LOGIN"Jenni," Sinta tak bisa menutupi raut terkejutnya.
Di antara banyak hal yang Sinta inginkan, salah satunya adalah ingin mendengar kalimat seperti ini dari sahabatnya. Dia tahu betapa Jennifer sangat mencintai Rafka selama ini, sangat sulit membuat Jennifer berhenti dan menyadari bahwa Rafka tidak akan pernah menoleh padanya. Jika dia mengatakan hal itu, Jennifer akan pura-pura tuli dan buta dengan nasehat yang dia berikan. Bahkan saat Rafka mengeluarkan omongan menyakitkan perihal dia sangat tidak menyukai Jennifer, gadis itu sama sekali tidak peduli. Sekarang ketika mendengar langsung Jennifer berkata demikian, Sinta tidak bisa menahan air mata harunya. Dia bahagia akhirnya Jennifer menyadari bahwa hal yang dilakukannya selama ini sia-sia. "Jen, aku ikut senang sama keputusan kamu yang mau berusaha lupain Rafka. Aku harap ini bukan sekadar omongan sesaat. Mungkin bakal sulit, tapi pelan-pelan aja lupain Rafka-nya. Jangan terlalu terburu-buru ada aku yang bakal selalu mendukungmu," ucap Sinta tulus. Jennifer tersenyum, tipis. "Udahlah gak usah dipikirin, ini emang waktunya buat aku move on, lagi pula cowok bukan cuman Rafka di dunia ini." Sinta menatap sahabatnya takjub. Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa Jennifer akan mengatakan hal itu. Sinta mengalihkan pandangannya, tapi tidak sengaja menangkap sosok Anna yang tengah berjalan ke arahnya. Lebih tepatnya ke arah tempat Rafka yang berjarak dua meja di sampingnya. Dia tersenyum sinis ketika mengingat kejadian menyebalkan di rumah sakit, di mana dia melihat Jennifer di marahi oleh ayahnya hanya karena salah paham atas tangisan Anna. Dia memperhatikan Anna yang berjalan sambil menunduk dengan tangan memegang nampan. Kemudian dia melirik Jennifer yang masih sibuk dengan makanannya, tadi Jennifer baru saja makan nasi goreng dan sekarang sudah berubah menjadi bakso. Waw, Sinta di buat takjub dengan perubahan selera makan sahabatnya yang melebihi porsi kuli bangunan. "Jen, perutmu nggak kembung makan sebanyak itu?" Tanya Sinta penasaran. Biasanya, Jennifer hanya makan sedikit itu pun kebanyakan salad bukan makanan berat. Tapi sekarang, entah bagaimana gadis itu bisa makan berat sebanyak itu dalam satu waktu. "Nggak, emang kenapa?" "Bukan apa-apa, cuma penasaran aja. Selama ini kamu diet, kan? Apa dietnya sudah selesai?" Jennifer mengangguk. "Iya, aku nggak mau diet lagi. Cape, bikin cepat lelah." Mendengar itu, Sinta tertawa pelan. "Dasar, bilang aja kamu nggak kuat nahan lapar." "Itu juga salah satu alasannya." Sinta terkekeh, ketika jarak mereka dengan Anna semakin dekat tanpa Jennifer sadari senyum miring terlihat di wajah cantik Sinta. Dia dengan sengaja mengulurkan satu kakinya untuk menjegal gadis cengeng itu. Namun... PRANG! Mata Sinta seketika membola melihat Anna yang mendadak jatuh dengan isi yang di atas nampan itu berserakan di lantai. Bahkan Sinta sangat yakin jika gadis itu belum menyentuh kakinya, tapi bagaimana bisa Anna jatuh. Seisi kantin mendadak hening mendengar kebisingan itu. Jennifer yang baru saja menyuap bakso ke dalam mulutnya tersentak kaget mendengar itu sehingga baksonya muncrat keluar. Sialan! Jennifer melirik ke arah tempat kegaduhan berasal. Matanya menyipit mengenali siapa gadis yang sedang duduk tergeletak di lantai dengan tubuh gemetaran. "Oi, Anna! Ngapain masih duduk di situ, cosplay jadi suster ngesot?" Entah siapa yang berbicara seperti itu, tapi karena ucapannya kantin tiba-tiba menjadi bising kembali karena ledakan tawa. Anna semakin menunduk mengerut takut, air mata yang sedari tadi ditahan meluncur begitu saja. Dia meremas tangannya yang gemetar, ucapan mengejek dan hinaan dari berbagai arah terdengar di telinganya. "Bangun." Suara serak dan dingin itu membuat Anna seketika tertegun. Dia mendongak dan matanya langsung bertatapan dengan netra sehitam malam. Entah sejak kapan, tiba-tiba kantin kembali hening. Jennifer tidak menyangka di hari pertamanya masuk kuliah dia akan disuguhkan drama romantis antara pemeran utama wanita dan pria. Dia kembali menyuap baksonya sambil menyaksikan bagaimana Rafka dengan kerennya mengulurkan tangan pada Anna yang masih duduk tergeletak di lantai. "Bangun." Rafka mengulurkan tangannya dengan wajah datar. Suasana kantin kembali hening. Anna menatap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca dan bibir pucat, ragu dan takut tergambar jelas di wajahnya. Namun, setelah meyakinkan diri, Anna menyambut uluran tangan Rafka dengan gemetar. "Makasih, Kak," ucap Anna pelan setelah berhasil berdiri. Rafka diam lalu tiba-tiba membuka jaket yang dikenakannya, dipasangkan jaket itu pada tubuh Anna yang bajunya penuh tumpahan jus. "Kenapa bisa jatuh?" Tanya Rafka serak. Anna menunduk, tapi tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia tidak menyangka jika Rafka akan membantunya. Mereka memang berpacaran tapi itu hanya sebuah kesepakatan. "Anna," panggil Rafka dingin, tapi gadis itu masih belum menjawab. Pemuda itu menghela napas pelan lalu mengedarkan pandangan ke segala penjuru kantin. "Kalian semua yang tadi menjadikan kekasihku bahan bercandaan, maju!""Kalian berdua apa-apaan, bangsat!" Bayu berteriak kesal kepada Tobi dan Reno yang duduk di depannya dalam keadaan berantakan dan babak belur. "Tanya tuh si batu ngapain tiba-tiba nyerang aku! Jelas-jelas aku nggak bikin masalah sama dia," ujar Tobi sembari mengompres wajahnya menggunakan es batu. Tatapan Bayu mengarah kepada Reno yang terdiam dengan raut wajah datar. "Sumpah, Reno. Kamu kenapa sih? Jelasin sama kita kenapa kamu tiba-tiba mukul Tobi, hah?" Tidak ada jawaban dari Reno. "Reno," desak Bayu ketika melihat Reno hanya terdiam tanpa berniat menjelaskan kejadian tadi. "Ck, dulu kamu memang pendiam, tapi kenapa sekarang kamu malah makin mirip patung berjalan sih?" keluh Bayu. "Aku nggak suka sama apa yang kamu omongin tadi ke Jennifer," ucap Reno. Suaranya entah kenapa terdengar dingin, tidak seperti biasanya. Tobi langsung menoleh. "Apa yang salah? Dia memang sudah keterlaluan. Kamu lihat sendiri, kan, perbuatan dia sama Anna." Rahang Reno mengeras. "Bukan dia yang
Rafka bukan tidak bisa mempercayai Jennifer. Namun, melihat semua ini dan sikap gadis itu sebelumnya bukan hal mustahil jika Jennifer bisa melakukan semua itu kepada Anna. Terlebih hubungan kedua gadis itu sangat buruk. Jennifer sudah membantah dua kali bahwa bukan dirinya yang melakukan semua itu. Namun, Rafka, orang yang selalu mengatakan mencintai dirinya, terlihat jelas tidak mempercayainya. Jennifer tertawa hambar dalam hati, lalu ia menoleh ke arah Samuel yang diam di tempat. Ekspresi wajah pemuda itu tak berbeda jauh dengan Rafka, menyadari hal itu Jennifer hanya bisa tersenyum masam.'Bahkan tunanganku sendiri juga nggak percaya sama aku.' Batinnya miris. Ia tidak membutuhkan perlindungan dan cinta dari orang yang tidak mempercayainya, dan Samuel sepertinya akan menjadi orang kedua yang bernasib seperti Rafka. Jennifer membuang muka untuk menyingkirkan tangan Rafka dari bahunya. Ekspresinya masih terlihat datar. Meskipun dirinya saat ini menjadi sasaran cemoohan teman-tema
Kenapa orang-orang itu sangat menyedihkan? Mereka rela melakukan berbagai macam cara, bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk hal-hal yang pada akhirnya merugikan diri sendiri. Mereka tidak pernah tahu seberapa berharga sebuah kehidupan yang saat ini sedang mereka perjuangkan. Harta, cinta, dan perhatian tidak ada gunanya lagi jika kehidupan sudah berakhir. Melihat Anna yang rela mempertaruhkan dirinya sendiri hanya untuk membuat Jennifer dibenci oleh semua orang benar-benar sangat miris. Bukan miris untuknya, melainkan miris dengan jalan yang dipilih gadis itu. Gadis itu pasti berpikir dibenci oleh semua orang akan membuat Jennifer hancur? Sayangnya tidak. Dirinya bukan lagi Jennifer yang dulu. Jika sekarang ia dibenci, itu terserah mereka karena tidak akan ada untungnya juga bagi kehidupannya. Sejak awal, tokoh Jennifer sudah dibenci. Selain Sinta, tidak ada yang benar-benar menemaninya. Jika kali ini ia kembali dibenci atau mungkin akan benar-benar sendiria
Acara tadi malam cukup memuaskan bagi Jennifer. Melihat Ratih, Mikail, dan juga Anna dalam keadaan tidak berdaya seperti semalam adalah kepuasan tersendiri baginya. Ia tidak peduli jika orang-orang menganggap dirinya jahat, karena dirinya adalah karakter antagonis yang berperan membuat sang tokoh utama kesulitan. Apa salahnya menunjukan sifat yang tegas? lagi pula, mereka adalah orang-orang yang tidak akan menurut meski dirinya bersikap baik jadi percuma jika ia hanya diam dan menerima tindakan ketiga orang tersebut. Sikap dan sifat ketiga orang itu sudah membuat Jennifer tidak bisa lagi mentoleransinya sebagai pembaca. Dulu, saat membaca novel itu, ia memang membenci tingkah Jennifer Angelina yang terbilang memalukan dan menyebalkan. Namun, setelah ia merasakan sendiri peran tersebut, ternyata ada alasan khusus mengapa Jennifer berubah menjadi tukang bully. "Kakak sudah puas sekarang?" Jennifer yang sedang menaiki anak tangga menuju kelasnya seketika terkejut dengan kemunculan
Mikail menggeram marah, sorot matanya menyimpan kebencian yang begitu besar pada putri sulungnya itu."Jaga ucapanmu, Jennifer! pantas kamu bicara seperti itu pada ayahmu sendiri, ha?!" bentak Mikail."Pantas saja, karena aku bicara dengan fakta. Kalo Papi merasa terganggu berarti itu nyata." Jennifer mengambil kue red velvet yang ada di depannya. Ekor matanya melirik ke arah Ratih dan Anna yang masih menangis. Jennifer menggelengkan kepalanya pelan. Apakah mereka tidak lelah selalu menangis di setiap situasi? Ia yang melihat saja sudah lelah sendiri. 'Kalau aku seperti mereka, mungkin stok air mata aku untuk sepuluh tahun ke depan sudah kering,' batinnya sambil terkekeh geli. Jacob berdiri dari posisi duduknya. Ia sama sekali tidak menengahi perdebatan antara Mikail dan Jennifer, pria itu memasang ekspresi datar tanpa adanya rasa bersalah sedikit pun kepada Ratih, Anna, bahkan putranya sendiri, Mikail. "Pembicaraan kita selesai sampai di sini." Ia berniat pergi, tetapi urung
Mikail mengepalkan kedua tangannya lalu berkata, "Ratih punya alasan sendiri kenapa dia ninggalin aku dulu, Yah! Aku sudah menjelaskannya berkali-kali." "Mas, sabar." Ratih memegang tangan Mikail dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Jangan marah-marah sama Ayah." "Kamu nggak mengerti, Ayah sudah termakan hasutan Jennifer yang membencimu." Jacob mendengus jengkel. "Jangan salahkan Jennifer dalam pembicaraan ini. Justru kamu yang perlu di salahkan, Mikail." "Ayah selalu saja membela anak itu, padahal Ratih sudah berbaik hati merawatnya." "Itu pemikiranmu sendiri, dan Ayah sama sekali nggak peduli dengan alasan Ratih meninggalkanmu. Apa pun alasan di baliknya, dia tetaplah wanita perebut laki orang dan kamu pria paling brengsek yang sialnya menjadi anakku!" Di bawah meja restoran, tanpa ada yang melihat, kedua tangan Ratih sudah mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. Matanya memang berkaca-kaca dan terlihat sendu, tetapi tidak dengan hatinya yang panas mendengar se
Segerombolan siswa laki-laki masuk ke dalam kelas dan di antara mereka ada satu orang yang cukup menonjol. Jennifer tersenyum tipis, aura pemeran utama memang tidak bisa berbohong meski dia belum melihatnya secara langsung sebelumnya.Rafka berjalan paling depan, wajahnya datar tanpa ekspresi, terk
Jennifer tertawa pelan bukan tawa bahagia, melainkan tawa dingin yang sarat ejekan. Sorot matanya menajam, menatap lurus ke arah Mikail tanpa sedikit pun gentar."Aku ulang ya, Pi," ucapnya pelan, namun setiap katanya terasa seperti tamparan. "Papi barusan nyalahin Mami aku yang sudah meninggal?"R
Celia meringis, adegan jatuh dari tangga itu memang ada, tapi dia tidak menyangka malah dirinya yang bakal ada di tubuh Jennifer. Mengingat kejadian tersebut, berarti cerita ini belum berjalan jauh.Cerita dimulai dari seorang lelaki bernama Rafka yang memiliki sifat dingin, tidak berperasaan, dan
Jennifer berharap wanita itu akan menatapnya dengan wajah kebingungan karena dia salah menyebutkan nama. Namun..."Iya, Non?"What the fuck!Jennifer memejamkan mata dengan bibir menipis, napasnya naik turun. Bagaimana bisa? Ini sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Apakah dia benar-benar ma







