MasukCelia memaksakan matanya yang terasa berat untuk terbuka. Perlahan dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai masuk di sela-sela matanya.
Setelah pandangannya sedikit jernih, Celia malah merasakan sakit menyerang kepalanya, pusing seperti ditusuk ribuan jarum di dalam kepalanya. Belum lagi tenggorokannya yang entah mengapa terasa kering seperti tidak diberi cairan bertahun-tahun. Dia meringis tidak suka ketika mencium bau obat-obatan yang sangat pekat dari tempatnya. Ah, dia benar-benar benci sekali dengan aroma ini, membuat mual saja. Dia mendesah lemas dan kemudian bergumam seolah baru menyadari sesuatu. Ini di mana? Celia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Keningnya mengerut samar, ini bukan kamarnya, tetapi rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi? Celia berusaha mengingat apa yang menyebabkan dirinya menjadi seperti ini. Kenapa dia bisa sampai berada di rumah sakit dengan keadaan tubuh seperti habis dihajar orang sekampung, terasa sangat sakit dan ngilu di seluruh bagian tubuhnya. Kecelakaan Samar-samar ingatan ketika motornya ditabrak tiba-tiba memasuki kepalanya. Saat itu seharusnya dia pergi menuju rumah Siska untuk mendiskusikan tentang naskah novel milik sahabatnya. Namun, di perjalanan tiba-tiba ada sebuah mobil yang sepertinya kehilangan kendali sehingga menabrak motornya dan membuat dirinya hilang kesadaran detik itu juga. Entah dia benar-benar sudah meninggal atau hanya koma, Celia tak yakin karena ingatan terakhirnya begitu samar. Celia meringis, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang mengingat kejadian mengerikan yang menimpanya itu. Dia menghela napas panjang, sejujurnya masih tidak percaya bahwa dirinya masih bisa selamat setelah mengalami kecelakaan maut itu. Sebelum memejamkan mata saat itu, dia merasa jiwanya seperti tertarik hingga terasa sangat menyakitkan. Tapi sekarang, Celia merasa sangat lega dan bersyukur ternyata Tuhan masih memberikannya kesempatan. "Non Jenni! Ya Tuhan... Nona sudah bangun?" Celia tersentak mendengar teriakan itu. Dia mengedip beberapa kali mencoba menjernihkan pandangannya, dia melihat seorang wanita paruh baya datang lalu berteriak heboh seperti itu. "Sebentar, Non. Saya panggilkan dokter dulu." Wanita itu berlari tergesa keluar dan tidak lama setelah itu muncul lagi dengan seorang dokter dan perawat yang berjalan di belakangnya. Dokter dan perawat itu memeriksa Celia dengan teliti mengenai keadaannya. Setelah itu, dokter langsung memberi beberapa pertanyaan untuknya. "Jenni, apa yang kamu rasakan? Ada yang sakit?" Celia mengerjap? Siapa orang yang dokter ini maksud? "Se-sebentar, saya minta a-air," pintanya. Dia benar-benar sangat haus. Untuk menjawab pertanyaan itu saja dia kesulitan. Seorang perawat dengan sigap langsung memberikannya air dan membantu Jenni untuk minum dengan perlahan. "Bagaimana? Ada yang kamu rasakan lagi atau bagian mana yang masih terasa sakit?" tanya dokter tersebut. "K-kepala... Saya pusing..." jawabnya terbata. "Itu wajar, kepala kamu mengalami benturan yang cukup kuat akibat terjatuh dari tangga sehingga menyebabkan sakit berlebih di kepala kamu. Tapi tenang saja, kalau kamu rutin minum obat dan istirahat dengan baik, seiring berjalannya waktu sakitnya pasti akan berangsur pulih," jelas dokter itu sambil menyuntikkan sesuatu di infusannya. Celia tidak menganggap jelas penjelasan dokter, tapi ada beberapa kata yang membuatnya terkejut adalah jatuh dari tangga? Kenapa bisa jadi seperti itu, dia jelas-jelas tertabrak mobil bukan jatuh dari tangga. "J-jatuh dari tangga?" Ulang Celia tak yakin. "Dokter yakin?" "Iya, kamu nggak ingat?" tanya dokter bingung. "Jennifer, kamu ingat siapa nama kamu?" Dokter menatapnya intens. Jennifer? Lagi-lagi nama itu kembali di sebut. Celia termangu, ekspresi gadis itu bertambah rumit, ada sedikit ketakutan muncul di matanya. Seingatnya dia tidak pernah mempunyai kenalan bernama Jennifer, apalagi nama samaran seperti itu tapi saat mendengar nama tersebut entah mengapa dia merasa tidak asing. Jennifer, Jen... Mata Celia seketika membelalak setelah berhasil mengingat nama itu, mulutnya menganga dengan ekspresi tidak percaya. Celia menatap sekeliling dengan pandangan ngeri. Tidak mungkin! "Jenni," dokter kembali memanggilnya dengan nama itu membuat Celia semakin dilanda ketakutan. "Ada apa, kamu baik-baik saja?" Celia menggigit bibirnya mencoba menahan teriakan yang ingin dia keluarkan. Sumpah! Saat ini dia benar-benar merasa panik dan takut dengan perkiraan yang ada di otaknya. "Jennifer," panggil dokter berhasil menyentak Celia dari lamunan. "Iya?" Secara tidak sadar Celia menjawab. "Saya... I'm fine..." jawabnya gugup. Sial! Rasanya dia ingin berteriak dan mengatakan sekencang-kencangnya bahwa dia tidak baik-baik saja dan dia bukan Jennifer. Tapi dia takut apa yang ada di kepalanya memang benar-benar terjadi, dan jika dia mengatakannya maka dia akan di kira gila lalu berakhir menjadi pasien RSJ. Semua bisa menjadi semakin rumit. Dokter menatapnya kemudian menghela napas pelan. "Ya sudah, sebaiknya kamu kembali istirahat." Celia mengangguk pelan lalu mengalihkan matanya pada wanita paruh baya yang juga tengah menatapnya dengan pandangan segan, seperti ingin mendekat tapi takut. Celia menggigit bibirnya yang terasa kering kemudian menghela napas lagi sebelum berkata dengan suara pelan, dan was-was jika perkiraannya benar maka dia harus memastikan sesuatu lebih dulu. "Bi Neni," sumpah demi apa pun, Celia berharap dia keliru menyebut nama wanita itu.Mata Anna kembali berkaca-kaca. Wajahnya pucat pasi setelah mendengar bentakan dari Jennifer.Sementara itu, Gina semakin dibuat bingung ketika melihat ke arah Rafka yang sejak tadi hanya diam tanpa melakukan tindakan apa pun kepada Jennifer, padahal sudah jelas gadis itu baru saja melukai Anna, mantan kekasihnya."Kak Rafka, kenapa hanya diam? Anna baru saja dirundung oleh Kak Jennifer. Kenapa Kakak nggak melakukan apa pun?" tanya Gina.Pertanyaan itu membuat semua mata yang ada di sana langsung beralih kepada Rafka.Mereka merasa ada yang aneh.Rafka masih memasang wajah datar meskipun kondisi Anna terlihat sangat memprihatinkan. Para sahabatnya juga ikut memandangnya dengan penuh tanda tanya.Terutama Tobi yang baru menyadari bahwa Rafka sama sekali tidak melakukan apa pun terhadap Jennifer.Rafka mengembuskan napas panjang, kemudian dia melangkah mendekati mereka. Namun, bukan berhenti di depan Anna. Pemuda itu justru menghentikan langkahnya tepat di hadapan Jennifer yang berdiri
Dia kembali melangkah maju, tubuhnya menunjukkan tanda-tanda siap menyerang lagi. Beberapa siswa mencoba melerai. Namun mereka langsung terdiam ketika Rafka akhirnya bergerak.Sayangnya, bukan untuk menghentikan Jennifer. Rafka justru meraih bahu salah satu siswa yang hendak maju lalu menariknya mundur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tatapannya tidak pernah lepas dari Jennifer. Seolah dia ingin melihat sampai di mana batas kemampuan gadis itu."Kak Jennifer, sudah!" Pekik Anna dari lantai sambil menahan rasa sakit. "Jangan sakiti Kak Tobi lagi, tolong..."Air mata kembali mengalir di pipinya. "Aku mohon..."Jennifer menghentikan langkahnya, dia menoleh perlahan ke arah Anna. Lalu tertawa pendek."Aku heran." Nada suaranya terdengar dingin. "Aku sudah memperlakukanmu buruk setiap hari menurut versimu, tetapi kamu masih saja membela orang lain."Jennifer memiringkan kepala. "Kamu pikir itu akan membuatku iba?"Anna menggigit bibirnya, tubuhnya sedikit gemetar. "Aku hanya nggak mau a
Jennifer mengangkat satu alis, tatapannya tetap tenang. "Aku jelas punya otak. Nggak kayak kamu yang kebodohannya bahkan mengalahkan ayam kampung."Wajah Tobi langsung memerah. "Katanya punya otak, tetapi tingkahmu lebih parah daripada pasien rumah sakit jiwa! Nggak waras!"Bayu yang berdiri di samping Tobi segera menepuk pundak sahabatnya itu. "Tenang, Bro."Dia berusaha menenangkan Tobi sebelum mengalihkan pandangan kepada Jennifer, Bayu mengembuskan napas panjang."Tapi kali ini kamu memang keterlaluan, Jen." Nada suaranya terdengar kecewa. "Kalau kamu terus memperlakukan Anna seperti ini, mentalnya bisa rusak."Jennifer memutar bola matanya malas. "Memang dari awal mentalnya sudah rusak, aku cuma menambahkan sedikit saja biar seimbang." "Astaga." Bayu memijat pelipisnya frustrasi.Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, siapa pun yang mendengar jawaban Jennifer pasti akan kesal. Bahkan sampai saat ini gadis itu masih terlihat sama sekali tidak merasa bersalah."Bahkan
Anna yang semula menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya, senyum dingin langsung muncul di bibirnya."Jadi Kak Jennifer sudah tahu?" Wajah lugu yang selama ini selalu dia tunjukkan lenyap begitu saja. "Baguslah. Jadi aku tidak perlu berpura-pura baik lagi di depan iblis seperti Kakak."Jennifer memutar bola mata. Menurutnya, sebutan iblis jauh lebih cocok diberikan kepada Anna daripada dirinya.Anna memainkan rambutnya sambil menyunggingkan senyum sinis. "Aku benar-benar membenci Kak Jennifer. Semuanya pasti akan lebih baik tanpa Kakak. Terlebih lagi kalau Kakak nggak ada di dunia ini."Dia melangkah mendekat. "Kenapa Kakak nggak ikut mati saja bersama ibu kesayangan Kakak, hm?"Jennifer tidak menjawab. Dia hanya mengamati Anna yang terus berusaha memancing emosinya, dia tidak bodoh. Dan dia hanya menunggu waktu yang tepat."Kasihan sekali hidup Kakak." Anna kembali berbicara. "Bahkan papi menyesal memiliki anak seperti Kakak. Seharusnya Kak Jennifer sadar kalau benalu seperti
"Kenapa harus seperti ini, Raf?" Suara Jennifer terdengar lebih pelan. "Dulu aku sangat mencintaimu. Aku memberikan semua perhatianku untukmu. Tetapi apa yang kamu lakukan?"Dia tersenyum pahit. "Kamu terus mendorongku menjauh. Menghancurkan semua harapanku sedikit demi sedikit."Tatapan Jennifer perlahan meredup. "Belum cukup sampai di sana, kamu juga pernah mengatakan bahwa mustahil menjalin hubungan dengan orang yang paling kamu benci. Sekarang kamu datang dan mengatakan semua ini."Jennifer menggelengkan kepala. "Rafka, mungkin kamu sudah melupakan semua yang pernah terjadi. Tetapi aku masih mengingat semuanya."Setiap penolakan, setiap hinaan, setiap luka. Semuanya masih tersimpan jelas dalam ingatannya.Rafka menatap Jennifer dengan sorot mata penuh penyesalan. "Jennifer...""Aku akan mengatakan hal yang dulu pernah kamu katakan kepadaku." Jennifer memotong ucapannya. Tatapannya lurus menembus mata Rafka. "Kalau memang kamu benar-benar menyukaiku, hilangkan perasaan itu."Rafka
"Untuk apa kamu meminta Jennifer membalas pesanmu?" sungut Sinta tidak suka."Bukan urusanmu." Rafka menjawab tanpa ekspresi."Jelas urusanku! Jennifer sahabatku, dan kamu sumber sebagian besar masalah yang pernah dia alami. Aku nggak mau Jennifer terluka lagi hanya karena ulahmu."Jennifer mengembuskan napas panjang. Lalu, secara tiba-tiba dia berdiri dari kursinya. "Aku ingin berbicara berdua denganmu."Tatapannya tertuju langsung kepada Rafka. Suasana meja seketika menjadi hening, Jennifer tidak menunggu jawaban. Dia langsung berbalik dan berjalan keluar kantin.Rafka menatap punggung gadis itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dan mengikuti langkahnya dengan tenang.Samuel yang sejak tadi hanya mengamati perlahan mengangkat sudut bibirnya. "Menarik, apa kali ini dia serius?"Tobi masih melongo memperhatikan kedua orang itu yang semakin menjauh."Kenapa aku merasa mereka seperti memiliki sesuatu yang..." Dia menggaruk kepalanya bingung. "Entahlah, seperti ada percikan."
Sebuah ballroom megah yang berada di salah satu hotel berbintang telah dipenuhi dekorasi mewah bernuansa putih. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya hangat, memantul pada lantai marmer yang mengilap dan menciptakan kesan elegan yang memukau.Satu per satu tamu undangan
Samuel menatap layar ponselnya yang sudah gelap, dia masih tidak menyangka jika Jennifer baru saja menghubunginya hanya karena rumor yang beredar. Sejauh ini, gadis itu selalu mengabaikan panggilan darinya tapi tadi gadis itu bahkan meminta bantuannya. Seulas senyum tipis muncul di bibir Samuel, t
Perasaan yang menjerat Jennifer memang tidak salah, hari yang dia pikir akan berakhir damai justru menjadi kacau balau saat dia menginjakan kaki di anak tangga kampus keesokan harinya. Tatapan murid-murid sejak tadi seperti pisau yang ingin mengulitinya hidup-hidup, entah alasan apa yang membuat m
Jennifer baru saja selesai menonton televisi di ruang tamu. Hari ini berjalan seperti biasa, tanpa hal istimewa yang perlu dia nantikan. Karena itu, ketika suara bel rumah tiba-tiba berbunyi, Jennifer tidak bisa menyembunyikan kerutan di dahinya.Dia tidak merasa sedang menunggu siapa pun sore ini,







