เข้าสู่ระบบTaksi tua berwarna biru itu melaju membelah jalanan yang masih sepi di pagi buta. Beni duduk di kursi belakang, tubuhnya remuk dan penuh luka, namun matanya tak pernah lepas dari layar ponsel yang retak. Aplikasi pelacak yang terhubung dengan handphonenya marlena, menunjukkan titik merah yang bergerak lambat, lalu berhenti mendadak di sebuah jalan tol sepi."Ada masalah, Tuan?" tanya supir taksi, melirik dari kaca spion dengan wajah khawatir melihat kondisi Beni yang berdarah-darah."Tidak ada. Teruslah ngebut. Saya bayar dua kali lipat," jawab Beni pendek, sambil menggenggam erat liontin di dadanya. Energinya hampir habis total, tapi dia harus sampai. Dia harus menyelamatkan Marlena.***Sementara itu, di Jalan yang sepi, sebuah Mercedes hitam yang dikendarai Marlena berhenti mendadak. Di depannya, sebuah truk kontainer menghalangi jalan, seolah mogok tepat di tengah lajur."Apa-apaan ini?" gerutu Hendra dari kursi belakang. Di sebelahnya, Virni, asistennya yang cerdas dan sigap, sud
Mendengar nama *The Savior*, sebuah tekad baja terbentuk di hati Beni. Jika ada kelompok yang melindungi pemegang liontin, jika ada kelompok yang melawan kegilaan The Other, maka di sanalah tempatnya. Dia harus menemukan The Savior. Dia harus bergabung dengan mereka untuk menghadapi rencana panen ini."Aku akan bergabung dengan The Savior," kata Beni, suaranya bergema di antara puing-puing gedung. "Dan aku akan memastikan kalian semua dihentikan."Nomor 14 menatap Beni selama beberapa detik, lalu meledakkan tawanya. Tawa yang begitu keras hingga membuat debu-di debu di langit-langit gedung berjatuhan."Bergabung dengan The Savior?" ejek Nomor 14, menggelengkan kepalanya dengan rasa kasihan yang palsu. "Anak manis... kau tidak akan mendapatkan kesempatan itu. Kau tidak akan hidup cukup lama bahkan untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal pada gadis manis di dalam mobil yang melaju menjauh itu. Kau akan mati di sini, dan kekuatanmu akan menjadi milikku."Dalam sekejap mata, jarak sepul
Angin malam yang menusuk tulang tiba-tiba berubah menjadi badai yang mencekik.Di dalam kabin mobil mewah itu, suasana perayaan yang hangat seketika lenyap, digantikan oleh teror murni. Kaca depan mobil tiba-tiba menampilkan pemandangan yang mustahil: jalan aspal yang seharusnya lurus menuruni bukit, kini seolah meliuk seperti ular yang kepanasan. Pohon-pohon pinus di kiri dan kanan jalan tampak merenggang, menciptakan ilusi optik yang membuat perut Hendra mulas."Nona Marlena pegangan!" teriak Hendra, tangannya mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Dia menginjak rem, namun pedal terasa kosong, seolah gaya gravitasi di dalam mobil telah dimanipulasi.Di tengah kegelapan, tepat lima puluh meter di depan mereka, seorang pria tiba-tiba *berpindah* dari pinggir jalan dan berdiri tegak di tengah lajur mereka."Itu bukan ilusi!" teriak Beni. Aura kematian yang memancar dari pohon itu begitu nyata. Nomor 14 tidak lagi sekadar mengintai; dia sedang bermain dengan nyawa mereka.
Mobil mewah itu melaju kencang menuruni jalan berkelok-kelok Genting Highlands, meninggalkan kemegahan kasino dan lampu-lampu neon yang mulai memudar di kaca spion. Udara malam yang dingin menusuk kulit, namun ketegangan di dalam kabin jauh lebih dingin daripada suhu luar.Hendra tampak lega. Wajahnya bersinar cerah, berbeda drastis dengan kecemasannya beberapa jam lalu. "Luar biasa! Benar-benar luar biasa!" serunya sambil menepuk-nepuk setir. "Tuan Moore sudah menandatangani Letter of Intent! Dia bilang akan mentransfer dana tahap pertama besok pagi. Nona Marlena, kita berhasil! Proyek Mega-Singapura selamat!"Marlena menghela napas panjang, bahunya yang tegang akhirnya rileks. Dia menoleh ke kursi belakang, nơi Beni sedang duduk dengan tenang, memainkan liontin di lehernya. "Terima kasih, Beni. Tanpa 'keberuntungan' kamu tadi, mungkin kita masih akan dipermalukan di meja poker."Beni tersenyum tipis, matanya tetap tertuju pada jalanan gelap di depan. "Sama-sama, Nona. Kebetulan saja
"Kecil lagi! Sialan!" umpat Moore sambil membanting meja pelan. Dealer kasino tersenyum tipis, mengumpulkan chip-chip Moore.Moore terlihat putus asa. Dia adalah investor miliaran dolar, tapi di meja ini, dia hanyalah korban statistik yang menyedihkan.Hendra mendekati Moore dengan hati-hati. "Tuan Moore? Selamat malam."Moore menoleh dengan mata merah. "Hendra? Aku tidak mau dengar presentasimu. Aku sedang kehilangan uang. Pergilah.""Tuan, tunggu sebentar," kata Marlena lembut. "Kami punya proposal yang bisa mengembalikan kerugian Anda berkali-klipat lipat...""Tidak!" bentak Moore. "Uangku habis. Nasibku buruk. Tidak ada yang bisa mengubah nasib buruk kecuali keberuntungan murni."Di saat itulah, Beni melangkah maju. Dia tidak takut. Dia justru tampak tertarik pada dadu-dadu kecil di atas meja. Dalam hatinya, dia berkomunikasi dengan entitas misteriusnya."Kakek Piyama... aku butuh bantuan. Bukan kekuatan fisik kali ini. Aku butuh 'Mata Dewa Judi'. Berikan aku kemampuan untuk melih
Saat tinju pertama pembunuh bayaran mengarah ke kepala Beni, Beni menghilang dari pandangan mata telanjang. Dia muncul di samping penyerang itu, dan dengan satu jari, dia menekan titik saraf di leher pria tersebut. Pria itu langsung lemas, pingsan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.Penyerang kedua kaget, mencoba menendang perut Beni. Beni menangkap kaki itu dengan satu tangan, seolah-olah itu hanya ranting kering. Dengan gerakan pinggul yang minimal, Beni melempar pria itu ke arah temannya yang baru saja bangun. Keduanya bertabrakan dan roboh."Hmph. Cepat juga," desis pemimpin geng. "Serang bersama-sama! Bunuh dia!"Empat pembunuh bayaran sisanya menyerang serentak. Ruangan menjadi arena kekacauan. Namun, bagi Beni, waktu seolah berjalan lambat. Dia melihat setiap otot yang bergerak, setiap perubahan (titik berat badan) lawan.Beni bergerak seperti tarian. Dia menghindari tebasan tangan dengan memiringkan kepala beberapa milimeter. Dia menangkis pukulan telapak dengan ujung jari. Seti
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera







