LOGINFoto itu masih berada di tangan Damian ketika seluruh tubuhnya terasa kaku untuk beberapa detik, pria itu tidak bergerak. Tatapannya terpaku pada wajah seseorang yang ada di dalam foto tersebut. Wajah yang seharusnya tidak mungkin berada di sana. Wajah yang selama bertahun-tahun justru menjadi bagian dari alasan mengapa Damian percaya bahwa malam kehancuran keluarga Hartwell hanyalah sebuah tragedi yang tidak pernah bisa dijelaskan. Namun sekarang semuanya mula
Malam terasa terlalu sunyi, Aurel masih berdiri di depan jendela kamarnya dengan surat ibunya berada di kedua tangannya. Lampu kamar yang tadi sempat padam sudah kembali menyala, tetapi suasana di dalam ruangan tetap terasa gelap bukan karena kurang cahaya. Melainkan karena pikirannya dipenuhi terlalu banyak pertanyaan, suara bisikan yang tadi terdengar di belakangnya sudah tidak ada, sosok misterius itu juga telah menghilang. Namun satu kalimat masih terus terngiang di kepalanya."Kau belum tahu siapa yang sebenarnya memberikan perintah kepada Damian malam itu..."Aurel memejamkan mata, air mata kembali mengalir. Ia mengusap pipinya dengan cepat, tetapi semakin ia mencoba menahannya, semakin deras air mata itu jatuh."Aku capek..." Bisikan itu keluar dengan suara bergetar.
Hujan turun deras ketika Damian dan Aurel kembali ke mansion, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara sepanjang perjalanan, suara mesin mobil memenuhi kabin, tetapi suasana di antara keduanya terasa jauh lebih bising daripada suara apapun. Aurel duduk di samping jendela, tatapannya kosong menembus kaca yang dipenuhi titik-titik air hujan. Tangannya masih menggenggam foto lama yang mereka temukan di rumah Hartwell. Foto yang memperlihatkan Magnus Varez, ayah Damian dan dirinya ketika masih bayi, semakin lama Aurel menatap foto itu, semakin terasa sesak dadanya.Selama ini ia berpikir hidupnya hancur karena sebuah tragedi, sekarang ia tahu tragedi itu mungkin bukan kecelakaan. Ada seseorang yang merencanakannya dan nama orang itu adalah Magnus Varez, Aurel menutup mata satu air mata jatuh, kemudian disusul yang lainnya. Ia buru-buru menghapusnya sebelum Damian melihat. Namun Damian tetap menyadarinya, tangannya yang berada di atas kemudi mengencang. Ia ingin mengatakan sesuatu, apa
Malam itu, rumah lama keluarga Hartwell kembali berdiri dalam kegelapan, bangunan yang dulu megah kini hanya menyisakan dinding-dinding hangus, jendela pecah, dan halaman yang dipenuhi rumput liar. Tidak ada lagi suara tawa keluarga. Tidak ada lagi cahaya lampu dari ruang makan. Tidak ada lagi kehidupan hanya kenangan dan malam ini, Damian kembali ke tempat itu. Mobilnya berhenti beberapa meter dari bangunan tua tersebut, Damian turun perlahan.Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya jauh berbeda, di tangannya terdapat dokumen yang ditemukan dari arsip keluarga Varez. Dokumen yang selama dua puluh tahun disembunyikan, Aurel turun setelahnya ia berdiri di samping Damian sambil menatap rumah yang pernah menjadi tempat tinggal keluarganya dadanya terasa sesak."Di sini..." Suaranya bergetar."Di sinilah semuanya terjadi." Damian menoleh.Aurel menggigit bibir, berusaha menahan air mata. "Aku nggak ingat semuanya."Ia menatap rumah itu. "Tapi setiap kali melihat tempat ini, rasanya
Malam belum berakhir ketika Damian kembali ke ruang kerjanya, hujan turun deras di luar mansion, menghantam kaca jendela dengan suara yang tidak beraturan. Kilatan petir sesekali menerangi ruangan yang hanya diterangi lampu meja. Di atas meja, puluhan dokumen lama telah tersusun.Semuanya memiliki satu kesamaan, Magnus Varez. Damian berdiri di belakang meja dengan kedua telapak tangan menekan permukaannya. Matanya merah karena kurang tidur, tetapi bukan rasa lelah yang membuat wajahnya terlihat seperti itu, melainkan kenyataan yang perlahan menghancurkan keyakinannya selama dua puluh tahun."Ayah..." Suaranya nyaris seperti bisikan.Ia mengambil satu dokumen lalu dokumen berikutnya tanggal berbeda, tahun berbeda. Namun nama yang sama selalu muncul, Magnus Varez Aurel berdiri di dekat pintu. Ia memperhatikan Damian tanpa mengatakan apa-apa. Sejak mereka keluar dari ruang arsip, Damian hampir tidak berbicara. Biasanya pria itu akan langsung mengambil keputusan, Tetapi malam ini, Damian
Foto itu masih berada di tangan Damian ketika seluruh tubuhnya terasa kaku untuk beberapa detik, pria itu tidak bergerak. Tatapannya terpaku pada wajah seseorang yang ada di dalam foto tersebut. Wajah yang seharusnya tidak mungkin berada di sana. Wajah yang selama bertahun-tahun justru menjadi bagian dari alasan mengapa Damian percaya bahwa malam kehancuran keluarga Hartwell hanyalah sebuah tragedi yang tidak pernah bisa dijelaskan. Namun sekarang semuanya mulai berubah.Jari Damian mencengkeram foto itu semakin kuat hingga ujungnya hampir terlipat. "Ayah..."Nama itu keluar begitu pelan dari bibirnya, Aurel berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah gadis itu masih pucat. Matanya berpindah dari foto ke wajah Damian, berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi."Damian..."
Malam telah jatuh sepenuhnya ketika mansion Varez kembali diselimuti keheningan. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda, bukan tenang melainkan seperti ketenangan sesaat sebelum sesuatu yang jauh lebih buruk terjadi.Sisa bau asap masih memenuhi lorong bawah tanah. Beberapa lampu dinding berkedip lemah, membuat bayangan tiang-tiang batu bergerak seperti sosok hidup. Di lantai, pecahan kaca dan serpihan kayu dari arsip lama berserakan begitu saja.Aurel berdiri beberapa langkah dari meja besar tempat dokumen-dokumen tua tadi ditemukan, tangannya masih menggenggam erat sebuah foto yang sejak tadi tidak mampu ia lepaskan foto dirinya saat masih bayi. Foto yang menunjukkan seorang pria muda yang sangat mirip Damian sedang menggendongnya. Setiap kali matanya jatuh pada wajah pria dalam foto itu, dadanya kembali terasa sesak."Damian..." Suaranya hampir tidak terdengar.Damian yang berdiri di sampingnya langsung menoleh, wajah pria itu tampak tegang. Rahangnya mengeras, sementara kedu







