LOGINSudah seminggu Anna tidak masuk sekolah. Hari ini, akhirnya gadis itu kembali menginjakkan kaki di sekolah dengan kondisi yang jauh lebih baik. Hanya saja, bagian keningnya masih tertutup kasa dan plester yang menjadi bukti bahwa luka akibat kejadian sebelumnya belum sepenuhnya pulih."Lho, kok masuk, Anna? Memangnya sudah nggak apa-apa?" tanya salah satu teman sekelasnya.Beberapa siswa yang berada di dalam kelas pun ikut mengalihkan perhatian mereka kepada Anna.Anna tersenyum lembut. "Iya, aku hanya butuh banyak istirahat. Tapi, menurut dokter, kondisiku sudah cukup baik untuk kembali bersekolah."Tania, teman sekelas Anna, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun, beberapa saat kemudian, gadis itu kembali membuka suara."Kak Jennifer nggak dikeluarkan, kamu pasti kecewa, kan?"Anna menundukkan kepalanya sejenak sebelum menggeleng pelan. "Aku nggak kecewa sama sekali. Justru aku merasa lega. Bagaimanapun juga, Kak Jennifer tetap saudara aku."Tania berdecak, seolah tidak habis p
Pagi hari pun tiba, Jennifer baru saja tiba di sekolah. Ia melihat tatapan mencemooh dan benci menyambut kedatangannya ke sekolah, pagi ini menjadi awal di mulainya drama yang di buat oleh Anna kemarin. "Tuh, udah aku bilang. Jennifer mana punya malu, dia kan urat malunya udah putus." Suara sindiran itu terdengar jelas di telinga Jennifer ketika dirinya baru saja memasuki kelas. "Biasalah dia punya orang dalam yang kuat, mana mungkin sekolah berani ngeluarin dia gitu aja." "Tapi skandal yang dia buat udah mencoreng nama baik sekolah ini, masa guru sama sekali nggak peduli?" Hampir semua mata yang ada di kelas menatap Jennifer mencemooh. Mereka merasa benar-benar geram pada pihak sekolah yang seakan tutup mata dengan kejadian kemarin, bahkan mereka masih membiarkan orang jahat seperti Jennifer masuk sekolah tanpa di kenai sangsi apa pun. Namun, Jennifer dengan wajah acuh tan acuh duduk di kursinya, lalu menyumpal kedua telinganya menggunakan earpods. Dalam situasi seperti ini,
Keesokan harinya, di ruangan serba putih dengan bau obat-obatan dan peralatan medis. Terlihat Anna sedang terbaring lemah di atas brankar dengan perban yang melilit bagian kepalanya. Bunyi jam mendominasi ruangan akibat keheningan yang terjadi di dalam ruangan tersebut, hingga suara langkah kaki terdengar mengisi keheningan ruangan."Gimana keadaan kamu, Na?" Wajah Anna sangat pucat dan terlihat tak berdaya membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa kasihan termasuk cowok yang ada di ruangan itu. Dia sangat tidak tega melihat keadaan Anna saat ini."Sakit, tubuh aku sakit semua," rintih Anna, dadanya bergerak lambat menunjukan bahwa gadis itu bernapas tidak seperti biasanya."Kenapa Jennifer bisa lakuin hal gila kayak gini sama kamu?" Tanyanya dengan dahi berkerut halus.Annamenggeleng lemah, matanya berair penuh kesedihan. Ia menggerakan tangannya untuk menggenggam jemari cowok itu."Aku juga nggak tahu, Kak Jenni mendadak datang dan langsung maki-maki aku. Dia ngatain mama aku w
Jennifer duduk di hadapan Kakeknya. Dia tidak langsung pulang ke rumah karena saat di perjalanan dia mendapat telepon dari sang kakek untuk segera datang ke apartemen pria itu."Jen, Kakek mendapatkan kabar tentang kamu dari sekolah. Apakah itu benar?" tanya Frans."Tentang aku yang dorong Anna?" tanya Jennifer balik. "Itu gak benar. Aku memang ada di sana, tapi bukan aku yang dorong dia," jawabnya tanpa keraguan sedikit pun.Frans terlihat ragu, dia mengelus rambut Jennifer pelan. "Kamu tahu kan kalau Kakek sangat menyayangi kamu? Jika itu benar kamu, semua itu gak bakal mengurangi kasih sayang Kakek terhadap kamu, Jenni"Jennifer tersenyum tipis. "Aku memang benci sama Anna, tapi aku bukan orang bodoh yang melakukan kejahatan berat di tempat umum. Saat itu, aku cuma ada di sana, tapi bukan berarti aku yang dorong dia jatuh. Bahkan, sedikit pun aku gak nyentuh tubuh Anna," jelasnya, setiap kata yang dikeluarkan Jennifer membuat Frans terdiam dengan kening mengerut.Frans menghela nap
"Kalian berdua apa-apaan, bangsat!" Bayu berteriak kesal kepada Tobi dan Reno yang duduk di depannya dalam keadaan berantakan dan babak belur. "Tanya tuh si batu ngapain tiba-tiba nyerang aku! Jelas-jelas aku nggak bikin masalah sama dia," ujar Tobi sembari mengompres wajahnya menggunakan es batu. Tatapan Bayu mengarah kepada Reno yang terdiam dengan raut wajah datar. "Sumpah, Reno. Kamu kenapa sih? Jelasin sama kita kenapa kamu tiba-tiba mukul Tobi, hah?" Tidak ada jawaban dari Reno. "Reno," desak Bayu ketika melihat Reno hanya terdiam tanpa berniat menjelaskan kejadian tadi. "Ck, dulu kamu memang pendiam, tapi kenapa sekarang kamu malah makin mirip patung berjalan sih?" keluh Bayu. "Aku nggak suka sama apa yang kamu omongin tadi ke Jennifer," ucap Reno. Suaranya entah kenapa terdengar dingin, tidak seperti biasanya. Tobi langsung menoleh. "Apa yang salah? Dia memang sudah keterlaluan. Kamu lihat sendiri, kan, perbuatan dia sama Anna." Rahang Reno mengeras. "Bukan dia yang
Rafka bukan tidak bisa mempercayai Jennifer. Namun, melihat semua ini dan sikap gadis itu sebelumnya bukan hal mustahil jika Jennifer bisa melakukan semua itu kepada Anna. Terlebih hubungan kedua gadis itu sangat buruk. Jennifer sudah membantah dua kali bahwa bukan dirinya yang melakukan semua itu. Namun, Rafka, orang yang selalu mengatakan mencintai dirinya, terlihat jelas tidak mempercayainya. Jennifer tertawa hambar dalam hati, lalu ia menoleh ke arah Samuel yang diam di tempat. Ekspresi wajah pemuda itu tak berbeda jauh dengan Rafka, menyadari hal itu Jennifer hanya bisa tersenyum masam.'Bahkan tunanganku sendiri juga nggak percaya sama aku.' Batinnya miris. Ia tidak membutuhkan perlindungan dan cinta dari orang yang tidak mempercayainya, dan Samuel sepertinya akan menjadi orang kedua yang bernasib seperti Rafka. Jennifer membuang muka untuk menyingkirkan tangan Rafka dari bahunya. Ekspresinya masih terlihat datar. Meskipun dirinya saat ini menjadi sasaran cemoohan teman-tema
"Jenni," Sinta tak bisa menutupi raut terkejutnya.Di antara banyak hal yang Sinta inginkan, salah satunya adalah ingin mendengar kalimat seperti ini dari sahabatnya. Dia tahu betapa Jennifer sangat mencintai Rafka selama ini, sangat sulit membuat Jennifer berhenti dan menyadari bahwa Rafka tidak a
Jennifer berharap wanita itu akan menatapnya dengan wajah kebingungan karena dia salah menyebutkan nama. Namun..."Iya, Non?"What the fuck!Jennifer memejamkan mata dengan bibir menipis, napasnya naik turun. Bagaimana bisa? Ini sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Apakah dia benar-benar ma
Celia memaksakan matanya yang terasa berat untuk terbuka. Perlahan dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai masuk di sela-sela matanya. Setelah pandangannya sedikit jernih, Celia malah merasakan sakit menyerang kepalanya, pusing seperti ditusuk ribuan jarum di dalam kepala
"Celia!" Teriak seorang gadis di koridor sekolah menengah atas. Gadis berambut sepinggang itu menepuk pundak sahabatnya begitu tiba di dekat gadis bernama Celia tersebut. "Kemana aja sih? Aku cari dari tadi malah ketemu di sini." "Toilet, emang ada apa?" Celia merangkul bahu Siska, sahabatnya. "







