แชร์

21 Mengambil Resiko di Dapur

ผู้เขียน: Heartwriter
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-07 12:46:05

"Leon... jangan di sini," bisik Sonya, suaranya terdengar agak enggan, tubuhnya tegang namun tak mundur, matanya melirik ke pintu belakang yang terbuka, tempat suara samar sang pembantu terdengar dari halaman.

Leon tak peduli. Tangannya membuka ritsleting celananya, kemaluannya yang tegang menyentuh kulit Sonya dari belakang. Sensasi hangat dan basah mulai menyebar saat ia memasukkan dirinya ke dalam dirinya—dorongan yang lambat namun dalam.

Lubang Sonya yang masih basah dari pagi tadi sedang
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terjebak Gairah Terlarang   6 Cerita tentang Besarnya Punya Beni

    Malam semakin larut. Jam di dinding kos menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Rina baru saja selesai mengantar Jaka ke parkiran. Mereka menghabiskan waktu sekitar dua jam di kamar Rina, menonton film di laptop, makan camilan, dan ngobrol tentang rencana liburan akhir semester. Jaka seperti biasa, sangat manis dan perhatian. Dia bahkan membawakan Rina martabak kesukaannya.Tapi sepanjang film diputar, pikiran Rina tidak sepenuhnya di layar. Ada bayangan lain yang terus muncul di kepalanya. Bayangan tentang sesuatu yang dilihatnya kemarin di tubuh Beni. Bayangan yang membuatnya sulit berkonsentrasi bahkan saat Jaka memeluknya."Sesampainya aku rumah, aku chat ya?" kata Jaka sambil mencium kening Rina."Iya. Hati-hati di jalan."Rina melambai sampai motor Jaka menghilang di tikungan. Begitu suara motor itu tidak terdengar lagi, dia langsung menghempaskan diri ke kursi taman di depan parkiran. Tangannya merogoh ponsel dan dengan cepat mencari satu kontak.Telepon berderi

  • Terjebak Gairah Terlarang   5 Sesuatu di Balik Celana membangkitkan Gairah

    "Kamu sudah masuk level 1." Beni menatap layar, tidak mengerti dengan yang dimaksud itu. Dia cuma bisa menghela nafas pelan ***Malam ini, sekitar pukul setengah sembilan, Beni sedang duduk di meja resepsionis sambil menghitung ulang pemasukan kos harian. Angka di kalkulator sudah mendekati empat ratus sembilan puluh juta. Senyum kecil mengembang di wajahnya. Satu atau dua hari lagi, uang itu akan genap dan dia bisa mentransfer semuanya ke rekening pamannya."Maaf, Mas?"Beni mendongak. Seorang wanita berdiri di depan mejanya. Rambutnya panjang sebahu, diwarnai cokelat madu, dan wajahnya nyaris tanpa riasan tapi tetap terlihat segar. Sonya, tamu kos harian yang baru check in tadi siang. usianya dua puluh tujuh tahun, bekerja sebagai konsultan keuangan yang sedang dinas ke kota ini. Kamarnya di lantai dua, nomor dua belas."Oh, Mbak Sonya. Ada yang bisa saya bantu?"Sonya tersenyum agak malu. "Maaf ya, Mas, ganggu malam-malam. Keran air di kamar mandi saya rusak. Airnya netes terus,

  • Terjebak Gairah Terlarang   4 Kost Harian yang Ramai

    Beni membuka aplikasi di ponselnya, mulai dari media sosial hingga platform penyewaan kamar jangka pendek. Satu per satu dia membuat postingan promosi. Foto-foto kamar yang sudah dia ambil setahun lalu untuk keperluan arsip pribadi kini diunggahnya dengan deskripsi semenarik mungkin."KOS HARIAN MURAH! FASILITAS LENGKAP: AC, WIFI KENCANG, AIR PANAS, KASUR EMPUK, BEBAS BAU. DEKAT KAMPUS, DEKAT MALL, DEKAT WARUNG NASI UDUK BU LAILA. HARGA TERJANGKAU, BISA NEGO SEDIKIT TAPI JANGAN BANYAK-BANYAK."Dia menekan tombol unggah.Satu menit berlalu. Tidak ada yang terjadi.Dua menit. Masih sepi."Liontin, ini nggak berhasil," keluh Beni.Tepat saat dia menyelesaikan kalimat itu, ponselnya mulai bergetar tanpa henti. Getarannya seperti orang kesurupan. Satu notifikasi masuk, lalu dua, lalu sepuluh, lalu lima puluh. Dalam waktu kurang dari satu menit, postingannya dibanjiri komentar dan pesan langsung."Kak, kamarnya masih ada?""Min, aku mau booking 2 kamar untuk 3 hari!""Bang, boleh reservasi

  • Terjebak Gairah Terlarang   3 Solusi dari Liontin

    "Itu..." Laila menunjuk dengan jari gemetar. "Itu punya kamu?""Bukan! Ini punya pak RT," jawab Beni datar. "Ya punya aku, dong!""Itu baru bangun tidur? Belum gosok gigi? Belum minum kopi?""Baru bangun udah segede itu?" Laila mendesis. "Sekarang udah terbukti, kan?"Laila meraih pinggir etalase untuk berpegangan. Lututnya tiba-tiba terasa lemas seperti habis makan tape terlalu banyak. "Ya ampun, Ben. Itu... itu bukan batang. Itu mah sudah kontainer."Beni segera merapikan celananya kembali. "Jadi, Bu Laila masih percaya kata Vera?"Pertanyaan itu menggantung di udara tanpa jawaban karena Laila masih terlalu sibuk memproses apa yang baru saja dilihatnya. Otaknya mencoba mengkalkulasi dimensi, volume, dan berbagai variabel lainnya. Sebagai janda yang sudah tiga tahun tidak pernah... berolahraga, pemandangan barusan terasa seperti keajaiban di siang bolong."Bu Laila?" Beni melambaikan tangan."Hah? Oh! Iya! Bohong! Vera bohong!" Laila tersentak dari lamunannya. "Vera itu pembohong be

  • Terjebak Gairah Terlarang   2 Menunjukkan Bukti

    Beni turun dari atap dengan langkah yang jauh lebih ringan dibanding saat naik. Liontin emas masih digenggam erat di tangan kanannya, sementara tangan kirinya sesekali meraba bagian bawah sarungnya, hanya untuk memastikan bahwa “keajaiban” tadi bukan sekadar halusinasi. Di lantai tujuh, enam, lima, empat… semuanya sepi. Hanya suara angin dan detak jantungnya sendiri yang terdengar.Di koridor lantai dua, tepat di depan kamar mandi bersama, ia bertemu Rina.Rina keluar dari kamarnya dengan kaos oversized dan celana pendek. Rambutnya masih sedikit acak-acakan, jelas baru bangun karena mendengar suara aneh di atap tadi. Matanya membulat begitu melihat Beni.“Ben… lo masih di luar? Udah jam berapa ini. Aku kira lo… udah tidur.”Beni berhenti. “Baru turun.”Rina mendekat, wajahnya penuh khawatir. “Dengerin ya, Ben. Jangan terlalu sedih. Vera itu emang sampah. Soal uang paman lo, nanti kita bantu mikirin bareng-bareng. Dan… yang itu... jangan dipikirin berlebih. Banyak cowok yang ‘pisangn

  • Terjebak Gairah Terlarang   1 Diputusin dan Ditipu

    Beni sedang berdiri. Senyuman mengembang di bibirnya, karena kedatangan Vera, kekasihnya. Tapi senyuman Beni langsung hilang karena ternyata Vera tidak sendiri.Vera masuk ke kamarnya dan keluar dari kamarnya di lantai 1 dan berdiri di depan kos dengan tas koper besar dan seorang pria bermobil mewah menghampirinya dan berdiri di sampingnya."Ben, kita putus."Kalimat itu seakan menghujam di telinganya. Singkat, padat, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Vera mengucapkannya sambil memeriksa kukunya yang baru di-manicure.Beni yang saat itu sedang membawa sapu hanya bisa terpaku. "Putus? Kenapa? Lalu bagaimana dengan investasi yang kamu bilang minggu ini balik modal? Uangnya kan uang kos-kosan ini, uang punya Paman."Vera mengibaskan rambutnya. "Ya gimana ya, namanya juga investasi. Ada untung ada rugi. Kamu ngerti kan? Ah, kamu sih nggak ngerti apa-apa sih soal keuangan. Pinter dikit, dong.""Tapi kamu bilang pasti untung. Kamu bilang seminggu kembali dengan unt

  • Terjebak Gairah Terlarang   4 Kamu Juga Suka Ini, Kan?

    Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan

  • Terjebak Gairah Terlarang   3 Sekarang Kesempatanku

    Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera

  • Terjebak Gairah Terlarang   2 Kenapa Kamu Lakukan ini?

    Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel

  • Terjebak Gairah Terlarang   1 Leon dan Sonya

    Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status