MasukKeringat masih membasahi seprai hotel berbintang lima. Napas Virni, asisten Hendra yang biasanya sigap dan kaku, kini terdengar halus dan teratur saat dia tertidur pulas di sebelah Beni. Tubuh mungilnya masih menyisakan rona kemerahan, bukti dari badai gairah yang baru saja mereka lepaskan.Beni duduk di tepi kasur, memunggunginya, sambil menyeka keringat di dahinya. Pikirannya tidak sedang berfokus pada kepuasan fisik. Matanya menatap kosong ke arah cermin di seberang kamar, namun fokusnya menembus cermin, menatap ke dalam ruang mentalnya sendiri.*Ding!*Sebuah notifikasi mental yang jernih berbunyi di kepalanya, diikuti oleh angka emas yang melayang di penglihatannya.**[+10 POIN]****[Total Poin: 10]**Beni hampir tersedak ludahnya sendiri. Matanya membelalak lebar. "Sepuluh?!" bisiknya pelan, memastikan suaranya tidak membangunkan Virni. "Kakek Piyama! Ini pasti salah! Biasanya saya cuma dapat satu atau dua poin kalau... ya, kalau begituan dengan seorang wanita. Kenapa sekarang t
Beni masih terbaring lemah di pangkuan Marlena ketika kesadarannya sepenuhnya kembali. Rasa sakit di seluruh tubuhnya masih menyiksa karena pertarungannya dengan Nomor 4, tapi yang lebih menekan adalah ancaman yang belum selesai. Nomor 14 mungkin terkubur, tapi Nomor 4... atau siapa pun yang lebih kuat dari itu... bisa datang kapan saja. Dan tanpa poin, dia tidak punya apa-apa.Matanya menangkap Virni. Gadis itu berlutut di sampingnya, menatap Beni dengan mata yang penuh kekaguman dan kekhawatiran. Bukan tatapan biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam di sana.Beni menarik napas pelan. "Kita harus pergi. Sekarang. Ke hotel terdekat."Marlena mengusap darah di sudut bibirnya. "Hotel? Beni, kamu butuh rumah sakit.""Tidak. Hotel dulu. Ada yang harus saya urus."Mereka bergerak cepat. Hendra, yang masih pucat, segera memanggil mobil pengganti. Dalam waktu singkat mereka sudah berada di sebuah hotel bintang empat tidak jauh dari lokasi ledakan. Polisi dan ambulans masih sibuk di jalan tol, ja
Taksi tua berwarna biru itu melaju membelah jalanan yang masih sepi di pagi buta. Beni duduk di kursi belakang, tubuhnya remuk dan penuh luka, namun matanya tak pernah lepas dari layar ponsel yang retak. Aplikasi pelacak yang terhubung dengan handphonenya marlena, menunjukkan titik merah yang bergerak lambat, lalu berhenti mendadak di sebuah jalan tol sepi."Ada masalah, Tuan?" tanya supir taksi, melirik dari kaca spion dengan wajah khawatir melihat kondisi Beni yang berdarah-darah."Tidak ada. Teruslah ngebut. Saya bayar dua kali lipat," jawab Beni pendek, sambil menggenggam erat liontin di dadanya. Energinya hampir habis total, tapi dia harus sampai. Dia harus menyelamatkan Marlena.***Sementara itu, di Jalan yang sepi, sebuah Mercedes hitam yang dikendarai Marlena berhenti mendadak. Di depannya, sebuah truk kontainer menghalangi jalan, seolah mogok tepat di tengah lajur."Apa-apaan ini?" gerutu Hendra dari kursi belakang. Di sebelahnya, Virni, asistennya yang cerdas dan sigap, sud
Mendengar nama *The Savior*, sebuah tekad baja terbentuk di hati Beni. Jika ada kelompok yang melindungi pemegang liontin, jika ada kelompok yang melawan kegilaan The Other, maka di sanalah tempatnya. Dia harus menemukan The Savior. Dia harus bergabung dengan mereka untuk menghadapi rencana panen ini."Aku akan bergabung dengan The Savior," kata Beni, suaranya bergema di antara puing-puing gedung. "Dan aku akan memastikan kalian semua dihentikan."Nomor 14 menatap Beni selama beberapa detik, lalu meledakkan tawanya. Tawa yang begitu keras hingga membuat debu-di debu di langit-langit gedung berjatuhan."Bergabung dengan The Savior?" ejek Nomor 14, menggelengkan kepalanya dengan rasa kasihan yang palsu. "Anak manis... kau tidak akan mendapatkan kesempatan itu. Kau tidak akan hidup cukup lama bahkan untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal pada gadis manis di dalam mobil yang melaju menjauh itu. Kau akan mati di sini, dan kekuatanmu akan menjadi milikku."Dalam sekejap mata, jarak sepul
Angin malam yang menusuk tulang tiba-tiba berubah menjadi badai yang mencekik.Di dalam kabin mobil mewah itu, suasana perayaan yang hangat seketika lenyap, digantikan oleh teror murni. Kaca depan mobil tiba-tiba menampilkan pemandangan yang mustahil: jalan aspal yang seharusnya lurus menuruni bukit, kini seolah meliuk seperti ular yang kepanasan. Pohon-pohon pinus di kiri dan kanan jalan tampak merenggang, menciptakan ilusi optik yang membuat perut Hendra mulas."Nona Marlena pegangan!" teriak Hendra, tangannya mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menginjak rem, namun pedal terasa kosong, seolah gaya gravitasi di dalam mobil telah dimanipulasi.Di tengah kegelapan, tepat lima puluh meter di depan mereka, seorang pria tiba-tiba *berpindah* dari pinggir jalan dan berdiri tegak di tengah lajur mereka."Itu bukan ilusi!" teriak Beni. Aura kematian yang memancar dari pohon itu begitu nyata. Nomor 14 tidak lagi sekadar mengintai; dia sedang bermain dengan nyawa mereka.
Mobil mewah itu melaju kencang menuruni jalan berkelok-kelok Genting Highlands, meninggalkan kemegahan kasino dan lampu-lampu neon yang mulai memudar di kaca spion. Udara malam yang dingin menusuk kulit, namun ketegangan di dalam kabin jauh lebih dingin daripada suhu luar.Hendra tampak lega. Wajahnya bersinar cerah, berbeda drastis dengan kecemasannya beberapa jam lalu. "Luar biasa! Benar-benar luar biasa!" serunya sambil menepuk-nepuk setir. "Tuan Moore sudah menandatangani Letter of Intent! Dia bilang akan mentransfer dana tahap pertama besok pagi. Nona Marlena, kita berhasil! Proyek Mega-Singapura selamat!"Marlena menghela napas panjang, bahunya yang tegang akhirnya rileks. Dia menoleh ke kursi belakang, nơi Beni sedang duduk dengan tenang, memainkan liontin di lehernya. "Terima kasih, Beni. Tanpa 'keberuntungan' kamu tadi, mungkin kita masih akan dipermalukan di meja poker."Beni tersenyum tipis, matanya tetap tertuju pada jalanan gelap di depan. "Sama-sama, Nona. Kebetulan saja
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera
Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain







