Share

27 Tidur dengan Maya

Author: Heartwriter
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-16 20:50:45

Maya masih duduk di pangkuan Beni, napasnya perlahan kembali normal. Batang kejantanan masih tertanam di dalam liang kewanitaannya. Dia mengusap keringat di kening Beni, lalu berbisik,

“Ganti posisi. Aku mau berbaring miring.”

Beni mengangguk. Maya turun pelan-pelan, batang kejantanan keluar dengan bunyi basah lembut. Dia berbaring miring membelakangi Beni, lalu meraih tangan pria itu dan menariknya mendekat. Beni menempelkan dada ke punggung Maya. Satu tangan Maya memegang batang kejantanan da
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Terjebak Gairah Terlarang   30 Kebijaksanaan Tingkat Satu

    Pagi ini Beni terbangun dengan tubuh yang terasa ringan. Alya masih tertidur pulas di sampingnya, rambut hitamnya tumpah di atas bantal.Beni tersenyum kecil, lalu bangkit pelan-pelan supaya tidak membangunkannya. Dia memakai celana pendek dan kaos oblong, lalu keluar dari kamar dengan langkah hati-hati.Begitu pintu tertutup, Beni langsung berjalan cepat menuju tangga. Lantai dua, lantai tiga, lantai empat. Kakinya terus menaiki anak tangga tanpa berhenti. Lantai lima, lantai enam, dan akhirnya lantai tujuh. Atap gedung kos. Tempat favoritnya untuk berbicara dengan seorang pria tua misterius berpiyama.Angin pagi berhembus cukup kencang. Beni berdiri di tengah atap, memandang langit yang masih berwarna oranye muda. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak pelan."Kakek Piyama! Saya sudah selesai! Misi berhasil! Alya puas! Saya juga puas! Sekarang saatnya hadiah!"Tidak ada jawaban."Kakek! Keluarlah! Saya mau tanya-tanya dulu soal The Other! Jangan sembunyi di balik tangga! Saya

  • Terjebak Gairah Terlarang   29 Main di Kamar Mandi

    Beni mengangguk pelan. “Baik. Karena Mbak yang meminta.”Alya tersenyum, kali ini lebih dalam. Dia tidak langsung berlutut. Sebaliknya, dia berdiri di depan Beni yang masih duduk di tepi kasur, jari-jarinya meraih dagu pria itu, lalu membungkuk dan mencium bibirnya. Ciuman itu pelan di awal, lalu semakin dalam. Lidah Alya bergerak dengan percaya diri, seolah sudah lama menanti momen ini.Ketika ciuman terlepas, Alya berbisik di telinga Beni, “Lepas semuanya.”Beni menurut. Dia melepas kaos dan celananya. Alya ikut melepas blus, rok, lalu bra dan celana dalamnya dengan gerakan yang tidak tergesa tapi penuh maksud. Tubuhnya yang ramping dan kulitnya yang putih bersih kini terbuka sepenuhnya di bawah cahaya lampu kamar.Alya mendorong Beni hingga terlentang. Dia naik ke atas kasur, berlutut di antara kedua kaki Beni, lalu menunduk. Bukan langsung mengulum. Dia mulai dengan menjilat pelan dari pangkal batang kejantanan naik ke ujung, lidahnya basah dan hangat, meninggalkan jejak mengkilap

  • Terjebak Gairah Terlarang   28 Cerita tentang The Other

    Beni langsung pucat. "Membunuh? Serius, Kek? Saya cuma penjaga kos! Saya nggak siap diburu-buru kayak buronan! Saya aja nggak kuat lari jauh, apalagi dikejar-kejar!""Itu sebabnya kamu harus mulai mengambil kekuatan. Tadi sudah aku katakan. Jangan cuma mikirin uang. Uang tidak akan menolongmu kalau ada orang sakti yang datang dan mau menghabisimu."Beni mengusap wajahnya. "Jadi saya sekarang harus hidup waspada? Takut setiap kali ada orang asing yang lewat depan kos? Kalau ada tamu yang bawa tas besar, saya harus curiga?""Jangan paranoid. Tidak ada pemegang liontin lain di kota ini. Setidaknya untuk sekarang. Jadi kamu masih aman. Tapi tidak ada salahnya bersiap dari awal."Beni menghela napas panjang. "Baik. Saya ngerti. Kalau begitu, saya ambil kekuatan tubuh tingkat satu.""Pilihan yang bijak. Sekarang pegang liontinmu."Beni menggenggam liontin emas di lehernya. Getaran halus menjalar ke seluruh tubuh. Sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Ot

  • Terjebak Gairah Terlarang   27 Tidur dengan Maya

    Maya masih duduk di pangkuan Beni, napasnya perlahan kembali normal. Batang kejantanan masih tertanam di dalam liang kewanitaannya. Dia mengusap keringat di kening Beni, lalu berbisik,“Ganti posisi. Aku mau berbaring miring.”Beni mengangguk. Maya turun pelan-pelan, batang kejantanan keluar dengan bunyi basah lembut. Dia berbaring miring membelakangi Beni, lalu meraih tangan pria itu dan menariknya mendekat. Beni menempelkan dada ke punggung Maya. Satu tangan Maya memegang batang kejantanan dari belakang, mengarahkannya kembali ke liang kewanitaannya yang masih terbuka dan basah.Beni mendorong masuk pelan. Posisi spooning membuat sudutnya berbeda. Batang kejantanan masuk dengan mudah, tapi tetap terasa sangat dalam. Maya mengerang pelan saat merasa penuh kembali.“Pelan dulu…” desahnya. “Masih sensitif.”Beni bergerak pelan. Satu tangan melingkari pinggang Maya, tangan lainnya meremas payudara dari belakang. Setiap dorongan membuat tubuh Maya bergeser sedikit di atas kasur. Dia mend

  • Terjebak Gairah Terlarang   26 Jinsom Langka

    Pemilik toko mendekat. Wajahnya berubah serius. Dia memakai sarung tangan, mengangkat benda itu pelan-pelan. Sebuah akar berwarna keemasan dengan serat halus yang berkilau seperti sutra."Ya Tuhan," bisik pemilik toko. "Ini... ini jinsom langka."Suasana toko langsung hening. Saking heningnya, bunyi kulkas dari warung sebelah bisa terdengar jelas."Jinsom langka?" seseorang bertanya. "Itu apa?"Pemilik toko menjelaskan dengan suara bergetar. "Jinsom adalah akar langka yang dipercaya punya khasiat obat awet muda dan penyembuh. Jinsom emas adalah kelas tertinggi. Ini sangat langka. Sangat-sangat langka. Nilainya bisa... bisa ratusan juta."Hendrik langsung melotot. "Ah! Itu... itu pasti palsu! Atau kalau bukan palsu, nilainya juga tidak akan lebih dari dua puluh juta! Akar-akar begituan sering overrated! Saya tahu! Saya penilai profesional!""Benarkah?" Seorang pria berkacamata dari kerumunan maju selangkah. "Kalau begitu, saya beli Jinsom itu dua ratus juta. Nggak, tiga ratus juta.""S

  • Terjebak Gairah Terlarang   25 Taruhan Batu Sumber

    Beni terus mondar-mandir. Kiri, kanan, kiri, kanan. Seperti orang yang lupa di mana menaruh kunci motor. Para pengunjung lain mulai meliriknya dengan curiga. Salah satu dari mereka, seorang pria berbadan tegap dengan kemeja mahal dan jam tangan yang kelihatannya bisa membeli satu kontrakan, mulai menunjukkan wajah tidak suka."Nak, kamu itu kenapa sih mondar-mandir terus dari tadi?" tegur pria itu dengan nada ketus. "Kalau mau belanja ya belanja. Kalau cuma mau jalan-jalan, sana ke taman kota. Di sini toko, bukan trek balap."Beni menghentikan langkahnya. "Maaf, Pak. Saya cuma lagi mikir.""Mikir apa? Mikir kenapa kamu nggak punya duit buat beli barang di sini?" Pria itu tertawa kecil. Beberapa orang di dekatnya ikut tersenyum. "Kamu tahu nggak siapa saya? Saya Hendrik. Penilai barang antik profesional. Kalau kamu butuh saran, bilang saja. Tapi saya tidak gratis. Konsultasi saya lima ratus ribu per jam.""Terima kasih, Pak. Tapi saya cuma lihat-lihat.""Lihat-lihat sambil mondar-mandi

  • Terjebak Gairah Terlarang   6 Ini Harus Berhenti

    Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak

  • Terjebak Gairah Terlarang   5 Berusaha Menghindar

    Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya

  • Terjebak Gairah Terlarang   4 Kamu Juga Suka Ini, Kan?

    Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan

  • Terjebak Gairah Terlarang   3 Sekarang Kesempatanku

    Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status