ログインBeni sedang berdiri. Senyuman mengembang di bibirnya, karena kedatangan Vera, kekasihnya. Tapi senyuman Beni langsung hilang karena ternyata Vera tidak sendiri.Vera masuk ke kamarnya dan keluar dari kamarnya di lantai 1 dan berdiri di depan kos dengan tas koper besar dan seorang pria bermobil mewah menghampirinya dan berdiri di sampingnya."Ben, kita putus."Kalimat itu seakan menghujam di telinganya. Singkat, padat, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Vera mengucapkannya sambil memeriksa kukunya yang baru di-manicure.Beni yang saat itu sedang membawa sapu hanya bisa terpaku. "Putus? Kenapa? Lalu bagaimana dengan investasi yang kamu bilang minggu ini balik modal? Uangnya kan uang kos-kosan ini, uang punya Paman."Vera mengibaskan rambutnya. "Ya gimana ya, namanya juga investasi. Ada untung ada rugi. Kamu ngerti kan? Ah, kamu sih nggak ngerti apa-apa sih soal keuangan. Pinter dikit, dong.""Tapi kamu bilang pasti untung. Kamu bilang seminggu kembali dengan unt
**Akhir Cerita (Versi Lebih Panjang)**Ronde di kamar hotel itu masih berlanjut. Leon dan Sonya berganti posisi beberapa kali — dari missionary ke doggy, lalu Sonya naik di atasnya lagi. Tubuh mereka basah keringat, desahan dan bunyi basah memenuhi ruangan yang semula sunyi. Mereka terlalu larut dalam nafsu lama yang kembali menyala, tidak menyadari bahwa pintu kamar tidak terkunci rapat.Seorang pelayan hotel yang kebetulan lewat sempat melihat sekilas dari celah pintu yang terbuka sedikit. Ia mengenali wajah Leon dari beberapa kali kedatangan sebelumnya, dan tanpa banyak berpikir, ia mengirim pesan beserta foto samar ke nomor yang ia ketahui sebagai milik Reva — nomor yang pernah tertulis di formulir check-in lama.Tidak lama kemudian, ponsel Reva bergetar di rumah. Pesan masuk dari nomor tidak dikenal, disertai dua foto yang cukup jelas memperlihatkan Leon dan Sonya di ranjang hotel. Reva membeku di tempat. Tangannya gemetar. Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri, mengambil jaket, da
Setelah malam itu di hotel, Leon benar-benar berubah.Ia pulang ke rumah bersama Reva keesokan harinya. Sejak saat itu, Leon menolak hampir semua godaan. Sekretaris-sekretaris yang dulu sering ia “manfaatkan” di kantor kini hanya diperlakukan secara profesional. Ketika salah satu dari mereka mencoba mendekat setelah jam kerja, Leon langsung memotong dengan tegas,“Saya sudah punya pasangan. Jangan ulangi lagi.”Di rumah, Fatika masih sempat mencoba. Suatu sore ia masuk ke kamar Leon tanpa izin, hanya memakai tank top tipis. Leon yang sedang duduk di sofa langsung berdiri.“Keluar,” katanya datar. “Dan bilang pada nenekmu, mulai hari ini kalian berdua tidak bekerja di rumah ini lagi.”Fatika terkejut. “Den…?”Leon sudah menyiapkan amplop tebal. “Ini pesangon untuk nenekmu. Lebih dari cukup. Ambil, lalu pergi. Jangan kembali.”Sang nenek menangis saat menerima uang itu, tapi Leon tetap teguh. Keesokan harinya rumah terasa lebih tenang. Reva melihat semuanya. Ia tidak bilang apa-apa, tap
Reva menangis hampir satu jam di depan rumah Surya. Ia duduk di tangga, menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar. Kenangan demi kenangan dengan Leon terus berputar di kepalanya — dari bangku SMA, dari malam-malam kuliah, dari janji-janji yang pernah mereka ucapkan, dan dari semua luka yang kemudian datang.Surya berdiri di sampingnya, tidak menyentuh, hanya menunggu dengan sabar. Leon berdiri beberapa langkah di depan, wajahnya pucat, tangan mengepal, siap menerima penolakan.Akhirnya Reva mengangkat wajahnya yang basah. Ia berdiri, langkahnya pelan, lalu mendekati Surya.Surya tersenyum kecil, mengira Reva sudah memutuskan untuk tinggal. Leon menunduk, menghela napas panjang, lalu berbalik, bersiap pergi.Tapi Reva memegang lengan Surya. Suaranya serak dan pecah.“Surya… maafkan aku.”Surya mengerutkan kening. “Reva?”Reva menunduk, air mata masih menetes. “Aku tidak bisa. Aku sudah mencoba. Aku sudah ingin memilih yang baru, yang tenang, yang tidak menyakitiku. Tapi hatik
Di depan rumah Surya, suasana menjadi sangat diam. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di taman kecil. Reva berdiri di ambang pintu, Surya di sampingnya, sementara Leon berdiri beberapa langkah di depan mereka dengan wajah yang campur aduk antara putus asa dan tekad.“Reva, aku minta kesempatan sekali lagi,” kata Leon, suaranya serak. “Aku sadar. Aku sudah jatuh cinta lagi padamu. Benar-benar.”Surya menatap Reva, tidak memaksa, hanya menunggu. Reva menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.“Leon, aku sudah memilih Surya,” katanya tegas. “Aku sudah bilang. Aku tidak ingin kembali. Kamu terlalu sering menyakitiku. Kamu selingkuh, kamu masih memikirkan Sonya, dan aku selalu jadi nomor dua.”Leon menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menyerah.“Aku tahu aku salah. Aku tahu aku brengsek. Tapi Reva… sebelum kamu benar-benar pergi, dengar aku sekali saja. Ingat masa kita dulu.”Reva ingin menutup pintu. Ia ingin mengakhiri
Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui gorden kamar Surya. Reva membuka mata pelan. Tubuhnya terasa hangat, masih berada dalam pelukan Surya. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, menatapnya dengan senyum yang tenang.“Pagi,” bisik Surya sambil mengusap rambut Reva.Reva tersenyum kecil, masih setengah mengantuk. “Pagi…”Surya mencium keningnya. “Aku sudah siapkan sesuatu. Jangan turun dulu.”Ia bangun dari ranjang, mengenakan celana pendek, lalu keluar kamar. Beberapa menit kemudian, Surya kembali membawa nampan kayu. Di atasnya ada sarapan lengkap: roti panggang, telur, potongan buah, dan dua cangkir kopi susu yang masih mengepul. Di samping nampan, ada vas kecil berisi bunga mawar putih dan merah yang masih segar.Reva terkejut. “Kamu… sudah siapkan ini semua?”Surya tersenyum. “Aku bangun pagi-pagi. Aku ingin kamu bangun dengan sesuatu yang manis.”Mereka sarapan di ranjang. Surya sesekali menyuapi Reva, dan Reva membalas dengan tawa kecil. Suasana pagi itu terasa ringan, jau
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya
Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain







