Share

Bab 7

Author: Zeya
last update publish date: 2026-04-02 17:01:08

"Jenni," Sinta tak bisa menutupi raut terkejutnya.

Di antara banyak hal yang Sinta inginkan, salah satunya adalah ingin mendengar kalimat seperti ini dari sahabatnya. Dia tahu betapa Jennifer sangat mencintai Rafka selama ini, sangat sulit membuat Jennifer berhenti dan menyadari bahwa Rafka tidak akan pernah menoleh padanya.

Jika dia mengatakan hal itu, Jennifer akan pura-pura tuli dan buta dengan nasehat yang dia berikan. Bahkan saat Rafka mengeluarkan omongan menyakitkan perihal dia sangat tidak menyukai Jennifer, gadis itu sama sekali tidak peduli.

Sekarang ketika mendengar langsung Jennifer berkata demikian, Sinta tidak bisa menahan air mata harunya. Dia bahagia akhirnya Jennifer menyadari bahwa hal yang dilakukannya selama ini sia-sia.

"Jen, aku ikut senang sama keputusan kamu yang mau berusaha lupain Rafka. Aku harap ini bukan sekadar omongan sesaat. Mungkin bakal sulit, tapi pelan-pelan aja lupain Rafka-nya. Jangan terlalu terburu-buru ada aku yang bakal selalu mendukungmu," ucap Sinta tulus.

Jennifer tersenyum, tipis. "Udahlah gak usah dipikirin, ini emang waktunya buat aku move on, lagi pula cowok bukan cuman Rafka di dunia ini."

Sinta menatap sahabatnya takjub. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa Jennifer akan mengatakan hal itu. Sinta mengalihkan pandangannya, tapi tidak sengaja menangkap sosok Anna yang tengah berjalan ke arahnya.

Lebih tepatnya ke arah tempat Rafka yang berjarak dua meja di sampingnya. Dia tersenyum sinis ketika mengingat kejadian menyebalkan di rumah sakit, di mana dia melihat Jennifer di marahi oleh ayahnya hanya karena salah paham atas tangisan Anna.

Dia memperhatikan Anna yang berjalan sambil menunduk dengan tangan memegang nampan. Kemudian dia melirik Jennifer yang masih sibuk dengan makanannya, tadi Jennifer baru saja makan nasi goreng dan sekarang sudah berubah menjadi bakso. Waw, Sinta di buat takjub dengan perubahan selera makan sahabatnya yang melebihi porsi kuli bangunan.

"Jen, perutmu nggak kembung makan sebanyak itu?" Tanya Sinta penasaran.

Biasanya, Jennifer hanya makan sedikit itu pun kebanyakan salad bukan makanan berat. Tapi sekarang, entah bagaimana gadis itu bisa makan berat sebanyak itu dalam satu waktu.

"Nggak, emang kenapa?"

"Bukan apa-apa, cuma penasaran aja. Selama ini kamu diet, kan? Apa dietnya sudah selesai?"

Jennifer mengangguk. "Iya, aku nggak mau diet lagi. Cape, bikin cepat lelah."

Mendengar itu, Sinta tertawa pelan. "Dasar, bilang aja kamu nggak kuat nahan lapar."

"Itu juga salah satu alasannya."

Sinta terkekeh, ketika jarak mereka dengan Anna semakin dekat tanpa Jennifer sadari senyum miring terlihat di wajah cantik Sinta. Dia dengan sengaja mengulurkan satu kakinya untuk menjegal gadis cengeng itu. Namun...

PRANG!

Mata Sinta seketika membola melihat Anna yang mendadak jatuh dengan isi yang di atas nampan itu berserakan di lantai. Bahkan Sinta sangat yakin jika gadis itu belum menyentuh kakinya, tapi bagaimana bisa Anna jatuh.

Seisi kantin mendadak hening mendengar kebisingan itu. Jennifer yang baru saja menyuap bakso ke dalam mulutnya tersentak kaget mendengar itu sehingga baksonya muncrat keluar. Sialan! Jennifer melirik ke arah tempat kegaduhan berasal.

Matanya menyipit mengenali siapa gadis yang sedang duduk tergeletak di lantai dengan tubuh gemetaran.

"Oi, Anna! Ngapain masih duduk di situ, cosplay jadi suster ngesot?"

Entah siapa yang berbicara seperti itu, tapi karena ucapannya kantin tiba-tiba menjadi bising kembali karena ledakan tawa. Anna semakin menunduk mengerut takut, air mata yang sedari tadi ditahan meluncur begitu saja. Dia meremas tangannya yang gemetar, ucapan mengejek dan hinaan dari berbagai arah terdengar di telinganya.

"Bangun." Suara serak dan dingin itu membuat Anna seketika tertegun.

Dia mendongak dan matanya langsung bertatapan dengan netra sehitam malam. Entah sejak kapan, tiba-tiba kantin kembali hening.

Jennifer tidak menyangka di hari pertamanya masuk kuliah dia akan disuguhkan drama romantis antara pemeran utama wanita dan pria. Dia kembali menyuap baksonya sambil menyaksikan bagaimana Rafka dengan kerennya mengulurkan tangan pada Anna yang masih duduk tergeletak di lantai.

"Bangun." Rafka mengulurkan tangannya dengan wajah datar.

Suasana kantin kembali hening.

Anna menatap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca dan bibir pucat, ragu dan takut tergambar jelas di wajahnya. Namun, setelah meyakinkan diri, Anna menyambut uluran tangan Rafka dengan gemetar.

"Makasih, Kak," ucap Anna pelan setelah berhasil berdiri.

Rafka diam lalu tiba-tiba membuka jaket yang dikenakannya, dipasangkan jaket itu pada tubuh Anna yang bajunya penuh tumpahan jus.

"Kenapa bisa jatuh?" Tanya Rafka serak.

Anna menunduk, tapi tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia tidak menyangka jika Rafka akan membantunya. Mereka memang berpacaran tapi itu hanya sebuah kesepakatan.

"Anna," panggil Rafka dingin, tapi gadis itu masih belum menjawab. Pemuda itu menghela napas pelan lalu mengedarkan pandangan ke segala penjuru kantin. "Kalian semua yang tadi menjadikan kekasihku bahan bercandaan, maju!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 68

    Mata Anna kembali berkaca-kaca. Wajahnya pucat pasi setelah mendengar bentakan dari Jennifer.Sementara itu, Gina semakin dibuat bingung ketika melihat ke arah Rafka yang sejak tadi hanya diam tanpa melakukan tindakan apa pun kepada Jennifer, padahal sudah jelas gadis itu baru saja melukai Anna, mantan kekasihnya."Kak Rafka, kenapa hanya diam? Anna baru saja dirundung oleh Kak Jennifer. Kenapa Kakak nggak melakukan apa pun?" tanya Gina.Pertanyaan itu membuat semua mata yang ada di sana langsung beralih kepada Rafka.Mereka merasa ada yang aneh.Rafka masih memasang wajah datar meskipun kondisi Anna terlihat sangat memprihatinkan. Para sahabatnya juga ikut memandangnya dengan penuh tanda tanya.Terutama Tobi yang baru menyadari bahwa Rafka sama sekali tidak melakukan apa pun terhadap Jennifer.Rafka mengembuskan napas panjang, kemudian dia melangkah mendekati mereka. Namun, bukan berhenti di depan Anna. Pemuda itu justru menghentikan langkahnya tepat di hadapan Jennifer yang berdiri

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 67

    Dia kembali melangkah maju, tubuhnya menunjukkan tanda-tanda siap menyerang lagi. Beberapa siswa mencoba melerai. Namun mereka langsung terdiam ketika Rafka akhirnya bergerak.Sayangnya, bukan untuk menghentikan Jennifer. Rafka justru meraih bahu salah satu siswa yang hendak maju lalu menariknya mundur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tatapannya tidak pernah lepas dari Jennifer. Seolah dia ingin melihat sampai di mana batas kemampuan gadis itu."Kak Jennifer, sudah!" Pekik Anna dari lantai sambil menahan rasa sakit. "Jangan sakiti Kak Tobi lagi, tolong..."Air mata kembali mengalir di pipinya. "Aku mohon..."Jennifer menghentikan langkahnya, dia menoleh perlahan ke arah Anna. Lalu tertawa pendek."Aku heran." Nada suaranya terdengar dingin. "Aku sudah memperlakukanmu buruk setiap hari menurut versimu, tetapi kamu masih saja membela orang lain."Jennifer memiringkan kepala. "Kamu pikir itu akan membuatku iba?"Anna menggigit bibirnya, tubuhnya sedikit gemetar. "Aku hanya nggak mau a

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 66

    Jennifer mengangkat satu alis, tatapannya tetap tenang. "Aku jelas punya otak. Nggak kayak kamu yang kebodohannya bahkan mengalahkan ayam kampung."Wajah Tobi langsung memerah. "Katanya punya otak, tetapi tingkahmu lebih parah daripada pasien rumah sakit jiwa! Nggak waras!"Bayu yang berdiri di samping Tobi segera menepuk pundak sahabatnya itu. "Tenang, Bro."Dia berusaha menenangkan Tobi sebelum mengalihkan pandangan kepada Jennifer, Bayu mengembuskan napas panjang."Tapi kali ini kamu memang keterlaluan, Jen." Nada suaranya terdengar kecewa. "Kalau kamu terus memperlakukan Anna seperti ini, mentalnya bisa rusak."Jennifer memutar bola matanya malas. "Memang dari awal mentalnya sudah rusak, aku cuma menambahkan sedikit saja biar seimbang." "Astaga." Bayu memijat pelipisnya frustrasi.Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, siapa pun yang mendengar jawaban Jennifer pasti akan kesal. Bahkan sampai saat ini gadis itu masih terlihat sama sekali tidak merasa bersalah."Bahkan

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 65

    Anna yang semula menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya, senyum dingin langsung muncul di bibirnya."Jadi Kak Jennifer sudah tahu?" Wajah lugu yang selama ini selalu dia tunjukkan lenyap begitu saja. "Baguslah. Jadi aku tidak perlu berpura-pura baik lagi di depan iblis seperti Kakak."Jennifer memutar bola mata. Menurutnya, sebutan iblis jauh lebih cocok diberikan kepada Anna daripada dirinya.Anna memainkan rambutnya sambil menyunggingkan senyum sinis. "Aku benar-benar membenci Kak Jennifer. Semuanya pasti akan lebih baik tanpa Kakak. Terlebih lagi kalau Kakak nggak ada di dunia ini."Dia melangkah mendekat. "Kenapa Kakak nggak ikut mati saja bersama ibu kesayangan Kakak, hm?"Jennifer tidak menjawab. Dia hanya mengamati Anna yang terus berusaha memancing emosinya, dia tidak bodoh. Dan dia hanya menunggu waktu yang tepat."Kasihan sekali hidup Kakak." Anna kembali berbicara. "Bahkan papi menyesal memiliki anak seperti Kakak. Seharusnya Kak Jennifer sadar kalau benalu seperti

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 64

    "Kenapa harus seperti ini, Raf?" Suara Jennifer terdengar lebih pelan. "Dulu aku sangat mencintaimu. Aku memberikan semua perhatianku untukmu. Tetapi apa yang kamu lakukan?"Dia tersenyum pahit. "Kamu terus mendorongku menjauh. Menghancurkan semua harapanku sedikit demi sedikit."Tatapan Jennifer perlahan meredup. "Belum cukup sampai di sana, kamu juga pernah mengatakan bahwa mustahil menjalin hubungan dengan orang yang paling kamu benci. Sekarang kamu datang dan mengatakan semua ini."Jennifer menggelengkan kepala. "Rafka, mungkin kamu sudah melupakan semua yang pernah terjadi. Tetapi aku masih mengingat semuanya."Setiap penolakan, setiap hinaan, setiap luka. Semuanya masih tersimpan jelas dalam ingatannya.Rafka menatap Jennifer dengan sorot mata penuh penyesalan. "Jennifer...""Aku akan mengatakan hal yang dulu pernah kamu katakan kepadaku." Jennifer memotong ucapannya. Tatapannya lurus menembus mata Rafka. "Kalau memang kamu benar-benar menyukaiku, hilangkan perasaan itu."Rafka

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 63

    "Untuk apa kamu meminta Jennifer membalas pesanmu?" sungut Sinta tidak suka."Bukan urusanmu." Rafka menjawab tanpa ekspresi."Jelas urusanku! Jennifer sahabatku, dan kamu sumber sebagian besar masalah yang pernah dia alami. Aku nggak mau Jennifer terluka lagi hanya karena ulahmu."Jennifer mengembuskan napas panjang. Lalu, secara tiba-tiba dia berdiri dari kursinya. "Aku ingin berbicara berdua denganmu."Tatapannya tertuju langsung kepada Rafka. Suasana meja seketika menjadi hening, Jennifer tidak menunggu jawaban. Dia langsung berbalik dan berjalan keluar kantin.Rafka menatap punggung gadis itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dan mengikuti langkahnya dengan tenang.Samuel yang sejak tadi hanya mengamati perlahan mengangkat sudut bibirnya. "Menarik, apa kali ini dia serius?"Tobi masih melongo memperhatikan kedua orang itu yang semakin menjauh."Kenapa aku merasa mereka seperti memiliki sesuatu yang..." Dia menggaruk kepalanya bingung. "Entahlah, seperti ada percikan."

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 62

    "Aku yang membeli makanan. Kamu cari tempat duduk saja." Kata Sinta memberi instruksi pada sahabatnya. Jennifer mengangguk menanggapi ucapan Sinta. Setelah sahabatnya pergi menuju stan makanan, Jennifer berbalik dan mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk di tengah keramaian kantin. Bebe

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 57

    Jennifer melongo mendengar ucapan dari mulut Rafka, dia mengedipkan mata seolah sedang berperang dengan dunia nyata dan halusinasi. "Apa aku salah dengar?" Tanya Jennifer masih terkejut. Rafka menggeleng pelan. "Nggak, kamu sama sekali nggak salah dengar." Seketika tawa Jennifer meledak, dia

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 56

    Di lantai dansa, Jennifer meletakkan lengan kirinya di pundak Gevan. Dia bisa merasakan tangan kanan Gevan membalas memegang pinggangnya, sementara tangan yang lain menggenggam lembut tangan kanannya. Mereka saling menatap dalam diam sebelum menggerakkan kaki secara perlahan mengikuti alunan musik.

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 55

    Bukankah Jennifer yang selalu berusaha mendapatkan perhatian pemuda itu? Namun yang dia lihat sekarang justru kebalikannya. Seolah-olah Rafka tidak ingin Jennifer berada terlalu jauh darinya. Sementara Jennifer sendiri tampak ingin memukulnya kapan saja."Rafka, kamu benar-benar keterlaluan!" desis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status