MasukKakek Piyama duduk di salah satu kursi plastik yang ada di atap. Beni berdiri di depannya, mendengarkan dengan saksama."Pertama, kekuatan tubuh tingkat satu. Dengan ini, kamu bisa melawan orang dewasa biasa. Tidak akan membuatmu jadi Superman, tapi setidaknya kamu tidak gampang dipukul. Kedua, ketampanan tingkat dua. Kamu sudah punya ketampanan tingkat satu, jadi kalau kamu ambil ini, wajahmu akan lebih menarik lagi. Mungkin setara dengan artis sinetron yang sering jadi tokoh protagonis itu. Ketiga, uang tingkat satu. Satu juta rupiah. Cair langsung gak pake KTP sama selfie kayak pinjol Keempat, kekuatan ekonomi tingkat satu. Dengan ini, kamu akan bisa melipatgandakan uangmu dengan cara-cara yang akan diberikan oleh liontin."Beni mengernyitkan dahi. "Maksudnya kekuatan ekonomi itu apa, Kek?""Contohnya, beberapa hari lalu kost harianmu ramai luar biasa. Itu demo. Liontin menunjukkan kemampuannya dalam mengatur hingga kamu dapat banyak uang. Sekarang demo sudah selesai, kostmu tidak
Beberapa detik berlalu. Rasa sakit pelan-pelan berubah. Hangat. Tekanan yang tadinya menyakitkan kini mulai menimbulkan sensasi lain. Laila membuka mata, menatap wajah Beni di bawahnya, lalu mulai menggerakkan pinggangnya sangat pelan.Dia mengangkat tubuhnya sedikit, lalu turun kembali. Gerakan pertama itu masih hati-hati. Tapi setiap kali batang kejantanan bergesekan dengan dinding liang kewanitaannya, kenikmatan mulai muncul. Laila menggigit bibir lagi, kali ini bukan karena sakit, melainkan karena rasa enak yang perlahan memenuhi tubuhnya."Enak..." bisiknya pelan. "Sekarang mulai enak."Dia mempercepat gerakan sedikit. Pinggulnya naik turun dengan tempo yang masih teratur. Payudaranya bergoyang setiap kali dia turun. Beni mengangkat tangan, meremas kedua payudara itu dengan lembut, ibu jarinya mengusap puting yang sudah mengeras. Laila mengerang pelan, mendorong dadanya lebih dekat ke tangan Beni."Lebih kencang pegangnya..." pinta Laila. "Saya suka."Beni menurut. Dia meremas le
Tari langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya merah padam seperti tomat. "Eh! Tidak! Saya... saya cuma... maaf Mas! Saya lanjut kerja!"Gadis itu buru-buru bangkit dan berjalan cepat menuju dapur umum. Beni hanya bisa menatap kepergiannya dengan mulut ternganga."Itu tadi dia bilang saya cakep," bisik Beni. "Tapi dia yang bilang. Bukan saya yang minta. Berarti kalau nanti dia yang mengajak, itu sah."Beni tersenyum tipis. "Baiklah. Saya tunggu."Tapi yang ditunggu tidak datang. Tari malah bersembunyi di dapur umum. Siang itu kos tetap sepi. Beni duduk di meja resepsionis seperti raja tanpa kerajaan, menunggu wanita-wanita yang tidak kunjung pulang.Beni duduk di kursi resepsionis sampai rasa bosan benar-benar menguasai. Kos tetap sepi. Tari masih bersembunyi di dapur. Tidak ada tanda-tanda Rina, Maya, atau Kayla akan pulang dalam waktu dekat.Dia berdiri, meregangkan badan, lalu memutuskan keluar. Perutnya mulai keroncongan. Bau nasi uduk dari warung di seberang jalan
Beni berdiri di pinggir jalan, menatap mobil Sharon yang semakin menjauh. Debu jalanan beterbangan, menampar wajahnya pelan seperti peringatan halus dari alam semesta. "Rezeki nomplok lewat, malah gue tolak kayak orang sok suci," gumamnya pada diri sendiri.Suara Kakek Piyama langsung menyambar di telinganya. "Nah, itu baru namanya kesadaran. Sayangnya telat, mobilnya udah belok ke kiri."Beni menoleh kiri kanan. "Kakek di mana? Kok bisa denger pikiran saya?""Aku tidak mendengar pikiranmu. Kamu tadi bicara keras-keras. Orang di seberang jalan sampai ada yang menoleh tuh."Beni tersipu malu. "Oh.""Jadi, kamu mau dengar penjelasannya sekarang, atau mau terus berdiri di pinggir jalan seperti patung pahlawan yang lupa bawa senjata?""Mau dengar, Kek. Tapi tolong muncul dong. Ngomong sama suara tanpa wujud itu bikin saya kayak orang stress.""Tidak bisa. Sekarang aku lagi di pijat refleksi. Spa langgananku baru buka. Kalau aku menghilang dari spa, nanti tukang pijatnya jantungan, nanti a
Beni menatap kepergian mereka dengan napas yang akhirnya terlepas lega.Wanita di belakangnya masih gemetar. "Mas... Mas nggak apa-apa? Itu tadi... itu tadi pistol beneran, kan? Saya denger tembakannya...""Saya baik-baik aja, Bu." Beni berbalik dan menyerahkan tas cokelat itu padanya. "Ini tas Ibu."Wanita itu menerima tasnya dengan tangan bergetar. Matanya masih menatap Beni dengan campuran antara syukur, takjub, dan sedikit ketakutan. "Nama saya Sharon. Maaf, saya masih shock. Tadi itu... bagaimana Mas bisa... peluru itu...""Urusan teknis," Beni mengulangi jawaban yang sama. "Nggak usah dipikirin."Tapi Sharon tidak bisa berhenti memikirkannya. Dia melangkah mendekati Beni, memeriksa tubuhnya dengan panik. "Mas, saya harus pastikan Mas nggak terluka. Tadi itu peluru beneran. Saya denger tiga kali tembakan. Mungkin ada yang kena ..."Tangan Sharon mulai meraba bagian depan tubuh Beni. Memeriksa dadanya, perutnya, bahunya. Gerakannya cepat, penuh kecemasan yang tulus."Mas beneran n
Beberapa menit kemudian orgasme keempat datang. Kali ini lebih dalam dan lebih panjang. Sarinah tidak bisa menahan suara. Dia mengerang keras, tubuh bergetar hebat di pelukan Beni. Dinding liang keintimannya berkontraksi tanpa henti, seolah ingin menahan batang Beni di dalam selamanya. Cairan mengalir deras, membasahi sprei di bawah mereka.Beni menahan batangnya di titik terdalam sampai getaran itu benar-benar reda. Sarinah terengah-engah, tubuh lemas, tapi masih memegang tangan Beni erat-erat.“Sekarang… aku puas,” bisiknya akhirnya, suaranya serak dan lemah. “Tapi jangan keluar dulu. Biarkan aku merasakan kamu di dalam sedikit lebih lama.”Mereka tetap dalam posisi spooning, tubuh saling menempel, napas perlahan kembali normal. Di dalam tubuh Sarinah, tanpa keduanya sadari, proses penyembuhan terus berjalan seiring denyut terakhir yang masih terasa di antara mereka.***Pagi harinya cahaya matahari masuk melalui celah gorden kamar Sarinah. Beni baru membuka mata ketika merasakan ta
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera







