, dan sedikit tersinggung.Tanpa menjawab, ia mengangkat dagunya. Salah satu anak buahnya bergerak cepat, menuangkan air mineral ke gelas kristal, dan menyodorkannya ke Elena. Elena mencibir, menyesap sedikit, lalu berkata tajam “Langsung ke intinya. Kamu mau apa? Kalau buat melecehkanku, nggak perlu susah-susah bawa aku ke tempat ini.” lKenan melotot. Matanya tajam seperti belati, wajahnya menegang karena jijik. “Kamu bukan seleraku.” Elena tersenyum sinis. “Nggak nanya.” Suasana menegang







