Compartir

206 Di Ambang Klimaks

Autor: Heartwriter
last update Fecha de publicación: 2026-05-02 16:39:21

Jeanette tekan pinggulnya lebih dalam lagi ke kontol Leon, memeknya yang basah licin telan seluruh batang 20 cm itu sampai pangkal, dinding berdenyut meremas urat-urat tebal seperti rahang lapar.

Tangan kanannya naik ke payudaranya sendiri yang basah keringat dan air liur, meremas montok itu kuat dan cepat—puting cokelatnya mengeras di antara jari-jari kasar, susu samar menetes tipis dari tekanan ganasnya. 'Ahhh, liat nih payudara gue yang kau hisap tadi, Leon! Sekarang gue remes sendiri biar
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terjebak Hubungan Terlarang   76 Menemui Penjudi Bernama Moore

    Saat tinju pertama pembunuh bayaran mengarah ke kepala Beni, Beni menghilang dari pandangan mata telanjang. Dia muncul di samping penyerang itu, dan dengan satu jari, dia menekan titik saraf di leher pria tersebut. Pria itu langsung lemas, pingsan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.Penyerang kedua kaget, mencoba menendang perut Beni. Beni menangkap kaki itu dengan satu tangan, seolah-olah itu hanya ranting kering. Dengan gerakan pinggul yang minimal, Beni melempar pria itu ke arah temannya yang baru saja bangun. Keduanya bertabrakan dan roboh."Hmph. Cepat juga," desis pemimpin geng. "Serang bersama-sama! Bunuh dia!"Empat pembunuh bayaran sisanya menyerang serentak. Ruangan menjadi arena kekacauan. Namun, bagi Beni, waktu seolah berjalan lambat. Dia melihat setiap otot yang bergerak, setiap perubahan (titik berat badan) lawan.Beni bergerak seperti tarian. Dia menghindari tebasan tangan dengan memiringkan kepala beberapa milimeter. Dia menangkis pukulan telapak dengan ujung jari. Seti

  • Terjebak Hubungan Terlarang   75 Pengawal Bodoh jadi Pahlawan

    Setelah mendarat dengan gaya "patah sayap" yang dramatis namun selamat, Beni dan Marlena segera meninggalkan bandara Changi. Suasana Singapura yang bersih, teratur, dan penuh gedung pencakar langit membuat mata Beni kembali berbinar-binar, meskipun kali ini dia berusaha menahan diri agar tidak terlihat terlalu norak di depan Marlena. Namun, godaan untuk memotret setiap lampu lalu lintas dan pohon hiasan jalanan hampir tak tertahankan."Beni, fokus," tegur Marlena tajam sambil menaiki mobil hitam mewah yang telah menunggu mereka. "Kita langsung ke kantor cabang. Ingat, pamanku Brata mungkin sudah mengirim orang-orangnya ke sini juga. Jadi, kami jangan lengah."Beni mengangguk serius, meski dalam hatinya dia sedang menghitung berapa poin 'Keadilan' yang bisa dia kumpulkan jika membantu Nona Marlena hari ini. "Siap, Nona. Saya akan waspada seperti elang... eh, maksudnya, seperti kucing yang siap menerkam tikus."Marlena menghela napas. Metafora Beni memang selalu aneh.Sesampainya di ged

  • Terjebak Hubungan Terlarang   74 Beni Menyelamatkan Penerbangan

    Beni membuka matanya. Tatapannya berubah. Tidak lagi ada kebodohan atau kegembiraan naif. Ada ketajaman dan fokus seorang profesional.Dia berdiri. "Saya akan coba menerbangkan pesawat ini."Suara Beni tenang, namun bergema di kabin yang hening karena syok.Chika, yang sejak tadi sibuk merekam video untuk status media sosialnya meski tangannya gemetar, langsung tertawa histeris. "Hah? Kamu? Si Penjaga Kos? Jangan bercanda deh! Kamu bahkan nggak tahu cara pakai sabuk pengaman dengan benar tadi! Apa kamu mau bunuh kami?"Penumpang lain mulai bergumam ragu. "Benar juga, dia cuma staf biasa...""Gila nih orang..."Marlena, meski takut, melihat sesuatu yang berbeda di mata Beni. Dia berdiri, menghadap para penumpang. "Dengarkan! Kita tidak punya pilihan! Tidak ada pilot lain di sini! Jika Beni bilang dia bisa, percayalah padanya! Lebih baik mencoba daripada menunggu ajal menjemput!"Seorang pria tua di barisan belakang, yang sebelumnya diam saja, mengangkat tangan. "Biarkan dia coba. Saya

  • Terjebak Hubungan Terlarang   73 Terpaksa jadi Pilot

    Marlena berdiri di depan jendela kantornya, menatap jadwal penerbangan di ponselnya. Hari ini dia harus ke Singapura untuk meninjau kantor cabang di negara itu. Perjalanan bisnis singkat, dua hari, tapi tetap saja dia merasa tidak aman. Terlalu banyak percobaan pembunuhan akhir-akhir ini. Dan satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa aman adalah Beni."Beni, kamu ikut aku ke Singapura," kata Marlena.Beni yang sedang duduk di sofa ruang kerja, mengunyah keripik kentang, langsung menoleh. "Singapura? Yang di luar negeri itu?""Iya. Yang di luar negeri kan?"Mata Beni langsung berbinar seperti lampu stadion. "Saya belum pernah ke luar negeri, Nona. Selama ini saya cuma lihat Singapura di televisi. Yang ada patung singanya itu kan? Saya kira itu patung kucing raksasa.""Itu Merlion, Beni. Patung setengah ikan setengah singa.""Ikan singa? Wah, aneh. Tapi saya suka. Saya harus foto di sana. Terus saya pamer ke Alfons dan Tari. Mereka pasti iri."Marlena tersenyum tipis. "Jangan norak

  • Terjebak Hubungan Terlarang   72 Beni Minta Jatah

    Beni menutup buku laporan, meregangkan bahu, lalu mengangguk pada Tari. “Sudah. Nanti aku kirim ke paman besok pagi. Saya istirahat dulu.”Dia berdiri, berjalan ke kamarnya di ujung lorong lantai satu, dan membuka pintu pelan. Lampu kamar redup. Marlena sudah berbaring di ranjang sempitnya, membelakangi pintu, napas dibuat teratur seolah sudah tertidur. Selimut hanya menutupi pinggang ke bawah. Blusnya sedikit tersingkap.Beni menutup pintu. Dia berdiri sejenak, menatap punggung wanita itu, lalu tersenyum kecil. "Sudah tidur?"Tidak ada jawaban. Marlena tetap memejamkan mata.Beni melepas sepatu, naik ke ranjang dengan hati-hati agar pegas tidak terlalu berisik. Kasur kos itu memang kecil. Tubuhnya hampir menempel pada Marlena begitu dia berbaring di sampingnya. Dia menunduk, mencium bahu Marlena pelan, lalu menarik blus itu lebih turun.Bibirnya mendarat di lekuk dada Marlena. Ciuman pertama masih lembut. Yang kedua lebih basah. Dia membuka kancing blus satu per satu, menyingkirkan

  • Terjebak Hubungan Terlarang   71 Pulang ke Kosan

    Beni berdiri di depan cermin kamar apartemen sambil merapikan kemejanya. Hari ini dia punya tekad bulat. Dia harus pulang ke kos. Sudah terlalu lama dia meninggalkan Tari dan Alfons mengurus semuanya. Meskipun mereka bisa diandalkan, Beni tetap merasa punya tanggung jawab besar kepada pamannya."Nona, saya harus pulang ke kos. Hari ini waktunya audit bulanan. Saya harus kirim laporan keuangan ke paman," kata Beni.Marlena yang sedang duduk di sofa sambil membaca dokumen langsung menoleh. "Audit? Kamu? Tapi kamu kan harus terus mengawalku.""Sejak punya tanggung jawab, Nona. Saya harus pulang. Paman saya pelaut, tapi dia rajin cek laporan. Kalau telat, bisa-bisa dia pulang bawa cangkul buat garuk kepala saya.""Jangan pulang dulu. Aku masih butuh kamu di sini. Ini soal keselamatanku, siapa yang jaga aku kalau kamu pergi?""Ada pengawal lain, Nona. Badan mereka besar-besar. Keren. Saya malah lebih cocok jaga meja kasir."Marlena meletakkan dokumennya. Dia menatap Beni dengan serius. "Ak

  • Terjebak Hubungan Terlarang   2 Kenapa Kamu Lakukan ini?

    Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel

  • Terjebak Hubungan Terlarang   1 Leon dan Sonya

    Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain

  • Terjebak Hubungan Terlarang   6 Ini Harus Berhenti

    Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak

  • Terjebak Hubungan Terlarang   5 Berusaha Menghindar

    Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status