MasukSetelah posisi sebelumnya, ketiganya masih terengah-engah di ranjang hotel. Fatika belum puas. Ia mengusap keringat di dahi Lestari, lalu mendorong tubuh gadis itu pelan hingga berbaring telentang.“Kita ganti lagi,” bisik Fatika dengan suara rendah. “Den Leon, naik di atas Mbak Lestari. Missionary. Pelan saja dulu.”Leon naik di antara paha Lestari. Ia membuka kaki gadis itu lebar-lebar, mengarahkan batangnya yang masih basah, lalu mendorong masuk dengan sangat pelan. Setiap inci masuk terasa jelas. Lestari mendesah panjang, tangan memegang lengan Leon.Leon mulai bergerak lambat. Keluar hampir seluruhnya, lalu masuk kembali dengan dorongan dalam dan mantap. Bunyi basah pelan terdengar setiap kali tubuh mereka bertemu. Fatika berlutut di samping kepala Lestari, meremas payudara gadis itu, lalu menunduk mengulum putingnya.Lestari memejamkan mata. Sensasi batang Leon yang bergerak pelan di dalamnya bercampur dengan hisapan Fatika di payudaranya. Leon membungkuk lebih rendah, mencium b
Besok malamnya, Fatika sudah mengatur semuanya. Ia mengirim pesan singkat ke Leon dan Lestari:**Fatika:** Hotel yang sama, lantai 9, suite 905. Jam 21.00. Kalau tidak datang, Reva akan tahu malam ini juga.Leon dan Lestari tidak punya pilihan. Pukul sembilan tepat, mereka tiba di suite hotel yang berbeda di lantai sembilan. Kamarnya lebih luas, dengan ranjang king-size di tengah, sofa, dan jendela yang menghadap kota.Fatika sudah menunggu di dalam, hanya memakai robe hotel yang terbuka. Tubuhnya telanjang di baliknya. Ia tersenyum lebar saat melihat keduanya masuk.“Tutup pintu. Kunci,” perintah Fatika.Leon mengunci pintu. Lestari berdiri di dekat pintu, wajahnya pucat tapi ia tidak berani menolak. Fatika mendekati Lestari, melepas robe-nya sendiri, lalu membuka kemeja Lestari dengan cepat.“Malam ini lebih detail,” bisik Fatika. “Den Leon, bantu saya.”Leon mendekat. Ia dan Fatika bersama-sama melepas seluruh pakaian Lestari hingga gadis itu berdiri telanjang. Fatika mendorong L
Fatika tidak lama tinggal di ruang sekretaris. Setelah meninggalkan Lestari yang masih gemetar di meja, ia langsung kembali ke ruang CEO. Pintu dibuka tanpa ketukan. Leon yang sedang duduk di kursi direktur langsung mengangkat kepala, wajahnya masih tegang.“Fatika, kau sudah antar makanannya. Keluar,” kata Leon tegas.Fatika tersenyum sinis, menutup pintu dan mengunci dari dalam. “Belum selesai, Den. Saya baru saja bilang pada Mbak Lestari bahwa Reva adalah calon istri Den Leon. Kalau Reva tahu Den Leon selingkuh dengan sekretarisnya yang alim… pasti kacau besar.”Leon berdiri, wajahnya memerah. “Jangan main-main, Fatika. Reva tidak boleh tahu.”Fatika mendekat ke meja. “Saya bisa tutup mulut. Tapi syaratnya… threesome. Sekarang juga. Di hotel. Den Leon, saya, dan Mbak Lestari.”Leon terdiam. Ia tahu Fatika serius. Ancaman itu terlalu berbahaya. Reva masih di rumah, menunggu kabar, dan hubungan mereka sudah rumit sejak lama.“Kau gila,” geram Leon.“Pilih saja, Den. Threesome sekaran
Hari ini, di ruang CEO Hartono Logistics, Leon sedang duduk di kursi direktur dengan Lestari di pangkuannya. Kemeja Lestari sudah terbuka, hijabnya terlepas di sofa, dan wajahnya memerah. Leon mencium leher Lestari dengan rakus, tangannya meremas payudara gadis itu di dalam bra. Lestari mendesah pelan, masih setengah menahan diri, tapi tubuhnya sudah bereaksi sejak sesi spooning dan doggy sebelumnya.“Pak… pintu belum dikunci…” bisik Lestari sambil menahan napas.Leon tersenyum, terus menciumnya. “Tidak apa-apa. Semua orang di luar sudah pulang.”Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar tanpa ketukan. Fatika masuk dengan membawa tas plastik berisi makanan. Ia berdiri di ambang pintu, mata melebar melihat pemandangan di depannya.Leon dan Lestari langsung terkejut. Lestari langsung berdiri, menarik kemejanya rapat, wajahnya pucat. Leon cepat merapikan celananya.“Fatika?! Kau ngapain di sini?!” bentak Leon.Fatika tersenyum sinis, menutup pintu di belakangnya. “Reva menyuruh saya antar ma
Setelah momen intim yang penuh emosi di sofa, Leon masih memeluk Lestari erat. Tubuh gadis itu masih gemetar karena campuran kenikmatan dan air mata yang baru saja ia lepaskan. Leon mencium kening Lestari lembut, lalu berbisik di telinganya dengan suara rendah penuh nafsu:“Lestari… aku masih ingin kamu. Sekarang doggy style. Biarkan aku menunjukkan betapa aku menginginkanmu.”Lestari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, matanya masih basah. Leon membantu Lestari berdiri, lalu membalikkan tubuhnya menghadap sofa. Ia membungkukkan Lestari di atas sandaran sofa, tangan gadis itu bertumpu di permukaan sofa yang empuk, bokongnya terangkat tinggi.Leon berdiri di belakang Lestari, tangannya mengusap punggung gadis itu dengan lembut, lalu turun ke bokongnya yang indah. Ia meremas bokong Lestari pelan, membuka kedua sisinya, dan memasukkan batangnya yang masih sangat keras ke dalam vaginanya yang basah dengan satu dorongan mantap.“Aaaahhh…” desah Lestari panjang, tubu
Sejak hari pertama Lestari bekerja sebagai sekretaris pribadi Leon, suasana di ruangan direktur selalu penuh ketegangan halus. Lestari datang dengan penampilan rapi dan sopan seperti biasa — kemeja putih longgar, rok panjang selutut, dan hijab yang tertata rapi. Ia bekerja dengan teliti, mengatur jadwal Leon, menyiapkan dokumen, dan menangani panggilan telepon dengan profesional.Leon, tidak bisa menahan diri. Setiap kali Lestari mendekat ke mejanya untuk menaruh berkas, Leon sengaja menyentuh punggung tangannya lebih lama dari biasanya. Sentuhan itu lembut, seolah tak sengaja, tapi penuh maksud. Lestari selalu menarik tangannya dengan cepat, wajahnya tetap tenang meski pipinya sedikit memerah.“Terima kasih, Pak,” kata Lestari sopan setiap kali, lalu mundur selangkah.Leon tersenyum dalam hati. Ia semakin berani. Saat Lestari membungkuk untuk mengambil map di lantai yang sengaja ia jatuhkan, Leon berdiri di belakangnya dan “tak sengaja” menyentuh pinggangnya. Lestari langsung menegak
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan







