Compartilhar

Bab 2

Autor: Zeya
last update Data de publicação: 2026-03-31 09:58:36

Celia memaksakan matanya yang terasa berat untuk terbuka. Perlahan dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai masuk di sela-sela matanya.

Setelah pandangannya sedikit jernih, Celia malah merasakan sakit menyerang kepalanya, pusing seperti ditusuk ribuan jarum di dalam kepalanya. Belum lagi tenggorokannya yang entah mengapa terasa kering seperti tidak diberi cairan bertahun-tahun.

Dia meringis tidak suka ketika mencium bau obat-obatan yang sangat pekat dari tempatnya. Ah, dia benar-benar benci sekali dengan aroma ini, membuat mual saja.

Dia mendesah lemas dan kemudian bergumam seolah baru menyadari sesuatu. Ini di mana? Celia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Keningnya mengerut samar, ini bukan kamarnya, tetapi rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?

Celia berusaha mengingat apa yang menyebabkan dirinya menjadi seperti ini. Kenapa dia bisa sampai berada di rumah sakit dengan keadaan tubuh seperti habis dihajar orang sekampung, terasa sangat sakit dan ngilu di seluruh bagian tubuhnya.

Kecelakaan

Samar-samar ingatan ketika motornya ditabrak tiba-tiba memasuki kepalanya. Saat itu seharusnya dia pergi menuju rumah Siska untuk mendiskusikan tentang naskah novel milik sahabatnya. Namun, di perjalanan tiba-tiba ada sebuah mobil yang sepertinya kehilangan kendali sehingga menabrak motornya dan membuat dirinya hilang kesadaran detik itu juga.

Entah dia benar-benar sudah meninggal atau hanya koma, Celia tak yakin karena ingatan terakhirnya begitu samar.

Celia meringis, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang mengingat kejadian mengerikan yang menimpanya itu. Dia menghela napas panjang, sejujurnya masih tidak percaya bahwa dirinya masih bisa selamat setelah mengalami kecelakaan maut itu.

Sebelum memejamkan mata saat itu, dia merasa jiwanya seperti tertarik hingga terasa sangat menyakitkan. Tapi sekarang, Celia merasa sangat lega dan bersyukur ternyata Tuhan masih memberikannya kesempatan.

"Non Jenni! Ya Tuhan... Nona sudah bangun?" Celia tersentak mendengar teriakan itu.

Dia mengedip beberapa kali mencoba menjernihkan pandangannya, dia melihat seorang wanita paruh baya datang lalu berteriak heboh seperti itu.

"Sebentar, Non. Saya panggilkan dokter dulu." Wanita itu berlari tergesa keluar dan tidak lama setelah itu muncul lagi dengan seorang dokter dan perawat yang berjalan di belakangnya.

Dokter dan perawat itu memeriksa Celia dengan teliti mengenai keadaannya. Setelah itu, dokter langsung memberi beberapa pertanyaan untuknya.

"Jenni, apa yang kamu rasakan? Ada yang sakit?"

Celia mengerjap? Siapa orang yang dokter ini maksud?

"Se-sebentar, saya minta a-air," pintanya.

Dia benar-benar sangat haus. Untuk menjawab pertanyaan itu saja dia kesulitan. Seorang perawat dengan sigap langsung memberikannya air dan membantu Jenni untuk minum dengan perlahan.

"Bagaimana? Ada yang kamu rasakan lagi atau bagian mana yang masih terasa sakit?" tanya dokter tersebut.

"K-kepala... Saya pusing..." jawabnya terbata.

"Itu wajar, kepala kamu mengalami benturan yang cukup kuat akibat terjatuh dari tangga sehingga menyebabkan sakit berlebih di kepala kamu. Tapi tenang saja, kalau kamu rutin minum obat dan istirahat dengan baik, seiring berjalannya waktu sakitnya pasti akan berangsur pulih," jelas dokter itu sambil menyuntikkan sesuatu di infusannya.

Celia tidak menganggap jelas penjelasan dokter, tapi ada beberapa kata yang membuatnya terkejut adalah jatuh dari tangga? Kenapa bisa jadi seperti itu, dia jelas-jelas tertabrak mobil bukan jatuh dari tangga.

"J-jatuh dari tangga?" Ulang Celia tak yakin. "Dokter yakin?"

"Iya, kamu nggak ingat?" tanya dokter bingung. "Jennifer, kamu ingat siapa nama kamu?" Dokter menatapnya intens.

Jennifer? Lagi-lagi nama itu kembali di sebut. Celia termangu, ekspresi gadis itu bertambah rumit, ada sedikit ketakutan muncul di matanya. Seingatnya dia tidak pernah mempunyai kenalan bernama Jennifer, apalagi nama samaran seperti itu tapi saat mendengar nama tersebut entah mengapa dia merasa tidak asing.

Jennifer, Jen... Mata Celia seketika membelalak setelah berhasil mengingat nama itu, mulutnya menganga dengan ekspresi tidak percaya. Celia menatap sekeliling dengan pandangan ngeri. Tidak mungkin!

"Jenni," dokter kembali memanggilnya dengan nama itu membuat Celia semakin dilanda ketakutan. "Ada apa, kamu baik-baik saja?"

Celia menggigit bibirnya mencoba menahan teriakan yang ingin dia keluarkan. Sumpah! Saat ini dia benar-benar merasa panik dan takut dengan perkiraan yang ada di otaknya.

"Jennifer," panggil dokter berhasil menyentak Celia dari lamunan.

"Iya?" Secara tidak sadar Celia menjawab. "Saya... I'm fine..." jawabnya gugup.

Sial! Rasanya dia ingin berteriak dan mengatakan sekencang-kencangnya bahwa dia tidak baik-baik saja dan dia bukan Jennifer. Tapi dia takut apa yang ada di kepalanya memang benar-benar terjadi, dan jika dia mengatakannya maka dia akan di kira gila lalu berakhir menjadi pasien RSJ. Semua bisa menjadi semakin rumit.

Dokter menatapnya kemudian menghela napas pelan. "Ya sudah, sebaiknya kamu kembali istirahat."

Celia mengangguk pelan lalu mengalihkan matanya pada wanita paruh baya yang juga tengah menatapnya dengan pandangan segan, seperti ingin mendekat tapi takut.

Celia menggigit bibirnya yang terasa kering kemudian menghela napas lagi sebelum berkata dengan suara pelan, dan was-was jika perkiraannya benar maka dia harus memastikan sesuatu lebih dulu.

"Bi Neni," sumpah demi apa pun, Celia berharap dia keliru menyebut nama wanita itu.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 75

    "Udah, Tob. Nanti dia mati beneran bisa repot kita," tegur Bayu khawatir.Namun Tobi justru menjawab, "Memang itu tujuanku!"Tobi benar-benar telah diliputi amarah. Namun, Bayu segera menahannya sebelum emosinya kembali meledak."Tob, dia juga sudah tepar. Aku jamin dia nggak bakal sadar selama seminggu. Lebih baik sekarang kamu lihat Sinta. Sepertinya dia syok berat."Tobi menghentikan pukulannya setelah mendengar nama Sinta. Kepalanya segera menoleh ke belakang.Dadanya seketika terasa sesak ketika melihat gadis itu duduk bersandar pada dinding dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Tubuhnya terlihat gemetar, seolah pikirannya masih terjebak dalam kejadian yang baru saja dialaminya."Sin..." Suara Tobi tercekat saat panggilan itu lolos dari bibirnya.Sudah begitu lama ia tidak memanggil Sinta dengan panggilan tersebut. Anehnya, hanya dengan mengucapkannya, rasa rindu yang selama ini ia pendam kembali membanjiri hatinya.Tobi segera menghampiri Sinta. "Kamu jangan takut. Ada aku di s

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 74

    Mata Rafka berkilat dingin mendengar ucapan Tobi yang terdengar menyindirnya."Maksud kamu apa?""Ya, maksud aku, kamu bisa-bisanya putus sama Anna yang begitu baik cuma demi orang seperti Jennifer. Kita semua tahu sejahat apa dia selama i— Ah!"Tobi meringis ketika kakinya tiba-tiba ditendang Bayu."Bangsat!" Tobi menatap sinis ke arah sahabatnya. "Sakit tahu, kamu pikir kakiku batu?" Bayu melotot tajam kepada Tobi, memberi isyarat agar sahabatnya itu berhenti bicara."Perbuatan kamu kemarin masih belum bisa aku terima, Tobi. Sebaiknya tutup mulut kamu sekarang. Jangan memancing emosi yang sedang susah payah aku tahan!" desis Rafka sambil menatap tajam.Rafka menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan suara tegas."Kamu harus tahu. Orang yang aku suka, sekalipun dia adalah orang paling jahat di dunia, aku sama sekali nggak peduli. Aku akan tetap menyukainya dan aku nggak membutuhkan persetujuan siapa pun, termasuk komentar dari kamu."Bayu hanya meringis, sedangkan Tobi te

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 73

    Jennifer menarik napas panjang saat Rafka kembali membawanya ke gudang sekolah. Tempat itu seketika membangkitkan kenangan beberapa waktu lalu, ketika ia meninju pemuda itu karena perkataannya yang egois dan menyakitkan."Kenapa sih kamu selalu memaksa orang seperti ini, Raf? Kamu pikir aku nggak jenuh?" sindir Jennifer tajam.Rafka menatap Jennifer tanpa berkedip. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas. Ia berusaha mati-matian menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada."Sekali lagi aku tanya, siapa yang bikin kamu luka kayak gini?" suaranya terdengar berat.Jennifer membalas tatapannya dengan dingin. "Aku sudah bilang, luka ini nggak ada urusannya sama kamu."Bugh!Tinju Rafka menghantam dinding tepat di samping kepala Jennifer. Benturan keras itu membuat gadis tersebut terlonjak kaget."Kamu ngapain, sih, Raf?" tanya Jennifer dengan kening berkerut.Alih-alih menjawab, Rafka justru menatapnya dengan sorot mata yang di

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 72

    Jennifer menghela napas panjang melihat Samuel yang tampak gelisah. Ia tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Sam. Kamu nggak perlu mencemask—" Perkataan Jennifer terhenti ketika Samuel tiba-tiba menarik pinggangnya dan memeluknya erat. Jennifer tertegun saat merasakan embusan napas pemuda itu di sela-sela rambutnya. "Jennifer, aku nggak bisa tenang melihatmu terluka seperti ini," bisik Samuel lirih. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Beberapa saat kemudian, Jennifer perlahan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Samuel, membalas pelukan itu. Jennifer merasa seolah telah menemukan tempat untuk pulang. Entah mengapa, setiap berada di dekat Samuel, ia selalu merasa nyaman dan tenang. "Terima kasih... sudah mengkhawatirkanku," bisik Jennifer. Samuel mempererat pelukannya. "Aku nggak tahu kenapa, tapi aku sangat menyayangimu," bisiknya. Jennifer tidak menjawab. Ia tidak tahu harus mengatakan apa karena belum pernah ada seseorang yang mengungkapkan perasaan seperti itu kepadany

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 71

    Ratih mendorong pintu kamarnya, ia masuk dan melihat sang suami sedang duduk di tepi ranjang sambil memijit pelipisnya. Wanita itu mendekat dan berdiri di depan sang suami. "Mas, ini nggak bisa di biarin lagi!" Ujarnya sambil berkacak pinggang. Mikail mendongak. "Aku tahu, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa, Ratih. Anak itu memegang kunci utama dari kekayaan aku." "Pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus bisa nyingkirin anak itu. Masa kamu kalah sama anak kecil, sih?" Raut wajah Mikail seketika menggelap, pria itu berdiri lalu berjalan menuju jendela di kamarnya. Ia menatap jalanan depan rumahnya yang sepi, kejadian tadi masih sangat membekas dan membuatnya terkejut karena Jennifer tiba-tiba memanggil Jacob ke rumah tanpa sepengetahuannya."Bukan kalah, Ratih. Kamu tahu sendiri anak itu lebih licik dari yang aku kira," kata Mikail. "Entah dari siapa sifat itu menurun."Ratih mendengus jengkel, ia menyusul suaminya dan berdiri di sebelah pria itu. "Ini semua salah kamu! Andai dulu

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 70

    "Brengsek!" umpat Jacob murka.Setelah mengumpati putranya, Jacob dengan bantuan tongkat yang ada di tangannya langsung menghampiri Jennifer yang masih duduk di lantai. Rahangnya mengeras melihat kondisi cucunya, wajah Jennifer memerah dan terlihat jelas bekas tamparan di sana, belum lagi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Yang membuat pria tua itu semakin ngeri adalah tatapan lelah cucunya dan juga air mata yang bercucuran di sana."K-Kakek," bibir Jennifer melengkung ke bawah, bahunya terguncang diiringi dengan suara isakan tangis yang terdengar memilukan. "Mereka j-jahat, Kek. Papi menyesal punya anak kayak aku, apa lebih baik aku mati aja ikut Mami? Nggak ada yang menginginkan aku di sini, aku ng—""Sttt," Jacob menarik tubuh cucunya ke dalam pelukannya. "Kamu nggak boleh berbicara seperti itu lagi, jangan dengarkan omongan lelaki sialan itu. Kamu masih punya Kakek yang selalu menyayangi serta menginginkan kamu untuk tumbuh dan hidup bahagia.""Yah, Ayah salah paham. Aku ngg

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 4

    Celia meringis, adegan jatuh dari tangga itu memang ada, tapi dia tidak menyangka malah dirinya yang bakal ada di tubuh Jennifer. Mengingat kejadian tersebut, berarti cerita ini belum berjalan jauh.Cerita dimulai dari seorang lelaki bernama Rafka yang memiliki sifat dingin, tidak berperasaan, dan

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 3

    Jennifer berharap wanita itu akan menatapnya dengan wajah kebingungan karena dia salah menyebutkan nama. Namun..."Iya, Non?"What the fuck!Jennifer memejamkan mata dengan bibir menipis, napasnya naik turun. Bagaimana bisa? Ini sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Apakah dia benar-benar ma

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 7

    "Jenni," Sinta tak bisa menutupi raut terkejutnya.Di antara banyak hal yang Sinta inginkan, salah satunya adalah ingin mendengar kalimat seperti ini dari sahabatnya. Dia tahu betapa Jennifer sangat mencintai Rafka selama ini, sangat sulit membuat Jennifer berhenti dan menyadari bahwa Rafka tidak a

  • Terjebak Dalam Raga Antagonis Novel   Bab 1

    "Celia!" Teriak seorang gadis di koridor sekolah menengah atas. Gadis berambut sepinggang itu menepuk pundak sahabatnya begitu tiba di dekat gadis bernama Celia tersebut. "Kemana aja sih? Aku cari dari tadi malah ketemu di sini." "Toilet, emang ada apa?" Celia merangkul bahu Siska, sahabatnya. "

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status